page hit counter

Tata Cara Shalat Istikharah

Tata Cara Shalat Istikharah

Diantara tanda baiknya seorang muslim adalah dengan menyerahkan pilihan terbaik dalam kehidupannya kepada Allah. Salah satu caranya ialah dengan shalat istikharah. Berikut tata cara shalat istikharah secara lengkap!

Tata cara shalat istikharah

Seorang manusia dalam menjalankan tugasnya didunia ini terkadang dihadapkan kepada banyak pilihan, misalkan seseorang setelah lulus dari kuliah dengan prestasi yang baik, datanglah banyak tawaran dari berbagai perusahaan, karena semua perusahaan itu bagus, timbulah pertanyaan dalam hati, ‘perusahaan manakah gerangan yang lebih baik???’

Seperti itu juga, seorang yang akan menikah, akan timbul pertanyaan dalam hati ‘Apakah calon yang saya pilih ini merupakan calon yang shalih/shalihah, dan apakah nanti rumah tangga akan berjalan dengan baik jika aku menikah dengannya??? padalah kita belum pernah berjumpa dan belum pernah kenal…’.

Memang seperti itulah manusia, makhluk yang jahil lagi bodoh tidak mengetahui apa yang akan terjadi diwaktu yang akan datang sebagaimana Allah sampaikan :

وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ مَاذَا تَكْسِبُ غَدًا

dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya esok hari.

Maka kembali kepada Allah dan meminta petunjuk-Nya merupakan suatu hal yang sangat dianjurkan. Apalagi ketika menyampaikan ayat diatas tadi Allah tutup dengar firman-Nya :

إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha mengenal

Dan makna “khabir” atau “Maha Mengenal” adalah mengetahui apa yang sedang terjadi atau yang akan terjadi dan tidak ada yang tersembunyi baginya.

Melihat kondisi ini islam mengajarkan kepada umatnya shalat istikharah (shalat untuk meminta petunjuk/pilihan) melalui pengajaran yang diajarkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada para sahabatnya, dan beliau sangat bersemangat mengajarkan shalat itu sebagaimana semangat beliau ketika mengajarkan Al-Qur’an. Sebagai ganti tradisi jahilah, seperti : mengundi nasib dengan anak panah, atau dengan burung (thiyarah). Jika burung terbang kekanan, maka ia melanjutkan rencananya jika burung terbang kekiri maka ia membatalkan rencananya. Atau yang semisal dengan thiyarah dari peninggalan jahiliyah.

Apa pengertian shalat istikharah?

Istikhara (استخارة) secara bahasa memiliki arti meminta pilihan yang terbaik. Adapun secara istilah: meminta pilihan terbaik kepada Allah subhanahu wa ta’ala.

Apa landasan disyariatkannya shalat istikharah?

Landasan disyariatkannya shalat istikharah adalah hadist Jabir bin Abdillah –rhadiyallahu ‘anhuma- beliau berkata :

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُعَلِّمُنَا الِاسْتِخَارَةَ فِي الأُمُورِ كُلِّهَا، كَمَا يُعَلِّمُنَا السُّورَةَ مِنَ القُرْآنِ

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersemangat untuk mengajarkan kepada kami shalat istikharah pada setiap urusan sebagaimana semangat beliau mengajarkan Al-Qur’an kepada kami”.

Kapan harus shalat istikharah?

Shalat istikharah dianjurkan pada setiap urusan, baik urusan itu dianggap besar ataupun kecil. Sebagaimana perkataan Imam An-Nawawi : “Shalat istikharah dianjurkan untuk semua urusan” (Al-Adzkar Bab Shalat Istikharah). Dan hal itu dikarenakan urusan kecil terkadang memiliki efek yang besar sebagaimana dikatakan Ibnu Hajar : “Terkadang suatu yang sepele memiliki efek yang besar” (Fath Al-Bari 11/184)

Dan shalat istikharah, dilakukan ketika seorang telah memilih sebuah pilihan. Bukan saat ia masih bingung dan bimbang, jika ia masih bingung, maka ia harus memilih pilihannya dengan pertimbangan yang matang terlebih dahulu kemudian shalat, karena Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan :

إِذَا هَمَّ أَحَدُكُمْ بِالأَمْرِ فَلْيَرْكَعْ رَكْعَتَيْنِ مِنْ غَيْرِ الفَرِيضَةِ

Jika kalian telah membulatkan tekad maka shalatlah dua rakaat yang bukan wajib (shalat sunnah).

Dan kata-kata telah membulatkan tekad disini memberikan makna bahwa seorang yang akan melaksanakan shalat istikharah sudah menetapkan pilihan sebelumnya.

Apakah harus meniatkan shalat terlebih dahulu?

Niat merupakan hal yang harus dilakukan sebelum melakukan suatu amalan, adapun niat tempatnya didalam hati, dengan berniat untuk melakukan shalat istikharah. Adapun membaca “ushali sunnatal istikharati rak’atain lillahi ta’ala” tidak diharuskan walaupun menurut ulama syafi’iyyah membaca niat dengan dilafaldzkan adalah sunnah. Namun memantapkan niat untuk shalat istikharah dalam hati tanpa harus dilafaldzkan sudah cukup dan sah.

Shalat dua rakaat ini, boleh digabungkan dengan shalat sunnah lainya, yang terpenting sebelum melaksanakannya harus ada niat terlebih dahulu.

Jika ada seorang akan shalat sunnah setelah wudhu, dan saat itu juga ia meniatkan shalat istikharah maka diperbolehkan. Begitu juga shalat-shalat sunnah lainnya seperti dua rakaat sebelum atau sesudah dhuhur, shalat dua rakaat sebelum shubuh dan sebagainya. Dan ini adalah pendapat Ibnu Hajar (Fath Al-Bari 11/185).

Namun jika ada seorang yang shalat sunnah sebelum shubuh dua rakaat, tanpa niat istikharah, kemudian setelah selesai shalat ia langsung berdoa dengan doa istikharah maka inipun juga diperbolehkan. Dan ini merupakan pendapat An-Nawawi, Al-‘Iroqi, dan Penulis buku ‘ Bughyah Al-Mutathawwi’ ’. (Bughyah Al-Mutathawwi’ hal : 130)

Apakah disyariatkan untuk membaca surat tertentu setelah Al-Fatihah pada rakaat pertama dan keduanya ?

Tidak ada hadits yang menganjurkan untuk membaca surat tertentu setelah Al-Fatihah. Sehingga seorang bebas memilih surat yang ia sukai untuk dibaca. Walaupun Imam Nawawi menganjurkan membaca surat Al-Kafirun pada rakaat pertama dan surat Al-Ikhlas pada rakaat kedua. Namun ini murni anjuran beliau –rahimahullah– (Al-Adzkar Bab Doa Istikharah). Sehingga seorang boleh memilih surat yang lainnya.

Apa tanda bahwa urusan/pilihan yang ia pilih adalah yang terbaik?

Tandanya adalah Allah akan memudahkan urusan dan memberkahinya. Kalau pilihan yang ia pilih jelek, Allah akan memalingkannya dari yang jelek tersebut menuju yang lebih baik. Dan tidak disyaratkan hati yang lapang untuk menunjukan bahwa pilihan yang ia pilih adalah yang terbaik.

Sehingga seorang yang melakukan istikharah hendaknya setelah shalat dan berdoa, ia mantap dengan pilihannya dan semangat untuk mewujudkannya. Jika itu yang baik maka Allah akan mudahkan, jika jelek Allah akan palingkan menuju yang lebih baik.

Berkata Syaikh Kamaludin Bin Az-Zamalkani, salah seorang ulama Syafi’iyyah :

Jika ada seorang yang shalat dua rakaat istikharah untuk suatu perkara, maka hendaknya ia langsung melaksanakan apa yang menurutnya yang terbaik, baik hatinya itu lapang untuk mengerjakannya ataupun tidak. Karena pada yang ia pilih itulah yang terbaik, walaupun hati tidak terasa lapang untuk mengerjakannya.

Dan dalam hadistpun tidak dipersyaratkan kelapangan dada pada pilihannya” begitu tutur beliau rahimahullah (Thabaqat Syafi’iyyah 9/206).

Kapan Ia berdoa? dan bagaimana doanya?

Doanya adalah sebagaimana berikut ini.

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْتَخِيرُكَ بِعِلْمِكَ وَأَسْتَقْدِرُكَ بِقُدْرَتِكَ، وَأَسْأَلُكَ مِنْ فَضْلِكَ العَظِيمِ، فَإِنَّكَ تَقْدِرُ وَلاَ أَقْدِرُ، وَتَعْلَمُ وَلاَ أَعْلَمُ، وَأَنْتَ عَلاَّمُ الغُيُوبِ،

اللَّهُمَّ إِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّ هَذَا الأَمْرَ خَيْرٌ لِي فِي دِينِي وَمَعَاشِي وَعَاقِبَةِ فَاقْدُرْهُ لِي وَيَسِّرْهُ لِي، ثُمَّ بَارِكْ لِي فِيهِ،

وَإِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّ هَذَا الأَمْرَ شَرٌّ لِي فِي دِينِي وَمَعَاشِي وَعَاقِبَةِ فَاصْرِفْهُ عَنِّي وَاصْرِفْنِي عَنْهُ، وَاقْدُرْ لِي الخَيْرَ حَيْثُ كَانَ، ثُمَّ أَرْضِنِي

Setelah membaca doa ini dengan lengkap, maka dipersilahkan untuk mengutarakan keinginannya.

Ya Allah aku memohon pilihan kepadaMu dengan ilmuMu dan memohon kemampuan dengan kekuasaanMu dan memohon kepadaMu dengan karuniaMu yang Agung, karena Engkau Maha berkuasa sedang aku tidak berkuasa, Engkau Maha Mengetahui sedang aku tidak mengetahui karena hanya Engkaulah yang Maha Mengetahui perkara yang ghaib.

Ya Allah bila Engkau mengetahui bahwa urusan ini baik untukku, bagi agamaku, kehidupanku dan kesudahan urusanku ini, maka takdirkanlah hal tersebut buatku dan mudahkanlah, kemudian berikanlah berkah padanya

Namun sebaliknya, ya Allah. Bila engkau mengetahui bahwa urusan ini buruk untuku, bagi agamaku, kehidupanku dan kesudahan urusanku ini, maka jauhkan urusan itu dariku dan jahukan aku darinya dan tetapkanlah buat urusan yang baik saja dimanapun adanya kemudian buatkan diriku ridha dengan ketetapanMu.” [kemudian ia menyebutkan hajat keinginannya].

Ada juga riwayat yang menyebutkan bahwa penyebutan keinginan atau hajat barada ditengah tengah, seperti ini

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْتَخِيرُكَ بِعِلْمِكَ وَأَسْتَقْدِرُكَ بِقُدْرَتِكَ، وَأَسْأَلُكَ مِنْ فَضْلِكَ العَظِيمِ، فَإِنَّكَ تَقْدِرُ وَلاَ أَقْدِرُ، وَتَعْلَمُ وَلاَ أَعْلَمُ، وَأَنْتَ عَلاَّمُ الغُيُوبِ،

اللَّهُمَّ فَإِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ هَذَا الأَمْرَ [menyebutkan hajatnya disini] خَيْرٌ لِي فِي دِينِي وَمَعَاشِي وَعَاقِبَةِ فَاقْدُرْهُ لِي وَيَسِّرْهُ لِي، ثُمَّ بَارِكْ لِي فِيهِ،

وَإِنْ اللَّهُمَّ وَإِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّهُ شَرٌّ لِي فِي دِينِي وَمَعَاشِي وَعَاقِبَةِ أَمْرِي فَاصْرِفْنِي عَنْهُ، وَاقْدُرْ لِي الخَيْرَ حَيْثُ كَانَ ثُمَّ رَضِّنِي بِهِ

Kapan doa ini dibaca?

Doa ini dibaca setelah salam. Dan itulah pendapat yang kami pilih, walaupun ada juga ulama yang berpendapat bahwa doa ini dibaca sebelum salam, setelah bacaan shalat lainnya telah selesai.

Apakah boleh shalat istikharah pada waktu-waktu yang diharamkan untuk shalat padanya?

Jika shalat istikharah ini waktunya mendesak dan tidak bisa ditunda, maka boleh melakukan shalat ini diwaktu yang terlarang. Seperti setelah shalat ashar atau setelah shalat shubuh sebelum matahari naik.

Namun jika, keadaan memungkinkan untuk mengundur shalat istikharah maka wajib untuk mengundurnya, begitu penjelasan syaikh Ibnu Utsaimin (Majmu’ Fatawa Ibnu Utsaimin 14/275).

Rangkaian Shalat Istikharah dari awal hingga doa selesai

  1. Bersuci terlebih dahulu dengan wudhu
  2. Berniat untuk melakukan shalat istikharah
  3. Melaksanakan dua rakaat shalat kemudian salam
  4. Mengawali doa dengan adab-adab doa, seperti memuji Allah, bershalawat kepada nabi, beristighfar, menunjukan rasa butuh serta kelemahan diri kepada Allah,
  5. kemudian membaca doa yang telah disebutkan, dengan memilih salah satu dari dua cara yang ada, bisa menyebutkan hajatnya pada pertengahan doa ataupun diakhir doa.
  6. Menutup doa dengan shalawat dan salam kepada nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan pujian kepada Allah ta’ala
  7. Selesai rangkaian shalat istikharah, setelah itu laksanakan ikhtiyar yang terbaik untuk mencapai tujuan yang telah dipilihnya. Dan tidak dipersyaratkan harus ada mimpi ataupun hati harus lapang dengan pilihannya.

Wallahu a’lam bish showab

Baca juga: Tata Cara Shalat Awwabin

 

Ditulis oleh:
Ustadz Ratno
(Kontributor BimbinganIslam.com)



Ustadz Ratno, Lc.
Kontributor Bimbingan Islam (BIAS), alumni Universitas Islam Madinah jurusan Hadits
Untuk melihat artikel lengkap dari Ustadz Ratno حفظه الله  
klik disini

CATEGORIES
TAGS
Share This

COMMENTS