BIAS TVFiqihKonsultasi

Gimana Aturan Membayar Fidyah Jika Meninggalkan Puasa?

Pendaftaran Grup WA Madeenah

 

Ustadz Fikri Hilabi, S.Ag. حافظه الله menjelaskan tentang Fidyah dalam konteks Surah Al-Baqarah, yang menjelaskan bahwa Fidyah merupakan bentuk pengganti bagi mereka yang tidak mampu menjalankan ibadah puasa, dan fidyah ini ditujukan untuk orang miskin.

Beliau menekankan bahwa ayat terkait Fidyah ini awalnya memberikan kelonggaran bagi umat Islam untuk tidak berpuasa dengan syarat memberikan Fidyah kepada orang miskin. Namun, hukum ini mengalami perubahan dengan diturunkannya ayat yang mewajibkan puasa di bulan Ramadan, sebagaimana diterangkan oleh Abdullah bin Abbas.

Meskipun ayat awal tentang Fidyah dianggap mansukh atau dihapus, praktik membayar Fidyah tetap ada, khususnya bagi lansia atau seperti orang tua atau mereka yang mengalami sakit kronis tanpa harapan pemulihan.

Beliau mengutip Imam Bukhari yang menyampaikan kisah Anas bin Malik yang, pada masa tuanya, membayar Fidyah untuk setiap hari puasa yang ditinggalkan. Hal ini dilakukan dengan menyediakan makanan untuk satu kali makan per hari, sebagai bentuk pengganti dari puasa yang tidak dapat dilaksanakan.

Lebih lanjut, Ustadz Fikri Hilabi, S.Ag. حافظه الله menjelaskan tata cara penghitungan Fidyah, yang harus setara dengan biaya makanan untuk satu kali makan per hari. Jika seseorang tidak mampu menyediakan makanan secara penuh, maka memberikan setengah dari takaran standar makanan pun diperbolehkan. Hal ini menunjukkan adanya fleksibel dalam pelaksanaan Fidyah, memastikan bahwa setiap orang mampu memenuhi kewajiban ini sesuai dengan kemampuannya.

Ustadz Fikri juga menegaskan bahwa penerima Fidyah haruslah mereka yang benar-benar membutuhkan, yaitu orang fakir dan miskin, tidak termasuk orang kaya atau mereka yang memiliki kecukupan. Dengan demikian, praktik Fidyah tidak hanya sebagai pemenuhan kewajiban semata, tapi juga sebagai sarana menguatkan ikatan tali ukhuwah antar saudara seiman, memastikan bantuan kepada saudar kita yang membutuhkan dalam masyarakat.

Ini mencerminkan esensi dari ajaran Islam itu sendiri yang mengedepankan kepedulian dan bantuan terhadap sesama, khususnya bagi mereka yang berada dalam kesulitan.

Related Articles

Back to top button