Bagaimana Penjelasan Hukum Bid'ah bimbingan islam
Bagaimana Penjelasan Hukum Bid'ah bimbingan islam

Bagaimana Penjelasan Hukum Bid’ah?

Para pembaca Bimbinganislam.com yang memiliki akhlaq mulia berikut kami sajikan tanya jawab, serta pembahasan tentang bagaimana penjelasan hukum bid’ah?
selamat membaca.

Pertanyaan :

بِسْـمِ اللّهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْم

اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ

Semoga ustadz selalu dalam lindungan Alloh Subhanahu Wa Ta’ala.

Ustadz,  apakah bid’ah itu termasuk ke dalam kategori Hukum seperti Wajib, Sunnah, Mubah, Makruh, Haram?

Lalu bagaimana menyikapi sebagian orang yang berkata Tahlilan itu hukumnya Bid’ah, dan sebagian orang juga berkata Tahlilan itu Haram, karena termasuk Niyahah?
Bagaimana penjelasannya?

(Disampaikan oleh Fulan, anggota grup BiAS)


Jawaban :

وَعَلَيْكُمُ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ

بِسْـمِ اللّهِ

Alhamdulillah, wa laa haula wa laa quwwata illaa billaah, wash shalaatu was salaamu ‘alaa rasulillaah, Amma ba’du.

Semoga Alloh berikan TaufikNya pada kita semua.
Keduanya (Tahlilan Bid’ah dan Tahlilan Harom) sama-sama benar, tidak ada yang salah dan tidak ada kontradiksi.

Bid’ah itu lawan atau penyimpangan dari Sunnah, ini sesuatu yang ditinjau dari sisi benar salahnya
Jika sesuai Sunnah berarti benar, jika menyimpang dari Sunnah (melakukan Bid’ah) berarti salah. Sebagaimana sabda Nabi sholallohu ‘alaihi wasallam

وَخَيْرُ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ، وَشَرُّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا

“Sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad sholallohu ‘alaihi wasallam (Sunnah), dan (lawan dari itu, yakni) seburuk-buruk perkara adalah yang diada-adakan (Bid’ah)”
[HR Muslim 1435]

Adapun pembagian Wajib, Sunnah, Mubah, Makruh, dan Harom ini sesuatu yang ditinjau dari sisi hukumnya. Dalil yang dapat digunakan untuk menghubungkan antara tinjauan salah (Bid’ah) dengan tinjauan hukum (Harom) adalah khutbah hajah yang dicontohkan Nabi sholallohu ‘alaihi wasallam,

مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلَا هَادِيَ لَهُ إِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ وَأَحْسَنَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ وَشَرُّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلُّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ وَكُلُّ ضَلَالَةٍ فِي النَّارِ

“Barangsiapa telah diberi petunjuk oleh Alloh, maka tidak ada yang bisa menyesatkannya. Barangsiapa telah disesatkan oleh Alloh, maka tidak ada yang bisa memberikan petunjuk kepadanya.
Sebenar-benar perkataan adalah kitabulloh (Al Qur’an), sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad sholallohu ‘alaihi wasallam, dan seburuk-buruk perkara adalah yang diada-adakan, dan setiap hal yang diada-adakan adalah bid’ah, dan setiap bid’ah adalah sesat, dan setiap kesesatan di dalam neraka
[HR Nasai 1560]

Mengapa demikian?
Karena sesuatu yang buruk (salah) mulai dari harta, tutur kata, sampai keyakinan  dan juga penyimpangan, jika dikaitkan dengan neraka berarti hukumnya Harom. Nabi sholallohu ‘alaihi wasallam bersabda,

لاَ يَرْبُو لَحْمٌ نَبَتَ مِنْ سُحْتٍ إِلاَّ كَانَتِ النَّارُ أَوْلَى بِهِ

“Tidaklah daging yang tumbuh dari sesuatu yang harom melainkan neraka lebih berhak atasnya”
[HR Tirmidzi 558]

Bahkan sesuatu yang salah dan juga hukum yang harom bukan hanya dikaitkan dengan neraka, tapi juga adzab. Rosululloh sholallohu ‘alaihi wasallam bersabda,

إِذَا ظَهَرَ الزِّناَ وَالرِّبَا فِي قَرْيَةٍ فَقَدْ أَحَلُّوْا بِأَنْفُسِهِمْ عَذَابَ اللهِ

“Jika telah marak perzinaan dan praktek ribawi di suatu negeri, maka sungguh mereka (penduduk negeri tersebut) telah menghalalkan (merelakan) diri untuk diadzab oleh Alloh”
[Shohihu At-Targhib wa Tarhib 1859].

Karenanya, jika yang ditanyakan status Tahlilan itu Bid’ah atau bukan maka ini Tahlilan ditinjau dari benar salahnya. Dan jika yang ditanyakan status Tahlilan itu Harom atau tidak maka ini Tahlilan ditinjau dari hukumnya. Keduanya (Bid’ah dan Harom) sama-sama dapat berujung pada Neraka.

Semoga Alloh mudahkan kita untuk bertaubat, tidak terjebak dalam kubangan salah dan juga harom, sehingga kita pun bisa terhindar dari Neraka dan juga Adzab Alloh.

Wallahu A’lam,
Wabillahittaufiq.

 

Dijawab dengan ringkas oleh:
Ustadz Rosyid Abu Rosyidah حفظه الله
Senin, 05 Sya’ban 1441 H/ 30 Maret 2020 M



Ustadz Rosyid Abu Rosyidah حفظه الله
Beliau adalah Alumni STDI IMAM SYAFI’I Kulliyyatul Hadits, dan Dewan konsultasi Bimbingan Islam,
Untuk melihat artikel lengkap dari Ustadz Rosyid Abu Rosyidah حفظه الله  
klik disini