Home Blog

Aturan Tukar Emas Putih Dengan Emas Kuning

0

Aturan Tukar Emas Putih Dengan Emas Kuning

Para pembaca Bimbinganislam.com yang memiliki akhlaq mulia berikut kami sajikan tanya jawab, serta pembahasan tentang aturan tukar emas putih dengan emas kuning.
selamat membaca.


Pertanyaan :

بِسْـمِ اللّهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْم

اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ

Semoga ustadz selalu dalam lindungan Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Ada hal yang ingin saya tanyakan ustadz.
Bolehkah menukar emas putih dengan emas kuning walaupun berbeda kuantitas atau takaran. Karena tidak berlaku Hukum riba?
Pertanyaan: “Apakah juga tidak berlaku tunai/serah terima ditempat”?

(Disampaikan oleh Fulanah, Member grup WA BiAS)


Jawaban :

وَعَلَيْكُمُ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ

Alhamdulillāh wa shalātu wa salāmu ‘alā rasūlillāh.

Hukum emas putih harus dilihat dari hakikat logam yang terkandung di dalamnya. Jika emas putih dari logam selain emas maka tidak berlaku hukum emas padanya baik berkaitan dengan zakat maupun riba.

Jika emas putih tersebut terbuat dari emas yang merupakan logam mulia, maka berlaku padanya hukum zakat dan ribawi.

Dari info yang kami dapat emas putih terdiri dari campuran logam emas, nikel, perak dan paladium sehingga menimbulkan warna putih.

Jika demikian, maka berlaku padanya hukum emas kuning pada umumnya, seperti zakat, dan riba.

Jika emas putih ditukar dengan emas putih maka harus tunai dan sama timbangannya.

Inilah yang difatwakan lembaga fatwa saudi arabia. (Fatwa Lajnah daimah : 24/61):

الذَّهَبُ إذا خُلِطَ بغيرِه لا يَخرُج عن أحكامِه؛ مِن تحريمِ التَّفاضل إذا بِيعَ بجِنْسِه، ووجوبِ التَّقابض في المجلِس- سواءٌ بِيعَ بجِنسِه أو بِيعَ بفضَّةٍ أو نقودٍ ورقيةٍ-، وتحريمِ لُبسِه على الرِّجالِ، وتحريمِ اتخاذِ الأواني منه، وتسميتُه ذهبًا أبيضَ لا تُخرِجُه عن تلك الأحكامِ

“Keadaan emas jika dicampurkan dengan bahan lainnya, tidak mengeluarkannya dari hukum yang berlaku padanya, seperti : haramnya ketidaksamaan timbangan jika ditukar sesamanya, dan harus tunai jika ditukarkan dengan sesamanya atau dengan uang ataupun perak. Haram pemakaiannya bagi laki-laki, tidak boleh dijadikan sebagai bahan pembuat bejana. Nama emas putih tidak mengeluarkannya dari hukum – hukum tersebut.”

Wallahu a’lam

Disusun oleh :
Ustadz Muhammad Ihsan حفظه الله
Jum’at, 09 Jumadil Akhiroh 1442 H / 22 Januari 2021 M



Ustadz Muhammad Ihsan حفظه الله تعالى
Beliau adalah Alumni STDI Imam Syafi’i Jember (ilmu hadits), Dewan konsultasi Bimbingan Islam
Untuk melihat artikel lengkap dari Ustadz Muhammad Ihsan حفظه الله تعالى 
klik disini

KABAR BIMBINGAN ISLAM MENYAPA SAHABAT – Edisi Desember 2020

0

[ KABAR BIMBINGAN ISLAM MENYAPA SAHABAT – Edisi Desember 2020 ]

Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmus shalihaat

Sahabat BiAS rahīmakumullāhu..
Alhamdulillah, berkat izin Allāh tabāraka wa ta’āla,  tahun 1441H ini BIAS dapat merilis kembali media Informasi KABAR BIMBINGAN ISLAM…

Sebagai wujud pertanggungjawaban dan media informasi kepada seluruh Sahabat BIAS yang memuat Laporan Kegiatan BIAS Dan Laporan Keuangan BIAS…

Pada kesempatan kali ini, kami hadirkan laporan periode Desember 2020 dengan format PDF. Kami senantiasa menerima kritik & saran untuk perkembangan & keberlangsungan Bimbingan Islam sehingga dapat memberikan yang terbaik untuk umat Islam..

Barakallahu fikum

Download Kabar BiAS Digital Desember 2020

Jangan Biarkan Riba Menyusupi Transaksi Jual Beli Anda

0

Jangan Biarkan Riba Menyusupi Transaksi Jual Beli Anda

Riba adalah salah satu bentuk transaksi mu’amalah yang diharamkan oleh Allah ﷻ. Bahkan riba merupakan transaksi yang pelakunya mendapat ancaman laknat dan dijauhkan dari rahmat Allah. Jabir radhiyallahu ‘anhu berkata:

لعن رسول الله آكل الربا وموكله وكاتبه وشاهديه, وقال: هم سواء

“Rasulullah melaknat orang yang memakan harta riba, pemberi harta riba, penulis akad riba, dan saksi transaksi riba. Mereka semuanya sama”.
(H.R Muslim : 1597)

Riba tidak hanya satu jenis, namun banyak pintu dan macamnya, sehingga seorang muslim hendaklah berhati-hati tatkala bermuamalah dengan orang lain, jangan sampai dia terjatuh ke dalam transaksi riba, Rasulullah ﷺ bersabda:

الرِّبا سَبْعُونَ حُوبًا أيْسَرُها أنْ يَنْكِحَ الرَّجُلُ أُمَّهُ

“Riba memiliki 70 macam dosa. Dosa yang paling ringan seperti dosa berzina dengan ibunya sendiri”
(HR. Ibnu Majah: 2274).

Riba jual beli (Riba ba’i)

Yaitu, tukar menukar harta dengan adanya penambahan atau penundaan pada komoditi ribawi. Rasulullah ﷺ bersabda:

الذَّهَبُ بِالذَّهَبِ وَالْفِضَّةُ بِالْفِضَّةِ وَالْبُرُّ بِالْبُرِّ وَالشَّعِيرُ بِالشَّعِيرِ وَالتَّمْرُ بِالتَّمْرِ وَالْمِلْحُ بِالْمِلْحِ مِثْلاً بِمِثْلٍ سَوَاءً بِسَوَاءٍ يَدًا بِيَدٍ فَإِذَا اخْتَلَفَتْ هَذِهِ الأَصْنَافُ فَبِيعُوا كَيْفَ شِئْتُمْ إِذَا كَانَ يَدًا بِيَدٍ

“Jika emas dijual dengan emas, perak dijual dengan perak, gandum dijual dengan gandum, sya’ir (salah satu jenis gandum) dijual dengan sya’ir, kurma dijual dengan kurma, dan garam dijual dengan garam, maka jumlah (takaran atau timbangan) harus sama dan dibayar kontan (tunai). Jika jenis barang tadi berbeda, maka silakan engkau membarterkannya sesukamu, namun harus dilakukan secara kontan (tunai).”
(HR. Muslim no. 1587).

Berdasarkan hadits diatas, riba pada transaksi jual beli terbagi menjadi dua:

  1. Riba fadhl, jika terjadi penambahan.  ini tidak berlaku jika objek transaksi berbeda jenis. Seperti : tukar menukar antara emas dan perak, maka tidak disyaratkan disini kesamaan dalam timbangan.
  2. Riba Nasi’ah, jika terjadi penundaan dalam serah terima objek transaksi.

Ibnu Abdil Barr berkata:

فاسْتَقَرَّ الأمْرُ عِنْدَ العُلَماءِ عَلى أنَّ الرِّبا فِي الِازْدِيادِ فِي الذَّهَبِ بِالذَّهَبِ وفِي الوَرِقِ بِالوَرِقِ كَما هُوَ فِي النَّسِيئَةِ سَواءٌ فِي بَيْعِ أحَدِهِما بِالآخَرِ وفِي بَيْعِ بَعْضِ كُلِّ واحِدٍ مِنهُما بِبَعْضٍ وهَذا أمْرٌ مُجْتَمَعٌ عَلَيْهِ لا خِلافَ بَيْنِ العُلَماءِ فيه مع توتر الآثارِ عَنِ النَّبِيِّ ﷺ بِذَلِكَ

“Telah menjadi ketetapan dikalangan para ulama bahwasanya riba berlaku pada penambahan saat tukar-menukar emas dan perak, begitu pula jika terjadi penundaan, baik tukar menukar tersebut pada keseluruhan objek jual beli atau sebagiannya. Ini adalah perkara yang disepakati, tidak ada perselisihan dikalangan ulama, begitu pula banyaknya hadits yang diriwayatkan dari rasulullah ﷺ yang menjelaskan hal tersebut”.
(At-tamhid : 6/287).

Begitu pula dengan empat komoditi lainnya selain emas dan perak, berlaku pula aturan kesamaan dalam timbangan atau takaran dan tunai dalam majelis akad. Ini adalah madzhab sahabat, tabi’in, dan para ahli fikih. (Lihat : At – Tamhid : 4/84).

Apakah komoditi ribawi hanya dikhususkan pada enam benda riba yang disebutkan oleh rasulullah ﷺ?

Mayoritas ulama berpendapat bahwa benda-benda lain pun bisa terhitung komoditi ribawi jika ada kesamaan illat (sebab hukum) dengan enam komoditi yang disebutkan oleh rasulullah ﷺ.

Apa illat pada enam komoditi ribawi yang disebutkan rasulullah ﷺ?

Para ulama sepakat bahwa emas dan perak memiliki illat yang sama, dan 4 komoditi lainnya pun memiliki illat yang sama, namun mereka berbeda pendapat dalam menentukan illatnya.

Ibnu Qudamah berkata:

واتَّفَقَ المُعَلِّلُونَ عَلى أنَّ عِلَّةَ الذَّهَبِ والفِضَّةِ واحِدَةٌ، وعِلَّةَ الأعْيانِ الأرْبَعَةِ واحِدَةٌ، ثُمَّ اخْتَلَفُوا فِي عِلَّةِ كُلِّ واحِدٍ مِنهُما

“Para ulama yang menetapkan illat pada komoditi riba yang disebutkan rasulullah ﷺ sepakat bahwa illat yang ada pada emas dan perak sama, begitupula illat yang ada pada empat komoditi lainnya juga sama, kemudian ,mereka berselisih pendapat dalam menentukan illat tersebut”
(Al – Mughny : 4/5).

Prof. DR. Sulaiman Ar-ruhaily –salah seorang ulama Saudi arabia- menguatkan pendapat bahwa:

  1. Illat dalam emas dan perak adalah tsamaniyyah, yaitu alat tukar menukar atau patokan harga barang.
  2. Sedangkan illat dalam empat komoditi lainnya adalah makanan yang ditakar atau ditimbang.

Oleh karenanya, uang kartal yang ada pada zaman sekarang masuk ke dalam komoditi ribawi dan berlaku padanya hukum riba karena memiliki illat yang sama dengan emas dan perak yaitu tsamaniyyah, sehingga dianalogikan dengan kedua benda tersebut.
Namun, mata uang suatu negara berbeda jenis dengan mata uang negara lainnya, seperti emas yang berbeda jenis dengan perak, namun memiliki illat yang sama.

10.000 rupiah tidak boleh ditukar dengan 50.000 rupiah, karena hal tersebut termasuk ke dalam riba fadhl karena adanya penambahan dalam tukar-menukar dua komoditi ribawi yang sejenis.
Akan tetapi dibolehkan untuk menukar 50.000 rupiah dengan 5 dolar karena berbeda mata uang yang berarti berbeda jenis namun tetap disyaratkan tunai, karena tunai adalah syarat tukar menukar dua komoditi ribawi yang sama illatnya.

Disarikan dari kitab dhawabitur riba karya Prof. DR. Sulaiman Ar – Ruhaily.

Wallahu a’lam

Disusun oleh :
Ustadz Muhammad Ihsan حفظه الله
Selasa, 14 Jumadil Ula 1442 H / 29 Desember 2020 M



Ustadz Muhammad Ihsan حفظه الله تعالى
Beliau adalah Alumni STDI Imam Syafi’i Jember (ilmu hadits), Dewan konsultasi Bimbingan Islam
Untuk melihat artikel lengkap dari Ustadz Muhammad Ihsan حفظه الله تعالى 
klik disini

Menyoal Tentang Joki Dan Hukum Mengambil Program Bantuan Pemerintah

0

Menyoal Tentang Joki Dan Hukum Mengambil Program Bantuan Pemerintah

Para pembaca Bimbinganislam.com yang memiliki adab dan akhlak yang luhur berikut kami sajikan tanya jawab, serta pembahasan tentang menyoal tentang joki dan hukum mengambil program bantuan pemerintah.
Silahkan membaca.


Pertanyaan :

بِسْـمِ اللّهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْم

اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ

Semoga Allah Azza wa Jalla selalu menjaga Ustadz & keluarga.

Si A beberapa waktu lalu mendaftar program bantuan dari pemerintah namun melalui orang lain. Si A awalnya mengira harus melalui orang lain ini dan orang tersebut hanya membantu hal teknis saja. Tapi ternyata orang ini adalah Joki dan mengerjakan semua persyaratannya berupa tes dan lain-lain.

Bagaimana hukum bantuan berupa uang yang didapatkan? Jika haram, karena joki tersebut meminta bayaran, bolehkah uangnya diambil dari bantuan pemerintah itu? Karena si A tidak punya uang. Nanti uang sisa bantuanya akan dikembalikan ke Pemerintah.
Jazaakumullahu khairan.

(Disampaikan oleh Fulanah, Member grup WA Bimbingan Islam – BiAS)


Jawaban :

وَعَلَيْكُمُ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ

بِسْـمِ اللّهِ

Alhamdulillāh
Alhamdulillah, wa laa haula wa laa quwwata illaa billaah, wash shalaatu was salaamu ‘alaa rasulillaah, Amma ba’du.

Menyoal Tentang Joki Dan Hukum Mengambil Program Bantuan Pemerintah

Masalah ini perlu dirinci,

1. Hukum asal boleh seorang muslim meminta bantuan orang lain, jika terdesak dan sangat membutuhkan (darurat), dimana orang yang dimintai bantuan mampu untuk membantu dalam hal yang mubah, dan ini teranggap saling tolong menolong dalam kebaikan.

Allah Ta’ala berfirman:

وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى

“Dan hendaklah kalian saling tolong menolong dalam kebaikan dan takwa, … ”
(QS. Al-Maidah: 2).

Namun, jika ternyata dalam pelaksanaannya (permohonan bantuan kepada pemerintah) terdapat unsur penipuan, kebohongan, menghalalkan segala cara agar dapat bantuan, padahal dia adalah orang yang berkecukupan, dan mampu dalam pengerjaan hal-hal teknis yang disebutkan penanya, maka permohonan bantuannya kepada joki ini tidak boleh, dan joki seperti ini telah melanggar amanah (menyalahi tugas sebenarnya).

وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ

“ … , dan jangan tolong menolong di atas dosa dan pelanggaran.”
(QS. Al Maidah: 2)

2. Jika anda adalah orang yang berhak mendapatkan bantuan dari pemerintah karena faktor kefakiran dan kemiskinan, atau faktor lain yang mendesak, hanya saja teknik pelaksanaan pengambilan bantuan yang rumit, sehingga anda membutuhkan jasa joki, maka hal ini boleh. Anda boleh memanfaatkan bantuan dari pemerintah tadi, sekaligus juga dengan membayar jasa joki.

Hanya saja sedari awal, joki ini harus terang dan jujur bahwa dia adalah joki, bukan dengan tanpa penjelasan, tetibanya minta jasa bayar. Kalau dia tidak jujur dari awal, maka anda boleh tidak bayar, karena akadnya adalah tolong-menolong, dan jika ia memaksa, anda boleh bayar dan dia (joki) ini yang zalim.

Berdasarkan firman Allah Ta’ala;

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُم بَيْنَكُم بِالْبَاطِلِ إِلَّا أَن تَكُونَ تِجَارَةً عَن تَرَاضٍ مِّنكُمْ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku suka sama suka di antara kamu”
(QS. An-Nisaa: 29).

Wallahu Ta’ala A’lam.

Dijawab dengan ringkas oleh:
Ustadz Fadly Gugul S.Ag. حفظه الله
Selasa, 14 Jumadal Ula 1442 H / 29 Desember 2020 M



Ustadz Fadly Gugul S.Ag. حفظه الله
Beliau adalah Alumni STDI Imam Syafi’i Jember (ilmu hadits), Dewan konsultasi Bimbingan Islam

Untuk melihat artikel lengkap dari Ustadz Fadly Gugul حفظه الله تعالى klik disini

Istri Minta Cerai Sebab Akhlaq Buruk Suami

0

Istri Minta Cerai Sebab Akhlaq Buruk Suami

Para pembaca Bimbinganislam.com yang memiliki akhlaq mulia berikut kami sajikan tanya jawab, serta pembahasan tentang istri minta cerai sebab akhlaq buruk suami.
selamat membaca.


Pertanyaan :

بِسْـمِ اللّهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْم

اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ

Semoga Ustadz dan keluarga selalu dalam kebaikan dan lindungan Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Setahun lalu, saya menikah dengan seorang laki-laki bermanhaj salaf. Laki-laki yang dimata teman-temannya mengetahui ilmu agama dengan baik.
Namun ketika saya sudah setahun menikah dengannya, dari sikap dan perlakuan suami saya kepada saya, saya mengetahui bahwa suami saya sebenarnya tidak cinta kepada saya.
Dia bilang, “jika kamu seperti dia (menyebutkan nama artis perempuan), merangkak kepadamu pun saya mau.

Meskipun di luar rumah, orang-orang mengetahui bahwa suami saya adalah orang yang bagus ibadahnya, tetapi hati saya sering sekali tersakiti oleh ucapan-ucapannya juga sikapnya. Apakah dengan hal-hal itu, saya bisa meminta cerai?
Apakah saya berdosa jika mengingkari takdir saya ini dan membuat keputusan untuk bercerai?

(Disampaikan oleh Fulanah, penanya dari media sosial bimbingan islam)


Jawaban :

وَعَلَيْكُمُ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ

بِسْـمِ اللّهِ

Alhamdulillāh
Alhamdulillah, wa laa haula wa laa quwwata illaa billaah, wash shalaatu was salaamu ‘alaa rasulillaah, Amma ba’du.
 

Selamat datang di Media Sosial Bimbingan Islam, semoga Allah selalu membimbing kita semua di dalam jalan keridhoan-Nya.

1- Kedudukan Pernikahan

Sesungguhnya pernikahan di dalam agama Islam memiliki kedudukan yang agung. Pernikahan mengandung banyak berkah, rahasia yang menakjubkan, dan hikmah yang banyak. Oleh karena itu pernikahan termasuk tanda-tanda kekuasaan Alloh, sebagaimana firman-Nya:

وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.”
(QS. Ar-Ruum/30: 21)

Maka seseorang yang sudah menikah hendaklah menjaga pernikahannya dengan baik, jangan sampai terjadi perceraian dengan sebab yang sepele. Karena perceraian adalah sesuatu yang disukai oleh Iblis.

عَنْ جَابِرٍ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ” إِنَّ إِبْلِيسَ يَضَعُ عَرْشَهُ عَلَى الْمَاءِ، ثُمَّ يَبْعَثُ سَرَايَاهُ، فَأَدْنَاهُمْ مِنْهُ مَنْزِلَةً أَعْظَمُهُمْ فِتْنَةً، يَجِيءُ أَحَدُهُمْ فَيَقُولُ: فَعَلْتُ كَذَا وَكَذَا، فَيَقُولُ: مَا صَنَعْتَ شَيْئًا، قَالَ ثُمَّ يَجِيءُ أَحَدُهُمْ فَيَقُولُ: مَا تَرَكْتُهُ حَتَّى فَرَّقْتُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ امْرَأَتِهِ، قَالَ: فَيُدْنِيهِ مِنْهُ وَيَقُولُ: نِعْمَ أَنْتَ “

Dari Jabir rodhiyallohu ‘anhu, dia berkata: Rasulullah sholallohu ‘alaihi wassallam bersabda:
“Sesungguhnya Iblis meletakkan singgasananya di atas air, kemudian dia mengirim pasukannya. Tentara yang paling dekat kedudukannya dengan Iblis adalah yang paling besar keburukannya. Salah seorang dari mereka datang (melapor), lalu berkata, “Aku telah melakukan ini dan ini”. Iblis berkata, “Kamu tidak melakukan apapun!”
Kemudian salah seorang dari mereka datang (melapor), lalu berkata, “Aku tidak meninggalkannya (seorang suami) sampai aku pisahkan antara dia dengan istrinya”. Iblis mendekatkannya dan berkata, “Kamu memang bagus!”.
(HR. Muslim, no. 2813; Ahmad, no. 14377)

2- Kewajiban Suami Mempergauli Istri Dengan Ma’ruf

Banyak nash-nash memerintahkan agar suami berbuat baik kepada istri dan memperhatikan keadaannya. Allah Ta’ala berfirman:

وَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ فَإِنْ كَرِهْتُمُوهُنَّ فَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَيَجْعَلَ اللَّهُ فِيهِ خَيْرًا كَثِيرًا

“Dan pergaulah mereka (istri-istri) dengan cara yang ma’ruf. Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.”
(QS. An-Nisa/4: 19)

Dan suami terbaik adalah suami yang terbaik di dalam pergaulan dengan istrinya.

عَنْ عَائِشَةَ، قَالَتْ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لِأَهْلِهِ وَأَنَا خَيْرُكُمْ لِأَهْلِي

Dari ‘Aisyah, dia berkata: Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam pernah bersabda: “Sebaik-baik kalian adalah orang yang paling baik (dalam bergaul) dengan keluarganya dan aku adalah orang yang paling baik (dalam bergaul) dengan keluargaku”.
(HR at-Tirmidzi, no. 3895 dan Ibnu Hibban, no. 4177, dinyatakan shahih oleh Imam at-Tirmidzi, Ibnu Hibban dan Syaikh al-Albani. Lihat Ash-Shohihah, no. 285)

3- Suami Tidak Boleh Menzhalimi Dan Menghina Istrinya

Islam melarang kezholiman, perbuatan menganggu dan menyakiti orang lain. Apalagi orang lain itu adalah orang yang dekat dengan kita, keluarga kita.
Alloh berfirman di dalam hadits qudsi:

يَا عِبَادِي إِنِّي حَرَّمْتُ الظُّلْمَ عَلَى نَفْسِي وَجَعَلْتُهُ بَيْنَكُمْ مُحَرَّمًا فَلَا تَظَالَمُوا

“Wahai hamba-hambaKu, sesungguhnya Aku telah mengharamkan kezholiman terhadap diriKu dan Aku menjadikannya (perkara) yang diharamkan di antara kamu, maka janganlah kamu saling menzholimi”.
(HR. Muslim, no: 2577)

Dan menghina adalah termasuk kezholiman. Nabi shalallahu ‘alaihi wassallam bersabda:

لَا تَحَاسَدُوا وَلَا تَنَاجَشُوا وَلَا تَبَاغَضُوا وَلَا تَدَابَرُوا وَلَا يَبِعْ بَعْضُكُمْ عَلَى بَيْعِ بَعْضٍ وَكُونُوا عِبَادَ اللَّهِ إِخْوَانًا الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ لَا يَظْلِمُهُ وَلَا يَخْذُلُهُ وَلَا يَحْقِرُهُ التَّقْوَى هَاهُنَا وَيُشِيرُ إِلَى صَدْرِهِ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ بِحَسْبِ امْرِئٍ مِنَ الشَّرِّ أَنْ يَحْقِرَ أَخَاهُ الْمُسْلِمَ كُلُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ حَرَامٌ دَمُهُ وَمَالُهُ وَعِرْضُهُ

“Janganlah kamu saling hasad, saling najasy (khianat; memperdaya dalam jual beli), saling benci, dan saling membelakangi. Janganlah sebagian kamu menjual atas penjualan orang lain. Jadilah kamu hamba-hamba Allah yang bersaudara. Seorang muslim adalah saudara muslim yang lain, dia tidak boleh menzhaliminya, membiarkannya (di dalam kesusahan), dan merendahkannya.
Taqwa itu di sini, -beliau menunjuk dadanya 3 kali- Cukuplah keburukan bagi seseorang jika dia merendahkan saudaranya, seorang muslim. Setiap orang muslim terhadap muslim yang lain haram: darahnya, hartanya, dan kehormatannya”.

(HR. Muslim no: 2564; dan lainnya dari Abu Hurairah-pen)

Dan seorang laki-laki yang di luar dianggap mengetahui ilmu agama dengan baik, dikenal bermanhaj salaf, jangan-lah merusak citra Islam dan citra manhaj Salaf dengan perkataan atau perbuatannya yang bertentangan dengan agama yang mulia ini. Seharusnya dia bertaubat ketika masih sempat. Kemudian memperbaiki dirinya.
Jika memang anda tidak mencintai istri anda, ceraikan dengan baik, jika anda tidak mau menceraikan, maka pergauli-lah dengan baik. Jika tidak anda akan berhadapan dengan Alloh Yang Maha Kuasa menolong orang-orang yang lemah.

Alloh Ta’ala berfirman:

وَإِذَا طَلَّقْتُمُ النِّسَاءَ فَبَلَغْنَ أَجَلَهُنَّ فَأَمْسِكُوهُنَّ بِمَعْرُوفٍ أَوْ سَرِّحُوهُنَّ بِمَعْرُوفٍ

“Apabila kamu mentalak isteri-isterimu, lalu mereka mendekati akhir iddahnya, maka rujukilah mereka dengan cara yang ma’ruf, atau ceraikanlah mereka dengan cara yang ma’ruf (pula).”
(QS. Al-Baqoroh/2: 231)

4- Istri Meminta Cerai Sebab Akhlaq Buruk Suami

Perlu diketahui bahwa hukum asalnya seorang wanita dilarang untuk meminta dicerai. Di dalam sebuah hadits diriwayatkan:

عَنْ ثَوْبَانَ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: أَيُّمَا امْرَأَةٍ سَأَلَتْ زَوْجَهَا طَلَاقًا مِنْ غَيْرِ بَأْسٍ فَحَرَامٌ عَلَيْهَا رَائِحَةُ الجَنَّةِ

Dari Tsauban, dia berkata: Rosululloh shallallahu ‘alaiahi wa sallam bersabda:
“Wanita mana saja yang meminta cerai kepada suaminya tanpa kondisi mendesak maka haram baginya bau surga”
(HR. At-Tirmidzi, no. 1187; Abu Dawud, no. 2226; Ibnu Majah, no. 2055; Ahmad, no. 22379. Dishahihkan oleh Syaikh Albani)

Hadits ini menunjukkan ancaman yang sangat keras bagi seorang wanita yang meminta perceraian tanpa ada sebab yang syar’i yang kuat yang membolehkannya untuk meminta cerai.

Namun jika istri merasa tidak akan mampu melaksanakan kewajibannya kepada suami dengan sebab kebenciannya, maka dia boleh khulu’, yaitu mengajukan gugatan cerai ke Pengadilan Agama. Di dalam Islam hal itu dengan mengembalikan mahar yang dahulu telah diberikan oleh suami.

Alloh Ta’ala berfirman:

فَإِنْ خِفْتُمْ أَلَّا يُقِيمَا حُدُودَ اللَّهِ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْهِمَا فِيمَا افْتَدَتْ بِهِ

“Jika kamu khawatir bahwa keduanya (suami istri) tidak dapat menjalankan hukum-hukum Allah, maka tidak ada dosa atas keduanya tentang bayaran yang diberikan oleh istri untuk menebus dirinya.”
(QS. Al-Baqoroh/2: 229)

Kebencian istri itu bisa jadi disebabkan kekerasan di dalam rumah tangga, atau sebab-sebab lainnya, maka istri boleh menuntut cerai, sebagaimana di dalam hadits berikut ini:

عَنْ عَائِشَةَ أَنَّ حَبِيبَةَ بِنْتَ سَهْلٍ كَانَتْ عِنْدَ ثَابِتِ بْنِ قَيْسِ بْنِ شَمَّاسٍ فَضَرَبَهَا فَكَسَرَ بَعْضَهَا فَأَتَتْ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- بَعْدَ الصُّبْحِ فَاشْتَكَتْهُ إِلَيْهِ فَدَعَا النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- ثَابِتًا فَقَالَ – خُذْ بَعْضَ مَالِهَا وَفَارِقْهَا
فَقَالَ وَيَصْلُحُ ذَلِكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ « نَعَمْ ». قَالَ فَإِنِّى أَصْدَقْتُهَا حَدِيقَتَيْنِ وَهُمَا بِيَدِهَا فَقَالَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- « خُذْهُمَا فَفَارِقْهَا ». فَفَعَلَ.

Dari Aisyah bahwasanya Habibah binti Sahl dulunya istri Tsabit bin Qois, lalu Tsabit memukulnya hingga patahlah sebagian anggota tubuhnya. Habibah pun mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam setelah subuh dan mengadukan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang suaminya. Maka Nabi berkata kepada Tsabit, “Ambillah sebagian harta Habibah, dan berpisahlah darinya”

Tsaabit berkata, “Apakah dibenarkan hal ini wahai Rasulullah?”, Nabi berkata, “Benar”. Tsabit berkata, “Aku telah memberikan kepadanya mahar berupa dua kebun, dan keduanya berada padanya”. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Ambilah kedua kebun tersebut dan berpisalah dengannya”.
(HR Abu Dawud no 2230, dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani)

Ibnu Abbas meriwayatkan :

أَنَّ امْرَأَةَ ثَابِتِ بْنِ قَيْسٍ أَتَتْ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَتْ : يَا رَسُولَ اللَّهِ ثَابِتُ بْنُ قَيْسٍ مَا أَعْتِبُ عَلَيْهِ فِي خُلُقٍ وَلا دِينٍ ، وَلَكِنِّي أَكْرَهُ الْكُفْرَ فِي الْإِسْلَامِ. فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : (أَتَرُدِّينَ عَلَيْهِ حَدِيقَتَهُ ؟ قَالَتْ : نَعَمْ . قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : اقْبَلْ الْحَدِيقَةَ وَطَلِّقْهَا تَطْلِيقَةً

“Bahwasanya istri Tsaabit bin Qois mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata, “Wahai Rasulullah, suamiku Tsaabit bin Qois tidaklah aku mencela akhlaknya dan tidak pula agamanya, akan tetapi aku takut berbuat kekufuran dalam Islam”. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Apakah engkau (bersedia) mengembalikan kebunnya (yang ia berikan sebagai maharmu-pen)?”.

Maka ia berkata, “Iya”. Rasulullah pun berkata kepada Tsaabit, “Terimalah kembali kebun tersebut dan ceraikanlah ia !”
(HR Al-Bukhari no 5373)

Dan perlu diketahui, bahwa istri yang menuntut cerai dari suami yang buruk akhlaqnya, bukan berarti mengingkari takdir, namun dia melakukan perkara yang dibenarkan syari’at sehingga lepas dari kezholiman. Wallohu a’lam.

Semoga Alloh memberikan kebaikan kepada kita semua.

Dijawab oleh:
Ustadz Muslim Al-Atsari حفظه الله
Rabu, 08 Rabiul Akhir 1442 H/ 23 Desember 2020 M



Ustadz Muslim Al-Atsari حفظه الله
Beliau adalah Pengajar di Pondok Pesantren Ibnu Abbas As Salafi, Sragen
Untuk melihat artikel lengkap dari Ustadz Muslim Al-Atsari حفظه الله 
klik disini

 

Apa Itu Mujahadah dan Barzanji?

0

Apa Itu Mujahadah dan Barzanji?

Para pembaca Bimbinganislam.com yang memiliki akhlaq mulia berikut kami sajikan tanya jawab, serta pembahasan tentang apa itu mujahadah dan barzanji?
selamat membaca.


Pertanyaan :

بِسْـمِ اللّهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْم

اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ

Semoga Ustadz dan keluarga selalu dalam kebaikan dan lindungan Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Langsung ke pertanyaannya saja ya ustadz.

  1. Pengertian dari mujahadah dan barzanji itu apa?
  2. Kalau masuk dalam perkara bidah apakah kita boleh membantu dalam acara tersebut misal rewang bagi perempuan. Karena kalau tidak membantu keluarga nanti dikira wanita pemalas dan tidak mau bantu acara keluarga.

(Disampaikan oleh Fulanah, penanya dari media sosial bimbingan islam)


Jawaban :

وَعَلَيْكُمُ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ

بِسْـمِ اللّهِ

Alhamdulillāh
Alhamdulillah, wa laa haula wa laa quwwata illaa billaah, wash shalaatu was salaamu ‘alaa rasulillaah, Amma ba’du.
 

Selamat datang di Media Sosial Bimbingan Islam, semoga Allah selalu membimbing kita semua di dalam jalan keridhoan-Nya.

1- Pengertian Dari Mujahadah

Mujahadah dan jihad adalah mashdar (asal kata) dari fi’il (kata kerja) jaahada – yujaahidu – mujahadah wa jihad

جَاهَدَ يُجَاهِدُ مُجَاهَدَةً وَجِهَادًا

Mujahadah dan jihad secara bahasa memiliki beberapa arti:

  • Berusaha dengan sungguh-sungguh, mengerahkan segenap kemampuan.

Seperti firman Alloh Ta’ala:

وَإِنْ جَاهَدَاكَ عَلى أَنْ تُشْرِكَ بِي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلا تُطِعْهُمَا وَصَاحِبْهُمَا فِي الدُّنْيَا مَعْرُوفًا

“Dan jika keduanya berjihad (memaksamu) untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik.”
(QS. Luqman/31: 15)

  • Melawan dan menghadapi dengan kekuatan.

Seperti firman Alloh Ta’ala:

يَاأَيُّهَا النَّبِيُّ جَاهِدِ الْكُفَّارَ وَالْمُنَافِقِينَ وَاغْلُظْ عَلَيْهِمْ وَمَأْوَاهُمْ جَهَنَّمُ وَبِئْسَ الْمَصِيرُ

“Hai Nabi, berjihadlah (melawan) orang-orang kafir dan orang-orang munafik itu, dan bersikap keraslah terhadap mereka. Tempat mereka ialah neraka Jahanam. Dan itulah tempat kembali yang seburuk-buruknya”.
(QS. At-Taubah/9: 73; At-Tahrim/66: 9)

Berjihad melawan orang-orang kafir dengan dakwah dan senjata, sesuai dengan keadaan. Sedangkan berjihad melawan orang-orang munafiq adalah dengan perkataan yang tegas kepada mereka.

  • Berjuang untuk menundukkan.

Seperti sabda Nabi sholallohu ‘alaihi wassalam  di dalam hadits berikut ini:

عَنْ فَضَالَةَ بْنِ عُبَيْدٍ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي حَجَّةِ الْوَدَاعِ: «أَلَا أُخْبِرُكُمْ بِالْمُؤْمِنِ؟ مَنْ أَمِنَهُ النَّاسُ عَلَى أَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ، وَالْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ النَّاسُ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ، وَالْمُجَاهِدُ مَنْ جَاهَدَ نَفْسَهُ فِي طَاعَةِ اللَّهِ، وَالْمُهَاجِرُ مَنْ هَجَرَ الْخَطَايَا وَالذَّنُوبَ

Dari Fadlalah bin ‘Ubaid, dia berkata: Rasulullah shallalahu ‘alaihi wa sallam bersabda saat haji wada’:
“Maukah kalian aku beritahukan tentang orang mu’min, (orang mu’min adalah) orang yang (membuat) orang lain aman atas harta dan diri mereka, orang muslim adalah orang yang (membuat) orang lain terhindar dari (bahaya) lidah dan tangannya,
mujahid adalah orang yang berjuang menundukkan dirinya dalam mentaati Allah dan muhajir adalah orang meninggalkan kesalahan-kesalahan dan dosa-dosa.”
(HR. Ahmad, no. 23958; Ibnu Hibban, no. 4862. Dishohihkan Syaikh Al-Albani di dalam Ash-Shohihah, no. 549; dan Syaikh Al-Arnauth di dalam Takhrij Musnad Ahmad, no. 23958)

Istilah mujahadah biasanya yang dimaksud adalah makna ketiga sebagaimana di atas, yaitu berjuang menundukkan diri sendiri dalam menaati Allah. Dan mujahadah yang benar harus sesuai dengan syari’at Islam, tidak boleh sampai menghalalkan yang haram, atau mengharamkan yang halal. Karena terjadi pada sebagian kaum muslimin berdalih melakukan mujahadah, namun menyelisihi syari’at.

2- Pengertian Barzanji.

Barzanji atau berjanjen yang dimaksud biasanya adalah membaca sebuah kitab yang bernama ‘Iqdul Jauhar Fî Maulid an-Nabiyyi al-Azhar’ atau yang terkenal dengan nama Maulid Barzanji, karena ditulis oleh Syaikh Ja’far bin Hasan bin Abdul Karim al-Barzanji. Ia lahir di Madinah tahun 1690 dan meninggal tahun 1766. Barzanji berasal dari nama Barzinj sebuah tempat di Kurdistan.
(Lihat: https://id.wikipedia.org/wiki/Berzanji)

Kitab Maulid Barzanji mengandung sejarah dan perjalanan hidup Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Namun, dalam penyajiannya dipenuhi dengan lafadz-lafadz dan pujian-pujian ghuluw (melewati batas) kepada beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
(Lihat: https://almanhaj.or.id/2584-mengapa-harus-barzanji.html)

Memuji Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan pujian yang benar tidak mengapa, namun memuji dengan kelewat batas dilarang.

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ، سَمِعَ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، يَقُولُ عَلَى المِنْبَرِ: سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: «لاَ تُطْرُونِي، كَمَا أَطْرَتِ النَّصَارَى ابْنَ مَرْيَمَ، فَإِنَّمَا أَنَا عَبْدُهُ، فَقُولُوا عَبْدُ اللَّهِ، وَرَسُولُهُ»

Dari Ibnu ‘Abbas radliallahu ‘anhuma, bahwa dia mendengar ‘Umar radliallahu ‘anhum berkata di atas mimbar, “Aku mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
“Janganlah kalian memujiku dengan melampaui batas sebagaimana orang Nashrani memuji ‘Isa bin Maryam dengan melampaui batas. Sesungguhnya aku hanyalah hamba-Nya, maka itu katakanlah ‘abdullahu wa rasuuluh (hamba Allah dan utusan-Nya).”
(HR. Bukhori, no. 3445)

Kitab Maulid Barzanji biasa dibaca dengan berjamaah pada perayaan maulid Nabi pada tanggal 12 Rabi’ûl awwal. Kemudian jamaah berdiri di saat mahalul qiyam, yaitu pada pembacaan kelahiran beliau. Hal ini dilakukan dengan anggapan ruh Nabi sholallohu ‘alaihi wassalam hadir.

Kitab ini juga biasa dibaca ketika akikahkhitananpernikahan, dan lainnya.

Amalan seperti ini tidak dituntunkan oleh Nabi Muhammad sholallohu ‘alaihi wassalam dan sahabatnya, maka sebaiknya ditinggalkan. Sebab Nabi Muhammad sholallohu ‘alaihi wassalam telah bersabda:

مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

“Barangsiapa melakukan suatu amalan yang tidak ada tuntunan kami padanya, maka amalan itu tertolak.”
(HR. Muslim no: 1718)

Sebagai umat Islam, kita wajib meyakini bahwa Nabi Muhammad telah menyampaikan agama Islam dengan sempurna, sehingga tidak boleh ada penambahan kepada-nya. Alloh Ta’ala berfirman:

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ اْلإِسْلاَمَ دِينًا

“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu menjadi agamamu.”
(QS. Al-Maidah/5: 3)

Imam Ibnu Katsir –rohimahulloh(wafat th 774 H) berkata di dalam tafsirnya: “Ini nikmat Alloh terbesar kepada umat ini, yaitu Alloh Ta’ala menyempurnakan agama mereka untuk mereka, sehingga mereka tidak membutuhkan agama apapun selainnya, dan mereka tidak membutuhkan seorang Nabi-pun selain Nabi mereka. Oleh karena inilah Alloh menjadikan beliau sebagai penutup seluruh para Nabi dan (Alloh) mengutus beliau kepada seluruh manusia dan jin. Tidak ada yang halal kecuali apa yang beliau halalkan. Tidak ada yang harom kecuali apa yang beliau haromkan. Tidak ada agama kecuali apa yang beliau syari’atkan. Segala sesuatu yang beliau beritakan, maka hal itu haq dan benar (sesuai kenyataan), tidak ada kedustaan padanya dan tidak ada kesalahan”.
(Tafsir Al-Qur’anil ‘Azhim, surat Al-Maidah, ayat: 3)

Imam Malik bin Anas –rohimahulloh– (wafat th 179 H) berkata: “Barangsiapa membuat perkara baru di dalam Islam, dia memandangnya sebagai kebaikan, maka sesungguhnya dia telah menyangka bahwa Nabi Muhammad sholallohu ‘alaihi wassalam telah mengkhianati risalah (tugas menyampaikan agama), karena Alloh telah berfirman: “Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agamamu. (QS. Al-Maidah/5 :3) Oleh karena itu, apa saja yang pada hari itu tidak menjadi agama, pada hari inipun juga tidak menjadi agama”.
(Kitab Al-I’tishom, juz: 2, hlm: 64, karya Imam Asy-Syatibi)

3- Membantu amalan bid’ah

Amalan barjanzen sebagaimana di atas termasuk amalan baru yang tidak dituntunkan, maka sudah selayaknya seorang yang menginginkan keselamatan untuk menjauhinya, dan tidak ikut membantunya. Karena tidak boleh saling menolong di dalam keburukan.

Allah Ta’ala berfirman:

وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya.”
(QS. Al-Maidah/5: 2)

Adapun khawatir dianggap wanita pemalas, sebab tidak mau membantu acara keluarga, maka disampaikan dengan bijak bahwa amalan ibadah yang tidak dituntunkan merupakan kemaksiatan, dan mohon maaf jika bisa ikut membantunya. Namun sebagai gantinya, anda harus lebih rajin di dalam membantu keluarga di dalam perkara-perkara yang tidak dilarang agama. Bahkan seharusnya untuk selalu berbuat kebaikan, suka menolong, bersikap ramah, bergaul dengan baik, sehingga keluarga akan memahaminya.

Semoga Alloh selalu membimbing kita di dalam kebenaran dan kebaikan di dunia dan di akhirat.

Dijawab oleh:
Ustadz Muslim Al-Atsari حفظه الله
Rabu, 03 Rabiul Akhir 1442 H/ 18 Desember 2020 M



Ustadz Muslim Al-Atsari حفظه الله
Beliau adalah Pengajar di Pondok Pesantren Ibnu Abbas As Salafi, Sragen
Untuk melihat artikel lengkap dari Ustadz Muslim Al-Atsari حفظه الله 
klik disini

Hadits-Hadits Tentang Sholat Lima Waktu : Orang yang Sholat Mendapatkan Perlindungan Allah

0

Orang yang Sholat Mendapatkan Perlindungan Allah

HADITS ANAS BIN MALIK:

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ صَلَّى صَلَاتَنَا وَاسْتَقْبَلَ قِبْلَتَنَا وَأَكَلَ ذَبِيحَتَنَا فَذَلِكَ الْمُسْلِمُ الَّذِي لَهُ ذِمَّةُ اللَّهِ وَذِمَّةُ رَسُولِهِ فَلَا تُخْفِرُوا اللَّهَ فِي ذِمَّتِهِ 

Dari Anas bin Malik, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
“Barangsiapa shalat seperti shalat kita, menghadap ke arah kiblat kita dan memakan sembelihan kita, maka dia adalah seorang Muslim, ia memiliki perlindungan dari Allah dan Rasul-Nya. Maka janganlah kalian mendurhakai Allah dengan mencederai perlindungan-Nya.”
(HR. Al-Bukhori, no. 384; An-Nasai, no. 4997)

HADITS ABU BAKAR:

عَنْ أَبِي بَكْرٍ الصِّدِّيقِ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ صَلَّى الصُّبْحَ فَهُوَ فِي ذِمَّةِ اللَّهِ فَلَا تُخْفِرُوا اللَّهَ فِي عَهْدِهِ فَمَنْ قَتَلَهُ طَلَبَهُ اللَّهُ حَتَّى يَكُبَّهُ فِي النَّارِ عَلَى وَجْهِهِ 

Dari Abu Bakar Ash-Shiddiiq, dia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
“Barangsiapa menunaikan shalat shubuh maka dia berada di bawah perlindungan Allah, oleh karena itu janganlah kalian melanggar perjanjian Allah. Barangsiapa membunuhnya, maka Allah akan menuntutnya sehingga melemparkan wajahnya ke dalam neraka.”
(HR. Ibnu Majah, no. 3945. Dishohihkan oleh Syaikh Al-Albani)

FAWAID HADITS:

Ada beberapa faedah yang bisa kita ambil dari hadits-hadits ini, antara lain:

Hukum manusia di dunia sesuai dengan lahiriyahnya. Barangsiapa shalat seperti shalat kaum muslimin, menghadap ke arah ka’bah, dan memakan sembelihan mereka, maka dia adalah seorang Muslim.

Kedudukan sholat yang agung. Karena orang yang menunaikan sholat memiliki perlindungan dari Allah Ta’ala.

Keutamaan  shalat shubuh, sebab disebut secara khusus.

Larangan melanggar hak orang muslim yang taat, sebab dia memiliki perlindungan dari Allah, sehingga Allah akan membelanya.

Bahaya membunuh seorang muslim yang menunaikan sholat. Karena Allah akan menuntutnya sehingga melemparkan wajahnya ke dalam neraka.

Beriman adanya surga dan neraka.

Pengaruh iman kepada adanya surga dan neraka.

Inilah sedikit penjelasan tentang hadits yang agung ini. Semoga Alloh selalu memudahkan kita untuk melaksanakan ketaatan dan menjauhi kemaksiatan. Dan selalu membimbing kita di atas jalan kebenaran menuju ridho dan sorga-Nya yang penuh kebaikan.

Ditulis oleh Muslim Atsari,

Sragen, Bakda ‘Isya Rabu, 22-Muharrom-1442 H / 9-September-2020 M