Tidak Ada Kata Terlambat Dalam Belajar

Salah satu tanda seseorang dikehendaki kebaikan oleh Allah ta’ala adalah ketika Allah jadikan ia mampu memahami agama dengan baik, mampu mengerti seluk-beluk agama dengan baik, dan tentunya ini adalah harapan dan keinginan semua orang beriman, Nabi sallallahu alaihi wa sallam bersabda:

مَن يُرِدِ اللهُ به خيرًا يُفَقِّهْه في الدينِ

“Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan padanya, niscaya Allah akan jadikan ia faham dalam agama” (H.R Bukhari no:71, Muslim no:1037).

Ketika seseorang diberikan kelebihan ilmu, terutama ilmu agama, ini adalah sesuatu yang membedakan derajat dirinya dengan derajat orang lain yang tidak berilmu, Allah ta’ala menyinggung permasalahan ini dalam beberapa ayatnya dalam al-Quran diantaranya:

قُلْ هَلْ يَسْتَوِى ٱلَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَٱلَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ ۗ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُو۟لُوا۟ ٱلْأَلْبَٰبِ

“Katakanlah: “Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran”. (al-Zumar: 9)

Allah juga berfirman:

وَإِذَا قِيلَ ٱنشُزُوا۟ فَٱنشُزُوا۟ يَرْفَعِ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ مِنكُمْ وَٱلَّذِينَ أُوتُوا۟ ٱلْعِلْمَ دَرَجَٰتٍ ۚ وَٱللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ

“Dan apabila dikatakan: “Berdirilah kamu”, maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat”. (al-Mujadilah:11).

Namun terkadang cita-cita yang tinggi lagi mulia ini tidak sesuai dengan ekspektasi kita, niat hati ingin belajar, namun umur sudah uzur, tekad jiwa untuk menuntut ilmu, tapi fisik sudah melemah, hafalan sering lupa, akhirnya berkecil hati dan surut semangat untuk meraih kemuliaan ilmu, terlebih lagi ketika membaca petuah arab:

Baca:  Keutamaan Membaca Hamdalah

التعلم في الصغر كالنقش على الحجر والتعلم فى الكبر كالنقش على الماء

“Belajar di waktu kecil bagai mengukir di atas batu dan belajar di waktu besar bagai mengukir di atas air”

Benar demikian adanya, namun tidak ada yang tidak mungkin, tidak ada yang mustahil, ketika kita sungguh-sungguh, ikhlas dalam beramal dan belajar, pasti Allah akan memberikan pertolongan, bantuan dan taufiqNya dalam belajar kita, pasti ada jalan, agar bersemangat, tengoklah ayat-ayat berikut ini:

وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ اللهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ

“Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami.Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik” (Al-Ankabut : 69)

إِنَّ اللهَ مَعَ الَّذِينَ اتَّقَوْا وَالَّذِينَ هُم مُّحْسِنُونَ

“Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang bertaqwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan” (Al-Ankabut : 128)

Selain kita membaca firman-firman Allah yang memberi kita motivasi, akan lebih baik juga jika kita membaca sedikit biografi para ulama kita, para ulama yang belajar di waktu yang bisa dikatakan sudah telat untuk belajar, namun kesungguhan mereka dan taufiq dari Allah ta’ala, akhirnya pun mereka sukses dalam belajar, berikut kita bawakan dua biografi ulama islam berikut:

Baca:  5 Kaidah Dalam Riba Bai’ (Obyek Dalam Akad Jual Beli)

1. Al-Imam Al-Qaffal Al-Marwazi

Beliau adalah Imam penduduk Khurasan dalam madzhab Syafi’iyyah.

Beliau mulai menuntut ilmu ketika beliau sudah menginjak usia 30 tahun. Allah memberkahi beliau hingga mengungguli orang orang yang se masa dengan beliau, dan menjadi orang yang paling fakih.

Berkata Syaikh Abu Muhammad : aku mendengar Qaffal berkata: “aku mulai belajar dalam kondisi tidak dapat membedakan antara (harakat) اختصرتُ dan اختصرتَ

Al imam Ibnu Shalah berkata: “saya kira maksud beliau adalah kata pertama yang ada pada kitab mukhtashar karya Al Muzani, yakni ucapan beliau

اختصرتُ هذا من علم الشافعي

“Aku meringkas (kitab ini) dari ilmunya Imam As Syafi’i. Maksud beliau adalah beliau tidak bisa membedakan dalam bahasa Arab antara dhammah dan fathah yang ada pada ta’ dhamir)”.

Tapi dengan izin Allah, beliau menjadi salah satu ulama pembesar dalam madzhab syafii, lihat: (thobaqot syafiiyyah kubro karya As Subki 5/54.)

2. Al-Imam Hasan ibnu Ziyad al-Lu’lui

Beliau adalah salah satu dari murid-murid Imam Abu Hanifah al-Nu’man, Hasan ibnu Ziyad yang wafat sekitar tahun 204 hijriah, dikisahkan tentang bagaimana beliau menuntut ilmu dalam kitab Ta’lim al-Muta’allim hal:50

Baca:  Sebab-Sebab Kerasnya Hati atau Kalbu

دخل حسن بن زياد فى التفقه وهو ابن ثمانين سنة، ولم يبت على الفراش أربعين سنة فأفتى بعد ذلك أربعين سنة

“Hasan ibnu Ziyad mulai belajar agama ketika beliau menginjak umur 80 tahun, semenjak itu beliau tidak tidur malam di atas kasurnya selama 40 tahun kedepan, (ketika sudah berumur 120 tahun) kemudian beliau menduduki kursi fatwa, memberi fatwa sampai 40 tahun kedepan (hingga beliau wafat)”.

Yang kami cantumkan hanya beberapa kutipan biografi singkat ulama-ulama kita yang berhasil sukses walau belajar di masa tua, masih ada contoh-contoh yang lain, namun minimal kisah tersebut bisa memotivasi kita bahwa tak ada sesuatu yang tak mungkin walaupun kita sudah telat belajar, yang perlu kita lakukan adalah tetap belajar dan jangan menyerah, berusaha dan tidak putus asa, senantiasa meminta bimbingan Allah, pasti akan Allah beri jalan, semoga bermanfaat bagi saya dan anda sekalian.

Wallahu a’lam

Disusun oleh:
Ustadz Setiawan Tugiyono, M.H.I حفظه الله



Ustadz Setiawan Tugiyono, M.H.I حفظه الله
Beliau adalah Alumnus S1 Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan Arab (LIPIA) Jakarta dan S2 Hukum Islam di Universitas Muhammadiyah Surakarta
Untuk melihat artikel lengkap dari Ustadz Setiawan Tugiyono, M.H.I حفظه الله  
klik disini