Adab & Akhlak

Setelah Hijrah, Bagaimana Menjaga Hubungan Pertemanan

Pendaftaran AISHAH Online Angkatan 2

Setelah Hijrah, Bagaimana Menjaga Hubungan Pertemanan

Para pembaca Bimbinganislam.com yang memiliki akhlaq mulia berikut kami sajikan pembahasan bagaimana menjaga hubungan pertemanan setelah hijrah. Selamat membaca.

Pertanyaan:

Assalamaualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Bismillah, semoga Allah selalu berikan rahmat kepada ustadz dan kita semua.

Ustadz apakah saya harus menjauhi teman-teman saya di masa lalu yang jika saya berkumpul dengan mereka saya rentan melakukan dosa seperti ghibah, julid, main dengan pulang malam, dan lain-lain? Tetapi jika saya menolak saya takut jadi memutuskan silaturahmi, dibilang sombong dan lain-lain. Mohon pencerahannya ustadz, setelah hijrah, bagaimana menjaga hubungan pertemanan, ataukah lebih baik saya tinggalkan saja teman yang memberi efek negatif? Jazakallah khairan.

(Ditanyakan oleh Santri Akademi Shalihah)

Jawaban:

Wa’alaikumussalam Warahmatullah Wabarakatuh

Menjaga Hubungan Dengan Keluarga

Pertama, jika teman-teman yang dimaksud ini adalah keluarga dan kerabat maka ini masuk kategori silaturahim. Menjaga hubungan dengan mereka adalah bagian dari ibadah bukan untuk sekadar mencari kenyamanan diri dan hati pribadi kita.

Di samping itu kondisi tidak nyaman yang kita hadapi di dalam menjalankan ibadah adalah menjadi satu ujian dan cobaan tersendiri yang jika kita mampu melewatinya dengan baik. Maka ia akan menjadi sebab kemuliaan di dunia dan akhirat serta pahala besar yang akan kita dapatkan.

Secara khusus berkaitan dengan pertanyaan ini adalah hendaknya kita belajar bagaimana mencairkan suasana. Memalingkan pembicaraan serta menyelipkan usaha dakwah di dalam setiap pertemuan keluarga yang kita hadiri sesuai kemampuan. Bisa kita mengusulkan untuk mengundang ustadz agar diganti pengajian. Bisa juga kita datang membawa hadiah kecil diselipkan buku agama dll.

Tugas Anda hanya menyampaikan nasihat tanpa menggurui dengan cara terbaik, taufiq itu dari Allah Ta’ala semata. Dan merupakan penjelasan yang dipahami bahwa tugas setiap utusan (Rasul) hanyalah memberikan penjelasan yang segamblang-gamblangnya sesuai yang diperintahkan.

Sedangkan untuk memberikan hukuman bukanlah tugas para rasul. Jika yang dijelaskan itu diterima, maka itu adalah taufik dari Allah Ta’ala. Jika tidak diterima dan yang didakwahi tetap dalam keadaan belum mendapat hidayah, maka rasul utusan tak bisa bertindak apa-apa, karena hidayah taufiq adalah hak Allah saja.

Al Hafiz Ibnu Katsir rahimahullah ketika menafsirkan ayat

قَالَتْ لَهُمْ رُسُلُهُمْ إِنْ نَحْنُ إِلَّا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ وَلَكِنَّ اللَّهَ يَمُنُّ عَلَى مَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ

Rasul-rasul mereka berkata kepada mereka: “Kami tidak lain hanyalah manusia seperti kamu, akan tetapi Allah memberi karunia kepada siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya.” (QS. Ibrahim: 11).

Beliau berkata,

يقولون إنما علينا أن نبلغكم ما أرسلنا به إليكم، فإذا أطعتم كانت لكم السعادة في الدنيا والآخرة، وإن لم تجيبوا فستعلمون غِبَّ ذلك ،والله أعلم

Utusan itu berkata, sesungguhnya kami hanyalah menyampaikan apa yang mesti disampaikan pada kalian. Jika kalian taat, maka kebahagiaan bagi kalian di dunia dan akhirat. Jika tidak mau mengikuti, kalian pun sudah tahu akibat jelek di balik itu semua. Wallahu a’lam.” (lihat Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 6/333).

[TS_Poll id="2"]

Menyeleksi Teman-Teman Terbaik

Kedua, apabila teman-teman ini bukan keluarga dan kerabat, maka menjaga pertemanan setelah hijrah dapat dilakukan dengan memberi nasihat dan saran terbaik. Teman-teman yang bukan keluarga dan kerabat ini misalnya adalah hanya teman permainan, teman sekolah dulu, dan teman nongkrong.

Baca Juga:  Ingin Hijrah, Tapi Suami Tidak Mendukung? Begini Solusinya!

Tidak mudah menghadapi teman-teman yang mempunyai watak suka mengghibah dan ada kecenderungan menyakiti saudaranya dengan lisan yang tidak baik.

Bila memang benar-benar tidak kuasa mendekati dan bersabar untuk berinteraksi sehingga beberapa teman bisa berubah atau mengurangi sifat-sifat yang buruk itu, maka mulailah dalam memilih dan menyeleksi teman-teman terbaik saja, yang mendatangkan kebaikan. Diperbolehkan juga bagi kita untuk menjauhi mereka sementara. Namun tetap bisa bergaul dalam kondisi tertentu sekadar mengingatkan dan menjaga hubungan baik.

Tapi, bila tetap tidak ada perubahan, maka anda harus mengambil sikap tegas, “Maaf aku bukanlah yang terbaik, tapi keridhaan Rabbku yang harus kudahulukan dari pertemanan ini”

Ingatlah selalu sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam;

المرء على دين خليله فلينظر أحدكم من يخالل

Agama Seseorang sesuai dengan agama teman dekatnya. Hendaklah kalian melihat siapakah yang menjadi teman dekatnya.” (HR. Abu Daud, no. 4833 dan dinyatakan sahih oleh Al-Albani dalam Sahih Sunan Abi Daud no. 4833)

Bahaya Salah Pergaulan

Salah pertemanan, keliru dalam pergaulan dapat mengubah pola pikir dan pola hidup seseorang. Bisa jadi seseorang berubah menjadi sombong dan angkuh, karena temannya yang sombong dan angkuh.

Bisa jadi seorang wanita yang ada dalam pikirannya hanya hal-hal yang sifatnya duniawi semata semisal, ingin punya tas dan sepatu yang merek ini dan itu, ingin jalan-jalan ke luar negeri, ingin berfoya-foya dan menghambur-hamburkan uang karena ia salah dalam pergaulannya.

Punya teman suka menggibah, akhirnya ikut-ikutan menggibah orang lain juga. Bahkan sampai pada teman media sosial sekalipun alias dunia maya. Terlebih media sosial di zaman ini sangat berperan dalam mengubah pola pikir seseorang.

Apabila seseorang tidak dapat menyaring pertemanan dalam akun-akun media sosialnya maka informasi-informasi yang tidak bermanfaat bahkan merusak akan selalu update dan menjadi menu bacaannya setiap hari sehingga lambat laun pola pikirnya akan ikut berubah.

Dalam pepatah arab pernah disebutkan,

الصَاحِبُ سَاحِبٌ

Seorang teman akan menggeret (mempengaruhi temannya)”

Hal ini benar adanya, karena yang namanya pertemanan selalu ada sinkronisasi. Tidak disebut teman dekat atau sahabat jika tidak ada sinkronisasi antara keduanya. Bisa jadi seseorang tertular kebaikan dari temannya atau bisa jadi seseorang turun derajatnya karena tertular akhlak yang buruk dari temannya.

Semoga Allah menjadikan kita semua dari bagian hamba yang memiliki akidah yang lurus, beribadah dengan baik dan benar dan mempunyai akhlak yang terpuji yang telah di ajarkan oleh Islam.

Wallahu Ta’ala A’lam.

Dijawab dengan ringkas oleh:
Ustadz Fadly Gugul S.Ag.
حفظه الله
Jumat, 4 Rabiul Awal 1443 H/ 30 September 2022 M


Ustadz Fadly Gugul S.Ag. حفظه الله
Beliau adalah Alumni STDI Imam Syafi’i Jember (ilmu hadits), Dewan konsultasi Bimbingan Islam

Untuk melihat artikel lengkap dari Ustadz Fadly Gugul حفظه الله تعالى klik disini

Akademi Shalihah Menjadi Sebaik-baik Perhiasan Dunia Ads

Ustadz Fadly Gugul, S.Ag

Beliau adalah Alumni S1 STDI Imam Syafi’I Jember Ilmu Hadits 2012 – 2016 | Bidang khusus Keilmuan yang pernah diikuti beliau adalah Takhosus Ilmi di PP Al-Furqon Gresik Jawa Timur | Beliau juga pernah mengikuti Pengabdian santri selama satu tahun di kantor utama ICBB Yogyakarta (sebagai guru praktek tingkat SMP & SMA) | Selain itu beliau juga aktif dalam Kegiatan Dakwah & Sosial Dakwah masyarakat (kajian kitab), Kajian tematik offline & Khotib Jum’at

Related Articles

Check Also
Close
Back to top button