RUKUN KHUTBAH SHOLAT JUMAT, DOA, DAN TATA CARANYA bimbingan islam
RUKUN KHUTBAH SHOLAT JUMAT, DOA, DAN TATA CARANYA bimbingan islam

RUKUN KHUTBAH SHOLAT JUMAT, DOA, DAN TATA CARANYA

Para pembaca Bimbinganislam.com yang mencintai Allah ta’ala berikut kami sajikan rukun khutbah jumat, doa, dan tata caranya, berikut di bawah ini pembahasannya.


 الْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ وَبَارَكَ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنِ اهْتَدَى بِهُدَاهُمْ إِلَى يَوْمِ الدِّين

Jumat merupakan hari istimewa bagi umat muslim. Pada hari Jumat seluruh kaum muslim khususnya laki-laki berkumpul di masjid untuk melaksanakan sholat Jumat. Sebelum melaksanakan sholat, terlebih dahulu jamaah mendengarkan dua khutbah Jumat.

Shalat Jumat hukumnya fardhu ain bagi setiap muslim yang mukallah, laki-laki, merdeka, dan sehat. Sholat Jumat dikerjakan secara berjamaah. Yang tidak diwajibkan untuk sholat Jumat adalah perempuan, anak kecil, orang sakit, musafir, orang yang sedang bersembunyi dari penguasa zalim, dan adanya udzur yang diperbolehkan syara’ misalnya terhalang banjir.

Ada dua rukun sholat Jumat:
Pertama adalah mendengarkan dua khutbah Jumat, dan kedua adalah Sholat berjamaah dua rakaat. Dalam khutbah jumat, terdapat tata cara khutbah jumat Sunnah.

Syarat Khutbah Jumat

Khutbah pada sholat Jumat merupakan bagain rukun sholat Jumat. Khutbah Jumat disampaikan oleh seorang khatib. Penyampaian Khutbah jumat terbagi menjadi dua sesi. Syarat-syarat dua khutbah Jumat ada 10. Syarat tersebut antara lain adalah :

  1. Khatib harus laki-laki
  2. Khatib yang memberikan khutbah harus suci dari hadas besar dan kecil
  3. Khatib harus menutup aurat.
  4. Khatib harus berdiri apabila mampu.
  5. Khutbah harus dilaksanakan pada waktu dzuhur setelah azan ke-2 sholat jumat.
  6. Isi rukun khutbah baik khutbah pertama dan khutbah kedua harus didengar oleh jamaah sekurang-kurangnya 40 orang jamaah laki-laki.
  7. Khatib harus duduk sebentar dengan tumaninah atau mengistirahatkan dirinya sebentar di antara dua khutbah.
  8. Khutbah pertama dengan khutbah kedua harus dilaksanakan secara berturut-turut, begitu juga antara khutbah dengan shalat jumat.
  9. Rukun-rukun khutbah jumat harus disampaikan dengan bahasa Arab.

Adapun rukun khutbah tersebut ada lima sebagai berikut:

1. Mengucapkan Alhamdulillah, dengan bentuk ucapan apa pun yang mengandung pujian pada Allah.

2. Bershalawat pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan ucapan apa pun yang menunjukkan shalawat. di sini dipersyaratkan nama Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam disebut secara jelas, seperti menyebut dengan Nabi, Rasul atau Muhammad. Tidak cukup dengan dhomir (kata ganti) saja.

3. Wasiat takwa dengan bentuk lafazh apa pun.

Ketiga rukun di atas adalah rukun dari dua khutbah. Kedua barulah sah jika ada ketiga hal di atas.

4. Membaca salah satu ayat dari Al Quran pada salah satu dari dua khutbah.

Ayat yang dibaca haruslah jelas, tidak cukup dengan hanya membaca ayat yang terdapat huruf muqotho’ah (seperti alif laa mim) yang terdapat dalam awal surat.

Baca:  Ketika Orang Tua Poligami, Bagaimana Sikap Anak?

5. Berdoa kepada kaum mukminin pada khutbah kedua dengan doa-doa yang sudah ma’ruf.

Adab Khatib

Ada dua belas adab khatib, berikut uraiannya:

Adab khatib sebelum azan dikumandangkan.

  1. Berangkat menuju masjid dengan hati dan pikiran yang tenang
  2. Jika sudah sampai di masjid, maka untuk menunggu waktu sholat Jumat dianjurkan untuk melakukan sholat sunah sebelum duduk
  3. Khatib sebaiknya percaya diri dan merasa terhormat karena berkhutbah adalah tugas keagamaan yang penting
  4. Naik dan berdiri di mimbar dengan khusyu dan mengingat Allah dengan berdzikir sehingga bisa membangun suasana yang sakral
  5. Menatap jamaah dan mengucapkan salam
  6. Duduk sejenak untuk mendengarkan azan

Adab khatib setelah azan dikumandangkan.

  1. Sampaikan khutbah dengan sikap tawadlu, tidak menunjukkan arogansi, dan tidak menyampaikan khutbah seperti orasi
  2. Materi yang disampaikan adalah materi yang bermanfaat
  3. Memberikan isyarat kepada jamaah untuk berdoa, bisa dengan memberi isyarat untuk mengangkat tangan sehingga jamaah pun bisa mengamini doa tersebut

Adab khatib setelah iqamat.

  1. Khatib turun dari mimbar
  2. Pastikan kondisi tenang dan bertakbir
  3. Dianjurkan membaca bacaan dalam sholat dengan tartil

Tata cara khutbah Jumat sesuai sunah.

  1. Khatib berdiri di mimbar dan mengucapkan salam.
  2. Dalam sebuah hadist yang diriwayarkan oleh Ibnu Majah dijelaskan bahwa, “Sesungguhnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam jika telah naik mimbar biasa mengucapkan salam”
  3. Duduk menunggu azan dan menirukan azan
  4. Berdiri dan memulai khutbah sesuai dengan rukun khutbah
  5. Dianjurkan untuk menghadapkan wajah ke arah jamaah
  6. Setelah selesai menyampaikan khutbah pertama, maka khatib duduk sejenak, kemudian bisa menyampaikan khutbah kedua
  7. Durasi penyampaian khutbah sebaiknya tidak lebih lama dari durasi sholat Jumat
  8. Mengeraskan suaranya ketika berkhutbah
  9. Menyudahi khutbah dengan berdoa memohon ampun kepada Allah

Konsekwensi tidak melaksanakannya syarat dan rukun khutbah jumat :

Dalam pelaksanaan shalat Jumat ada sejumlah hal yang harus diperhatikan. Salah satunya adalah khutbah. Khutbah merupakan satu prosesi yang harus dilalui demi keabsahan shalat Jumat. Dalam hadits riwayat Jabir bin Samurah radliyallahu ‘anhu disebutkan:

أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَخْطُبُ خُطْبَتَيْنِ يَجْلِسُ بَيْنَهُمَا، وَكَانَ يَخْطُبُ قَائِمًا

Artinya, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkhutbah dengan dua khutbah, kemudian beliau duduk di antara keduanya, dan kembali beliau khutbah sambil berdiri,”
(HR. Muslim). Berdasarkan hadits di atas, ulama sepakat bahwa khutbah Jumat adalah salah satu syarat sah shalat Jumat.

Syaikh Abdullah bin Abdurrahman Bafadlal Al-Hadlrami berkata:

 الشرط الخامس خطبتان قبل الصلاة

Artinya, “Syarat kelima (shalat Jumat) adalah dua khutbah sebelum shalat.”
(Lihat: Syaikh Abdullah bin Abdurrahman Bafadhal Al-Hadlrami, Muqaddimah Al-Hadlramiyyah Hamisy Busyral Karim, juz 2, hal 4-6).

Baca:  Bagaimana Aturan Puasa Saat Sakit Dalam Islam?

Oleh sebab itu, khatib yang tidak melaksanakan salah satu syarat atau rukun khutbah, seperti ia berhadats di tengah khutbah, lupa atau tertinggal membaca salah satu rukun khutbah, maka khutbahnya tidak sah dan wajib diulangi.

Demikian pula shalat Jumat yang terlanjur dilaksanakan, juga wajib diulangi, baik bagi khatib sendiri maupun jamaah. Alasannya, karena shalat Jumat tidak didahului oleh khutbah yang sah.

Dikecualikan, jika yang ditinggalkan adalah perkara samar, seperti hadats. Jika setelah Jumatan, imam baru menyadari atau diketahui berhadats, sementara makmum tidak mengetahui, maka tidak ada kewajiban mengulangi shalat Jumat bagi makmum. Adapun imam tetap berkewajiban mengulangi shalatnya.

Begitu pula syarat atau rukun yang termasuk perkara lahir dan dapat diketahui para makmum, seperti bagian luar pakaian imam/khatib terkena najis, rukun-rukun khutbah tertinggal (yang notabene bisa terdengar makmum), maka para jamaah diwajibkan mengulangi Jumatan. Hukum ini dijatuhkan karena para makmum dinilai teledor dan tidak teliti atas kesalahan imam yang bersifat lahir. Ditegaskan oleh Syaikh Khatib al-Syarbini:

ولو بان) للمأموم (إمامه) على خلاف ما ظنه كأن علمه بعد فراغ القدوة (امرأة) أو خنثى أو مجنونا (أو كافرا معلنا) بكفره كذمي (قيل أو مخفيا) كفره كزنديق (وجبت الإعادة) لأن على الأنوثة والكافر المعلن وما ذكر معهما أمارة ظاهرة، إذ تمتاز المرأة بالصوت والهيئة وغيرهما. ومثلها الخنثى لأن أمره منتشر،  وكذا المجنون: ويعرف معلن الكفر بالغيار وغيره، فالمقتدي بهم مقصر بترك البحث عنهم

Artinya, “Bila imam nyata-nyata menyelesihi dugaan makmum, seperti seorang perempuan, orang yang tidak jelas kelaminnya, tuna grahita (gila), atau non-muslim yang menampakan diri seperti dzimmi, bahkan menurut sebagian pendapat, nonmuslim yang menyamarkan kekufurannya seperti Zindiq termasuk ke dalamnya, maka wajib bagi makmum mengulang shalat.
Sebab sifat perempuan, kafir yang nyata dan yang disebutkan beserta keduanya terdapat pertanda yang jelas di dalamnya. Perempuan bisa dibedakan dari suaranya, perilaku dan lainnya. Demikian pula orang yang tidak jelas kelaminnya karena ciri-ciri tentang dirinya telah menyebar. Begitu pula orang tunagrahita. Dan orang yang menampakan kekufuran bisa diketahui dengan pakaian dan lainnya.
Sehingga makmum yang bermakmum kepada imam jenis demikian, dianggap teledor tidak teliti terhadap perihal imamnya.”

(لا) إن بان إمامه (جنبا) أو محدثا كما فهم بالأولى. وذكره في المحرر (وذا نجاسة خفية) في ثوبه أو بدنه فلا تجب إعادة المؤتم به لانتفاء التقصير إلا أن يكون ذلك في الجمعة ففيه تفصيل يأتي في موضعه، بخلاف الظاهرة فتجب فيها الإعادة لتقصير المقتدي في هذه الحالة

Artinya, “Tidak wajib mengulang shalat bagi makmum bila imamnya nyata-nyata junub atau berhadats seperti yang dipahami dengan pemahaman yang lebih utama, hal itu disebutkan Imam al-Rafi’i dalam kitab al-Muharrar, atau nyata-nyata imamnya memiliki najis yang samar di pakaian atau badannya, maka tidak wajib mengulangi shalat bagi makmum yang mengikutinya sebab ketiadaan keteledoran.
Kecuali dalam bab Jumat, maka terdapat perincian di tempat pembahasannya. Berbeda dengan najis yang tampak, maka wajib mengulang shalat, karena makmum teledor dalam kondisi tersebut.”
(Lihat: Syaikh Khatib al-Syarbini, Mughni al-Muhtaj, juz.1, hal.484).

Baca:  Bekerja Di BUMN, Apa Boleh Menerima Uang Bonus Dari Vendor?

Disebutkan dalam kitab al-Fiqh al-Manhaji:

 فهذه الأركان الثلاثة أركان لكلا الخطبتين، لا يصح كل منهما إلا بها

Artinya, “Tiga rukun ini rukun bagi dua khutbah yang masing-masing khutbah tidak sah tanpa ketiganya.”
(Lihat: Syaikh Mustafa Dib al-Bugha dkk., al-Fiqh al-Manhaji, juz.1, hal. 206).

Selanjutnya, Syaikh Muhammad Nawawi bin Umar al-Jawi menegaskan:

 ولو أحدث في الأثناء وجب الإستئناف

Artinya, “Andai seorang khatib berhadats di tengah-tengah khutbah, maka wajib mengulanginya.”
(Lihat: Syaikh Muhammad Nawawi bin Umar Al-Jawi, al-Tausyikh ‘Ala Ibni Qasim, hal. 162).

Walhasil, kesalahan khatib seperti meninggalkan syarat/rukun khutbah berakibat pada ketidakabsahan khutbah dan jumatan bagi dirinya, sehingga ia wajib mengulangi ibadah Jumatnya.

Adapun bagi jamaah, wajib mengulangi Jumat/khutbah untuk kesalahan-kesalahan khatib yang tergolong perkara lahir seperti rukun khutbah yang tidak bisa didengar, najis di bagian luar pakaian dan lain-lain.

Adapun kesalahan yang tergolong samar, seperti hadats, maka tidak wajib mengulangi Jumatan/khutbah bagi mereka. Mengingat begitu pentingnya khutbah bagi keabsahan Jumat, maka sangat perlu bagi para khatib memperhatikan syarat dan rukunnya. Demikian pula para pengurus atau takmir masjid. Mereka hendaknya memilih para khatib yang benar-benar kompeten agar ibadah Jumat yang ditunaikan sesuai dengan ketentuan syariat.

Wallahu a’lam.

Demikian ini yang bisa saya kumpulkan dari pembahsan kita, mudah-mudahan bermanfaat.
Mohon maaf apabila ada kesalahan, apabila ada kesalahan maka itu dari diri sendiri dan syaitan , dan apabila ada kebenaran dan kebaikan maka itu dari Allah azza wajalla.

وصلى الله على سيدنا وحبيبنا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين

Disusun oleh:
Ustadz Toyyib Maulidi, B.A. حفظه الله
Selasa, 12 Ramadhan 1441 H/ 05 Mei 2020 M



Ustadz Muhammad Ayyub Abdullah, Lc. حفظه الله
Beliau adalah Lulusan Universitas Islam Madinah, Fakultas Syariah
Untuk melihat artikel lengkap dari Ustadz Muhammad Ayyub حفظه الله 
klik disini