Ujian dan Syukur

Ujian dan Syukur

Ujian dan Syukur

Dunia adalah negeri ujian bagi manusia, namun banyak yang tidak menyadari bahwa dirinya sedang diuji, bila dalam keadaan lapang dan nikmat. Padahal Allah Ta’ala menguji hamba-hambaNya dengan berbagai macam ujian, baik dengan yang disenangi oleh jiwa berupa kemudahan dalam hidup atau kelapangan rizki, dan juga akan diuji dengan perkara yang tidak mereka sukai, berupa kemiskinan, kesulitan, atau yang lainnya. Lihatlah firman Allah Ta’ala:

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ وَنَبْلُوْكُمْ بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً وَإِلَيْنَا تُرْجَعُوْنَ

“Tiap-tiap yang berjiwa pasti akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kami-lah kamu dikembalikan.”
(QS. Al-Anbiya: 35)

‘Abdullah ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma mengatakan, “Maksudnya, Kami akan menguji kalian dengan kesulitan dan kesenangan, kesehatan dan penyakit, kekayaan dan kefakiran, halal dan haram, ketaatan dan maksiat, serta petunjuk dan kesesatan. (Tafsiir ath-Thabari, 9/26).

Imam ibnu Katsir menjelaskan ayat diatas dengan menyatakan: Maknanya kami menguji kalian kadang-kadang dengan musibah dan kadang-kadang dengan kenikmatan. Lalu Kami melihat diapa yang syukur dan siapa yang kufur, siapa yang sabar dan siapa yang putus asa, sebagaimana disampaikan Ali bin Abi Thalhah dari Abdullah bin Abbas. Sahabat Ibnu Abaas berkata: Kami menguji kalian dengan keburukan dan kebaikan sebagai ujian dengan kesempitan dan kelonggaran, sehat dan sakit, kaya dan fakir, halal dan haram, ketaatan dan kemaksiatan serta hawa nafsu dan kesesatan. (Tafsir ibnu katsier 3/178).

Ibnul Qayyim sempat menjelaskan hal ini dengan ungkapan: Semua yang didapatkan seorang hamba didunia ini tidak lepas dari dua hal: pertama, mendapatkan yang sesuai dengan keinginan dan kehendaknya dan yang lain tidak sesuai. Hamba ini dalam dua hal ini membutuhkan kesabaran, karena dia diuji dan dicoba.

Sesuatu yang sesuai dengan keinginannya seperti sehat, keselamatan, kedudukan, harta dan beragam kelezatan yang mubah. Dia –dalam keadaan ini- sangat membutuhkan sekali kesabaran dari beberapa sisi:

Pertama: tidak bersandar dan terpedaya dengannya. Juga tidak membawanya menjadi sombong, congkak dan bahagia yang tercela yang Allah tidak mencintai pemiliknya.

Kedua: tidak tenggelam dan sungai kenikmatan tersebut dan berlebihan dalam menggapainya, karena itu akan membalikkannya menjadi lawannya.

Ketiga: bersabar dalam menunaikan hak Allah padanya dan tidak menyia-nyiakannya sehingga menghancurkan nikmat tersebut.

Keempat: bersabar untuk tidak menggunakannya dalam hal-hal terlarang. Sehingga ia tidak membiarkan jiwanya bebas melakukan semua yang diinginkannya. Karena hal itu akan menjerumuskannya dalam keharaman. Apabila ia menjaganya dengan baik masih akan menjerumuskannya dalam perkara makruh yang dibenci. Tidak bersabar atas nikmat dan kelonggaran kecuali orang-orang shiddiq.

Sebagian ulama salaf menyatakan: orang mukmin dan kafir bisa bersabar atas musibah dan tidak sabar atas kesenangan kecuali orang-rang shiddiq.

Abdurrahman bin Auf berkata: Kami diuji dengan kesusahan, kamipun bersabar. Kami diuji dengan kesenangan lalu kami tidak sabar. Oleh karena itu Allah memperingatkan hambaNya dari fitnah harta, istri dan anak-anak. Sesungguhnya sabar atas kenikmatan lebih berat, karena disertai kemampuan. Orang yang lapar ketika tidak ada makanan lebih mampu daripada sabar ketika ada makanan tersebut (Iddatush-Shabirin hlm 64-66)

Ternyata semua nikmat yang Allah anugerahkan kepada kita adalah ujian bagi kita, untuk menjadi hamba-Nya yang bersyukur ataukah menjadi orang yang kufur. Sungguh benar apa yang diucapkan oleh Nabi Sulaiman -alaihissalam- sebagai sikap mukmin atas kenikmatan yang doianugerahkan kepadanya. Beliau mengatakan

هَذَا مِنْ فَضْلِ رَبِّيْ لِيَبْلُوَنِيْ أَأَشْكُرُ أَمْ أَكْفُرُ وَمَنْ شَكَرَ فَإِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهِ وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ رَبِّيْ غَنِيٌّ كَرِيْمٌ

“Ini termasuk karunia dari Rabb-ku untuk mengujiku, apakah aku bersyukur ataukah mengingkari (nikmat-Nya). Dan barangsiapa yang bersyukur maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri. Dan barangsiapa yang ingkar, maka sesungguhnya Rabb-ku Maha Kaya lagi Maha Mulia.” (QS. An-Naml: 40).

Marilah kita contoh sikap nabi Sulaiman ini dalam mensyukuri ujian kekayaan dan kenikmatan, semoga kita dicatat Allah sebagai orang-orang yang bersyukur.

Semoga bermanfaat.
Wabillahi taufiq.

 

Disusun oleh:
Ustadz Kholid Syamhudi حفظه الله
Rabu, 18 Syawwal 1441 H/ 10 Juni 2020 M



Ustadz Kholid Syamhudi, Lc. حفظه الله
Beliau adalah Mudir Pondok Pesantren Ibnu Abbas As Salafi, Sragen
Untuk melihat artikel lengkap dari Ustadz Kholid Syamhudi حفظه الله 
klik disini

CATEGORIES
TAGS
Share This

COMMENTS