BIAS TVKonsultasiTafsir

Malaikat Memohonkan Ampunan Bagi Orang Yang Berpuasa Hingga Berbuka

Pendaftaran Grup WA Madeenah

 

Dalam diskusi tentang hadits yang menyatakan “Malaikat memohonkan ampunan bagi orang yang berpuasa hingga dia berbuka,” Ustadz Fikri Hilabi, S.Ag. حافظه الله mengupas keabsahan narasi ini. Beliau menjelaskan bahwa hadits tersebut diriwayatkan oleh Imam Ahmad bin Hanbal melalui Abu Hurairah radhiallahu anhu. Hadits ini memberitakan lima keutamaan yang Allah Ta’ala berikan khusus kepada umat Nabi Muhammad Salallahu alaihi wasallam di bulan Ramadan, termasuk keistimewaan aroma mulut orang berpuasa yang dianggap lebih wangi dibandingkan misk di hadapan Allah Ta’ala.

Namun, Ustadz Fikri Hilabi, S.Ag. حافظه الله menekankan bahwa hadits tentang malaikat yang memohonkan ampunan bagi orang berpuasa hingga berbuka ini tergolong lemah. Alasan utamanya adalah kelemahan dalam sanad (rantai perawi) hadits tersebut, khususnya dikarenakan Hisyam bin Abi Hisyam, salah satu perawinya, yang oleh para ulama dianggap matruk atau ditinggalkan karena kelemahannya dalam meriwayatkan hadits.

Walaupun hadits ini lemah, Ustadz Fikri Hilabi, S.Ag. حافظه الله menyatakan bahwa banyak hadits sahih lain yang menjelaskan tentang keberkahan dan ampunan Allah di bulan Ramadan. Beliau mengimbau untuk mengikuti hadits-hadits yang kuat sebagai dasar dalam beramal, terutama dalam menghayati keutamaan dan rahmat bulan suci ini. Ustaz menegaskan bahwa meskipun hadits tentang malaikat memohonkan ampunan ini lemah, bukan berarti keutamaan berpuasa di bulan Ramadan berkurang. Allah Ta’ala tetap melimpahkan ampunan dan pahala yang besar bagi umatnya yang menjalankan ibadah puasa dengan penuh keikhlasan dan kepatuhan terhadap ajaran-Nya.

Artikel ini menegaskan pentingnya memahami keabsahan sumber dalam mengambil pelajaran agama, serta mengingatkan tentang keutamaan bulan Ramadan yang penuh dengan rahmat dan ampunan Allah Ta’ala, yang terbuka luas bagi setiap umatnya yang berpuasa

Ustadz Fikri Hilabi, S.Ag. حافظه الله dalam pembahasan hadits ini mengingatkan tentang pentingnya kehati-hatian dalam menerima informasi keagamaan, terutama yang berkaitan dengan hadits dan perawinya. Beliau menggarisbawahi bahwa tidak semua yang diriwayatkan dalam kitab hadits adalah sahih, dan penelitian terhadap perawi serta matan hadits diperlukan untuk menentukan keabsahannya. Dalam konteks Ramadan, beliau menekankan bahwa banyak hadits sahih lain yang menunjukkan keutamaan dan keberkahan bulan ini, serta mengajarkan umat Islam untuk fokus pada amalan yang telah jelas keabsahannya.

Dengan meneladani ajaran yang benar, umat Islam diingatkan untuk mengisi Ramadan dengan ibadah, doa, dan tindakan yang mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala. Ustadz Fikri Hilabi, S.Ag. حافظه الله menutup pembahasannya dengan doa agar umat Islam dapat memanfaatkan bulan suci ini sebagai momentum peningkatan keimanan dan ketakwaan, seraya menghindari informasi yang belum tentu kebenarannya. Melalui pemahaman yang tepat dan amalan yang sahih, bulan Ramadan diharapkan menjadi sumber pahala dan ampunan yang melimpah bagi setiap muslim.

Related Articles

Back to top button