Mimpi 3 Hari Berturut Turut Apakah Sebuah Pertanda bimbingan islam
Mimpi 3 Hari Berturut Turut Apakah Sebuah Pertanda bimbingan islam

Mimpi 3 Hari Berturut Turut Apakah Sebuah Pertanda?

Para pembaca Bimbinganislam.com yang baik hati berikut kami sajikan tanya jawab, serta pembahasan tentang mimpi 3 hari berturut turut apakah sebuah pertanda?
Silahkan membaca.


Pertanyaan :

بِسْـمِ اللّهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْم

اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ

Semoga Allah Azza wa Jalla selalu menjaga Ustadz & keluarga.

Apakah benar, kalau mimpi sampai 3 hari berturut turut, dengan kejadian yang sama, dan bermimpi bertemu dengan seorang yang sama, itu adalah suatu pertanda dari Allah, kalau misalnya kita harus melakukan apa yang kita mimpikan?
Kalau mimpi dengan orang yang sama, pertanda dia jodoh kita?

Jazakallahu khayran ustadz, barakallahu fik.

(Disampaikan oleh Fulanah, Sahabat BiAS T10-G20)


Jawaban :

وَعَلَيْكُمُ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ

بِسْـمِ اللّهِ

Alhamdulillāh
Alhamdulillah, wa laa haula wa laa quwwata illaa billaah, wash shalaatu was salaamu ‘alaa rasulillaah, Amma ba’du
Ayyuhal  Ikhwan wal Akhwat baarakallah fiikum Ajma’in.

Mimpi itu tidak bisa menjadi sandaran hukum, karena Islam sudah sempurna, maka mimpi-mimpi yang datang sesudahnya tidak berkonsekuensi apa-apa.
Patokannya adalah syariat Islam di dalam kehidupan nyata. Dan kita menghukumi seseorang itu berdasarkan zhahirnya, dan bukan yang di dalam hati manusia atau apa yang belum dan tidak diketahui manusia, termasuk masalah mimpi (karena bersifat ghaib).

Dari Sahabat Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda :

Baca:  Mengkonsumsi Buah Hasil Dari Pohon Di Rumah Kontrakan

مَنْ رَآنِي فِي الْمَنَامِ فَقَدْ رَآنِي حقاً، فَإِنَّ الشَّيْطَانَ لَا يَتَمَثَّلُ بِي

“Barang siapa yang melihatku di mimpi maka ia sungguh telah melihatku, karena syaitan tidak bisa meniruku”
(HR. Al-Bukhari, no. 110 dan Muslim, no. 2266).

Dalam riwayat lain, dari sahabat Abu Qotaadah radhiallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

وَإِنَّ الشَّيْطَانَ لاَ يَتَرَاءَى بِي

“Dan sesungguhnya syaitan tidak bisa menampakkan dirinya dengan rupaku”
(HR. Al-Bukhari, no. 6995)

Dalam hadits riwayat sahabat Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu, dengan lafal

فَإِنَّ الشَّيْطَانَ لاَ يَتَخَيَّلُ بِي

“Karena syaitan tidak bisa menkhayalkan menjadi diriku”
(HR. Al-Bukhari, no. 6994)

Syaikhul Islam Zakariya Al-Anshaari Asy Syafi’i rahimahullah berkata :

وَرُؤْيَتُهُ في النَّوْمِ حَقٌّ فإن الشَّيْطَانَ لَا يَتَمَثَّلُ بِهِ كما ثَبَتَ ذلك في الصَّحِيحَيْنِ وَلَا يُعْمَلُ بها فِيمَا يَتَعَلَّقُ بِالْأَحْكَامِ لِعَدَمِ ضَبْطِ النَّائِمِ لَا لِلشَّكِّ في رُؤْيَتِهِ

“Dan melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam mimpi adalah kebenaran, karena Syaithan tidak bisa meniru Nabi sebagaimana telah valid dalam shahih Al-Bukhari dan shahih Muslim, dan tidaklah diamalkan mimpi tersebut tentang apa-apa yang berkaitan dengan hukum-hukum dikarenakan tidak adanya dhabth dari orang yang mimpi, bukan karena keraguan akan benarnya ia mimpi”
(lihat kitab Asna Al-Mathalib, 3/106)

Baca:  Roh Gentayangan Jadi Hantu? Bisa Nempeli Orang? Apa Benar?

Maka pemahaman terbaliknya adalah selain Nabi dan Rasul, masih dimungkinkan adalah dari syaithan, atau sekedar bunga tidur saja.

Kesimpulan

Jika ada seseorang yang mengaku bermimpi ketemu Nabi, maka tidak perlu kita dustakan, apalagi jika seseorang tidak dikenal pendusta. Berbeda jika halnya yang mengaku tersebut adalah seseorang yang terkenal suka berdusta

– Jika yang dilihatnya dalam mimpi memiliki sifat-sifat sebagaimana sifat-sifat Nabi shallallahu ‘alahi wasallam dalam hadits-hadits yang shahih maka kita benarkan mimpinya tersebut.

– Jika ternyata dalam mimpi tersebut Nabi memerintahkan dia untuk melakukan hal-hal kebaikan dan menjauhi larangan-larangan maka itu merupakan tanda baik, dan mimpi tersebut sebagai penyemangat untuk bertakwa dan beramal sholeh.

– Jika ternyata dalam mimpi tersebut Nabi mengajarkan hukum-hukum baru dalam Islam berupa amalan-amalan ibadah baru, maka tentu tidak bisa dijadikan pegangan, dan kemungkinan yang dilihatnya bukanlah Nabi, akan tetapi syaitan yang mengaku sebagai Nabi.
Karena tatkala Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam meninggal dunia agama ini telah sempurna sebagaimana terdapat dalam surat Al Maidah ayat tiga, Allah Ta’ala berfirman ((الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِيْنَكُمْ))
“Pada hari ini telah Aku sempurnakan bagi kalian agama kalian”. Jika ternyata masih ada syari’at-syari’at yang akan menyusul melalui mimpi maka terbatalkanlah ayat tersebut.

Baca:  Fidyah atau Qodho Puasa Untuk Ibu Hamil?

– Jika ternyata dalam mimpi tersebut Nabi juga menyuruh untuk mengkhususkan suatu hukum syari’at yang umum, atau memansukhkan suatu hukum syari’at maka ini juga menunjukkan apa yang dilihatnya bukanlah Nabi, karena melazimkan belumlah sempurnanya syari’at Allah Ta’ala tatkala meninggalnya Nabi.

– Jika ternyata Nabi shallallahu ‘alahi wasallam mengabarkan tentang kenyataan yang ada atau tentang masa depan, maka tidak bisa otomatis kita benarkan. Karena sebagaimana penjelasan Ulama bahwasanya mimpi Nabi hanya sebatas isti’nas (penguat) dan bukan suatu kepastian. Apalagi jika Nabi menyampaikan tentang masa depan?? Maka hal ini sangat jauh dari kebenaran.
(memetik beberapa faedah kajian dari ceramah Ust. Dr. Firanda)

Wallahu Ta’ala A’lam.

 

Dijawab dengan ringkas oleh:
Ustadz Fadly Gugul S.Ag. حفظه الله
Senin, 25 Ramadhan 1441 H / 18 Mei 2020 M



Ustadz Fadly Gugul S.Ag. حفظه الله
Beliau adalah Alumni STDI Imam Syafi’i Jember (ilmu hadits), Dewan konsultasi Bimbingan Islam

Untuk melihat artikel lengkap dari Ustadz Fadly Gugul حفظه الله تعالى klik disini