Tidak Melepaskan Pakaian Ketika Mandi

Tidak Melepaskan Pakaian Ketika Mandi

TIDAK MELEPASKAN PAKAIAN KETIKA MANDI

Pertanyaan

بِسْـمِ اللّهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْم
اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ

Ustadz, apakah benar jika seorang wanita sedang mandi itu sunnahnya memakai basahan (Seperti kemben atau sarung) dan berwarna hitam ?

جَزَاكَ الله خَيْرًا

(SAHABAT BiAS T07 G-12)

Jawaban

Wa’alaikumussalam warahmatullah wabarakatuh

Bismillah

Alhamdulillāh
Washshalātu wassalāmu ‘alā rasūlillāh, wa ‘alā ālihi wa ash hābihi ajma’in

Jika ia mandi di kamar mandi umum, di luar rumah atau jauh dari rumah ketika ia sedang safar sehingga dikhawatirkan akan ada orang lain yang melihat, maka lebih baik ia memang tidak melepas seluruh bajunya.
Nabi Shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda :

وَالذِي نَفْسِي بِيَدِهِ مَا مِنِ امْرَأَةٍ تَضَعُ ثِيَابَهَا فِي غَيْرِ بَيْتِ أَحَدٍ مِنْ أُمَّهَاتِهَا إِلاَّ وَهِيَ هَاتِكَةٌ كُلَّ سِتْرٍ بَيْنَهَا وَبَيْنَ الرَّحْمَنِ

“Tidak ada seorang wanita pun yang meletakkan pakaiannya di selain rumah salah seorang ibunya kecuali dia telah merobek- robek setiap tirai yang menutupi antara dia dengan Ar-Rahman. ”  (HR Ahmad : 2/361, Thabarani di dalam Mu’jamul Kabir : 24/253, dishahihkan Syaikh Al Albani di dalam Ash Shahihah : 7/1308 hadits no. 3442).

Imam Al-Munawi menjelaskan makna hadits ini, beliau berkata :

وضعت ثيابها في غير بيت زوجها كناية عن تكشفها للأجانب ، وعدم تسترها منهم ، فقد هتكت ستر ما بينها وبين الله عز وجل لأنه تعالى أنزل لباسا ليوارين به سوأتهن ، وهو لباس التقوى ، وإذا لم يتقين الله ، وكشفن سوأتهن ، هتكن الستر بينهن وبين الله تعالى ، وكما هتكت نفسها ولم تصن وجهها وخانت زوجها يهتك الله سترها ، والجزاء من جنس العمل ، والهتك خرق الستر عما وراءه ، والهتيكة الفضيحة

“Melepaskan pakaiannya di selain rumah suaminya, merupakan kiasan bahwa auratnya terlihat oleh orang-orang asing yang bukan mahramnya dan tidak mengenakan pakaian yang dapat menutupinya dari pandangan mereka. Dia telah merobek-robek tirai yang menutupi antara dirinya dengan Allāh, karena Allāh Ta’ālā telah menurunkan pakaian untuk menutupi aurat para wanit, yaitu pakaian taqwa.

Apabila mereka, kaum wanita tidak mau bertaqwa kepada Allāh dan memperlihatkan aurat mereka, berarti mereka telah merobek tirai penutup antara diri mereka dengan Allāh. Sebagaimana dia telah menyingkap aurat pada diri mereka sehingga tidak menjaga wajahnya dan mengkhianati suaminya maka Allāh pun akan merobek tirai penutupnya. Karena balasan tergantung amalan yang dilakukan. Merobek itu berarti membuat bolongan pada tirai dari belakangnya. Wanita yang merobek adalah wanita yang terbuka auratnya (maka Allāh menimpakan kejelekan kepadanya).”  (Faidhul Qadir : 3/176).

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin pula menyatakan :

هذا الحديث إن صح (أن من وضعت ثيابها في غير بيت زوجها فقد هتكت الستر) ، هذا إن صح فالمراد أن المرأة تضع ثيابها في حال يخشى أن يطلع عليها من لا يحل له الاطلاع عليها

“Apabila hadits ini shahih, yakni hadits (wanita yang meletakkan pakaiannya di selain rumah suaminya maka dia telah merobek tirai penutup).

Apabila hadits ini memang shahih, maka maksudnya adalah seorang wanita meletakkan pakaiannya pada keadaan yang dikhawatirkan akan terlihat orang-orang yang tidak halal untuk melihatnya.”
(Fatawa Nurun ‘Alad Darbi kaset no. 341, atau silahkan lihat Fatawa di binothaimeen.net fatwa nomor. 12394).

Kesimpulannya, anjuran untuk tidak melepas pakaian ketika mandi adalah ketika seorang wanita muslimah mandi di lokasi yang didkhawatirkan akan terlihat oleh pandangan orang asing. Namun jika ia mandi di lokasi tertutup yang aman dari pandangan manusia maka tidak mengapa ia melepas seluruh pakaiannya.

Wallahu A’lam
Wabillahit Taufiq

Dijawab dengan ringkas oleh :
Ustadz Abul Aswad Al Bayati حفظه الله

Tanya Jawab
Grup WA Bimbingan Islam T07
Senin, 15 Rabi’ul Awwal 1439 H / 04 Desember 2017 M

CATEGORIES
Share This

COMMENTS