Derajat Hadits Pembukaan Konstantinopel dan Sultan Al Fatih bimbingan islam
Derajat Hadits Pembukaan Konstantinopel dan Sultan Al Fatih bimbingan islam

Derajat Hadits Pembukaan Konstantinopel dan Sultan Al Fatih

Para pembaca Bimbinganislam.com yang baik hati berikut kami sajikan tanya jawab, serta pembahasan tentang derajat hadits pembukaan konstantinopel dan sultan al fatih.
Silahkan membaca.


Pertanyaan :

بِسْـمِ اللّهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْم

اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ

Semoga Allah Azza wa Jalla selalu menjaga Ustadz & keluarga.

Ustadz, saya pernah menyimak video dari chanel youtube saudinesia tentang turki utsamani, dimana seorang pembicara yaitu syaikh DR. Sultan Alashqah (ahli sejarah timur tengah) mengatakan bahwa sultan mehmed II yang dijuluki Al fatih merupakan seorang sufiyyah yang percaya pada khurafat, takhayul, syirik, dan semisalnya.
Saya ingin bertanya,bagaimana mungkin sultan Al fatih pemimpin yang membebaskan konstantinopel dari orang roma beraqidah sufi/tasawuf itu disebutkan oleh nabi shallallahu alaihi wassallam sebagai sebaik-baik pemimpin dan pasukannya sebaik-baik pasukan?
Mohon penjelasannya ustadz.

(Disampaikan oleh Fulanah, Member grup WA BiAS)


Jawaban :

وَعَلَيْكُمُ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ

بِسْـمِ اللّهِ

Alhamdulillāh
Alhamdulillah, wa laa haula wa laa quwwata illaa billaah, wash shalaatu was salaamu ‘alaa rasulillaah, Amma ba’du

Jika yang anda maksudkan adalah hadits dari Abdullah bin Bisyr Al Ghonawi bahwa ia berkata; Bapakku telah menceritakan kepadaku: Saya mendengar Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam pernah bersabda:

لَتُفتَحنَّ القُسطنطينيةُ ولنِعمَ الأميرُ أميرُها ولنعم الجيشُ ذلك الجيشُ

“Sesungguhnya akan dibuka kota Konstantinopel, sebaik-baik pemimpin adalah yang memimpin saat itu, dan sebaik-baik pasukan adalah pasukan perang saat itu“.
(HR. Imam Ahmad, 4/235, Bukhori dalam Tarikh Shoghir, hal. 139, Thobroni dalam Al Kabir 1/119/2, Hakim 4/4/422, Ibnu Asakir 16/223 dan lainnya.

Derajat Hadits Pembukaan Konstantinopel

Hadits ini dihukumi lemah oleh ahli hadits Syaikh Albani, karena rawi dalam jalur ini, terdapat rawi Abdullah bin Bisyr Al Ghonawi, dia seorang perawi yang majhul dan hanya ditsiqahkan oleh Ibnu Hibban, padahal beliau masyhur dengan tasahul-nya (sikap menggampangkan). Oleh karena itu hadits ini dihukumi lemah.
(lihat penjelasan lebih lengkap dalam kitab beliau Silsilah Adh Dha’ifah, 878).

Proporsional

Hadits itu berhubungan dengan hak Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, sebagai sumber hukum syariat. Adapun benarkah penyandarannya kepada beliau, maka harus ditelusuri dengan ilmu khusus (musthalahul hadits dan ilmu yang berkaitan dengannya). Adapun fakta kejadian tidak bisa menghukumi sebuah status derajat hadits. Bedakan dua hal ini!

Bertanya Kepada Ahlinya

Soal sejarah bertanya kepada ahlinya yang adil dan terpercaya, jangan hanya berdasarkan perasaan atau logika semata, karena sejarah itu tidak bisa diubah karena sudah terjadi, kita yang hidup belakangan, tinggal memeriksa kebenaran dalam sebuah sejarah (ahli sejarah), fakta kah sejarah itu atau hoaks??

Semoga Allah Ta’ala memberikan taufiq kepada semuanya.

Wallahu Ta’ala A’lam.

Dijawab dengan ringkas oleh:
Ustadz Fadly Gugul S.Ag. حفظه الله
Rabu, 14 Muharram 1442 H / 02 September 2020 M



Ustadz Fadly Gugul S.Ag. حفظه الله
Beliau adalah Alumni STDI Imam Syafi’i Jember (ilmu hadits), Dewan konsultasi Bimbingan Islam

Untuk melihat artikel lengkap dari Ustadz Fadly Gugul حفظه الله تعالى klik disini