Faedah Hadist

Fawaid Hadist #117 | Kebinasaan Akibat Melampaui Batas Dari Yang Ditentukan

Fawaid Hadist #117 | Kebinasaan Akibat Melampaui Batas Dari Yang Ditentukan

Para pembaca Bimbinganislam.com yang memiliki akhlaq mulia berikut kami sajikan serial fawaid hadist, Fawaid Hadist #117 | Kebinasaan Akibat Melampaui Batas Dari Yang Ditentukan. Selamat membaca.


[div class=fawaid-hadis]

وَعَنْ ابْنِ مَسْعُوْدٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: « هَلَكَ الْمُتَنَطِّعُونَ » قَالَهَا ثَلَاَثًا، رَوَاهُ مُسْلِمٌ

Dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu bahwasanya, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda,

“Binasalah orang-orang yang berlebih-lebihan (dalam melakukan sesuatu dan memberatkan dirinya). Rasul mengucapkan kalimat ini hingga tiga kali.” (HR. Muslim, no. 2670).

[/div]

Faedah Hadist

Hadist ini memberikan faedah – faedah berharga, di antaranya;

1. Kebinasaan itu akibat dari mereka yang berlebih-lebihan melampaui batas dari yang telah ditentukan dalam setiap perkataan dan pebuatan. Maksudnya berlebih-lebihan dalam masalah agama dan duniawi, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

“Janganlah kalian mempersulit diri, karena Allah akan mempersulit kalian!”

(HR. Abu Dawud, no. 4904, dinilai Shahih oleh Syaikh Al Bani dalam Silsilah Shahîhah, no. 3124).

2. Kekakuan dan keras itu tidak mendatangkan kebaikan.

3. Celaan bagi mereka yang suka memberatkan diri sendiri; “kalau ada yang susah, kenapa dipermudah?” Contohnya adalah orang yang sakit dan memaksakan dirinya berpuasa sedangkan fisiknya masih memerlukan makan dan minum, padahal Allah Yang Mahapemurah memperbolehkannya untuk berbuka, orang ini juga termasuk dalam kandungan hadits di atas.

4. Agama Islam yang mulia adalah agama pertengahan, tidak ekstrim kanan dan juga tidak ekstrim kiri, tapi adil dan paripurna dalam setiap ajarannya.

5. Seseorang yang bersikap tanaththu’ akan hancur dan merugi. Sebab, sikap tersebut akan mendorongnya untuk terjatuh dalam kesombongan dan ujub (bangga diri). Ia memandang dirinya telah banyak melakukan amal saleh. Setan sungguh telah menipunya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman tentang tipuan setan ini,

أَفَمَن زُيِّنَ لَهُۥ سُوٓءُ عَمَلِهِۦ فَرَءَاهُ حَسَنًاۖ فَإِنَّ ٱللَّهَ يُضِلُّ مَن يَشَآءُ وَيَهۡدِي مَن يَشَآءُۖ

“Maka apakah pantas orang yang dijadikan indah perbuatan buruknya, lalu menganggap baik perbuatan buruknya itu? Sesungguhnya Allah menyesatkan siapa yang Dia kehendaki dan memberikan petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki.” (QS. Fathir: 8).

Wallahu Ta’ala A’lam.

Referensi Utama: Syarah Riyadhus Shalihin karya Syaikh Shalih al Utsaimin, & Kitab Bahjatun Naazhiriin Syarh Riyaadhish Shaalihiin karya Syaikh Salim bin ‘Ied Al Hilaliy.


[div class=fawaid-hadis]

Yuk dukung operasional & pengembangan dakwah Bimbingan Islam, bagikan juga faedah hadist ini kepada kerabat dan teman-teman.

“Demi Allah, jika Allah memberi hidayah kepada satu orang dengan sebab perantara dirimu, hal itu lebih baik bagimu daripada unta-unta merah.” (HR. Bukhari dan Muslim).

*unta merah adalah harta yang paling istimewa di kalangan orang Arab kala itu (di masa Nabiﷺ).

[/div]

Ustadz Fadly Gugul, S.Ag

Beliau adalah Alumni S1 STDI Imam Syafi’I Jember Ilmu Hadits 2012 – 2016 | Bidang khusus Keilmuan yang pernah diikuti beliau adalah Takhosus Ilmi di PP Al-Furqon Gresik Jawa Timur | Beliau juga pernah mengikuti Pengabdian santri selama satu tahun di kantor utama ICBB Yogyakarta (sebagai guru praktek tingkat SMP & SMA) | Selain itu beliau juga aktif dalam Kegiatan Dakwah & Sosial Dakwah masyarakat (kajian kitab), Kajian tematik offline & Khotib Jum’at
Back to top button