Pembahasan Ijazah Hasil Curang Untuk Bekerja

Para pembaca Bimbinganislam.com yang memiliki akhlaq mulia berikut kami sajikan tanya jawab, serta pembahasan tentang pembahasan ijazah hasil curang untuk bekerja.
selamat membaca.


Pertanyaan :

بِسْـمِ اللّهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْم

اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ

Semoga Allah ‘Azza wa Jalla selalu menjaga ustadz dan keluarga. Saya mau bertanya ustadz.

Ustadz, afwan saya telah membaca jawaban sebelumnya mengenai hukum menggunakan ijazah hasil nyontek bahwa apabila ijazah itu syarat dari sesuatu hal maka hal itu menjadi berpengaruh.. Afwan ustadz bagaimana dengan dosa nyontek dari sd, smp, sma yg saya lakukan?
Padahal syarat untuk masuk smp harus ada ijazah, dan syarat masuk sma harus ada ijazah.

Saya mau keluar dari pekerjaan saya sekarang, Tapi orang tua belum memberi ijin, apakah boleh saya keluar diam-diam? Tapi orang tua memili penyakit stroke saya takut kalau keluar akan membuat beliau drop dan semakin sakit.
Afwan ustadz saya sekolah pas kuliahnya di ikatan dinas. Jadi seseorang yang lulus disitu pasti jadi PNS, namun ijazah yang saya dapatkan adalah hasil contekkan. Karena waktu itu ada beberapa orang yang lulus dengan modal push up dan nyanyi, jadi seakan-akan skripsi yang dibuat itu hanya seperti formalitas. Tapi kalau diketahui oleh kementrian saya rasa pasti di tindak (hukum).

Baca Juga:  Tetap Taat Pada Suami, Walau Sering ada Masalah Rumah Tangga

(Disampaikan oleh Fulanah, Santri Kuliah Islam Online Mahad BIAS)


Jawaban :

وَعَلَيْكُمُ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ

بِسْـمِ اللّهِ

Alhamdulillah, wa laa haula wa laa quwwata illaa billaah, wash shalaatu was salaamu ‘alaa rasulillaah, Amma ba’du.

Semoga Allah selalu memberikan petunjuk kepada kita semua dengan apa yang kita usahakan di dalam meningkatkan iman dan ketakwaan kita.

Mintalah petunjuk dan ketenangan kepada Allah serta ampunan-Nya dengan segala apa yang ada di dalam rasa dan hati kita. dari fatwa fatwa yang disebutkan, dengan perbedaan para ulama dalam menghukumi ijasah hasil kecurangan, selama ijazah itu asli, maka lakukan usaha yang sekiranya bisa di lakukan. dengan beberapa alasan :

1. Fatwa para ulama yang membolehkan secara mutlak hasil dari ijasah yang di hasilkan dari kecurangan/mencontek.

2. Ikatan dinas yang itu menjadi syarat kelulusan, terkait dengan beasiswa yang diterima.

Baca Juga:  Kiat Anak Ikhlas Di Pesantren dan Birrul Walidain

3. Kondisi orang tua, yang dikhawatirkan keadaannya (semakin sakit dan semisalnya) bila anda keluar dari pekerjaan.

4. Kondisi pendidikan yang belum kondusif, yang menerapkan kejujuran di banyak hal. Bukan bermaksud melegalkan dengan kelemahan yang ada di dalam sistem pendidikan negara kita, namun hal tersebut sulit untuk bisa di hindari melihat sistem yang sangat lemah, sebagaimana yang anda ceritakan. bagaimana barter nilai dengan sesuatu yang remeh bukan karena kemampuan.

Karenanya, ada beberapa langkah untuk bisa lebih menenangkan dan memperbaiki perasaan dan kondisi anda:

Terus bertaubat dari setiap dosa dan kesalahan di dalam kehidupan kita, khususnya dengan kecurangan yang pernah di lakukan.

Lakukan kebaikan sebaik dan sebanyak yang bisa kita lakukan untuk menghapuskan kesalahan kita, sebagaigama yang Rasulullah shallahahu alaihi wasallam sabdakan :

اِتَّقِ اللَّهَ حَيْثُمَا كُنْتَ وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ

“Bertakwalah kamu kepada Allah dimana dan kapan saja kamu berada, ikutilah keburukan dengan kebaikan niscaya kebaikan itu menghapus keburukan itu, dan pergaulilah manusia dengan ahlak yang baik.”
(HR at-Tirmidzi, Ahmad, ad-Darimi, al-Hakim, al-Baihaqi, al-Bazar dan Abu Nu’aim dari Abu Dzar al-Ghiffari).

Baca Juga:  Cadar yang Tidak Sesuai Tujuan Pemakaianya

Jika perasaan masih berlanjut, maka bila penghalang penghalang yang anda sebutkan hilang, maka silahkan untuk mencari pekerjaan yang menjadikan kondisi kita lebih baik lagi.

Selalu meminta kepada Allah ketenangan dengan setiap apa yang kita lakukan, semoga Allah memberikan kebahagiaan dengan taubat kita dan usaha kita untuk selalu berbenah diri, sampai Allah wafatkan nanti dalam keadaan khusnul khatimah.

Wallahu ta’ala a’lam.

Dijawab dengan ringkas oleh :
Ustadz Ustadz Mu’tashim Lc., M.A. حفظه الله
Selasa, 10 Rabiul Awwal 1442 H/ 27 Oktober 2020 M



Ustadz Mu’tashim Lc., M.A.
Dewan konsultasi Bimbingan Islam (BIAS), alumus Universitas Islam Madinah kuliah Syariah dan MEDIU
Untuk melihat artikel lengkap dari Ustadz Mu’tashim Lc., M.A. حفظه الله 
klik disini