Nazhor Tanpa Mahram Sang Calon Istri, Apakah Boleh bimbingan islam
Nazhor Tanpa Mahram Sang Calon Istri, Apakah Boleh bimbingan islam

Nadzor Tanpa Mahram Sang Calon Istri, Apakah Boleh?

Para pembaca Bimbinganislam.com yang memiliki adab dan akhlak yang luhur berikut kami sajikan tanya jawab, serta pembahasan tentang nadzor tanpa mahram sang calon istri, apa boleh?
Silahkan membaca.


Pertanyaan :

بِسْـمِ اللّهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْم

اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ

Semoga Allah Azza wa Jalla selalu menjaga Ustadz & keluarga.

Ahsanallahu ilaikum ya ustadz.
Ustadz, saya mau bertanya. Misalkan dalam proses nadzor, antara ikhwan dan akhowat hanya ditemani oleh perantara tanpa mahram si akhwat apakah boleh?
Karena kebetulan orangtua keduanya masih awam tentang hal ini, niatnya juga kalau memang si ikhwan sudah yakin setelah nazhor baru dikenalkan ke orangtua. Apakah boleh Ustadz?

(Disampaikan oleh Fulan, Member grup WA BiAS)


Jawaban :

وَعَلَيْكُمُ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ

بِسْـمِ اللّهِ

Alhamdulillāh
Alhamdulillah, wa laa haula wa laa quwwata illaa billaah, wash shalaatu was salaamu ‘alaa rasulillaah, Amma ba’du

Jika dalam proses nazhor orang tua tidak hadir karena masih awam, yang hadir adalah perantaranya, sedangkan ia adalah mahram bagi si akhwat, semisal paman baik dari pihak ayah ataupun ibu, atau kakak kandung, atau saudara sepersusuan maka hukumnya boleh, dan tidak dihitung sebagai khalwat.

Adapun jika perantara yang hadir dalam proses nazhor bukan mahram si akhwat atau perempuan lain misalkan, juga bukan saudari dari laki-laki yang hendak nazhar, maka hal ini tidak diperbolehkan dalam agama kita. semua ini adalah tujuan mulia dari syariat Islam untuk membendung segala bentuk kerusakan.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

لا يخلون أحدكم بامرأة فإن الشيطان ثالثهما

“Janganlah salah seorang dari kalian berkhalwat dengan seorang wanita karena sesungguhnya syaitan menjadi orang ketiga diantara mereka berdua.”
(HR. Ahmad 1/18, Ibnu Hibban, lihat Shahih Ibnu Hibban 1/436, dihukumi sebagai hadits shahih oleh Syaikh Al-Albani dalam As-Shahihah 1/792 no. 430)

Wallahu Ta’ala A’lam.

Dijawab dengan ringkas oleh:
Ustadz Fadly Gugul S.Ag. حفظه الله
Jumat, 23 Muharram 1442 H / 11 September 2020 M



Ustadz Fadly Gugul S.Ag. حفظه الله
Beliau adalah Alumni STDI Imam Syafi’i Jember (ilmu hadits), Dewan konsultasi Bimbingan Islam

Untuk melihat artikel lengkap dari Ustadz Fadly Gugul حفظه الله تعالى klik disini