Memperbanyak Takbir di 10 Awal Dzulhijjah

Memperbanyak Takbir di 10 Awal Dzulhijjah

Memperbanyak Takbir di 10 Awal Dzulhijjah

Allah berfirman di awal surat al Fajar,

والفجر, وليال عشر

‏”Demi fajar, dan malam yang sepuluh” 
(Qs. Al Fajr : 1-2)

Kebanyakan ahli tafsir berpendapat yg dimaksud 10 malam ini adalah sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah. Dan dalam bahasa Arab, penyebutan malam terkadang juga dimaknai sebagai hari, jadi tidak hanya  malamnya  saja.
(Tafsir  Juz ‘Amma Syaikh Shalih Al Utsaimin hal. 189)

Ini adalah pendapat sahabat ‘Abdullah ibnu ‘Abbas radhiallahuma ‘anhu, Ibnu Katsir Rahimahullah berkata,

وَاللَّيَالِي الْعَشْرُ: الْمُرَادُ بِهَا عَشَرُ ذِي الْحِجَّةِ. كَمَا قَالَهُ ابْنُ عَبَّاسٍ، وَابْنُ الزُّبَيْرِ، وَمُجَاهِدٌ، وَغَيْرُ وَاحِدٍ مِنَ السَّلَفِ وَالْخَلَفِ.

malam-malam yang  sepuluh maksudnya adalah 10 hari di  bulan Dzulhijjah, sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnu ‘Abbas, Zubai, Mujahid, dan tidak sedikit dari para salaf dan yang setelahnya.” 
(Tafsir Ibnu Katsir juz 8 hal 390)

Dan Jika Allah bersumpah dengan nama mahluk-Nya, maka biasanya itu menunjukkan keagungan untuk mahluk tersebut. Oleh maka itu tidak diragukan lagi keutamaan dan keagungan 10 hari bulan dzulhijjah.

Keagungan dan keutamaanya didukung oleh sabda baginda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dalam sebuah hadits shahih riwayat Bukhari,

ما من أيام العمل الصالح فيهن أحب إلى الله من هذه الأيام العشر. قالوا ولا الجهاد في سبيل الله؟

 قال: ولا الجهاد في سبيل الله إلا رجل خرج بنفسه وماله ولم يرجع من ذالك بشيء

“Tidak ada hari yang amal shalih lebih dicintai oleh Allah daripada hari-hari yang sepuluh ini”
Para sahabat bertanya: “Tidak juga jihad fii sabiilillaah ?” 

Beliau bersabda, “Iya. Tidak juga jihad fii sabiilillaah (amalan2 hari2 itu lebih baik dari jihad), kecuali seseorang yang keluar berjihad dengan harta dan jiwa raganya kemudian dia tidak pernah kembali lagi (mati syahid).”
(HR Bukhari dan Tirmidzi : 757)

“Amal di 10 awal dzulhijjah, lebih Allah cintai dibanding jihad.”

Oleh maka itu mari kita perbanyak amalan-amalah shalih di hari-hari ini dengan memperbanyak shalat sunnah, puasa sunnah, memakmurkan masjid, berdo’a, membaca Al Qur’an, bersedekah, dan berdzikir kepada  Allah.

Mari Perbanyak Takbir

Termasuk amalan yang disyariatkan untuk  dikerjakan di hari-hari awal  bulan Dzulhijjah adalah bertakbir, bertahlil dan bertahmid.

Dan dalilnya adalah firman Allah,

لِّيَشۡهَدُواْ مَنَٰفِعَ لَهُمۡ وَيَذۡكُرُواْ ٱسۡمَ ٱللَّهِ فِيٓ أَيَّامٖ مَّعۡلُومَٰتٍ

“supaya mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari yang telah ditentukan”
(Surat Al Hajj:28)

Ayat  diatas bersifat  umum, mencakup semua jenis dzikir  yang disyariatkan untuk diperbanyak. Adapun  dalil khusus yang menjelaskan tentang disyariatkannya bertakbir,  bertahlil  dan bertahmid  di awal-awal bulan Dzulhijjah adalah perbuatan sahabat sebagaimana yang  dinukil oleh Imam Bukhari,

وَقَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ: ” وَاذْكُرُوا اللَّهَ فِي أَيَّامٍ مَعْلُومَاتٍ: أَيَّامُ العَشْرِ، وَالأَيَّامُ المَعْدُودَاتُ: أَيَّامُ التَّشْرِيقِ ” وَكَانَ ابْنُ عُمَرَ، وَأَبُو هُرَيْرَةَ: «يَخْرُجَانِ إِلَى السُّوقِ فِي أَيَّامِ العَشْرِ يُكَبِّرَانِ، وَيُكَبِّرُ النَّاسُ بِتَكْبِيرِهِمَا»

“Berkata Ibnu ‘Abbas,  “Dan ingatlah oleh kalian  di hari hari yang ditentukkan yaitu hari-hari sepuluh, dan hari-hari yang terbatas yaitu hari-hari tasyriq”, Dan dahulu Ibnu  Umar dan Abu Hurairah  keluar ke  pasar  di hari-hari  sepuluh (Dzulhijjah) dan mereka berdua bertakbir, dan orang-orang ikut bertakbir bersama mereka berdua”
(HR Shahih Bukhari, 20/2)

Berarti kita dianjurkan  untuk memperbanyak takbir dan tahlil dimulai dari awal dzulhijjah  sampai dengan akhir hari Tasyriq dengan perincian sebagai berikut;

1. Takbir Mutlaq dimulai dari hari pertama Dzulhijjah, yaitu tenggelamnya matahari di hari akhir bulan DzulQo’dah, sampai dengan  hari Tasyriq ke-3. Boleh dikumandangkan kapan pun,  setelah shalat, sebelum shalat, pagi,  sore malam, di setiap waktu.

2. Takbir Muqoyyad, yang terikat dengan waktu. Yaitu  setelah shalat wajib lima waktu. Dimulai dari waktu terbitnya fajar hari ‘Arafah  (tanggal  9 Dzulhijjah), sampai terbenamnya matahari di akhir hari tasyriq. Dibaca setelah  shalat wajib lima waktu setelah membaca istighfar 3x dan dzikir

اللّهُم أَنْتَ السَلاَمُ وَمِنْك السَلامُ تَبَاركتَ يَا ذا الجَلالِ وَالإكْرَام

 Bagaimana Lafadz Takbir?

Adapun lafadz Takbirnya adalah  sebagaimana  yang sering kita  dengar

الله أكبر، الله أكبر، لا إله إلا الله والله أكبر، الله أكبر، ولله الحمد

Ini adalah lafadz yang digunakan dalam madzhab Hambaly dan Hanafy.  Adapun dalam madzhab Syafi’iyah dan Malikiyah maka lafadz Allahu Akbar di awal takbir sebanyak  tiga  kali;

الله أكبر، الله أكبر، الله أكبر، لا إله إلا الله والله أكبر، الله أكبر، ولله الحمد

Karena kita sudah masuk di hari-hari awal bulan Dzulhijjah, mari kita perbanyak bertakbir dan bertahlil kepada Allah, dimanapun kita berada dan kapanpun. Entah ketika kita sedang mengendarai kendaraan, berjalan, ketika  hendak  tidur, setelah shalat, di rumah, di tempat kerja, di pasar, dan di waktu-waktu dan tempat-tempat  lainnya.

Wallahu A’lam.

 

Ditulis Oleh:
Ustadz Kukuh Budi Setiawan, S.S., S.H., حفظه الله
(Kontributor bimbinganislam.com)



Ustadz Kukuh Budi Setiawan, S.S., S.H., حفظه الله
Beliau adalah Alumni UNS dan STDIIS, Pengajar di Ponpes Al Irsyad Tengaran dan Ponpes Muslim Merapi Boyolali
Untuk melihat artikel lengkap dari Ustadz Kukuh Budi Setiawan, S.S., S.H., حفظه الله
klik disini

CATEGORIES
Share This

COMMENTS