kisah hidayah di bulan dzulhijjah
kisah hidayah di bulan dzulhijjah

Hari ini kita berada di penghujung bulan Dzulqo’dah, dan sebentar lagi kita akan memasuki bulan Dzulhijjah, bulan terakhir dari tahun 1439 H. Sebentar lagi, musim haji akan menghampiri kita, musim yang dinanti setiap muslim karena keberkahannya.

Dari Ibni Abbas radhiyallahu ‘anhu bahwasannya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

 مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيهِنَّ أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْ هَذِهِ الأيَّامِ الْعَشْرِ ، فَقَالُوا : يَا رَسُولَ اللَّهِ وَلا الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ؟ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : وَلا الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ إِلا رَجُلٌ خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ فَلَمْ يَرْجِعْ مِنْ ذَلِكَ بِشَيْءٍ

Tidak ada hari-hari yang amalan di dalamnya lebih dicintai Allah daripada hari-hari ini.” (yaitu 10 hari pertama bulan Dzulhijjah). Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, tidak pula jihad di jalan Allah ?” Rasulullah bersabda, “Tidak pula jihad di jalan Allah kecuali seseorang yang keluar dengan jiwanya dan hartanya lalu ia tidak kembali dengan sesuatu apapun darinya.” (HR. Al-Bukhari no. 926)

Momentum ini mengingatkan kita tentang sebuah kisah yang terjadi pada musim haji 14 abad yang lalu. Inilah kisah hidayah di bulan Dzulhijjah.

Kisah Keberkahan Hidayah di Bulan Dzulhijjah

Makar kaum Quraisy kepada Nabi Muhammad

Ketika itu, kaum musyrikin di kota Mekkah dibuat geram oleh Nabi Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa sallam yang mulai terang-terangan mendakwahkan tauhid. Para pembesar kaum Quraisy pun berkumpul di majelis musyawarah mereka, Darun Nadwah, dalam rangka menghalangi jama’ah haji dari dakwah Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, menyatukan suara tentang perkara beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam.

Berkatalah salah seorang diantara mereka, Al-Walid bin Al-Mughirah, “Wahai kaum Quraisy, musim haji telah tiba, dan akan datang jamaah haji dari penjuru-penjuru negeri, dan kabar tentang Muhammad dan agama barunya telah tersebar, maka satukanlah suara kalian, jangan berbeda-beda, sehingga perkataan kalian akan saling bertabrakan dan bertentangan.”

Mereka pun berkata, “Kita katakan bahwa Muhammad adalah dukun”

Al-Walid pun menimpali, “Kita tahu betul bagaimana dukun itu, bagaimana perkataannya, dan bagaimana tingkah lakunya, dan Muhammad sama sekali tidak mirip dengan dukun.”

“Kalau begitu, kita katakan Muhammad gila.” Sahut mereka.

Al-Walid kembali menimpali, “Kita semua tahu orang gila itu seperti apa, bagaimana penampilannya dan bagaimana kelakuannya dan Muhammad sama sekali tidak mirip orang gila.”

“Kalau begitu kita katakan Muhammad penyair.” Sahut mereka kembali.

“Muhammad bukanlah penyair, perkataannya bukanlah sya’ir. Kita semua tahu bagaimana sya’ir itu, bagaimana sajaknya, bagaimana susunan kalimatnya. Sungguh, perkataan Muhammad itu begitu indah didengar, begitu manis, dan menyentuh hati. Jika kalian katakan bahwa Muhammad itu dukun, orang gila, atau penyair, maka orang-orang akan langsung mengira bahwa kalian berbohong. Kata yang paling tepat untuk Muhammad adalah Penyihir, dan pekataannya adalah sihir, dengan perkataannya itu, ia pisahkan antara suami dan istrinya, kakak dengan adiknya, anak dengan ayahnya.”

Allah berfirman tentang kejadian ini :

 إِنَّهُ فَكَّرَ وَقَدَّرَ ﴿١٨﴾ فَقُتِلَ كَيْفَ قَدَّرَ ﴿١٩﴾ ثُمَّ قُتِلَ كَيْفَ قَدَّرَ ﴿٢٠﴾ ثُمَّ نَظَرَ ﴿٢١﴾ ثُمَّ عَبَسَ وَبَسَرَ ﴿٢٢﴾ ثُمَّ أَدْبَرَ وَاسْتَكْبَرَ ﴿٢٣﴾ فَقَالَ إِنْ هَذَا إِلا سِحْرٌ يُؤْثَرُ ﴿٢٤﴾ إِنْ هَذَا إِلا قَوْلُ الْبَشَرِ ﴿٢٥﴾

“Sesungguhnya dia telah memikirkan dan menetapkan (apa yang ditetapkannya). maka celakalah dia! Bagaimana dia menetapkan? kemudian celakalah dia! Bagaimanakah dia menetapkan? kemudian dia memikirkan. sesudah itu dia bermasam muka dan merengut. kemudian dia berpaling (dari kebenaran) dan menyombongkan diri. lalu dia berkata: “(Al Quran) ini tidak lain hanyalah sihir yang dipelajari (dari orang-orang dahulu). ini tidak lain hanyalah perkataan manusia.” (QS. Al-Muddatsir : 18-25)

Begitulah, mereka pun melancarkan aksi yang telah mereka rencanakan dan mereka sepakati. Mereka mencegat setiap jamaah yang memasuki kota Mekkah, dan mewanti-wantinya agar tidak mendengarkan perkataan Muhammad, Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam.

Awal cerita Ath-Thufail bin ‘Amr Ad-Dausi mendapatkan hidayah

Diantara jamaah yang dicegat dan diwanti-wanti tersebut, seorang penyair dari kabilah Daus, Ath-Thufail bin ‘Amr Ad-Dausi. Setelah At-Thufail mendengar dari para pembesar Quraisy bahwa Muhammad adalah penyihir yang kata-katanya bisa memisahkan anak dari bapaknya, adik dari kakaknya, dan suami dari isterinya, ia pun menyumbat telinganya dengan kapas karena takut akan mendengar perkataan dari Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam.

Sampailah Ath-Thufail di Masjidil Haram, dan ia pun menjumpai Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam sedang shalat di depan Ka’bah dengan gerakan-gerakan yang berbeda dari gerakan-gerakan peribadatan orang-orang musyrik kala itu. Mata Ath-Thufail tertawa dengan pemandangan itu, dan tak terasa kakinya pun melangkah mendekat menuju Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam hingga ia pun mendengar sebagian dari bacaan yang beliau lantunkan dalam shalatnya.

Mendengar perkataan yang begitu indah, At-Thufail pun berkata pada dirinya, “Aku adalah seorang penyair yang handal, aku bisa membedakan perkataan yang baik dan yang buruk. Lantas, mengapa aku harus menyumbat kupingku?! Kalau memang apa yang diucapkannya benar, aku ikuti, kalau salah aku tinggalkan.”

At-Thufail pun setia menyimak setiap lafazh yang terlantun dari mulut Rasulullah hingga tak terasa, beliau telah selesai dari shalatnya, dan bergegas pulang menuju rumah beliau. At-Thufail pun mengikuti Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam dari belakang hingga ketika beliau telah sampai di rumah beliau. At-Thufail pun memberanikan diri untuk berucap, “Wahai Muhammad, aku telah mendengar kabarmu dari para pembesar kaummu, mereka menakut-nakutiku hingga kusumbat telingaku dengan kapas agar aku tidak mendengar ucapanmu. Akan tetapi, ternyata Allah berkehendak lain. Tak sengaja, aku dengar ucapanmu dan ternyata sungguh indah, maka terangkanlah kepadaku tentang perkaramu.”

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam pun menjelaskan kepada At-Thufail tentang Islam dan membacakan beberapa surat pendek dalam Al-Quran kepadanya. Saat itu juga, sang penyair bersyahadat, mengikrarkan diri masuk Islam. Untuk beberapa waktu, At-Thufail menetap di Mekkah, mempelajari Islam dari Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam dan menghafal beberapa surat dalam Al-Quran. Hingga saat ia hendak kembali ke kampungnya, ia mengajukan sebuah permintaan kepada Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam seraya berkata, “Wahai Rasulullah, aku adalah orang yang ditaati di keluargaku, mohonkanlah kepada Allah agar memberiku sebuah ayat karomah sebagai pertolongan untukku dalam mendakwahi mereka”.

Rasulullah pun mendoakannya, hingga ketika At-Thufail telah sampai di kampungnya, menyala-lah cahaya diantara dua matanya, maka iapun berdoa, “Ya Allah letakkanlah cahaya ini selain di wajahku, aku takut orang-orang akan mengira ini hukuman karena aku meninggalkan agama mereka”, maka seketika itu pula cahaya itu berpindah dari wajahnya ke ujung cemetinya. Orang-orang pun melihat cahaya itu.

At-Thufail mendakwahi keluarganya

Datanglah ayah At-Thufail yang sudah tua renta menemui putranya yang baru pulang dari haji itu. At-Thufail pun berkata, “Jangan dekati aku wahai ayahku”.

“Mengapa wahai anakku ?” sahut sang ayah.

“Aku telah masuk Islam dan mengikuti agama Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa sallam.” Jelas At-Thufail.

“Agamamu adalah agamaku.” Jawab sang ayah.

“Pergi dan mandilah, sucikan raga dan pakaianmu, lalu kemarilah, aku akan mengajarimu apa yang telah kupelajari”.

Maka, pergilah sang ayah, lalu ia datang dalam keadaan tubuh dan pakaian yang suci, untuk mendengarkan penjelasan tentang Islam dari puteranya dan seketika itu pula sang ayah mengikrarkan syahadat, masuk Islam.

Lalu, datanglah sang istri, dan At-Thufail pun mengatakan perkataan yang sama, “Jangan dekati aku, wahai istriku. Islam telah memisahkan kita. Aku telah masuk Islam dan mengikuti agama Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa sallam.

Sang Istri pun menimpali, “Agamaku adalah agamamu”.

At-Thufail pun memerintahkan istrinya untuk menyucikan badan dan pakaiannya. Lalu, ia terangkan kepada sang Istri tentang Islam, dan sang istri pun bersyahadat.

Setelah itu, At-Thufail pun mendakwahi kaumnya, akan tetapi tak seorang pun masuk Islam kecuali satu orang, yaitu Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu.

Selang beberapa waktu, At-Thufail pergi ke Mekkah bersama Abu Hurairah untuk menemui Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, dan mengadukan perkara kaumnya kepada beliau. Maka, Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam pun segera bangun dan mengambil wudhu. Lantas, beliau shalat. Setelah shalat, beliau mengangkat kedua tangan beliau seraya berdoa,

اللَّهُمَ اهْدِ دَوْسًا … اللَّهُمَّ اهْدِ دَوْسًا … اللَّهُمَّ اهْدِ دَوْسًا

Ya Allah, berilah hidayah kepda kabilah Daus… Ya Allah, berilah hidayah kepda kabilah Daus… Ya Allah, berilah hidayah kepda kabilah Daus.”

Kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menoleh kepada At-Thufail dan bersabda, “Kembalilah kepada kaummu dan berlemah lembutlah kepada mereka, dan ajaklah mereka untuk masuk Islam.”

At-Thufail pun kembali ke kampungnya untuk mendakwai kaumnya.

Hari berganti hari, tahun pun silih berganti. Rasulullah telah hijrah ke Madinah. Perang Badar, perang Uhud dan perang Khandaq juga telah terlalui. Setelah bertahun-tahun berpisah dengan baginda Nabi, At-Thufail pun berniat berkunjung ke Madinah untuk menemui Sang kekasih, Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersama dengan 80 (delapan puluh) keluarga dari kabilah Daus yang telah masuk Islam. Nabi Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa sallam pun bergembira dengan hal tersebut, beliau menyambutnya dengan penuh suka cita dan membagikan kepada mereka ganimah perah khaibar.

Subhanallah, Allahu akbar!

Penutup

Inilah kisah keberkahan hidayah di bulan Dzulhijjah, kisah yang sangat inspiratif, yang meski telah berlalu lebih dari 1400 tahun yang lalu, masih indah terngiang di telinga kita. Inilah sebuah kisah yang mengajarkan kepada kita tentang sebuah Optimisme. Dalam kisah ini, Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam mengajari kita untuk senantiasa optimis dan berbaik sangka kepada Allah subhanahu wa ta’ala dalam keadaan apapun.

أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي

Aku sebagaimana prasangka hambaku kepadaku.” Demikian Firman Allah dalam sebuah hadits qudsi.

Meski orang-orang mengatai beliau orang gila, menyematkan julukan dukun atau tukang sihir kepada beliau, Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam tetap berhusnu dzon dan optimis kepada Allah, tetap exist dalam dakwah, tegak diatas agama Allah, yakin bahwa cobaan itu akan berlalu, dan agama Allah pasti akan tegak di muka bumi. Ketika orang-orang enggan masuk Islam, beliau tak lantas patah arang, beliau kembali kepada Allah yang maha membolak-balikkan hati, beliau menghadap-Nya, bermunajat kepada-Nya, dan memohonkan hidayah untuk mereka.

لَّقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا

Sungguh telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagi kalian, bagi siapa saja yang mengharap Allah dan hari akhir dan banyak mengingat Allah.” (Q.S. Al-Ahzab : 21)

Maka, mari kita jadikan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai teladan kita yang sebenar-benarnya. Jangan pernah berprasangka buruk kepada Allah, terus berdoa dan berusaha. Yakinlah bahwa Allah mendengar dan mengijabah doa hamba-hamba-Nya. Oleh karenanya, pada hari-hari yang penuh berkah yang sebentar lagi akan menjumpai kita ini, mari kita perbanyak dan ikhlashkan doa kita kepada Allah untuk kebaikan kaum muslimin, untuk kebaikan pemimpin kaum muslimin, untuk kebaikan kita di dunia dan akhirat.

Sumber :

  1. Tafsir Al-Quran Al-‘Azhim, Isma’il bin Katsir, Penerbit : Maktabah Dar Al-Fiha, Cet. 2, tahun 1998.
  2. Raudlatul Anwar fi Sirah Saiyyidil Mukhtar, Shofiyyur Rahman Al-Mubarakfuri, Penerbit : Dar As-Salam.
  3. Shuwar min Hayat Ash-Shohabah, ‘Abdur Rahman Rafat Al-Basya, Penerbit : Dar Al-Adab Al-Islami, Cet. 9, tahun 2010

Ditulis Oleh:
Ustadz Rusli Evendi, حفظه الله
(Kontributor Bimbinganislam.com)



Ustadz Rusli Evendi
Beliau adalah Staff Pengajar di Pondok Pesantren Madinatul Quran Jonggol
Untuk melihat artikel lengkap dari Ustadz Rusli Evendi  
klik disini