Nikah

Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) Menurut Islam

Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) Menurut Islam

Para pembaca Bimbinganislam.com yang memiliki akhlaq mulia berikut kami sajikan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) Menurut Islam. Selamat membaca.


Pertanyaan:

Assalamualaikum Ustadz. Afwan ada pertanyaan.

Qoddarullah ujian terus menerus menghampiri diri ini hingga ada rasa lelah dan putus asa. Semoga Allah memudahkan saya untuk bisa melewati semuanya. Amiin.

Qodarullah setelah berniat dan tawakal kepada Allah untuk menikah, di pertengahan awal tahun pernikahan terjadi sesuatu yang membuat lahir bathin saya terluka yaitu KDRT seperti pukulan dan hinaan.

Kemudian berjalan hingga hampir 3 tahun pernikahan dalam kondisi seperti itu. Saya tidak kuat dan saya bicara kepada keluarga, saya kira mereka akan menenangkan saya namun berbalik dari itu smw qoddarullah…dan meminta sy untuk bertahan, namun saya tdk kuat.

Dan suami termasuk orang yg paham ilmu agama.

Pertanyaannya:

  1. Jika kondisi seperti itu bagaimana solusinya untuk sang istri?
  2. Bagaimana sikap sebaiknya istri terhadap orang tua dan juga suami agar Allah tetap ridho?
  3. Dan apakah Allah masih sayang kepada saya ketika semua menjauh dari saya karena kondisi saya ini yang tidak menyenangkan mereka?

Jazakumullah khoir wa barokallahu fiikum.

(Ditanyakan oleh Sahabat BIAS via Grup Whatsapp)


Jawaban:

Wa’alaikumussalam Warahmatullah Wabarakatuh

1. Kekerasan dalam Rumah Tangga (KDRT)

Istilah “Kekerasan dalam rumah tangga” atau disingkat (KDRT), sebuah masalah yang sering kali menghiasi kehidupan rumah tangga. KDRT tak hanya identik dengan tindakan yang menjurus pada kriminalis nyata seperti pemukulan, penganiayaan, intimidasi dan hal yang melukai badan. Namun perkara yang sifatnya spiritual emosional, dan perkara-perkara yang tidak kasat mata juga dikategorikan sebagai KDRT. Oleh karena itu, semua kekerasan fisik, psikis, seksual dan penelantaran terhadap rumah tangga masuk ranah pembahasan ini.

Banyak pencetus terjadinya KDRT, latar belakang kehidupan keluarga masing-masing dengan kebiasaan yang berbeda, harapan yang tidak terpenuhi, masalah ekonomi atau keuangan keluarga, perselingkuhan, penafsiran ajaran agama yang kurang tepat dan masih banyak lagi permasalahan yang timbul dalam keluarga sebagai pencetus kekerasan.

KDRT terjadi dalam lingkup rumah tangga yang dianggap sebagai masalah pribadi dan tidak perlu dicampuri oleh orang lain atau pihak lain. Selain itu nilai dalam masyarakat juga masih sangat kuat menggariskan bahwa masalah dalam keluarga tidak boleh diketahui oleh pihak lain dan akan menimbulkan rasa malu atau aib bagi keluarga. Selain itu keutuhan rumah tangga sering kali menjadi alasan untuk tidak membawa KDRT ini ke luar wilayah rumah tangga. Ketergantungan korban pada pelaku juga merupakan salah satu penyebab kasus-kasus tindak kekerasan dalam rumah tangga tidak muncul ke permukaan. (https://ham.go.id/2014/05/09/kekerasan-dalam-rumah-tangga-kdrt/).

2. Islam Agama Damai

Islam adalah agama yang mengusung perdamaian dan anti kekerasan. Ketika kekerasan terjadi dipastikan keharmonisan keluarga terkoyak dan berbagai prahara tidak terelakkan. Batin menderita lantaran orang yang semestinya mencurahkan segala cinta dan perhatiannya justru berbalik arah dengan melakukan kezaliman dalam ucapan maupun perbuatan.

Allah Ta’ala berfirman:

أَلاَ لَعْنَةُ اللّهِ عَلَى الظَّالِمِينَ

Ingatlah, laknat Allah (ditimpakan) atas orang-orang yang zalim” (QS. Hud: 18).

Dalam hadits qudsi, Allah ta’ala berfirman,

قال الله تبارك وتعالى: يا عبادي، إني حرمت الظلم على نفسي، وجعلته بينكم محرمًا؛ فلا تظالموا

Allah Tabaaraka wa ta’ala berfirman: ‘Wahai hambaku, sesungguhnya Aku haramkan kezaliman atas Diriku, dan aku haramkan juga kezaliman bagi kalian, maka janganlah saling berbuat zalim’” (HR. Muslim, no. 2577).

3. Benci Pada Pasangan Masuk KDRT

Di antara wujud KDRT yang terkadang terlupakan di antara kaum muslimin adalah perasaan benci kepada pasangan. Seorang suami menzalimi istrinya dengan ucapan-ucapan pedas, bersikap kasar dan terlalu menuntut kesempurnaan dari pasangannya. Dia lupa bahwa istrinya itu bukan bidadari, punya banyak kekurangan, di samping kelebihan lainnya, Allah Ta’ala berfirman:

وَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ فَإِنْ كَرِهْتُمُوهُنَّ فَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَيَجْعَلَ اللَّهُ فِيهِ خَيْرًا كَثِيرًا

Dan pergaulilah dengan mereka (istri) secara patut. kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, Padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak. (QS. An-Nisa: 19).

Seorang istri pun terkadang melakukan praktik KDRT tanpa ia sadari seperti melupakan dan tidak bersyukur akan kebaikan suami. Dia menuntut sesuatu yang tidak mampu dilakukan suami.

Suatu hari, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menceritakan surga dan neraka yang diperlihatkan kepada beliau ketika shalat, dalam sabda beliau;

وَرَأَيْتُ النَّارَ فَلَمْ أَرَ كَالْيَوْمِ مَنْظَرًا قَطُّ وَرَأَيْتُ أَكْثَرَ أَهْلِهَا النِّسسَاءَ. قَالُوا: لِمَ يَا رَسُوْلَ اللهِ؟ قَالَ: بِكُفْرِهِنَّ. قِيْلَ: يَكْفُرْنَ بِاللهِ؟ قَالَ: يَكْفُرْنَ الْعَشِيْرَ وَيَكْفُرْنَ اْلإِحْسَانَ، لَوْ أَََحْسَنْتَ إِلىَ إِحْدَاهُنَّ الدَّهْرَ، ثُمَّ رَأَتْ مِمِنْكَ شَيْئًا قَالَتْ: مَا رَأَيْتُ مِنْكَ خَيْرًا قَطُّ

“Dan aku melihat neraka. Aku belum pernah sama sekali melihat pemandangan seperti hari ini. Dan aku lihat ternyata mayoritas penghuninya adalah para wanita.” Mereka bertanya, “Kenapa para wanita menjadi mayoritas penghuni neraka, ya Rasulullah?” Beliau menjawab, “Disebabkan kekufuran mereka.” Ada yang bertanya kepada beliau, “Apakah para wanita itu kufur kepada Allah?” Beliau menjawab, “(Tidak, melainkan) mereka kufur kepada suami dan mengkufuri kebaikan (suami). Seandainya engkau berbuat baik kepada salah seorang istri kalian pada suatu waktu, kemudian suatu saat ia melihat darimu ada sesuatu (yang tidak berkenan di hatinya) niscaya ia akan berkata, ‘Aku sama sekali belum pernah melihat kebaikan darimu’.” (HR. Bukhari no. 5197 dan Muslim no. 907).

4. Masing-Masing Sadar Diri

Boleh jadi selama ini masing-masing pasangan (suami atau istri), terus berusaha mencari pola rumah tangga yang dapat mendatangkan kebahagiaan untuk Anda berdua. Berhasilkah menemukannya?

Bila berhasil, maka selamat berbahagia dan bersyukurlah. Adapun bila belum, maka segera temukan kunci keberhasilan rumah tangga Anda pada firman Allah Ta’ala berikut :

وَلَهُنَّ مِثْلُ الَّذِي عَلَيْهِنَّ بِالْمَعْرُوفِ وَلِلرِّجَالِ عَلَيْهِنَّ دَرَجَةٌ

Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma’ruf. Akan tetapi, para suami mempunyai kelebihan satu tingkat daripada istrinya.” (QS. al-Baqarah: 228)

Hak pasangan Anda setimpal dengan kewajiban yang ia tunaikan kepada Anda. Semakin banyak Anda menuntut hak Anda, maka semakin banyak pula kewajiban taat pada suami yang harus Anda tunaikan untuknya.

Dahulu, sahabat Abdullah bin ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma memberikan contoh nyata dari aplikasi ayat ini dalam rumah tangganya. Pada suatu hari, beliau berkata:

“Sesungguhnya, aku senang untuk berdandan demi istriku, sebagaimana aku pun senang bila istriku berdandan demiku, karena Allah Ta’ala telah berfirman:

وَلَهُنَّ مِثْلُ الَّذِي عَلَيْهِنَّ بِالْمَعْرُوفِ

“Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma’ruf.”

Aku pun tidak ingin menuntut seluruh hakku atas istriku, karena Allah juga telah berfirman :

وَلِلرِّجَالِ عَلَيْهِنَّ دَرَجَةٌ

‘Akan tetapi, para suami mempunyai kelebihan satu tingkat daripada istrinya.’(HR. Ibnu Abi Syaibah dan ath-Thabari).

5. Kesimpulan Dan Jawaban Untuk Pertanyaan Saudari

1. Tetap Bersabar Yang Indah dan Fokus perbaiki diri sebagai istri, lakukan terbaik dan servis yang maksimal kepada suami, berharaplah kepada Allah Yang Maha Kuasa Lagi Maha Mulia.

2. Jadilah istri yang taat dan dicintai suami dengan taat dalam hal yang ma’ruf, termasuk hal yang boleh dan diperintahkan suami, maka laksanakan dengan mengharap ridha Allah Ta’ala, sembari diiringi dengan doa yang tulus dan tiada putus asa.

3. Allah Maha Penyayang Dan Maha Pengasih kepada hamba-hamba-Nya, yakinlah walaupun semua orang membencimu, maka tetaplah jadi hamba yang berbakti, taat, tawakkal yang kokoh dan usaha yang maksimal dengan tetap rendah hati, bahwa Allah Yang Maha pemurah pasti akan memberikan jalan keluar. Dia lah Allah Sebaik-baik Pelindung dan Penolong. Ingatlah menunggu jalan keluar dengan sabar adalah ibadah!

Semoga Allah Ta’ala memberikan taufiq-Nya untuk kita semua.

Wallahu Ta’ala A’lam.

Dijawab dengan ringkas oleh:
Ustadz Fadly Gugul S.Ag. حفظه الله
Rabu, 27 Rabiul Awal 1443 H/ 3 November 2021 M


Ustadz Fadly Gugul S.Ag. حفظه الله
Beliau adalah Alumni STDI Imam Syafi’i Jember (ilmu hadits), Dewan konsultasi Bimbingan Islam

Untuk melihat artikel lengkap dari Ustadz Fadly Gugul حفظه الله تعالى klik disini

Baca Juga :  Perlukah Menjelaskan Background Keluarga Kepada Calon Suami?

Ustadz Fadly Gugul, S.Ag

Beliau adalah Alumni S1 STDI Imam Syafi’I Jember Ilmu Hadits 2012 – 2016 | Bidang khusus Keilmuan yang pernah diikuti beliau adalah Takhosus Ilmi di PP Al-Furqon Gresik Jawa Timur | Beliau juga pernah mengikuti Pengabdian santri selama satu tahun di kantor utama ICBB Yogyakarta (sebagai guru praktek tingkat SMP & SMA) | Selain itu beliau juga aktif dalam Kegiatan Dakwah & Sosial Dakwah masyarakat (kajian kitab), Kajian tematik offline & Khotib Jum’at

Related Articles

Back to top button