Umum

Mau Curhat, Ini Yang Sebaiknya Anda Lakukan

Mau Curhat, Ini Yang Sebaiknya Anda Lakukan

Para pembaca Bimbinganislam.com yang memiliki akhlaq mulia berikut kami sajikan fikih curhat: Mau Curhat, Ini Yang Sebaiknya Anda Lakukan.  Selamat membaca.


Pertanyaan:

Assalamualaikum ustadz. permisi, izin bertanya. Akhir akhir ini saya sering curhat ke teman saya mengenai masalah saya. Kadang sekadar untuk melegakan perasaan yang selama ini saya pendam karena seumur hidup.

Saya baru pertama kali ini berani menceritakan masalah saya ke orang lain. Masalah ini berkaitan dengan penyakit mental yang ada dalam diri saya yang disebabkan lingkungan keluarga, pergaulan, dan masa lalu saya. Yang ingin saya tanyakan,

1. Apakah salah ketika saya menceritakan masalah saya tersebut untuk melegakan diri saya?

2. Apakah hal tersebut termasuk dosa karena termasuk menyebarkan aib diri sendiri?

3. Bagaimana dengan curhat ke psikolog? Terima kasih.

(Ditanyakan oleh Sahabat BIAS melalui Grup WA)


Jawaban:

Wa’alaikumussalam Warahmatullah Wabarakatuh

Sebelum Anda Curhat (Curahan Hati) . . .

Ingatlah kisah Nabi yang mulia, Nabi Ya’qub ‘alaihissalam, di mana beliau mengeluh serta curhat dengan berbagai macam kesedihan hanya kepada Allah Yang Maha Pengasih Dan Maha Penyayang:

قَالَ إِنَّمَا أَشْكُو بَثِّي وَحُزْنِي إِلَى اللَّهِ وَأَعْلَمُ مِنَ اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ

Ya’qub menjawab: “Sesungguhnya hanyalah kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku, dan aku mengetahui dari Allah apa yang kamu tiada mengetahuinya”. (QS Yusuf: 86)

Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah tatkala menafsirkan ayat ini beliau berkata:

فقال يعقوب إنما أشكو بثي أي: ما أبث من الكلام [ ص: 803 ] وحزني: الذي في قلبي. إلى الله: وحده لا إليكم ولا إلى غيركم من الخلق ؛ فقولوا ما شئتم ، وأعلم من الله ما لا تعلمون

“Ya’qub berkata sesungguhnya aku hanya mengadukan kesusahanku yaitu apa yang kusebarkan berupa ucapan, dan kesedihanku yang ada di dalam hatiku hanya kepada Allah. Aku adukan hanya kepada Allah semata, bukan kepada kalian, tidak pula kepada selain kalian dari kalangan makhluk. Berkatalah sekehendak kalian, aku mengetahui dari Allah apa yang tidak kalian ketahui.”

(Taisir Karimirrah Rahman , Hal. 404).

Jika Memang Harus Curhat . . .

1. Pilihlah teman curhat yang berilmu lagi bertaqwa, yang mengasihimu dan bukan sembarang orang, agar ia bisa memberikan nasihat, saran, dan usul yang terbaik.

Berhati-hatilah dalam curhat ini, jangan sampai berlebihan ketika menceritakan, seperti menggunakan inisial yang detail, isyarat yang khas, ciri tertentu, dll. Sebab apa pun yang bisa dipahami bahwa hal tersebut mengarah pada orang tertentu beserta keburukan dan aibnya, maka itulah ghibah.

2. Bila curhatan itu mencakup aib, maka tutuplah ia rapat-rapat, tak perlu memberitahukan orang lain tatkala Allah Yang Maha Pemaaf telah menutupnya dari pengetahuan manusia.

Sebab sangat mungkin terjadi akibat buruk dari menceritakan aib sendiri, di mana terdapat riwayat dari sahabat mulia Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, bahwa beliau pernah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

كُلُّ أُمَّتِى مُعَافًى إِلاَّ الْمُجَاهِرِينَ ، وَإِنَّ مِنَ الْمَجَانَةِ أَنْ يَعْمَلَ الرَّجُلُ بِاللَّيْلِ عَمَلاً ، ثُمَّ يُصْبِحَ وَقَدْ سَتَرَهُ اللَّهُ ، فَيَقُولَ يَا فُلاَنُ عَمِلْتُ الْبَارِحَةَ كَذَا وَكَذَا ، وَقَدْ بَاتَ يَسْتُرُهُ رَبُّهُ وَيُصْبِحُ يَكْشِفُ سِتْرَ اللَّهِ عَنْهُ

“Setiap umatku dimaafkan kecuali orang yang terang-terangan dalam bermaksiat. Yaitu seseorang yang telah berbuat dosa di malam hari lantas di pagi harinya ia berkata bahwa ia telah berbuat dosa ini dan itu padahal Allah telah menutupi dosanya. Pada malam harinya, Allah telah menutupi aibnya, namun di pagi harinya ia membuka sendiri aib yang telah Allah tutupi.” (HR. Bukhari, no. 6069 dan Muslim, no. 2990).

Seorang alim pernah mengatakan;

“Tumpahkanlah keluh kesahmu kepada Allah Ta’alaa tatkala engkau sujud, jangan engkau bangkit dari sujudmu hingga telah lega hatimu dengan mencurahkan seluruh keluh kesahmu kepada Penguasa alam semesta”

Maksudnya;

استحباب الدعاء بتبيين الحال وشرحها، و لو كان الله عالماً لها؛ لأنه تعالى يحب تضرع عبده و إظهار ذله و مسكنته

“Disukai tatkala berdoa dengan menjelaskan kondisi, meskipun Allah telah mengetahui kondisi tersebut. Karena Allah suka tatkala sang hamba merendah dan menampakan kehinaan dan kerendahannya”.

Hanya kepada Allah Ta’ala semata-lah sebaik-baik kita berharap menggantungkan asa.

3. Curhat ke psikolog hukumnya boleh, jika hal itu untuk proses pengobatan, dengan catatan psikolog ini adalah orang yang terkenal dengan sifat amanahnya dan baik juga prilaku serta akhlak dalam aktivitas kesehariannya.

Wallahu Ta’ala A’lam.

Baca juga: https://bimbinganislam.com/nasehat-agar-tidak-bergampangan-curhat-di-media-sosial/

Dijawab dengan ringkas oleh:
Ustadz Fadly Gugul S.Ag. حفظه الله
Selasa, 10 Ramadan 1443 H/ 12 April 2022 M


Ustadz Fadly Gugul S.Ag. حفظه الله
Beliau adalah Alumni STDI Imam Syafi’i Jember (ilmu hadits), Dewan konsultasi Bimbingan Islam
Untuk melihat artikel lengkap dari Ustadz Fadly Gugul حفظه الله تعالى klik di sini

Baca Juga :  Belajar Bahasa Arab Bisa Menambah Kecerdasan Pikiran

Ustadz Fadly Gugul, S.Ag

Beliau adalah Alumni S1 STDI Imam Syafi’I Jember Ilmu Hadits 2012 – 2016 | Bidang khusus Keilmuan yang pernah diikuti beliau adalah Takhosus Ilmi di PP Al-Furqon Gresik Jawa Timur | Beliau juga pernah mengikuti Pengabdian santri selama satu tahun di kantor utama ICBB Yogyakarta (sebagai guru praktek tingkat SMP & SMA) | Selain itu beliau juga aktif dalam Kegiatan Dakwah & Sosial Dakwah masyarakat (kajian kitab), Kajian tematik offline & Khotib Jum’at

Related Articles

Check Also
Close
Back to top button