Apa Hukum Pengajian Dalam Walimah Pernikahan?

Apa Hukum Pengajian Dalam Walimah Pernikahan?

Apa Hukum Pengajian Dalam Walimah Pernikahan?

Pertanyaan :

بِسْـمِ اللّهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْم

اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ

Ahsanallah ilaikaum Ustadz…

Apa hukumnya mengadakan pengajian sebelum menikah? Bid’ah atau mubah?

Biasanya di pengajian itu membaca surat-surat di Alquran secara bersama kemudian tausiyah.

Jazaakallaahu Khoyron

(Disampaikan oleh Fulan, Sahabat BiAS T08 G-38)


Jawaban :

وَعَلَيْكُمُ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ

بِسْـمِ اللّهِ

Alhamdulillah, wa laa haula wa laa quwwata illaa billaah, wash shalaatu was salaamu ‘alaa rasulillaah, Amma ba’du.

Hukum Pengajian Dalam Walimah

Adapun ceramah / pengajian pada acara resepsi pernikahan, walimah atau walimatul ursy, para ulama berbeda pendapat tatkala mengomentari perkara ini.

1. Sebagian mereka menyatakan tidak mengapa menyampaikan nasehat, pengajian, ceramah atau pun tausiyah di acara resepsi / walimah pernikahan.

2. Sebagian lagi menyatakan tidak mengapa hal itu dilakukan dengan intensitas yang jarang. Akan tetapi jika sering dilakukan apalagi jika dianggap sebagai sebuah keharusan maka ini menjadi masalah.

3. Sebagian lagi tidak menganjurkan karena Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat tidak pernah menyampaikan ceramah/ nasehat di acara pernikahan/walimah seperti dinyatakan oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin.

Adapun diantara ulama yang mengatakan bolehnya hal tersebut adalah Syaikh Utsman As-Salimi dan beliau menisbatkan kebolehan perkara ini kepada guru beliau Syaikh Muqbil bin Hadi Al-Wadi’i. Beliau Syaikh Utsman menyatakan :

الشيخ الوادعي رحمه الله كان يقول لا بأس ببعض إلقاء المحاضرات في مثل هذه الاجتماعات,لأن بعض المجالس ما يحضر يعنى كثير من الناس إلا في بعض المناسبات في العرس أو الوليمة أو العقيقة
فإذا الشخص تكلم بكلمة خفيفة مثلا نحو ربع ساعة أو ثلث ساعة أو نصف ساعة إذا طالت لا بأس بإذن صاحب المجلس و البيت
وتكون كلمة موجزة ويترك الناس أيضا يتكلم بعضهم مع بعض ويفرح بعضهم ببعض حتى لا يتضجروا هذا هو لا بأس إن شاء الله وكان النبي – صلى الله عليه وسلم – يحاول أن يأتي بالمناسبات كالأعياد وهكذا مواسم الحج وكان يتحرى المجالس الكبيرة
فالظاهر لا باس بذالك ولكن قلنا لا يضجرون الناس

“Syaikh Al-Wadi’i rahimahullah dahulu menyatakan tidak mengapa dengan beberapa penyampaian ceramah di pertemuan-pertemuan seperti ini. Karena sebagian majelis tidak dihadiri oleh banyak manusia kecuali dalam beberapa acara seperti walimahtul Ursy, atau resepsi, atau aqiqah.

Jika seseorang berbicara dengan pembicaraan ringan, selama seperempat jam, atau sepertiga jam, atau setengah jam. Apabila pembicaraan panjang tidak mengapa jika mendapatkan izin dari pemilik majelis dan pemilik rumah.

Ceramah hendaknya ringkas, manusia dibiarkan berbicara satu sama lain, saling bergembira satu sama lain agar manusia tidak merasa terganggu. Tidak mengapa adalah dahulu Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam berusaha untuk datang di event tertentu seperti hari raya, demikian pula pada musim haji dan beliau berusaha memanfaatkan majelis-majelis yang besar.

Pendapat yang lebih nampak kebenarannya hal itu tidak mengapa, akan tetapi sebagaimana kami katakan jangan sampai membuat manusia terganggu.”
(Sumber Fatawa Syaikh Utsman As-Salimi : https://www.ajurry.com/vb/showthread.php?t=14469 ).

Hukum Membaca Al-Qur’an Dalam Walimah

Sedangkan membaca Al-Qur’an tatkala walimah maka ini terbagi menjadi dua bagian :

1. Dilakukan oleh satu orang saja.

Salah satu membaca beberapa ayat di awal acara, Syaikh Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz mnyatakan :

لا أعلم شيئًا صريحًا في هذا، إلا أنه كان من عادة النبي ﷺ إذا اجتمع مع أصحابه أن يقرأ القرآن، أو يقرؤوا عليه عليه الصلاة والسلام، وهذا من جنس هذا، فلا نعلم مانعًا من ذلك، وفيه خيرٌ كثيرٌ: تنبيه على ما ينفع من كتاب الله ، وخير ما فتح به الكلام كتاب الله

“Aku tidak mengetahui adanya keterangan yang jelas dalam masalah ini. Hanya saja termasuk kebiasaan Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam apabila berkumpul bersama para sahabatnya beliau membaca Al-Qur’an. Dan ini termasuk dari jenis ini, kami tidak mengetahui adanya larangan dalam masalah ini dan di dalamnya terdapat kebaikan yang banyak.

Sebagai peringatan dengan apa yang bermanfaat dari kitab Allah dan sebaik-baik pembukaan kalam adalah kitabullah.”
(Fatawa Syaikh Bin Baz no. 4431).

2. Dilakukan dengan berjamaah satu suara.

Ini yang dilarang, kecuali dilakukan dalam rangka ta’lim atau mengajari, Syaikh Abdul Aziz bin Baz menyatakan :

أما أن يقرأ واحد بصوته ويتبعه الناس بصوت واحد جميعاً صوتاً جماعياً فهذا خلاف الشرع لا في القراءة ولا في الذكر كونهم يرؤون بصوت جماعي, ويذكرون الله بصوت جماعي بعد السلام هذا لا أصل له, وليس من دين الإسلام فيما نعلم, ولا نعلم له أصلاً في قراءة الصحابة ولا من بعدهم من أهل العلم, وإنما قد يفعل هذا في مقام التعليم للصبيان الصغار يتمرون على الإلقاء تجويد القرآن وإلقاء الصوت الحسن به، فهذا قد يغتفر للصبيان في المدارس والكُتَّاب ليتعلموا ويعتادوا حسن الصوت عند القراءة, وضبط الكلمات وما قاله الأستاذ لهم, فهذا من باب التعليم فقط للصبيان في المدارس فهذا قد يغتفر قد يعفى عنه

“Adapun jika satu orang membaca lalu diikuti oleh orang banyak, maka ini menyelisihi syariat, baik di dalam membaca Al-Qur’an ataupun di dalam berdzikir.

Dimana mereka membaca dengan suara jamaah, berdzikir dengan berjama’ah (satu suara) setelah salam ini tidak ada asalnya. Dan ia tidak termasuk ajaran agama Islam setahu kami. Kami juga tidak mengetahui asalnya perkara tersebut dari bacaan para sahabat dan dari para ulama setelah mereka.

Tetapi hal ini kadang boleh dilakukan dalam rangka mengjari anak-anak kecil. Mereka melatih tajwid Al-Qur’an, dan melatih untuk bersuara baik tatkala membaca. Ini kadang dimaafkan bila dilakukan oleh anak-anak di madrasah dan kutab-kutab (TPA). Agar mereka belajar dan terbiasa bersuara baik tatkala membaca Al-Qur’an, tepat dalam pengucapan dan belajar menangkap apa yang diucapkan oleh Ustadz untuk mereka.

Ini dalam rangka mengajari anak-anak kecil saja di madrasah dan ini dimaafkan serta dimaklumi.”
(Fatawa Syaikh Bin Baz no. 28808).

 

Wallahu a’lam
Wabillahit taufiq

Dijawab dengan ringkas oleh :
Ustadz Abul Aswad Al Bayati, حفظه الله تعالى
Senin, 18 Dzulhijjah 1440 H/ 19 Agustus 2019 M



Ustadz Abul Aswad Al-Bayati, BA.
Dewan konsultasi Bimbingan Islam (BIAS), alumni MEDIU, dai asal klaten
Untuk melihat artikel lengkap dari Ustadz Abul Aswad Al-Bayati حفظه الله 
klik disini

CATEGORIES
TAGS
Share This

COMMENTS

Wordpress (0)
Disqus ( )