Aqidah

Kenapa Banyak Orang Bunuh Diri, Allah Zalim?

Mahad Bimbingan Islam (BIAS) belajar Islam terstruktur

Kenapa Banyak Orang Bunuh Diri, Allah Zalim?

Para pembaca Bimbinganislam.com yang memiliki akhlaq mulia berikut kami sajikan pembahasan mengenai mengapa banyak orang bunuh diri, Allah zalim? Selamat membaca.


Pertanyaan:

بسم اللّه الرحمن الر حيم

السلام عليكم ورحمةالله وبركاته

Semoga Allah ‘Azza wa Jalla selalu menjaga Ustadz dan keluarga.

Izin bertanya Ustadz. Saya ada titipan pertanyaan dari teman saya. Di dalam surat Al-Baqarah: 286, Allah berfirman, “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya”.

Lalu kenapa ada banyak orang yang bunuh diri karena masalah mereka?

(Ditanyakan oleh Sahabat BIAS melalui Grup WA)

Daftar Grup WA Bimbingan Islam Gratis

Jawaban:

Wa alaikumussalaam warahmatullah wabarakatuhu.

Benar sekali, bahwa Allah tidaklah membebani hambanya melainkan sebatas kemampuan hamba tersebut. Beberapa ayat yang senada dengan makna tersebut di antaranya:

وَأَنَّ اللَّهَ لَيْسَ بِظَلَّامٍ لِلْعَبِيدِ

“Dan bahwasanya Allah sekali-kali tidak menganiaya hamba-hamba-Nya”. (QS. Ali Imron:182)

Juga ayat:

وَلَا يَظْلِمُ رَبُّكَ أَحَدًا

“Dan Tuhanmu tidak menganiaya seorang jua pun”. (QS. Al-Kahf: 49)

Dan masih ada banyak ayat lain yang senada, yang menunjukkan bahwa Allah maha adil, tidaklah mendzolimi & menganiaya hambanya. Semua ujian yang dihadapi hamba itu sudah diukur sebatas kemampuan hamba tersebut.

Khusus perempuan, apakah kamu tahu Akademi Shalihah (AISHAH) Online?

Lantas kenapa ada orang yang sampai bunuh diri karena menghadapi ujian hidup?

Jawabannya adalah hilangnya ketakwaan dan adanya kejahilan dan ketidaktahuan akan hikmah dan pelajaran di balik ujian.

Sejatinya selagi seorang hamba bertakwa pada Allah, maka niscaya ada jalan keluar dari setiap ujian, Allah sendiri sudah menjanjikan pada hambanya yang bertakwa:

وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا

“Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar”. (QS. Al-Talak: 2).

Juga jika ia tahu adanya banyak hikmah di balik ujian hidup, maka niscaya ia akan tahu bahwa Allah itu justru menghendaki banyak kebaikan dalam ujian.

Contohnya dalam hadist berikut, Allah menguji hamba tujuannya karena Allah cinta pada hamba tersebut, atau juga karena Allah menghendaki agar ia mendapatkan pahala yang banyak dari ujian,

Nabi sallallahu alaihi wa sallam bersabda:

عن أنس رضي الله عنه, عَنِ النَّبِىِّ صلى الله عليه وسلمقَالَ (إِنَّ عِظَمَ الْجَزَاءِ مَعَ عِظَمِ الْبَلاَءِ وَإِنَّ اللَّهَ إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلاَهُمْ فَمَنْ رَضِىَ فَلَهُ الرِّضَا وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السَّخَطُ)

Artinya: “Anas radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya besarnya pahala sesuai dengan besarnya ujian dan jika Allah mencintai suatu kaum Dia akan menguji mereka, siapa yang ridha maka baginya keridhaan (Allah) dan siapa yang murka maka baginya kemurkaan (Allah).”(Hadits riwayat Tirmidzi (no. 2576) dan dishahihkan oleh Al-Albani)

Hikmah lainnya adalah dengan ujian Allah akan hapuskan dosa-dosa hamba yang telah lalu, Rasul sallallahu alaihi wa sallam bersabda:

مَا يُصِيبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلَا وَصَبٍ وَلَا هَمٍّ وَلَا حُزْنٍ وَلَا أَذًى وَلَا غَمٍّ حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا إِلَّا كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ

“Tidaklah seorang muslim tertimpa suatu kelelahan, atau penyakit, atau kekhawatiran, atau kesedihan, atau gangguan, bahkan duri yang melukainya melainkan Allah akan menghapus kesalahan-kesalahannya karenanya” (HR. Al-Bukhari no. 5642 dan Muslim no. 2573)

Jadi, kesukaran sekecil dan sedikit apa pun, sejatinya dengannya Allah menghendaki untuk menjadi sebab dihapuskan dan diampuninya dosa seorang hamba.

Jika kita tahu betul hikmah dan pelajaran di balik ujian, maka kita tidak akan berprasangka buruk pada Allah, dan tidak akan putus asa apalagi sampai bunuh diri.

Juga lihatlah pada orang yang ujiannya lebih berat, tidak usah jauh jauh, Nabi kita sallallahu alaihi wa sallam, semenjak sebelum lahir ayah beliau sudah wafat, ketika beliau umur 6 tahun ibu beliau wafat, ketika beliau umur 8 tahun kakek beliau Abdul Muttalib wafat.

Ketika beliau dewasa dan berkeluarga, beliau ditinggal wafat dua istri beliau, yakni Khadijah dan Zainab bintul Khuzaimah. Beliau ditinggal wafat paman beliau yaitu Hamzah dan Abu Thalib.

Seluruh putra putri beliau wafat tatkala beliau masih hidup, semua anaknya meninggal yang jumlahnya ada 7, kecuali Fatimah yang wafat ½ tahun selepas Rasulullah wafat.

Kalau kita bisa melihat realita ini, maka kita akan mengerti bahwa di sana ada orang yang ujian hidupnya lebih berat, maka janganlah putus asa dan berprasangka negatif pada sang pencipta, apalagi sampai bunuh diri.

Dijawab dengan ringkas oleh:
Ustadz Setiawan Tugiyono, M.H.I حفظه الله
Kamis, 12 Ramadan 1443 H/ 14 April 2022 M


Ustadz Setiawan Tugiyono, M.H.I حفظه الله
Beliau adalah Alumnus S1 Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan Arab (LIPIA) Jakarta dan S2 Hukum Islam di Universitas Muhammadiyah Surakarta
Untuk melihat artikel lengkap dari Ustadz Setiawan Tugiyono, M.H.I حفظه الله klik di sini

Baca Juga:  Fawaid Hadist #30 | Larangan Berangan-angan Kematian
Akademi Shalihah Menjadi Sebaik-baik Perhiasan Dunia Ads

Ustadz Setiawan Tugiyono, B.A., M.HI

Beliau adalah Alumni D2 Mahad Aly bin Abi Thalib Universitas Muhammadiyah Yogyakarta Bahasa Arab 2010 - 2012 , S1 LIPIA Jakarta Syariah 2012 - 2017, S2 Universitas Muhammadiyah Surakarta Hukum Islam 2018 - 2020 | Bidang khusus Keilmuan yang pernah diikuti beliau adalah, Dauroh Masyayikh Ummul Quro Mekkah di PP Riyadush-shalihin Banten, Daurah Syaikh Ali Hasan Al-Halaby, Syaikh Musa Alu Nasr, Syaikh Ziyad, Dauroh-dauroh lain dengan beberapa masyayikh yaman dll | Selain itu beliau juga aktif dalam Kegiatan Dakwah & Sosial Belajar bersama dengan kawan-kawan di kampuz jalanan Bantul

Related Articles

Back to top button