Konsultasi

Hukum Mengajukan Beasiswa Bagi Anak Karyawan, Haram?

Pendaftaran AISHAH Online Angkatan 2

Hukum Mengajukan Beasiswa Bagi Anak Karyawan, Haram?

Para pembaca Bimbinganislam.com yang memiliki akhlaq mulia berikut kami sajikan tanya jawab, serta pembahasan tentang Hukum Mengajukan Beasiswa Bagi Anak Karyawan, Haram? selamat membaca.

Pertanyaan:

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh
Ana ingin bertanya ustadz tentang beasiswa bagi anak karyawan yang berprestasi dikelas atau mendapat ranking kelas 1.2.3 dan rata2 nilai harus 85 keatas.

Tetapi sebelum mendapatkan itu karyawan tersebut harus mengisi atau mengajukan surat permohonan pengajuan beasiswa anak yang mana isi mengajukan permohonan pemberian beasiswa anak saya yang diisi dengan data2 karyawan dan data anak yang kita ajukan tersebut.

Mohon solusi nya ustad. Sebelum dan sesudahnya ana ucapkan Jazakumullah Khairan ustadz.

Ditanyakan Sahabat BIAS melalui Grup WhatsApp


Jawaban:

Wa’alaikumussalam Warahmatullah Wabarakatuh

Masalah ini dapat dibagi menjadi dua keadaan;

Keadaan Pertama

Jika karyawan adalah orang yang mampu dan berkecukupan untuk pendidikan anaknya, maka lebih baik ia tidak mengajukan beasiswa, hal ini karena ada larangan bagi seseorang meminta dan memohon kepada pihak lain, bila bukan karena terpaksa, dan semua juga tahu bahwa mengajukan beasiswa disini dihitung sebagai sebuah permintaan.

عَنْ قَبِيصَةَ بْنِ مُخَارِقٍ الْهِلَالِيِّ، قَالَ: تَحَمَّلْتُ حَمَالَةً، فَأَتَيْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَسْأَلُهُ فِيهَا، فَقَالَ: أَقِمْقِمْ حَتَّى تَأْتِيَنَا الصَّدَقَةُ، فَنَأْمُرَ لَكَ بِهَا، قَالَ: ثُمَّ قَالَ: ” يَا قَبِيصَةُ إِنَّ الْمَسْأَلَةَ لَا تَحِلُّ إِلَّا لِأَححَدِ ثَلَاثَةٍ رَجُلٍ، تَحَمَّلَ حَمَالَةً، فَحَلَّتْ لَهُ الْمَسْأَأَلَةُ حَتَّى يُصِيبَهَا، ثُمَّ يُمْسِكُ، وَرَجُلٌ أَصَابَتْهُ جَائِحَةٌ اجْتَاحَتْ مَالَهُ، فَحَلَّتْ لَهُ الْمَسْأَلَةُ حَتَّى يُصِيبَ قِوَامًا مِنْ عَيْشٍ – أَوْ قَالَ سِدَادًا مِنْ عَيْشٍ – وَرَجُلٌ أَصَابَتْهُ فَاقَةٌ حَتَّى يَقُومَ ثَلَاثَةٌ مِنْ ذَوِي الْحِجَا مِنْ قَوْمِهِ: لَقَدْ أَصَابَتْ فُلَانًا فَاقَةٌ، فَحَلَّتْ لَهُ الْمَسْأَلَةُ حَتَّى يُصِيبَ قِوَامًا مِنْ عَيْشٍ – أَوْ قَالَ سِدَادًا مِنْ عَيْشٍ -فَمَا سِوَاهُنَّ مِنَ الْمَسْأَلَةِ يَا قَبِيصَةُ سُحْتًا يَأْكُلُهَا صَاحِبُهَا سُحْتًا “

Dari Qabishah bin Mukhariq Al-Hilaliy, dia berkata: “Aku menanggung beban, maka aku mendatangi Rasulullah sholallohu ‘alaihi was sallam meminta kepada beliau untuk itu.

Beliau berkata, “Tinggallah engkau sehingga zakat datang kepada kami, sehingga kami akan memerintahkan untukmu dengan zakat itu.

Kemudian beliau bersabda, “Wahai Qabishah! Sesungguhnya meminta-minta itu tidak halal, kecuali bagi salah satu dari tiga orang:

Seseorang yang menanggung beban (hutang orang lain, diyat/denda), ia boleh meminta-minta sampai ia melunasinya, kemudian berhenti.

Seseorang yang ditimpa musibah yang menghabiskan hartanya, ia boleh meminta-minta sampai ia mendapatkan sandaran hidup.

Dan seseorang yang ditimpa kesengsaraan hidup sehingga ada tiga orang yang berakal dari kaumnya mengatakan, ‘Si Fulan telah ditimpa kesengsaraan hidup,’ ia boleh meminta-minta sampai mendapatkan sandaran hidup.

Meminta-minta selain untuk ketiga hal itu, wahai Qabishah adalah haram! Orang yang minta-minta memakan makanan yang haram”.

(HR. Muslim, no. 1044; An-Nasai, no. 2580; Abu Dawud, no. 1640; Ahmad, no. 20601)

[TS_Poll id="2"]

Keadaan Kedua

Berbeda masalah jika ternyata karyawannya hidup sederhana, semua serba cukup bila ditinjau secara dhohir padahal ada kekurangan disana-sini, dan beasiswa anak karyawan ini didapatkan oleh seseorang karena penawaran dari perusahaan atau lembaga tempat kerja, dan dia tidak meminta atau memohon kepada pihak lain, yang ada adalah surat pengajuan beasiswa biasa sebagai formalitas belaka, dengan tidak melanggar aturan agama, dan tidak membahayakan agama si penerima beasiswa, maka hukum asalnya mubah (boleh).

Baca Juga:  Kawat Gigi (Behel) Untuk Pengobatan & Berhias

Karena seseorang boleh menerima harta yang diberikan kepadanya dengan tanpa mengharap dan meminta, itu adalah rizqi yang Allah kirimkan kepadanya.

عَنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ، قَالَ: سَمِعْتُ عُمَرَ بْنَ الخَطَّابِ يَقُولُ: كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُعْطِينِي العَطَاءَ، فَأَقُولُ أَعْطِهِ أَفْقَرَ إِلَيْهِ مِنِّي، حَتَّى أَعْطَانِي مَرَّةً مَالًا، فَقُلْتُ: أَعْطِهِ مَنْ هُوَ أَفْقَرُ إِلَيْهِ مِنِّي، فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «خُذْهُ، فَتَمَوَّلْهُ، ووَتَصَدَّقْ بِهِ، فَمَا جَاءَكَ مِنْ هَذَا المَالِ وَأَنْتَ غَيْرُ مُشْرِفٍ وَلاَ سَائِلٍ فَخُذْهُ، وَمَالاَ فَلاَ تُتْبِعْهُ نَفْسَكَ»

Dari Abdulloh bin Umar, dia berkata: Aku mendengar Umar bin Al-Khoththob berkata,

“Nabi sholallohu ‘alaihi was sallam pernah memberikan kepadaku satu pemberian, lalu aku berkata, “Berikan kepada orang yang lebih butuh kepadanya daripadaku”.

Sehingga beliau pernah memberikan harta kepadaku, lalu aku berkata, “Berikan kepada orang yang lebih butuh kepadanya daripadaku”.

Maka Nabi bersabda, “Ambil harta itu dan jadikanlah sebagai milikmu, dan bersedekahlah dengannya. Harta yang datang kepadamu, sedangkan kamu tidak mengharapkan dan tidak memintanya, maka ambillah!

Adapun yang tidak datang, maka janganlah kamu mengikuti jiwamu (yaitu mengharapnya)”. (HR. Bukhori, no. 7164; Muslim, no. 1045).

Wallahu Ta’ala A’lam.

Referensi:
Bagaimana Hukum Menerima Beasiswa Dalam Islam?

Disusun oleh:
Ustadz Fadly Gugul حفظه الله
(Dewan Konsultasi Bimbinganislam.com)

Selasa, 12 Jumadil Awal 1444H / 6 Desember 2022 M 


Ustadz Fadly Gugul حفظه الله
Beliau adalah Alumni STDI Imam Syafi’i Jember (ilmu hadits), Dewan konsultasi Bimbingan Islam

Untuk melihat artikel lengkap dari Ustadz Fadly Gugul حفظه الله تعالى klik disini

Akademi Shalihah Menjadi Sebaik-baik Perhiasan Dunia Ads

Ustadz Fadly Gugul, S.Ag

Beliau adalah Alumni S1 STDI Imam Syafi’I Jember Ilmu Hadits 2012 – 2016 | Bidang khusus Keilmuan yang pernah diikuti beliau adalah Takhosus Ilmi di PP Al-Furqon Gresik Jawa Timur | Beliau juga pernah mengikuti Pengabdian santri selama satu tahun di kantor utama ICBB Yogyakarta (sebagai guru praktek tingkat SMP & SMA) | Selain itu beliau juga aktif dalam Kegiatan Dakwah & Sosial Dakwah masyarakat (kajian kitab), Kajian tematik offline & Khotib Jum’at

Related Articles

Back to top button