Bagaimana Hukum Menerima Beasiswa Dalam Islam?

Bagaimana Hukum Menerima Beasiswa Dalam Islam?

Bagaimana Hukum Menerima Beasiswa Dalam Islam?

Para pembaca Bimbinganislam.com yang memiliki akhlaq mulia berikut kami sajikan tanya jawab, serta pembahasan tentang bagaimana hukum menerima beasiswa dalam islam?
selamat membaca.

Pertanyaan :

بِسْـمِ اللّهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْم

اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ

Semoga Ustadz dan keluarga selalu dalam kebaikan dan lindungan Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Saya sudah membaca artikel tentang hukum beasiswa. Katanya termasuk meminta minta yang artinya itu dilarang kecuali kepada Pemerintah. Pertanyaannya, bolehkah ikut beasiswa yang disitu kita juga ada perjanjian kegiatannya?
Soalnya rata-rata beasiswa itu kita tidak cuma-cuma bisa ikut, ada seleksi, dan kalau sudah diterima kita harus ikut kegiatan yang mereka programkan, dan semisalnya.

Jazakallah khairan.

(Disampaikan oleh Fulan, penanya dari media sosial bimbingan islam)


Jawaban :

وَعَلَيْكُمُ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ

بِسْـمِ اللّهِ

Alhamdulillāh
Alhamdulillah, wa laa haula wa laa quwwata illaa billaah, wash shalaatu was salaamu ‘alaa rasulillaah, Amma ba’du

Beasiswa yang Tidak Boleh

Beasiswa yang didapatkan oleh seseorang dengan meminta dan memohon kepada pihak lain, maka tidak boleh, karena itu termasuk permintaan yang bukan karena terpaksa.

عَنْ قَبِيصَةَ بْنِ مُخَارِقٍ الْهِلَالِيِّ، قَالَ: تَحَمَّلْتُ حَمَالَةً، فَأَتَيْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَسْأَلُهُ فِيهَا، فَقَالَ: أَقِمْ حَتَّى تَأْتِيَنَا الصَّدَقَةُ، فَنَأْمُرَ لَكَ بِهَا، قَالَ: ثُمَّ قَالَ: ” يَا قَبِيصَةُ إِنَّ الْمَسْأَلَةَ لَا تَحِلُّ إِلَّا لِأَحَدِ ثَلَاثَةٍ رَجُلٍ، تَحَمَّلَ حَمَالَةً، فَحَلَّتْ لَهُ الْمَسْأَلَةُ حَتَّى يُصِيبَهَا، ثُمَّ يُمْسِكُ، وَرَجُلٌ أَصَابَتْهُ جَائِحَةٌ اجْتَاحَتْ مَالَهُ، فَحَلَّتْ لَهُ الْمَسْأَلَةُ حَتَّى يُصِيبَ قِوَامًا مِنْ عَيْشٍ – أَوْ قَالَ سِدَادًا مِنْ عَيْشٍ – وَرَجُلٌ أَصَابَتْهُ فَاقَةٌ حَتَّى يَقُومَ ثَلَاثَةٌ مِنْ ذَوِي الْحِجَا مِنْ قَوْمِهِ: لَقَدْ أَصَابَتْ فُلَانًا فَاقَةٌ، فَحَلَّتْ لَهُ الْمَسْأَلَةُ حَتَّى يُصِيبَ قِوَامًا مِنْ عَيْشٍ – أَوْ قَالَ سِدَادًا مِنْ عَيْشٍ -فَمَا سِوَاهُنَّ مِنَ الْمَسْأَلَةِ يَا قَبِيصَةُ سُحْتًا يَأْكُلُهَا صَاحِبُهَا سُحْتًا “

Dari Qabishah bin Mukhariq Al-Hilaliy, dia berkata: “Aku menanggung beban, maka aku mendatangi Rasulullah sholallohu ‘alaihi was sallam meminta kepada beliau untuk itu.
Beliau berkata, “Tinggallah engkau sehingga zakat datang kepada kami, sehingga kami akan memerintahkan untukmu dengan zakat itu.
Kemudian beliau bersabda, “Wahai Qabishah! Sesungguhnya meminta-minta itu tidak halal, kecuali bagi salah satu dari tiga orang:
Seseorang yang menanggung beban (hutang orang lain, diyat/denda), ia boleh meminta-minta sampai ia melunasinya, kemudian berhenti.
Seseorang yang ditimpa musibah yang menghabiskan hartanya, ia boleh meminta-minta sampai ia mendapatkan sandaran hidup.
Dan seseorang yang ditimpa kesengsaraan hidup sehingga ada tiga orang yang berakal dari kaumnya mengatakan, ‘Si Fulan telah ditimpa kesengsaraan hidup,’ ia boleh meminta-minta sampai mendapatkan sandaran hidup.
Meminta-minta selain untuk ketiga hal itu, wahai Qabishah adalah haram! Orang yang minta-minta memakan makanan yang haram”.
(HR. Muslim, no. 1044; An-Nasai, no. 2580; Abu Dawud, no. 1640; Ahmad, no. 20601)

Beasiswa yang Boleh

Namun beasiswa yang didapatkan oleh seseorang karena penawaran, dan dia tidak meminta atau memohon kepada pihak lain, kemudian di sana ada perjanjian untuk melakukan sesuatu, dengan tidak melanggar aturan agama, dan tidak membahayakan agama si penerima beasiswa, maka hukum asalnya mubah (boleh).

Karena seseorang boleh menerima harta yang diberikan kepadanya dengan tanpa mengharap dan meminta, itu adalah rizqi yang Allah kirimkan kepadanya.

عَنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ، قَالَ: سَمِعْتُ عُمَرَ بْنَ الخَطَّابِ يَقُولُ: كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُعْطِينِي العَطَاءَ، فَأَقُولُ أَعْطِهِ أَفْقَرَ إِلَيْهِ مِنِّي، حَتَّى أَعْطَانِي مَرَّةً مَالًا، فَقُلْتُ: أَعْطِهِ مَنْ هُوَ أَفْقَرُ إِلَيْهِ مِنِّي، فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «خُذْهُ، فَتَمَوَّلْهُ، وَتَصَدَّقْ بِهِ، فَمَا جَاءَكَ مِنْ هَذَا المَالِ وَأَنْتَ غَيْرُ مُشْرِفٍ وَلاَ سَائِلٍ فَخُذْهُ، وَمَالاَ فَلاَ تُتْبِعْهُ نَفْسَكَ»

Dari Abdulloh bin Umar, dia berkata: Aku mendengar Umar bin Al-Khoththob berkata,
“Nabi sholallohu ‘alaihi was sallam pernah memberikan kepadaku satu pemberian, lalu aku berkata, “Berikan kepada orang yang lebih butuh kepadanya daripadaku”.
Sehingga beliau pernah memberikan harta kepadaku, lalu aku berkata, “Berikan kepada orang yang lebih butuh kepadanya daripadaku”.
Maka Nabi bersabda, “Ambil harta itu dan jadikanlah sebagai milikmu, dan bersedekahlah dengannya. Harta yang datang kepadamu, sedangkan kamu tidak mengharapkan dan tidak memintanya, maka ambillah!
Adapun yang tidak datang, maka janganlah kamu mengikuti jiwamu (yaitu mengharapnya) ”.”
(HR. Bukhori, no. 7164; Muslim, no. 1045)

Umat Islam boleh mengadakan perjanjian, namun tidak boleh menghalalkan yang haram atau mengharamkan yang halal. Dan harus menetapi perjanjian yang mereka lakukan. Di dalam sebuah hadits diriwayatkan:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “الْمُسْلِمُونَ عَلَى شُرُوطِهِمْ”

Dari Abu Huroiroh, dia berkata: Rosululloh sholallohu ‘alaihi wassallam bersabda: “Kaum muslimin harus menetapi perjanjian mereka”.
(HR. Abu Dawud, no. 3594. Syaikh Albani menyatakan, “Hasan Shohih”.)

Di dalam hadits lain diriwayatkan:

عَنْ عَمْرِو بْنِ عَوْفٍ المُزَنِيُّ ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: “الصُّلْحُ جَائِزٌ بَيْنَ المُسْلِمِينَ، إِلَّا صُلْحًا حَرَّمَ حَلَالًا، أَوْ أَحَلَّ حَرَامًا، وَالمُسْلِمُونَ عَلَى شُرُوطِهِمْ، إِلَّا شَرْطًا حَرَّمَ حَلَالًا، أَوْ أَحَلَّ حَرَامًا

Dari ‘Amr bin ‘Auf Al-Muzaniy, bahwa Rosululloh sholallohu ‘alaihi wassallam bersabda:
“Perdamaian itu boleh di antara kaum muslimin, kecuali perdamaian yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram.
Dan kaum muslimin harus menetapi perjanjian mereka”. kecuali perjanjian yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram.

(HR. Tirmidzi, no. 1352. Syaikh Albani menyatakan, “Shohih”.)

Dan beasiswa itu tidak boleh membahayakan agama seorang muslim. Sebab agama Islam yang benar sebagai jalan kebahagiaan abadi di akhirat, jangan dikorbankan hanya untuk mencari kebaikan di dunia yang fana.

Contoh beasiswa yang membahayakan agama adalah beasiswa untuk belajar Islamologi di negara-negara kafir, yang dosen-dosennya bukan muslim yang lurus, sehingga merusak keimanannya.
Atau beasiswa untuk tinggal bersama keluarga kafir di Negara kafir, sehingga merusakkan wala’ wal baro (mendukung dan menjauhi karena Allah). Dan yang semisalnya.

Semoga Alloh selalu menunjukkan al-haq sebagai al-haq kepada kita dan memberikan kekuatan untuk mengikutinya. Dan menampakkan al-batil sebagai al-batil, dan memberikan kekuatan untuk menjauhinya. Wallohul Muwaffiq.
hukum beasiswa dalam islam

 

Disusun oleh:
Ustadz Muslim Al-Atsari حفظه الله
Jum’at, 16 Sya’ban 1441 H/ 09 April 2020 M



Ustadz Muslim Al-Atsari حفظه الله
Beliau adalah Pengajar di Pondok Pesantren Ibnu Abbas As Salafi, Sragen
Untuk melihat artikel lengkap dari Ustadz Muslim Al-Atsari حفظه الله 
klik disini

CATEGORIES
TAGS
Share This

COMMENTS