Fiqih

Hukum Makanan Pemberian Pemilik Anjing

Hukum Makanan Pemberian Pemilik Anjing

Para pembaca Bimbinganislam.com yang memiliki akhlaq mulia berikut kami sajikan pembahasan tentang hukum makanan pemberian pemilik anjing. Selamat membaca.


Pertanyaan:

Assalamualaykum. Izin bertanya bagaimana jika kita dikasih makanan misalkan sayur lodeh dari orang nasrani yang di rumahnya memelihara anjing dan orang nasrani tersebut sering berinteraksi dengan hewan itu. Apakah makanan yang dimasak akan terkena najis. Bagaimanakah apakah boleh masakannya dimakan?

(Ditanyakan oleh Sahabat BIAS via Twitter Bimbingan Islam)


Jawaban:

Wa alaikumussalaam warahmatullah.

Jika Anda mengetahui secara pasti hal tersebut, bahwa yang bersangkutan sering berinteraksi, bersentuhan dengan anjing, maka untuk lebih amannya Anda tidak mengonsumsinya.

Sejatinya hukumnya boleh saja dan halal makanan pemberian orang ahlul kitab (yahudi nasrani), perabot mereka pun suci, ini jika tidak diketahui bahwa mereka sering bersinggungan langsung dengan hewan yang najis seperti anjing, namun jika faktanya mereka sering berinteraksi dan Anda melihatnya sendiri, maka baiknya Anda tidak mengonsumsi pemberiannya.

Baca Juga :  Hukum Khutbah Dua Kali Pada Sholat Ied  

Dalam kitab Fiqih Muyassar disebutkan:

الأصل في آنية الكفار الحل، إلا إذا عُلمت نجاستها، فإنه لا يجوز استعمالها إلا بعد غسلها؛ لحديث أبي ثعلبة الخشني قال: قلت يا

رسول الله إنا بأرض قوم أهل كتاب، أفنأكل في آنيتهم؟ قال: (لا تأكلوا فيها إلا أن لا تجدوا غيرها فاغسلوها، ثم كلوا فيها)

“Hukum asalnya perabot orang kafir itu halal/suci, kecuali jika benar-benar diketahui kenajisannya, maka tidak boleh untuk dipergunakan melainkan setelah dicuci, berdasarkan hadist dari Tsa’labah al-Khusyani ia berkata: Wahai Rasulullah, kami sedang berada di daerah kaum ahli kitab, apakah kami boleh makan menggunakan perabot mereka?

Rasul menjawab:

لا تأكلوا فيها إلا أن لا تجدوا غيرها فاغسلوها، ثم كلوا فيها

“Janganlah kalian makan di perabot mereka, kecuali kalian tidak mendapati lagi selainnya, cucilah dulu perabot tersebut, dan silakan makan dengannya”. (HR. Bukhari). (al-Fiqhu al-Muyassar juz:1 hal:7).

Jadi selagi kita tahu betul bahwa mereka bersinggungan langsung dengan anjing, baiknya kita meninggalkannya, kita terima untuk melembutkan hati si pemberi, barangkali dia bisa luluh dengan sifat kita karena mau menerima hadiahnya, kita berusaha tidak menyinggung perasaannya, namun nantinya kita tidak mengonsumsi pemberiannya, kita buang. Wallahu a’lam.

Baca juga:

Dijawab dengan ringkas oleh:
Ustadz Setiawan Tugiyono, M.H.I حفظه الله
Jumat, 4 Jumadil Akhir 1443 H/ 7 Januari 2021 M


Ustadz Setiawan Tugiyono, M.H.I حفظه الله
Beliau adalah Alumnus S1 Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan Arab (LIPIA) Jakarta dan S2 Hukum Islam di Universitas Muhammadiyah Surakarta
Untuk melihat artikel lengkap dari Ustadz Setiawan Tugiyono, M.H.I حفظه الله klik disini

Baca Juga :  Status Anak Hasil Zina dan Konsekuensinya

Ustadz Setiawan Tugiyono, B.A., M.HI

Beliau adalah Alumni D2 Mahad Aly bin Abi Thalib Universitas Muhammadiyah Yogyakarta Bahasa Arab 2010 - 2012 , S1 LIPIA Jakarta Syariah 2012 - 2017, S2 Universitas Muhammadiyah Surakarta Hukum Islam 2018 - 2020 | Bidang khusus Keilmuan yang pernah diikuti beliau adalah, Dauroh Masyayikh Ummul Quro Mekkah di PP Riyadush-shalihin Banten, Daurah Syaikh Ali Hasan Al-Halaby, Syaikh Musa Alu Nasr, Syaikh Ziyad, Dauroh-dauroh lain dengan beberapa masyayikh yaman dll | Selain itu beliau juga aktif dalam Kegiatan Dakwah & Sosial Belajar bersama dengan kawan-kawan di kampuz jalanan Bantul

Related Articles

Back to top button