Ibadah

Hukum I’tikaf Dan Penjelasannya, Bagaimana Dengan Pekerja?

Pendaftaran Mahad Bimbingan Islam

Hukum I’tikaf Dan Penjelasannya, Bagaimana Dengan Pekerja?

Para pembaca Bimbinganislam.com yang memiliki akhlaq mulia berikut kami sajikan tanya jawab, serta pembahasan tentang Hukum I’tikaf Dan Penjelasannya, Bagaimana Dengan Pekerja? selamat membaca.

Pertanyaan:

Bismillah. Assalamu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh Ahsanallahuilaikum Ustadz. ‘Afwan izin konfirmasi dan bertanya. 1. Jadi, i’tikaf di 10 hari terakhir bulan Ramadhan itu menginap di masjid selama 10 hari ya Ustadz? Dan kegiatan dari pagi-malam hanya beribadah saja? Lalu, bagaimana jika ada yang harus bekerja di pagi harinya? 2. Bagaimana solusi i’tikaf di kala pandemi ini? Jazaakumullahu khairan wa barakallaahufiikum

Ditanyakan oleh Santri Mahad Bimbingan Islam


Jawaban:

Waalaikumsalam warahmatullah wabarokatuh

I’tikaf adalah sebuah amalan ibadah yang agung, yang Rasulullah telah menganjurkan umatnya untuk menjalankan amal ibadah tersebut. Bahkan beliau sendiri terus menerus menjalankan dan menjaganya.

Dengan menjalankan i’tikaf dan berdiam diri, mengkhususkan waktunya untuk beribadah di masjid dengan berbagai amalan yang dianjurkan, dari membaca alquran, shalat, dzikir dan yang lainnya.

Berharap seorang muslim yang melakukan i’tikaf di bulan ramadhan, khususnya di 10 hari terakhir bulan ramadhan , ia mendapatkan lailatur qadar yang Allah juga agungkan amal ibadah pada waktu itu dengan dilipat gandakan lebih baik dari amalan yang di lakukan seribu bulan.

Berkata syekh bin baz rahimahullah ta`ala dalam menjelaskan i’tikaf,”

لا ريب أن الاعتكاف في المسجد قربة من القرب، وفي رمضان أفضل من غيره؛ لقول الله تعالى: وَلاَ تُبَاشِرُوهُنَّ وَأَنتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ [البقرة:187]، ولأن النبي ﷺ كان يعتكف العشر الأواخر من رمضان، وترك ذلك مرة فاعتكف في شوال، والمقصود من ذلك هو التفرغ للعبادة والخلوة بالله لذلك، وهذه هي الخلوة الشرعية.
وقال بعضهم في تعريف الاعتكاف: هو قطع العلائق الشاغلة عن طاعة الله وعبادته، وهو مشروع في رمضان وغيره كما تقدم، ومع الصيام أفضل، وإن اعتكف من غير صوم فلا بأس على الصحيح من قولي العلماء؛ لما ثبت في الصحيحين عن عمر t أنه قال: يا رسول الله إني نذرت أن اعتكف ليلة في المسجد الحرام، وكان ذلك قبل أن يسلم، فقال له النبي ﷺ: أوف بنذركرواه البخاري في (الاعتكاف) باب إذا نذر في الجاهلية أن يعتكف ثم أسلم برقم 2043، ومسلم في (الأيمان) باب نذر الكافر ما يفعل فيه إذا أسلم برقم 1656].

Tidak diragukan, bahwa i’tikaf di dalam masjid adalah salah satu ibadah untuk mendekatkan diri kepada Allah, dilakukan di dalam bulan ramadhan lebih utama dari waktu yang lainnya, sebagaimana firman Allah ta`ala,” “Janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri’tikaf dalam mesjid.” (QS. Al-Baqarah: 187) .

Juga karena nabi shallallahu alaihi wasallam beri’tikaf pada 10 hari terakhir, pernah sekali beliau meninggalkannya maka iapun beri’tikaf pada bulan syawalnya, Maksud dari itu semua i’tikaf dalam rangka menyempatkan diri fokus dalam beribadah, menyendiri untuk mengingat Allah.

Dan menyendiri seperti ini diperbolehkan dalam syariat. Sebagian ( para ulama) menjelaskan bahwa maksud i’tikaf adalah untuk memutus diri dari perkara yang melalaikan dari ketaatan dan ibadah kepada Allah. i’tikaf di syariatkan di bulan ramadhan atau bisa di lakukan pada selain ramadhan, sebagaimana yang telah dijelaskan sebelumnya.

Bila dilakukan bersama ibadah puasa maka ia lebih utama, dan bila tanpa dibarengi dengan berpuasa maka tidak mengapa,sebagaimana menurut pendapat yang lebih kuat dari para ulama.

Seperti yang telah disebutkan dalam shahih Bukhari dan Muslim dari sahabat Umar bin Khattab bahwa ia berkata,” Ya Rasulullah bahwa aku pernah bernadzar untuk beriktikaf pada malam hari di masjidil haram, ini terjadi sebelum masuk islam, maka beliau bersabda, “Tunaikan nazarmu.” ( https://binbaz.org.sa/fatwas/13001/)

Dapat di pahami, bahwa i’tikaf hukumnya adalah sunnah dan sangat dianjurkan untuk dilakukan. Lebih utamanya dilakukan selama 10 hari diakhir bulam ramadhan, Sebagaimana hadist nabi shallallahu alaihi wasallam,“Biasanya (Nabi shallallahu’alaihi wa sallam) beri’tikaf pada sepuluh malam akhir Ramadan sampai Allah wafatkan. Kemudian istri-istrinya beri’tikaf setelah itu.” (HR. Bukhari, no. 2026 dan Muslim, no. 1172)

Baca Juga:  Lakukan Cara Ini Untuk Bertaubat Dari Kesombongan!

Namun bila dilakukan di luar dari itu maka diperbolehkan, sebagaimana hadist yang menjelaskan bahwa nabi melakukannya pada bulan syawal, dan juga hadist Umar yang melakukannya di luar bulan ramadhan, dan juga pernah nabi melakukannya di luar dari 10 terakhir bulan ramadhan, sebagaimana hadist,”

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَعْتَكِفُ فِي كُلِّ رَمَضَانٍ عَشَرَةَ أَيَّامٍ، فَلَمَّا كَانَ العَامُ الَّذِي قُبِضَ فِيهِ اعْتَكَفَ عِشْرِينَ يَوْمًا

“Dahulu, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sering melakukan i’tikaf selama 10 hari pada bulan ramadhan, namun pada tahun wafatnya, beliau melakukan i’tikaf selama 20 hari” (HR. Al-Bukhari no 2044)

Juga hadist Umar yang sebelumnya, ketika Umar bertanya kepada Rasulullah , “Wahai Rasulullah, sesungguhnya sewaktu jahiliyah saya bernazar untuk beri’tikaf semalam di Masjidil Haram, maka beliau bersabda, “Tunaikan nazarmu.” (HR. Bukhari, no. 6697)

Kemudian dapat di pahami pula bahwa hukum i’tikaf adalah sunnah, sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnu Al-Munzir dalam kitab Al-Ijma’ hal. 53 mengatakan, “Mereka (para ulama) berijmak bahwa i’tikaf adalah sunah dan tidak diwajibkan kepada manusia. Kecuali kalau seseorang mewajibkan dirinya dengan nazar, maka menjadi wajib atasnya.”

Imam An Nawawi rahimahullah mengatakan,”

فالاعتكاف سنة بالاجماع ولا يجب إلا بالنذر بالاجماع

“Hukum i’tikaf adalah sunnah berdasarkan ijma dan ulama sepakat bahwa i’tikaf tidak berhukum wajib kecuali seorang yang bernadzar untuk beri’tikaf.” (Al Majmu’ 6/475)

Terkait dengan waktunya, sebagaimana yang dijelaskan sebelumnya lebih utamanya pada 10 hari terakhir bulan ramadhan atau bisa dilakukan diluar itu, sebagaimana pendapat Jumhur (mayoritas ulama) berpendapat bahwa i’tikaf dianjurkan setiap saat untuk dilakukan dan tidak terbatas pada bulan Ramadhan atau di sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan. [Kifayah al Akhyar 1/297, Al Mughni 3/122)

Terkait dengan kesibukan, maka banyak pilihan yang bisa dilakukan sebagaimana yang dipahami dari penjelasan di atas, antara lain dengan cara seseorang menyempatkan diri /mengambil cuti selama 10 hari terakhir. atau mencoba memperbanyak tinggal di masjid pada malam harinya sebagaimana pada kasus Umar bin khattab atau bisa dengan mengambil salah satu malam atau pada siang hari atau sebagian waktunya untuk beritikaf di masjid.

Namun sekali lagi yang paling utama dan disepakati tanpa ada ulama yang memperselisihkan adalah dengan berjuang menyempatkan diri dengan cara apapun pada 10 hari terkhir bulan ramadhan dalam rangka mengoptimalkan diri dan kemampuan untuk mendapatkan apa yang di inginkan oleh mereka orang orang yang shalih dan bertakwa, ampunan dari Allah dan kebahagiaan di dunia dan di akhirat, insyaallah ta`ala.

i’tikaf di kala pandemi dengan cara memilih masjid terdekat, yang biasa dijadikan sebagai tempat shalat lima waktu, dan memilih posisi dari masjid yang tidak banyak dijadikan lalu lalang manusia. Ini bila keadaan kondusif, diperbolehkan oleh pengurus masjid dan bisa mengantisipasi berbagai hal yang tidak diinginkan.

Namun, bila ternyata tidak kondusif dan dikhawatirkan dengan sesuatu yang tidak diinginkan maka meniadakan i’tikaf, dengan tetap mengoptimalkan waktu dan kesempatan di rumah untuk mendekatkan diri kepada Allah, maka tidak mengapa.

Berharap dengan niat awal yang baik, Allah mencatatkan diri kita bagian dari orang orang yang terhalang dari ibadah yang biasa dilakukan,dengan memberikan pahala yang besar pula.

Wallahu a`lam.

Dijawab dengan ringkas oleh:
Ustadz Mu’tashim, Lc. MA. حفظه الله
Selasa, 6 Ramadhan 1444H / 28 Maret 2023 M 


Ustadz Mu’tashim Lc., M.A.
Dewan konsultasi BimbinganIslam (BIAS), alumus Universitas Islam Madinah kuliah Syariah dan MEDIU
Untuk melihat artikel lengkap dari Ustadz Mu’tashim Lc., M.A. حفظه الله klik di

Akademi Shalihah Menjadi Sebaik-baik Perhiasan Dunia Ads

Ustadz Mu’tasim, Lc. MA.

Beliau adalah Alumni S1 Universitas Islam Madinah Syariah 2000 – 2005, S2 MEDIU Syariah 2010 – 2012 | Bidang khusus Keilmuan yang pernah diikuti beliau adalah Syu’bah Takmili (LIPIA), Syu’bah Lughoh (Universitas Islam Madinah) | Selain itu beliau juga aktif dalam Kegiatan Dakwah & Sosial Taklim di beberapa Lembaga dan Masjid

Related Articles

Back to top button