Belajar-Ilmu-Filsafat-Di-Kampus

Pertanyaan :

السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

Ustadz, mohon dijelaskan tentang bagaimana hukum mempelajari ilmu filsafat di kuliah padahal jurusannya bukan filsafat? Ketika kita ingin meninggalkan kuliah setelah mengetahui bahwa filsafat itu haram, lantas bagaimana pertimbangan kita dengan biaya, tenaga, dan waktu yang telah dikeluarkan? Apakah hal tersebut tetap berdosa karena tersistem? Lalu bagaimana hukumnya jika kita mempelajari filsafat untuk mengetahui keburukan agar kita bisa membantah mereka dengan dalil syar’i?

Jazakumulloh Khoiron

(Dari Hamba Alloh Anggota Grup WA Bimbingan Islam).

Jawaban :

وعليكم السلام ورحمة الله وبر كاته

Wa antum jazakumullahu khairan, semoga Allah menunjukkan kepada kita jalan kebenaran dan kita diberikan kekuatan untuk mengikutinya. Dan semoga Allah menunjukkan kepada kita kebatilan serta memberikan kekuatan pada kita untuk menjauhinya.

Hukum mempelajari ilmu filasafat/ilmu kalam adalah HARAM. Al-Imam Asy-Syafi’i berkata tentang ilmu filsafat ini :

حكمي في أهل الكلام أن يضربوا بالجريد والنعال ، ويطاف بهم في العشائر والقبائل ، ويقال هذا جزاء من ترك الكتاب والسنة وأقبل على الكلام

“Menurutku hukuman untuk orang yang mempelajari ilmu kalam mereka hendaknya dipukuli dengan sendal dan pelepah kurma. Kemudian diarak keliling kepada suku-suku dan qabilah-qabilah sembari dikatakan ; inilah balasan bagi orang yang meninggalkan Al-Qur’an dan As-Sunnah lalu menerima dan mempelajari ilmu kalam”. (Lihat Majmu’ Fatawa : 1/468).

Al-Imam Ahmad bin Hanbal berkata juga tentang filsafat :

لا يفلح صاحب كلام أبداً، ولا نكاد نرى أحداً نظر في الكلام إلا وفي قلبه دغل

“Tidak akan beruntung pemilik ilmu kalam selama-lamanya, dan hampir tidak kita dapati ada orang yang mempelajari ilmu kalam kecuali di hatinya mesti ada kesesatan”. (Lihat Al-I’tishom : 3/237).

Diantara sebab utama diharamkannya ilmu filsafat ini ialah seringkali filsafat lebih suka mendahulukan kesimpulan akalnya dari pada tunduk kepada keputusan Al-Qur’an dan As-Sunnah. Dan kesudahan dari orang-orang yang mengedepankan akalnya adalah kebingungan. Ini dia Abu Abdillah Muhammad bin Umar Ar-Razi salah satu tokoh ilmu filsafat yang sudah mencapai drajat tinggi di dalam ilmu kalam, Al-Hafidz Ibnu Hajar Al-Asqalani berkomentar tentang dia :

له تشكيكات على مسائل من دعائم الدين تورث الحيرة، وكان يورد شبه الخصم بدقة ثم يورد مذهب أهل السنة على غاية من الوهاء

“Dia ini (Ar-Razi) memiliki keragu-raguan dalam banyak permasalahan pokok-pokok agama sehingga mengakibatkan munculnya kebingungan. Dia biasa menyebutkan syubhat dengan sangat rinci, kemudian di sisi lain dia menyebutkan madzhab ahlis sunnah dengan sangat buruk”. (Lisanul Mizan : 4/426).

Apa kesudahan yang didapat oleh master ilmu filsafat ini. Kita simak pengakuan Ar-Razi sendiri tentang hasil yang ia dapatkan setelah mati-matian mempelajari ilmu filsafat yang identik dengan aktivitas mengedepankan akal dalam banyak masalah. Hingga akhirnya ia bertaubat dan menuliskan bait syair setelah pertaubatannya :

نِهَايَةُ إِقْدَامِ الْعُقُولِ عِقَالُ … وَغَايَةُ سَعْيِ الْعَالَمِينَ ضَلَالُ
وَأَرْوَاحُنَا فِي وَحْشَةٍ مِنْ جُسُومِنَا … وَحَاصِلُ دُنْيَانَا أَذَى وَوَبَالُ
وَلَمْ نَسْتَفِدْ مِنْ بَحْثِنَا طُولَ عُمْرِنَا … سِوَى أَنْ جَمَعْنَا فِيهِ: قِيلَ وَقَالُوا

“Kesudahan dari mengedepankan akal adalah iqal/kebingungan *** Dan hasil dari semua usaha yang dikerahkan adalah kesesatan.

Dan jiwa-jiwa kita terasa liar di dalam jasad kita *** Kesudahan dari dunia kita adalah gangguan serta musibah.

Dan kami tidak mengambil manfaat dari semua pembahasan kami sepanjang hayat kami *** kecuali hanya mengumpulkan “katanya” dan “katanya”. (Lihat Syarah Aqidah Thahawiyah : 1/244).

Adapun jika kita diharuskan mempelajarinya di dalam kampus, maka masing-masing kita menjadi timbangan bagi diri kita. Allah ta’ala berfirman :

بَلِ الْأِنْسَانُ عَلَى نَفْسِهِ بَصِيرَةٌ وَلَوْ أَلْقَى مَعَاذِيرَهُ

“Bahkan manusia menjadi saksi atas dirinya sendiri, (14) meskipun dia mengemukakan alasan-alasannya (15). (Al-Qiyaamah : 14-15)

Jika sekiranya kita tidak memiliki latar belakang ilmu agama yang kuat serta aqidah yang kokoh, sehingga kita mengkhawatirkan diri kita akan terpengaruh buruknya filsafat ini, maka haram hukumnya.
Beban biaya, tenaga, waktu fikiran yang telah dikerahkan tidak ada artinya sama-sekali jika dibandingkan dengan keselamatan agama kita. Karena agama adalah nikmat terbesar dalam hidup kita. Semua kenikmatan dunia tidak ada kebaikannya sama sekali jika agama kita rusak.

Hanya diperlukan tekat yang kuat, do’a serta keikhlasan untuk meninggalkan hal-hal yang mengundang murka Allah dengan menanggung segala resikonya. Namun semua resiko ini yakin Allah pasti akan menggantinya dengan ganti yang lebih baik, nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

إِنَّكَ لَنْ تَدَعَ شَيْئًا للهِ إلاَّ أَبْدَلَكَ اللهُ بِهِ مَا هُوَ خَيْرٌ لَكَ مِنْهُ

“Sesungguhnya engkau tidak akan pernah meninggalkan sesuatu karena mengharap ridha Allah melainkan pasti Allah akan mengganti untukmu ganti yang jauh lebih baik”. (HR Ahmad : 5/363 dishahihkan oleh Al-Imam Al-Albani dalam Silsilah Ahadits Ash-Shahihah : 1/62).

Adapun jika seseorang mempelajari filsafat karena dipaksa atau merupakan keharusan di kampus di sisi lain ia memiliki latar belakang ilmu agama yang kuat yang akan melindunginya. Atau ia mempelajarinya karena ingin membantahnya, maka hal ini diperkecualikan dari hukum asli akan haramnya ilmu filsafat ini. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Munajjid :

وينبغي أن يستثنى من التحريم دراستها لأهل الاختصاص ؛ لبيان ما فيها من الانحراف ، والرد على ما تثيره من الباطل .إذا كانت دراسة الفلسفة إلزامية ، فينبغي أن تحذر من اعتقاد شيء من باطلها ، أو الافتتان برجالاتها ، وأن تجدّ في طلب العلم الشرعي ، لا سيما ما يتصل بعلم العقيدة ، حتى يكون لديك حصانة ومنَعة من الشبهات .نسأل الله لك التوفيق والسداد .

“Dan selayaknya diperkecualikan dari hukum haramnya mempelajari ilmu filsafat ini untuk para pakar ilmu agama, dalam rangka untuk menjelaskan penyimpangan yang ada di dalamnya. Serta membantah syubhat yang ditebarkan oleh ahli batil.
Apabila pelajaran filsafat ini menjadi sesuatu yang diharuskan, maka wajib bagi engkau untuk waspada terhadap keyakinan-keyakinan batil di dalamnya, serta waspada dari terpesona dengan para ahli filsafat. Dan engkau harus mengimbanginya dengan mempelajari ilmu syar’i secara tekun, terutama yang berkaitan dengan ilmu aqidah. Dengan begitu engkau memiliki benteng kuat yang akan menghalau syubhat-syubhat filsafat. Dan hanya kepada Allah kami memohonkan taufik serta kebaikan untuk dirimu”. (Fatwa Islam No. 11884).

Wallahu a’lam

Referensi :
Majmu’ Fatawa oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah
Al-I’tisham oleh Al-Imam Asy-Syatibi
Lisanul Mizan oleh Al-Hafidz Ibnu Hajar Al-Asqalani
Syarah Aqidah Thawiyah oleh Al-Imam Ibnu Abil Izz Al-Hanafi
Silsilah Ahadits Ash-Shahihah oleh Al-Imam Al-Albani
Fatwa Islam no. 11884.

Konsultasi Bimbingan Islam
Ustadz Abul Aswad Al Bayati