Adab & Akhlak

Cara Agar Hati Tidak Membatu Dan Menjadi Lembut

Pendaftaran Mahad Bimbingan Islam

Cara Agar Hati Tidak Membatu Dan Menjadi Lembut

Para pembaca Bimbinganislam.com yang memiliki akhlaq mulia berikut kami sajikan tanya jawab, serta pembahasan tentang Cara Agar Hati Tidak Membatu Dan Menjadi Lembut. selamat membaca.

Pertanyaan:

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh Bismillah, ustadz saya ingin meminta tolong, meminta jalan keluar, hati saya seperti mati. Saya tidak bisa menyayangi siapapun sama sekali, bahkan orang tua saya sendiri, saya tahu ilmu2 agama (cth sabar dan syukur) tapi sangat sulit sekali benar2 mengaplikasikannya,

Bagaimana agar hati saya bersih dan punya keyakinan kuat untuk beribadah dg taat bukan cuma menggugurkan kewajiban dan tekanan. Saya sangat bingung ustadz, mohon bantuannya. Terima kasih banyak, jazakumullahu khair ustadz ..

Ditanyakan oleh Santri Mahad Bimbingan Islam


Jawaban:

waalaikumsalam warahmatullah wabarokatuh

Apa yang anda alami mungkin juga dialami oleh banyak kaum muslimin, merasakan sering hampanya hati dan belum bisa merasakan manisnya amal ibadah yang dilakukan. Sebagaimana yang pernah dialami pula oleh sebagian para sahabat dengan kerasnya hati ini.

Abu Rib’iy Hanzhalah bin Ar Rabi’ Al-Usaidiy Al-Katib – salah seorang juru tulis Rasulullah shallallahu alaihi wasallam – berkata,

لَقِيَنِي أَبُو بَكْرٍ، فَقالَ: كيفَ أَنْتَ؟ يا حَنْظَلَةُ قالَ: قُلتُ: نَافَقَ حَنْظَلَةُ، قالَ: سُبْحَانَ اللهِ ما تَقُولُ؟ قالَ: قُلتُ: نَكُونُ عِنْدَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عليه وَسَلَّمَ، يُذَكِّرُنَا بالنَّارِ وَالْجَنَّةِ، حتَّى كَأنَّا رَأْيُ عَيْنٍ، فَإِذَا خَرَجْنَا مِن عِندِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عليه وَسَلَّمَ، عَافَسْنَا الأزْوَاجَ وَالأوْلَادَ وَالضَّيْعَاتِ، فَنَسِينَا كَثِيرًا، قالَ أَبُو بَكْرٍ: فَوَاللَّهِ إنَّا لَنَلْقَى مِثْلَ هذا، فَانْطَلَقْتُ أَنَا وَأَبُو بَكْرٍ، حتَّى دَخَلْنَا علَى رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عليه وَسَلَّمَ، قُلتُ: نَافَقَ حَنْظَلَةُ، يا رَسُولَ اللهِ، فَقالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عليه وَسَلَّمَ وَما ذَاكَ؟ قُلتُ: يا رَسُولَ اللهِ، نَكُونُ عِنْدَكَ، تُذَكِّرُنَا بالنَّارِ وَالْجَنَّةِ، حتَّى كَأنَّا رَأْيُ عَيْنٍ، فَإِذَا خَرَجْنَا مِن عِندِكَ، عَافَسْنَا الأزْوَاجَ وَالأوْلَادَ وَالضَّيْعَاتِ، نَسِينَا كَثِيرًا فَقالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عليه وَسَلَّمَ: وَالَّذِي نَفْسِي بيَدِهِ إنْ لو تَدُومُونَ علَى ما تَكُونُونَ عِندِي، وفي الذِّكْرِ، لَصَافَحَتْكُمُ المَلَائِكَةُ علَى فُرُشِكُمْ وفي طُرُقِكُمْ، وَلَكِنْ يا حَنْظَلَةُ سَاعَةً وَسَاعَةً ثَلَاثَ مَرَّاتٍ

“Abu Bakar radhiyallahu’anhu menjumpaiku dan berkata, ‘Bagaimana kabarmu ya Hanzhalah?‘ Aku pun menjawab, ‘Aku telah menjadi munafik.‘ Abu Bakar berkata, ‘Subhanallah, apa yang sedang kau katakan?‘ Jawabku, ‘Ketika kami berada di majelis Rasulullah shallallahu alaihi wasallam seakan-akan surga dan neraka ada di hadapan kami (ketika Rasulullah mengingatkan kami tentangnya – pent.). Namun, saat kami berada diluar majelisnya maka kami disibukkan dengan istri-istri, anak-anak dan kehidupan kami hingga kami banyak lupa (terhadap akhirat).‘ Maka berkata Abu Bakar radhiallahu’anhu, ‘Demi Allah, Aku pun merasakan hal yang sama.‘ Maka kami pun bermaksud mendatangi Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Aku pun berkata, ‘Hanzhalah telah munafik wahai Rasulullah.‘ Rasulullah bertanya, ‘Apa maksudmu?‘ Jawabku, ‘Wahai Rasulullah seakan surga dan neraka ada dihadapan kami ketika engkau mengingatkan kami tentangnya dalam majelismu. Akan tetapi, ketika kami tidak lagi berada di majelismu kamipun lalai dengan anak, istri dan kehidupan kami sehingga kami banyak melupakan (akhirat).‘ Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam pun bersabda, ‘Demi Dzat yang jiwa aku ada pada genggaman-Nya, jika kalian terus beramal sebagaimana keadaan kalian ketika berada di sisiku dan selalu mengingat akhirat, maka niscaya malaikat akan menjabat tangan kalian di tempat tidur kalian maupun di jalan-jalan. Namun Hanzhalah, manusia itu sesaat begini dan sesaat begitu.‘ Beliau mengulanginya sampai tiga kali.” (HR. Muslim no. 2750).

Baca Juga:  Adab Berdakwah : Kita Hanya Menyampaikan?

Sehingga yang perlu kita lakukan, adalah selalu tetap berada dalam ketaatan walaupun keadaan seperti apa yang dikatakan. Kemudian banyaklah berdoa kepada Allah di waktu-waktu yang terbaik dengan mengadukan segala keluh kesah yang dirasakan supaya Allah memberikan jalan keluar dan kelapangan dada dengan apa yang dirasakan.

Baca al-quran dengan perlahan dan penuh tadaburr, insyallah alquran menjadi syifa`/penawar dari rasa sakit kita, baik dalam hati dan jasmani kita. Sebagaimana disebutkan dalam satu janjiNya,”

وننزل من القرآن ما هو شفاء ورحمة للمؤمنين

“Dan Kami turunkan dari Al Qur’an suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman…” (QS. Al Isra: 82).

Mencoba untuk menggunakan shalat dan kesabaran sebagai media kita untuk terus mendekat kepadanya, sebagaimana firman Allah ta`ala,”

وَاسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلَّا عَلَى الْخَاشِعِينَ

“Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu’.” (QS. Al-Baqarah: 45)

Kemudian banyak cara yang hendaknya terus dilakukan dan diperjuangkan, antara lain dengan cara menghadiri kajian ilmu secara ofline bila memungkinkan, karena sangat berbeda keadaan dan pengaruh antara yang offline dan online.

Sembari sesekali membca tentang buku sirah nabi atau sahabat atau para ulama lainnya untuk sedikit melunakkan hati kita, menyadarkan diri kita bagaimana perjuangan mereka dalam memperoleh hidayah islam, tidaklah seberapa dengan diri kita, dimana peluang kita untuk bisa mencerna ilmu ilmu islam jauh lebih baik dan lebih banyak dibandingkan mereka.

Kemudian juga yang tiada kalah pentingnya adalah dengan terus menerus memperbanyak istighfar dan taubat kepada Allah, yang bisa jadi kesalahan kita sebelumnya menjadikan kita berada dalam kubang kegelapan. Yang berharap dengan doa dan taubat kita nantinya ALlah membukan pintu kemulian dan kebahagian kepada kita. Firman Allah ta`ala,”

وَمَنْ أَعْرَضَ عَن ذِكْرِى فَإِنَّ لَهُۥ مَعِيشَةً ضَنكًا وَنَحْشُرُهُۥ يَوْمَ ٱلْقِيَٰمَةِ أَعْمَىٰ

“Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta”. (QS: Thaha Ayat 124)

Dan firman Allah ta`ala,”

وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعاً أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“Dan bertaubatlah kalian semua wahai orang-orang yang beriman supaya kalian beruntung.” (QS. An Nuur: 31)

Maka berbaik sangkalah kepada Allah denggan tetap melakukan perbuatan yang bisa mendekatkan kepadaNya dan jalan yang di ridhoiNya. Dengan terus kita mencari jalan keluar dari rasa sesak dan perasaan negatif yang dirasa,berjalan dan tidak akan pernah berhenti untuk terus mencari hidayah Allah, maka insyaallah dengan cara ini semua Allah akan memberikan jalan hidayah kepada kita semua, sebagaimana firman Allah ta’ala,”

وَٱلَّذِينَ جَٰهَدُوا۟ فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا ۚ وَإِنَّ ٱللَّهَ لَمَعَ ٱلْمُحْسِنِينَ

“Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik. (QS: Al-‘Ankabut: 69).

Wallahu ta’ala alam.

Dijawab dengan ringkas oleh:
Ustadz Mu’tashim, Lc. MA. حفظه الله
Senin, 5 Ramadhan 1444H / 27 Maret 2023 M 


Ustadz Mu’tashim Lc., M.A.
Dewan konsultasi BimbinganIslam (BIAS), alumus Universitas Islam Madinah kuliah Syariah dan MEDIU
Untuk melihat artikel lengkap dari Ustadz Mu’tashim Lc., M.A. حفظه الله klik di

Akademi Shalihah Menjadi Sebaik-baik Perhiasan Dunia Ads

Ustadz Mu’tasim, Lc. MA.

Beliau adalah Alumni S1 Universitas Islam Madinah Syariah 2000 – 2005, S2 MEDIU Syariah 2010 – 2012 | Bidang khusus Keilmuan yang pernah diikuti beliau adalah Syu’bah Takmili (LIPIA), Syu’bah Lughoh (Universitas Islam Madinah) | Selain itu beliau juga aktif dalam Kegiatan Dakwah & Sosial Taklim di beberapa Lembaga dan Masjid

Related Articles

Back to top button