Hukum-hukum Terkait Sholat Para Lansia

Hukum-hukum Terkait Sholat Para Lansia

Hukum-hukum Terkait Sholat Para Lansia

Satu hal yang sudah dimaklumi oleh setiap muslim bahwa sholat merupakan ibadah yang paling agung dalam syariat yang suci ini, sebagai bukti nyata penghambaan diri kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Bahkan rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengabarkan bahwa sholat fardhu dalam lima waktu adalah salah satu pilar agama ini. -sholat lansia
Beliau ﷺ bersabda :

بُنِيَ الْإِسْلَامُ عَلَى خَمْسٍ شَهَادَةِ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ وَإِقَامِ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ وَالْحَجِّ وَصَوْمِ رَمَضَانَ

Islam dibangun diatas lima pilar; persaksian tidak ada ilah selain Allah dan sesungguhnya Muhammad utusan Allah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, haji dan puasa Ramadhan“.
(HR Bukhari: 7)

Bahkan para ulama islam berselisih pendapat tentang hukum orang-orang yang mengaku islam namun dengan sengaja meninggalkan sholat fardhu, apakah mereka kafir sebab hal tersebut, atau dia menjadi pelaku dosa yang sangat besar namun tidak sampai keluar dari agama ini?
yang mana hal ini menunjukkan betapa tingginya kedudukan sholat di dalam islam.

Namun terkadang timbul pertanyaan, adakah batasan umur wajibnya mengerjakan sholat?
Lalu bagaimana dengan orang tua yang sudah lanjut usia / lansia, apakah mereka tetap wajib melakukan sholat walaupun sudah pikun?
Adakah perbedaan gerekan sholat orang yang sudah tua renta / lansia dengan anak muda?

Insya Allah, pada kesempatan ini kita akan membahas beberapa hukum yang berkaitan dengan sholatnya orang yang sudah lanjut usia. Allahul muwaffiq.

1. Sholat diwajibkan kepada setiap mukallaf sampai ajal tiba

Allah mewajibkan setiap mukallaf untuk mendirikan sholat 5 waktu sehari semalam, dan yang dimaksud dengan mukallaf disini adalah orang yang telah mencapai usia baligh dan berakal.
Usia baligh berbeda tiap individu, yang ditandai dengan keluarnya mani baik dalam mimpi atau dalam keadaan bangun, tumbuhnya bulu kemaluan, atau telah genap berusia 15 tahun, dan khusus bagi wanita ada tanda tambahan yaitu keluarnya darah haidh.
(lihat syarhul mumti’ : 4/224).

Rasulullah ﷺ bersabda:

رُفِعَ الْقَلَمُ عَنْ ثَلَاثَةٍ عَنْ النَّائِمِ حَتَّى يَسْتَيْقِظَ وَعَنْ الصَّبِيِّ حَتَّى يَحْتَلِمَ وَعَنْ الْمَجْنُونِ حَتَّى يَعْقِلَ

“Pena pencatat amal dan dosa itu diangkat dari tiga golongan; orang tidur hingga ia bangun, anak kecil hingga ia bermimpi dan orang gila hingga ia berakal”.
(Abu Dawud : 3825 dan selainnya, dan dinyatakan shohih oleh syaikh albany)

Selama dia masih dalam masa taklif (baligh dan berakal), maka wajib baginya untuk melakukan sholat sampai bertemu dengan ajalnya, Allah ﷻ berfirman:

وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّىٰ يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ

Dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu yang diyakini (ajal).
(QS Al-Hijr : 99)

2. Hukum sholat bagi orang yang sudah pikun

Orang tua/lansia yang sudah pikun dalam artian tidak lagi bisa mengingat waktu sholat, tidak bisa membedakan sholat yang satu dengan sholat yang lainnya, atau mungkin ketika mengerjakan sholat dia lupa bahwasa dirinya sedang sholat sehingga malah berbicara atau mengerjakan hal lainnya, maka orang seperti ini tidak lagi diwajibkan mengerjakan sholat, karena hilangnya syarat taklif dari dirinya yaitu akal.
Tapi jika kepikunannya hilang di salah satu waktu sholat misalkan maka wajib baginya mengerjakan sholat pada waktu tersebut.

Hal ini berdasarkan  apa yang diriwayatkan abu dawud yang memiliki tambahan lafazh pada hadits “orang yang diangkat pena taklif dari dirinya” yang telah kita sebutkan diatas, yaitu disebabkan pikun (الخرف).

Berkata As-Subki:

يَقْتَضِي أَنَّهُ زَائِدٌ عَلَى الثَّلَاثَةِ وَهَذَا صَحِيحٌ وَالْمُرَادُ بِهِ الشَّيْخُ الْكَبِيرُ الَّذِي زَالَ عَقْلُهُ مِنْ كِبَرٍ فَإِنَّ الشَّيْخَ الْكَبِيرَ قَدْ يَعْرِضُ لَهُ اخْتِلَاطُ عَقْلٍ يَمْنَعُهُ مِنَ التَّمْيِيزِ وَيُخْرِجُهُ عَنْ أَهْلِيَّةِ التَّكْلِيفِ وَلَا يُسَمَّى جُنُونًا لِأَنَّ الْجُنُونَ يَعْرِضُ مِنْ أَمْرَاضٍ سَوْدَاوِيَّةٍ وَيَقْبَلُ الْعِلَاجَ وَالْخَرَفُ بِخِلَافِ ذَلِكَ وَلِهَذَا لَمْ يَقُلْ فِي الْحَدِيثِ حَتَّى يَعْقِلَ لِأَنَّ الْغَالِبَ أَنَّهُ لَا يَبْرَأُ مِنْهُ إِلَى الْمَوْتِ ولو برء فِي بَعْضِ الْأَوْقَاتِ بِرُجُوعِ عَقْلِهِ تَعَلَّقَ بِهِ التَّكْلِيفُ

“الخَرِف” merupakan tambahan dari 3 hal yang telah disebutkan, yang dimaksud dengan الخرف (pikun) adalah orang tua yang telah hilang akalnya di sebabkan usianya, karena orang yang lansia terkadang pikirannya menjadi kacau yang menghalangi dirinya dari tamyiz (membedakan kejadian-kejadian) dan mengeluarkannya dari pembebanan syariat
Dan ini bukan termasuk kegilaan, karena kegilaan biasanya disebabkan stress, dan bisa diobati, berbeda dengan kepikunan
Karena itu tidak disebutkan dalam hadits sampai dia sembuh, karena biasanya kepikunan tidak bisa disembuhkan sampai mati.
Namun kalau seandainya kepikunan itu hilang dalam sebagian waktu dengan kembalinya akalnya, maka kembali pula kewajibannya.”

(‘Aunul Ma’bud : 12/52)

Begitu pula, karena sholat membutuhkan niat, maka orang yang tidak bisa lagi menyadari niatnya, tidak berarti ibadah sholatnya, sebagaimana dahulu rasulullah ﷺ memerintahkan para orang tua agar menyuruh anak-anak mereka menegrjakan sholat ketika telah berumur 7 tahun, yang pada umumnya telah mencapai umur tamyiz sehingga dia bisa membedakan niatnya.

3. Tata cara sholat bagi lansia yang tidak bisa mengerjakan sholat dengan sempurna

Orang tua yang tidak bisa melakukan gerakan sholat dengan sempurna, seperti tidak bisa berdiri dengan sempurna, ruku’ dengan sempurna atau bahkan tidak bisa lagi berdiri, maka dia tetap berkewajiban untuk melakukan sholat sesuai dengan kemampuannya, kewajiban sholat tidak hilang darinya selama masih memiliki nafas dan akal.

Allah berfirman:

فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ

“Bertaqwalah kalian sesuai dengan kadar kemampuan kalian.”
(QS. Attaghabun: 16)

Rasulullah ﷺ bersabda:

مَا نَهَيْتُكُمْ عَنْهُ فَاجْتَنِبُوهُ وَمَا أَمَرْتُكُمْ بِهِ

“Apa yang telah aku larang  maka jauhilah. Dan apa yang kuperintahkan kepadamu, maka kerjakanlah sesuai dengan kemapuan kalian.”
(HR Muslim 4348).

Begitu pula dengan sabda rasulullah ﷺ :

صَلِّ قَائِمًا فَإِنْ لَمْ تَسْتَطِعْ فَقَاعِدًا فَإِنْ لَمْ تَسْتَطِعْ فَعَلَى جَنْبٍ

“Shalatlah dengan berdiri, jika kamu tidak sanggup lakukanlah dengan duduk dan bila tidak sanggup juga lakukanlah dengan berbaring pada salah satu sisi badan”.
(HR Bukhari : 1050)

Namun satu hal yang harus diperhatikan, para ulama telah menetapkan sebuah kaedah:

الميسور لا يسقط بالمعسور

“Perbuatan yang bisa dikerjakan tidak gugur disebabkan ada perbuatan lain yang sulit dikerjakan”

Contoh dari kaedah ini adalah, seseorang yang tidak bisa melakukan sujud namun sanggup untuk berdiri, dia tetap berkewajiban untuk sholat dalam keadaan berdiri, bukan berarti ketika dia sulit mengerjakan sujud serta merta dia boleh sholat dalam keadaan duduk, maka dalam hal ini hanya sujudnya yang dihilangkan atau dikerjakan semampunya.

4. Jika lansia tertinggal beberapa gerakan sholat ketika berjamaah

Tidak batal sholat seseorang apabila tertinggal dari gerakan imam ketika sholat berjamaah disebabkan sebuah udzur bukan karena kesengajaan, dan tidak mengapa untuk tetap megikuti imam dalam sholatnya, termasuk dalam perkara ini lambatnya gerakan seseorang karena faktor usia.

Allah ﷻ berfirman:

لأ يكلف الله نفسا إلا وسعها

“Allah tidaklah membebani seseorang melebihi dari kesanggupannya”
(QS. Al-baqarah: 286).

Syaikh Muhammad bin Sholih al-‘Utsaimin berkata:

أن يكون لعذرٍ ، فإنَّه يأتي بما تخلَّفَ به ، ويتابعُ الإمامَ ولا حَرَجَ عليه، حتى وإنْ كان رُكناً كاملاً أو رُكنين، فلو أن شخصاً سَها وغَفَلَ، أو لم يسمعْ إمامَه حتى سبقَه الإمامُ برُكنٍ أو رُكنين، فإنه يأتي بما تخلَّفَ به، ويتابعُ إمامَه،

“Apabila ketinggalan gerakan imam disebabkan udzur, maka dia kerjakan apa yang ketinggalan tersebut, dan mengikuti imamnya, ini tidak mengapa, walaupun ketinggalan satu rukun atau dua rukun.
Jikalau seseorang lalai dalam sholatnya atau tidak mendengar suara imamnya, sehingga dia ketinggalan satu atau dua rukun, maka dia kejar ketertinggalan tersebut, dan tetap mengikuti imam setelahnya.”

(Syarhul Mumti’ : 4/186).

Demikianlah beberapa hukum yang berkenaan dengan sholatnya orang yang telah lanjut usia, semoga bisa dipahami dan diamalkan.
Wallahu a’lam

 

Ditulis oleh:
👤 Ustadz Muhammad Ihsan حفظه الله
(Kontributor bimbinganislam.com)



Ustadz Muhammad Ihsan حفظه الله تعالى
Beliau adalah Alumni STDI Imam Syafi’i Jember (ilmu hadits), Dewan konsultasi Bimbingan Islam
Untuk melihat artikel lengkap dari Ustadz Muhammad Ihsan حفظه الله تعالى 
klik disini

CATEGORIES
Share This

COMMENTS