Doa Selalu Dikabulkan Indikasi Istidroj ?

Doa Selalu Dikabulkan Indikasi Istidroj ?

DOA SELALU DIKABULKAN = INDIKASI ISTIDROJ?

Pertanyaan

بسم الله الرحمن الرحيم
السلا م عليكم ور حمة الله وبركاته

Ustadz, apabila ada seseorang yang selalu berdoa dan bergantung pada Allah dan doa-doanya dikabulkan. Setiap doa-doanya yang terkabul membuat dia kemudian terus meminta pada Allah, dan dikabulkan.

Apakah ini istidraj, karena dia merasa bermaksiat (sombong karena terlalu yakin doanya pasti dikabulkan oleh Allah), ataukah perasaan itu tipu daya syaitan saja?

جزاكم اللّٰه خيرا

(Dari Sahabat BiAS T06 -G19)

Jawaban

وَعَلَيْكُمُ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ
بِسْـمِ اللّهِ

Alhamdulillāh
Washshalātu wassalāmu ‘alā rasūlillāh, wa ‘alā ālihi wa ash hābihi ajma’in.

Indikasi sebuah kemudahan, kenikmatan berupa apapun itu dikatakan sebagai istidraj adalah ketika orang yang menerimanya senantiasa bermaksiat. Namun jika ia tidak bermaksiat maka kenikmatan yang didapat tidak dinamakan sebagai istidraj.

Dan merasa yakin dengan doa kita bahwa Allah akan mengabulkannya adalah sesuatu yang baik dan tidak termasuk kemaksiatan.

» Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

ادْعُوا اللَّهَ وَأَنْتُمْ مُوقِنُونَ بِالْإِجَابَةِ ، وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ لَا يَسْتَجِيبُ دُعَاءً مِنْ قَلْبٍ غَافِلٍ لَاهٍ

“Berdoalah kepada Allah dalam keadaan kalian yakin bahwa Allah akan mengabulkan, dan ketahuilah bahwa Allah tidak mengabulkan do’a dari orang yang lalai lagi terlena.”  (HR Tirmidzi : 3479 dihasankan oleh Imam Al-Albani dalam Silsilah Ahadits Ash-Shahihah : 596).

» Imam Al-Mubarakfuri menyatakan :

وأنتم معتقدون أن الله لا يُخَيِّبكم؛ لسعة كرمه وكمال قدرته وإحاطة علمه، لتحقق صدق الرجاء ، وخلوص الدعاء؛ لأن الداعي ما لم يكن رجاؤه واثقا لم يكن دعاؤه صادقا

“Dalam keadaan kalian yakin bahwa Allah tidak akan menyia-nyiakan kalian dikarenakan luasnya kedermawanan Allah dan kesempurnaan kekuasaan-Nya, keluasan ilmu-Nya di dalam mengabulkan harapan yang jujur, serta doa yang tulus. Karena seorang hamba jika tidak memiliki harapan yang kuat maka ia tidak melakukan doa dengan jujur.” (Tuhfatul Ahwadzi : 9/316).

» Allah Ta’ala berfirman ketika menjelaskan indikasi istidraj :

وَالَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا سَنَسْتَدْرِجُهُمْ مِنْ حَيْثُ لَا يَعْلَمُونَ

“Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami, nanti Kami akan menarik mereka dengan berangsur-angsur (ke arah kebinasaan), dengan cara yang tidak mereka ketahui.”  (QS Al-A’raf : 182).

Imam Al-Qurtubi menafsirkan ayat ini dengan menyatakan :

قَالَ الضَّحَّاكُ: كُلَّمَا جَدَّدُوا لَنَا مَعْصِيَةً جَدَّدْنَا لَهُمْ نِعْمَةً

“Adh-Dhahak berkata ; Setiap kali mereka melakukan kemaksiatan yang baru seketika itu pula kami menambahkan kepada mereka nikmat.”  (Tafsir Al-Qurtubi : 7/329).

» Imam Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz juga menyatakan :

قد يبتلى الإنسان بالسراء كالمال العظيم والنساء والأولاد وغير ذلك فلا ينبغي أن يظن أنه بذلك يكون محبوبا عند الله إذا لم يكن مستقيما على طاعته ، فقد يكون من حصل له ذلك محبوبا ، وقد يكون مبغوضا ، والأحوال تختلف ، والمحبة عند الله ليست بالجاه والأولاد والمال والمناصب ، وإنما تكون المحبة عند الله بالعمل الصالح ، والتقوى لله والإنابة إليه ، والقيام بحقه ، وكل من كان أكمل تقوى ، كان أحب إلى الله .

“Terkadang manusia diuji dengan kesenangan seperti harta yang banyak, wanita dan anak-anak dll, tidak sepantasnya ia menyangka bahwa ia dicintai oleh Allah jika ia tidak beristiqamah melakukan ketaatan. Bisa jadi orang yang diberi kenikmatan itu orang yang dicintai, bisa jadi pula ia dibenci, kondisinya bisa berbeda.
Kecintaan di sisi Allah itu tidak diukur dengan pangkat, anak-anak, harta dan jabatan. Akan tetapi kecintaan di sisi Allah itu diukur dengan amal shalih, ketaqwaan, kembali kepada Allah, menunaikan hak-hak Allah, semakin sempurna ketaqwaan seseorang maka akan semakin ia dicintai oleh Allah Ta’ala.” (Majmu’ Fatawa Syaikh Bin Baz : 7/147).

» Kesimpulannya :

-Merasa yakin bahwa Allah akan mengabulkan doa kita adalah bukan sebuah kesombongan atau kemaksiatan namun ia menjadi salah satu faktor dikabulkannya do’a , dan tidak menjadi ukuran seseorang dikenai istidraj.

-Adapun perasaan kesombongan secara umum, maka ia sesuatu yang tercela.
Makna kesombongan sebagaimana dijelaskan oleh Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits sebagai berikut :

الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ

“Kesombongan adalah menolak kebenaran dan merendahkan manusia”.  (HR. Muslim : 2749).

Wallohu A’lam
Wabillahittaufiq.

Dijawab dengan ringkas oleh:
Ustadz Abul Aswad al Bayati حفظه الله

Tanya Jawab
Grup WA Bimbingan Islam T06
Selasa, 17 Robiul Awwal 1439H / 5 Desember 2017M

CATEGORIES
Share This

COMMENTS