Fiqih

Bolehkah Perempuan Mendaki Gunung?

Bolehkah Perempuan Mendaki Gunung?

Para pembaca Bimbinganislam.com yang memiliki akhlaq mulia berikut kami sajikan: Bolehkah Perempuan Mendaki Gunung? Selamat membaca.


Pertanyaan:

Assalamualaikum , izin bertanya apakah boleh seorang wanita muslimah bepergian seperti mendaki gunung?

(Ditanyakan oleh Sahabat BiAS via Sosmed)


Jawaban:

Syaikh Sholeh Al Fauzan telah ditanya tentang wanita yang bepergian tanpa ditemani mahromnya. Beliau menjawab : “Wanita dilarang bepergian kecuali apabila ditemani oleh mahramnya yang menjaganya dari gangguan orang-orang jahat dan orang-orang fasik. Telah diriwayatkan hadits-hadits shohih yang melarang wanita bepergian tanpa mahrom, di antaranya yang diriwayatkan oleh Ibnu Umar rodhiyallahu `anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya,’Tidak diperbolehkan bagi wanita untuk bepergian selama tiga hari kecuali bersama mahromnya.’.”

Baca Juga :  Apakah Harus Pakai Jubah, Bukan Pakai Batik? Apakah Harus Pakai Surban, Bukan Songkok Nasional?

Diriwayatkan dari Abu Sa’id rodiyallahu ‘anhu bahwa Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam melarang wanita untuk bepergian sejauh perjalanan dua hari atau dua malam kecuali bersama suami atau mahromnya.

Diriwayatkan pula dari Abu Huroiroh rodhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya,

“Tidak halal bagi wanita untuk bepergian sejauh perjalanan sehari semalam kecuali bersama mahromnya.” (Muttafaqun ‘alaihi)

[Silahkan lihat Fatwa-fatwa tentang wanita, jilid ke-3]

Jadi, selagi naik gunung tersebut berada pada tempat yang dibutuhkan safar untuk menuju ke sana, tidak diperbolehkan bagi wanita untuk menempuhnya tanpa disertai mahram, jika ia lakukan maka ia telah berbuat maksiat dan menyelisihi aturan syariat. Taruhlah semisal tempat naik gunung juga berada di tempat yang tidak jauh, tidak butuh safar, namun umumnya gunung adalah tempat di mana ada banyak kemungkinan bahaya bisa didapati, entah adanya binatang buas yang mungkin muncul, atau keberadaan orang fasik yang ingin mencelakai wanita, atau bahaya lain, dengan demikian mahram tetap dibutuhkan. Wallahu a’lam.

Baca Juga :  Bagaimana Aturan Puasa Saat Sakit Dalam Islam?

Dijawab dengan ringkas oleh:
Ustadz Setiawan Tugiyono, M.H.I حفظه الله

Kamis, 29 Shafar 1443 H/ 7 Oktober 2021 M



Ustadz Setiawan Tugiyono, M.H.I حفظه الله
Beliau adalah Alumnus S1 Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan Arab (LIPIA) Jakarta dan S2 Hukum Islam di Universitas Muhammadiyah Surakarta
Untuk melihat artikel lengkap dari Ustadz Setiawan Tugiyono, M.H.I حفظه الله  
klik disini

Ustadz Setiawan Tugiyono, B.A., M.HI

Beliau adalah Alumni D2 Mahad Aly bin Abi Thalib Universitas Muhammadiyah Yogyakarta Bahasa Arab 2010 - 2012 , S1 LIPIA Jakarta Syariah 2012 - 2017, S2 Universitas Muhammadiyah Surakarta Hukum Islam 2018 - 2020 | Bidang khusus Keilmuan yang pernah diikuti beliau adalah, Dauroh Masyayikh Ummul Quro Mekkah di PP Riyadush-shalihin Banten, Daurah Syaikh Ali Hasan Al-Halaby, Syaikh Musa Alu Nasr, Syaikh Ziyad, Dauroh-dauroh lain dengan beberapa masyayikh yaman dll | Selain itu beliau juga aktif dalam Kegiatan Dakwah & Sosial Belajar bersama dengan kawan-kawan di kampuz jalanan Bantul

Related Articles

Back to top button