Muamalah

Hukum Trading Forex Menurut Islam

Hukum Trading Forex menurut Islam

Para pembaca Bimbinganislam.com yang memiliki akhlaq mulia berikut kami sajikan: Hukum Trading Forex Menurut Islam. Selamat membaca.


Pertanyaan:

Izin tanya mengenai hukum trading di dalam islam itu bagaimana?

(Ditanyakan oleh Sahabat BiAS via Sosmed)


Jawaban:

Bismillahirrahmanirrahim. Secara umum trading bisa dimaknai sebagai jual beli, tapi untuk istilah trading baru-baru ini lebih diidentikkan sebagai jual beli forex (foreign exchange/mata uang asing).

Hukumnya boleh saja jika memenuhi syarat dan ketentuan syariat, yakni dalam jual beli mata uang asing untuk bisa diperbolehkan adalah cara transaksinya harus yadan biyadin, alias serah terima fisik langsung (kontan), tidak boleh tunda penyerahan.

Ini seperti halnya jual emas dengan perak, keduanya adalah barang tansaksi yang memiliki illat yang sama, jumlah nominal dalam pertukaran emas dan perak boleh berbeda, misal 5 gram perak ditukar/dijual dengan 1 gram emas, boleh saja asal serah terimanya langsung tanpa tunda.

Argumennya berdasarkan hadist:

الذهب بالذهب والفضة بالفضة والبر بالبر والشعير بالشعير والتمر بالتمر والملح بالملح مثلا بمثل، سواء بسواء، يدا بيد، فمن زاد أو استزاد فقد أربى. رواه مسلم

Emas dijual dengan emas, perak dijual dengan perak, gandum dijual dengan gandum, sya’ir (salah satu jenis gandum) dijual dengan sya’ir, korma dijual dengan korma, dan garam dijual dengan garam, (takaran/timbangannya) sama dengan sama dan (dibayar dengan) kontan. Barang siapa yang menambah atau meminta tambahan maka ia telah berbuat riba.” (HR. Muslim)

Point-nya pada lafadz “dibayar dengan kontan”.

Kalau sampai diakhirkan penyerahan maka terhitung sebagai riba jenis nasiah/riba pengakhiran.

Untuk jual beli mata uang, jika anda lakukan secara langsung di tempat money changer, Anda serahkan 1,4 juta misalnya, kemudian anda terima 100 dollar, kontan, saling serah fisik dan terima fisik uang langsung, yang demikian ini boleh.

Namun jika trading forex yang dimaksudkan adalah melalui platform tertentu secara online, kita beli mata uang asing secara digital, kemudian ditunggu beberapa waktu sampai mata uang yang kita beli menguat, kemudian setelah menguat kita jual lagi ke rupiah untuk mendapatkan selisih keuntungan, yang demikian, pendapat Ustadz kami Dr. Erwandi Tarmizi mengatakan tidak boleh, alasannya karena ketika kita jual beli mata uang tersebut kita tidak melakukannya serah terima fisik langsung, alias sejatinya tidak secara tunai dan kontan sebagaimana kalau kita lakukan di money changer. Jika demikian maka konsekuensinya adalah bahwa pelaku transaksi itu tercebur dalam riba nasiah. Demikian, wallahu a’lam.

Dijawab dengan ringkas oleh:
Ustadz Setiawan Tugiyono, M.H.I حفظه الله

Kamis, 29 Shafar 1443 H/ 7 Oktober 2021 M



Ustadz Setiawan Tugiyono, M.H.I حفظه الله
Beliau adalah Alumnus S1 Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan Arab (LIPIA) Jakarta dan S2 Hukum Islam di Universitas Muhammadiyah Surakarta
Untuk melihat artikel lengkap dari Ustadz Setiawan Tugiyono, M.H.I حفظه الله  
klik disini

Baca Juga :  Hukum Memperjual Belikan Kaligrafi

USTADZ SETIAWAN TUGIYONO, Lc., M.HI

Beliau adalah Alumni D2 Mahad Aly bin Abi Thalib Universitas Muhammadiyah Yogyakarta Bahasa Arab 2010 - 2012 , S1 LIPIA Jakarta Syariah 2012 - 2017, S2 Universitas Muhammadiyah Surakarta Hukum Islam 2018 - 2020 | Bidang khusus Keilmuan yang pernah diikuti beliau adalah, Dauroh Masyayikh Ummul Quro Mekkah di PP Riyadush-shalihin Banten, Daurah Syaikh Ali Hasan Al-Halaby, Syaikh Musa Alu Nasr, Syaikh Ziyad, Dauroh-dauroh lain dengan beberapa masyayikh yaman dll | Selain itu beliau juga aktif dalam Kegiatan Dakwah & Sosial Belajar bersama dengan kawan-kawan di kampuz jalanan Bantul

Related Articles

Back to top button