Suami Pergi Kerja Lebih Dari Tiga Bulan

Suami Pergi Kerja Lebih Dari Tiga Bulan

Pertanyaan:
Assalamualaikum…
Apa hukumnya bila Suami meninggalkan istri lebih dari tiga bulan untuk bekerja?

Dari Sugiman di Saudi Arabia Anggota Grup WA Bimbingan Islam N04-74

Jawaban:
Wa’alaikumussalaam warahmatullah wabarakaatuh…

Sang suami wajib bertakwa kepada Allah dalam hal ini, dan wajib menjamin keselamatan istrinya dan memilih antara membawa istrinya bersamanya atau mempercepat kepulangannya, atau menempatkannya di tempat yang aman bersama mahramnya yg bisa dipercaya. Dan itu semua demi menghindarkan atau memperkecil bahaya dan menjamin keselamatan.

Berikut ini kami sadurkan sebuah pertanyaan yang dilontarkan kepada Syaikh Abdul Aziz bin Baz beserta jawaban beliau:

Pertanyaan:
Apa hukum Islam terkait seorang suami yang meninggalkan istrinya dengan alasan safar untuk bekerja, dengan kemungkinan bahwa ia akan tetap jauh dari istrinya selama setahun atau dua tahun. Bahkan ada pula yg meninggalkannya sampai 3 tahun, sedangkan istrinya tidak dapat mencegah suaminya untuk safar, karena ini merupakan aib di mata tradisi/adat. Lantas apa hukum dari hak istri yang hilang tanpa kerelaan dirinya. Mengingat bahwa kebiasaan ini menyebabkan merebaknya perselingkuhan dan perbuatan keji di masyarakat, dengan dibiarkannya si wanita seorang diri tanpa ada yg mengawasi? Berapa lamakah seorang wanita harus bersabar ditinggal pergi oleh suaminya?

JAWABAN SYAIKH BIN BAZ RAHIMAHULLAH:

Dalam hal ini tidak ada batasan tertentu, namun sang suami wajib bertakwa kepada Allah dalam menunaikan hak istrinya. Ia tidak boleh pergi meninggalkan istrinya terlalu lama sehingga membahayakan kehormatan istrinya atau menyebabkannya terjerumus dalam perbuatan keji. Ia harus memerhatikan istrinya, dan bila memungkinkan baginya untuk bekerja di kota tempat tinggalnya sehingga bermalam bersama istrinya, maka ia harus melakukan hal tersebut karena itulah yg paling baik. Namun jika tidak dapat seperti itu, maka ia harus sering memerhatikan dan mengunjungi istrinya dari waktu ke waktu yg berdekatan, dan jangan sampai terjadi hal-hal yg tidak baik akibatnya.

Ada sebuah riwayat dari Amirul Mukminin Umar bin Khatthab bahwa beliau membatasi masa tugas pasukan Islam selama 6 bulan, dan ini adalah ijtihad beliau radhiyallaahu ‘anhu. Para ulama sendiri menjelaskan bahwa batas waktu ini tidak bisa dipukul rata. Bagi sebagian orang mungkin 6 bulan adalah tempo yg sesuai, namun adakalanya kurang dari itu sudah dianggap berbahaya bagi istrinya. Jadi, suami tetap harus memerhatikan istrinya dan keadaan di kampung halamannya beserta warga sekitarnya ia harus memantau keselamatan dan keamanan istrinya. Jika 6 bulan dianggap terlalu lama dan khawatir menyebabkan istrinya berselingkuh, maka tidak boleh sampai selama itu ia harus berhubungan dengannya dalam waktu dekat, seperti sebulan atau dua bulan sekali, atau bahkan kurang dari itu. Sebisa mungkin usahakan agar tidak jauh dari istrinya, sebab itulah yang wajib ia lakukan, apalagi di zaman yang bahaya mengintai di mana-mana seperti saat ini. Banyak sekali merebak kejahatan seksual dan rendahnya tingkat keamanan di berbagai daerah serta perzinaan terjadi dimana-mana, terlebih bagi wanita yg ditinggal suaminya seorang diri; jelas lebih mengkhawatirkan lagi. Namun bila si istri ditinggalkan di tengah-tengah keluarganya yang bisa diamanati untuk menjaganya; maka kekhawatiran tersebut berkurang dan keselamatannya lebih terjaga.

Jadi, sang suami harus memerhatikan hal-hal tersebut dan bertakwa kepada Allah. Jika ia memang harus safar, maka tinggalkanlah istrinya di tempat yang aman bersama keluarganya. Hendaknya si istri ditemani mahramnya (ayah, kakak/adik, atau pamannya); atau ditemani wanita lain yang bisa dipercaya sehingga keselamatannya lebih terjaga.

Adapun batasan tertentu maka tidak ditemukan dalam syariat, selain yang diriwayatkan dari Umar tadi, yaitu 6 bulan. 6 bulan itupun sifatnya relatif. Mungkin sang suami mampu mengunjungi istrinya dan mungkin juga tidak. Mungkin suaminya perlu untuk sekolah, atau bekerja di luar negeri karena di negerinya tidak ada lapangan kerja yg sesuai. Sehingga dengan begitu, 6 bulan kadang belum cukup untuk mencari penghasilan, dan perlu waktu lebih lama lagi sehingga terpaksa tinggal lebih lama. Sehingga dalam kondisi seperti ini, mestinya ia membawa istrinya ikut bersamanya selagi memungkinkan, atau menempatkannya di tempat yang aman.

Reff : http://www.binbaz.org.sa/mat/12479

Konsultasi Bimbingan Islam
Dijawab & Disadur oleh Ustadz Dr. Sufyan Baswedan Lc MA

CATEGORIES
Share This

COMMENTS