Bolehkah Membaca Buku Umum yang Ditulis Oleh Orang Kafir bimbingan islam
Bolehkah Membaca Buku Umum yang Ditulis Oleh Orang Kafir bimbingan islam

Bolehkah Membaca Buku Umum yang Ditulis Oleh Orang Kafir

Para pembaca Bimbinganislam.com yang memiliki akhlaq mulia berikut kami sajikan tanya jawab, serta pembahasan tentang bolehkah membaca buku umum yang ditulis oleh orang kafir?
selamat membaca.


Pertanyaan :

بِسْـمِ اللّهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْم

اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ

Semoga Allah ‘Azza wa Jalla selalu menjaga ustadz dan keluarga.

Ustadz, bagaimana hukumnya membeli dan membaca buku sejarah dalam bahasa Indonesia yang penulisnya orang kafir, atau buku-buku umum lainnya seperti fotografi, videografi, dan semisalnya, dengan maksud menambah pengetahuan?
Terutama di zaman Pandemi seperti ini, untuk menghabiskan waktu dirumah selain membaca buku-buku agama.

(Disampaikan oleh Sahabat Bimbingan Islam)


Jawaban :

وَعَلَيْكُمُ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ

بِسْـمِ اللّهِ

Alhamdulillah, wa laa haula wa laa quwwata illaa billaah, wash shalaatu was salaamu ‘alaa rasulillaah, Amma ba’du.

Dalam kehidupan sosial bermasyarakat, seorang muslim pasti tidak hanya berinteraksi dengan kaum muslimin saja, ada orang-orang non muslim yang mungkin menjadi tetangga kita, penyedia hajat duniawi kita, atau bahkan pelanggan bisnis kita. Maka beruntunglah kita yang diberi hidayah Islam, karena sebagai agama yang syaamil mutakaamil -lengkap dan menyeluruh- Islam telah mengatur dengan sempurna tentang segala aspek kehidupan kita semua.

Secara interaksi kita akan bersinggungan dengan non muslim pada 3 perkara; Ritual Ibadah, Adat Kebiasaan, dan Muamalah atau Hajat Dunia.

Dalam hal ritual ibadah landasannya jelas dan tegas, tidak ada toleransi sama sekali. Mereka tidak boleh mencampuri kita, dan kita pun pantang untuk mengikuti mereka.

لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِيَ دِينِ

“Untukmu agamamu dan untukku agamaku”
(QS Al-Kafirun 6)

Dalam hal adat kebiasaan yang menjadi kekhususan serta syiar agama mereka juga pantang bagi kita untuk mengikutinya, Nabi sholallohu ‘alaihi wa sallam telah bersabda,

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

“Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka”
[HR Abu Daud 3512]

Sementara dalam hal muamalah atau hajat dunia, termasuk pemanfaatan teknologi dan produk non muslim maka tak ada larangan dalam hal ini, kaidah fiqhiyyah mengatakan

الأصل في المعاملات الإباحة

“Hukum asal muamalah adalah mubah”

Jadi tidak masalah bagi kita untuk mempelajari teknologi mereka, melakukan jual beli dengan mereka, juga mengambil pengalaman atau ilmu dunia dari mereka, bahkan jika kita melakukannya dengan tujuan yang benar dapat bermanfaat untuk kemashlahatan umat islam sendiri.

Nabi kita yang mulia Muhammad sholallohu ‘alaihi wasallam pun tercatat dalam sejarah banyak berinteraksi dengan mereka, diceritakan oleh Abdurrohman bin Abi Bakar rodhiallohu ‘anhu bahwa Nabi pernah membeli kambing dari mereka

كُنَّا مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، ثُمَّ جَاءَ رَجُلٌ مُشْرِكٌ مُشْعَانٌّ طَوِيلٌ بِغَنَمٍ يَسُوقُهَا، فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ” بَيْعًا أَمْ عَطِيَّةً؟ – أَوْ قَالَ: – أَمْ هِبَةً “، قَالَ: لاَ، بَلْ بَيْعٌ، فَاشْتَرَى مِنْهُ شَاةً

“Tatkala kami bersama Nabi sholallohu ‘alaihi wasallam kemudian datanglah seorang musyrik berambut panjang sekali (atau berambut acak-acakan) membawa kambing yang digiringnya.
Lalu Nabi sholallohu ‘alaihi wasallam bersabda: ‘Silahkan dijual atau diberikan?’ Atau berkata: ‘atau dihadiahkan’.
Maka ia menjawab: ‘Tidak, tapi dijual’.
Maka beliau sholallohu ‘alaihi wasallam membeli darinya seekor kambing”

[HR Bukhori 2064].

Nabi sholallohu ‘alaihi wasallam juga menggunakan jasa kafir Quraisy ketika hijrah ke Madinah, Imam Bukhori dalam Shohihnya menukil hadits dari Aisyah rodhiallohu ’anha,

واستأجَرَ رسولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم وأبو بكر رجلًا مِن بني الدِّيلِ ، هاديًا خِرِّيتًا ، وهو على دينِ كفارِ قريشٍ ، فدفعا إليه راحلتيهما ، وواعداه غارَ ثورٍ بعدَ ثلاثَ ليالٍ ، فأتاهما براحلتَيْهما صبحَ ثلاثٍ

“Rosululloh dan Abu Bakar menyewa seorang dari Bani Ad-Dail dari Bani Adi bin Adi sebagai penunjuk jalan, padahal ia ketika itu masih kafir Quraisy. Lalu Nabi dan Abu Bakar menyerahkan unta tunggangannya kepada orang tersebut dan berjanji untuk bertemu di gua Tsaur setelah tiga hari. Lalu orang tersebut pun datang membawa kedua unta tadi pada hari ke tiga pagi-pagi”
[HR Bukhori 2104]

Ibnul Qoyyim rohimahulloh tatkala menjelaskan hadits tersebut mengatakan,

عبدَ الله بن أُرَيْقِط الدِّيلي هاديًا في وقت الهجرة ، وهو كافر، دليل على جواز الرجوع إلى الكافر في الطِّبِّ والكُحْل والأدوية والكتابة والحساب والعيوب ونحوها، ما لم يكنْ ولايةً تتضمَّنُ عدالةً، ولا يلزمُ من مجرَّد كونِه كافرًا أن لا يوثَقَ به في شيء أصلاً، فإنه لا شيءَ أخطرُ من الدلالة في الطريق ، ولاسِيَّما في مثل طريق الهجرة

“Petunjuk jalan ketika hijrah (dari Makkah ke Madinah) bernama Abdulloh bin Uroiqith Ad-Diali, saat itu ia masih seorang kafir. Ini menjadi dalil bolehnya bersandar kepada orang kafir dalam masalah kedokteran, obat-obatan, pencatatan, hisab, penyakit-penyakit dan lain sebagainya, selama tidak menyerahkan kepemimpinan (atas kaum Muslimin) kepada mereka, (karena pemimpin) harus memiliki sifat ‘adalah (Al-‘Adl maksudnya Muslim) dan bukan berarti orang yang kafir itu tidak bisa dipercaya sama sekali. Sebab tidak ada sesuatu yang lebih berbahaya daripada penunjuk jalan, apalagi jalan menuju hijrah (karena besarnya resiko jika salah petunjuk)”
(Badai’u Al-Fawaid 3/1169-1170)

Kesimpulannya, membeli buku sejarah yang penulisnya kafir Insya Alloh tidak mengapa selama tujuannya adalah pengetahuan umum atau tsaqofah bukan dalam rangka memperdalam ilmu agama.
Sebab jika untuk memperdalam ilmu agama kita harus lebih berhati-hati dan tidak boleh sembarangan, Muhammad ibn Sirin rohimahulloh salah seorang ‘Ulama dari kalangan Tabi’in mengingatkan telah kita semua,

إن هذا العلم دين ، فانظروا عمن تأخذون دينكم

“Ilmu adalah bagian dari agama, karena itu perhatikan, dari mana kalian mengambil agama kalian”
(Siyar A’lam An-Nubala’ 4/606)

Semoga Alloh istiqomahkan kita untuk terus belajar dan memiliki kontribusi untuk kemashlahatan Umat.

Wallohu A’lam.

Dijawab dengan ringkas oleh:
Ustadz Rosyid Abu Rosyidah حفظه الله
Kamis, 01 Muharram 1442 H/ 20 Agustus 2020 M



Ustadz Rosyid Abu Rosyidah حفظه الله
Beliau adalah Alumni STDI IMAM SYAFI’I Kulliyyatul Hadits, dan Dewan konsultasi Bimbingan Islam,
Untuk melihat artikel lengkap dari Ustadz Rosyid Abu Rosyidah حفظه الله  
klik disini