Bersabar Ketika Dikritik Oleh Saudara Seiman bimbingan islam
Bersabar Ketika Dikritik Oleh Saudara Seiman bimbingan islam

Bersabar Ketika Dikritik Oleh Saudara Seiman

Para pembaca Bimbinganislam.com yang mencintai Allah ta’ala berikut kami sajikan tanya jawab, serta pembahasan tentang bersabar ketika dikritik oleh saudara seiman.
selamat membaca.

Pertanyaan :

بسم اللّه الرحمن الر حيم

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Semoga ustadz dan admin serta kita semua dijaga Allah.

Ustadz, jika kita dikritik terlalu keras atau seseorang itu merasa benar sendiri ketika menshare sesuatu, bagaimana menghadapinya?

(Disampaikan oleh Fulan, Sahabat BiAS)


Jawaban :

وَعَلَيْكُمُ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ

بِسْـمِ اللّهِ

Alhamdulillah, wa laa haula wa laa quwwata illaa billaah, wash shalaatu was salaamu ‘alaa rasulillaah, Amma ba’du

Kami mengajak diri kami sendiri dan juga penannya agar senantiasa berdoa kepada Allah diberikan kesabaran di dalam semua kondisi dan suasana. Terlebih lagi saat berinteraksi di media sosial, karena komunikasi di media sosial seringkali menimbulkan salah faham, salah mengerti.
Tidak seperti komunikasi yang dilakukan langsung berhadapan di dunia maya.

Biasanya komunikasi yang dilakukan langsung akan lebih berkualitas, lebih santun, lebih jelas, karena seseorang melihat langsung lawan bicaranya dan ada sikap segan, berbeda jika komunikasi dilakukan di media sosial.

Maka sangat diperlukan kesabaran dan ketaqwaan ekstra saat berkomunikasi di media sosial. Meski saran ini mungkin terasa berat tapi yakinlah ia akan membawa kebaikan insyaAllah, balaslah perilaku tersebut dengan kebaikan.

Ucapkan terima kasih kepada orang yang mengkritik keras atas saran dan masukannya. Kemudian japrilah dengan santun sembari memberikan masukan agar memperlunak cara mengkritiknya.
Setelah itu doakanlah ia dengan kebaikan, Allah ta’ala berfirman :

وَلَا تَسْتَوِي الْحَسَنَةُ وَلَا السَّيِّئَةُ ۚ ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ فَإِذَا الَّذِي بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ عَدَاوَةٌ كَأَنَّهُ وَلِيٌّ حَمِيمٌ

“Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia.”
(QS Fushilat : 34).

Al-Imam Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di tatkala menafsirkan ayat ini beliau berkata :

فإذا أساء إليك مسيء من الخلق، خصوصًا من له حق كبير عليك، كالأقارب، والأصحاب، ونحوهم، إساءة بالقول أو بالفعل، فقابله بالإحسان إليه، فإن قطعك فَصلْهُ، وإن ظلمك، فاعف عنه، وإن تكلم فيك، غائبًا أو حاضرًا، فلا تقابله، بل اعف عنه، وعامله بالقول اللين. وإن هجرك، وترك خطابك، فَطيِّبْ له الكلام، وابذل له السلام، فإذا قابلت الإساءة بالإحسان، حصل فائدة عظيمة
{فَإِذَا الَّذِي بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ عَدَاوَةٌ كَأَنَّهُ وَلِيٌّ حَمِيمٌ} أي: كأنه قريب شفيق

“Jika ada seseorang berbuat buruk kepada engkau, terlebih orang yang memiliki hak atas engkau dari kalangan karib kerabat, atau sahabat atau yang lainnya. Baik ia melakukan keburukan dengan lisan ataupun perbuatan maka balaslah ia dengan berbuat baik kepadanya.

Jika ia memutus silaturrahim maka sambunglah, jika ia menzalimi engkau maka maafkanlah, jika ia berbicara buruk kepadamu baik saat engkau ada atau tidak jangan dibalas akan tetapi maafkanlah ia. Pergaulilah ia dengan tutur kata yang lemah lembut.

Jika ia meng-embargo-mu, dan tidak mau berbicara denganmu maka ajak bicara ia dengan ucapan yang baik. Ucapkanlah salam kepadanya. Apabila engkau membalas keburukan dengan kebaikan maka akan didapatkan manfaat yang sangat besar. Tiba-tiba saja orang yang awalnya ada permusuhan antara engkau dengannya, ia akan berubah menjadi waliyyun hamim maknanya sahabat dekat yang sangat pengasih.”
(Tafsir As-Sa’di : 749).

Dan yang tidak kalah penting adalah berusaha untuk mencari udzur untuk saudara kita, barangkali ia bersikap demikian karena ada hal lain yang mendorongnya untuk berbuat seperti itu. Mungkin sedang ada masalah di keluarganya atau sedang menghadapi kesulitan ekonomi atau masalah lain yang sering kali kita tidak mengetahuinya.
Salah seorang salaf bernama Hamdun Al-Qashar menyatakan :

إذا زل أخ من إخوانكم فاطلبوا له سبعين عذرا فإن لم يقبله قلوبكم فاعلموا أن المعيب أنفسكم

“Apabila saudaramu melakukan kesalahan/ ketergelinciran maka carilah udzur untuknya hingga 70 udzur. Jika udzur tersebut tidak bisa diterima oleh hati kalian maka sesungguhnya yang tercela adalah jiwa kalian.”
(Al-Jami’ Li Syu’abil Iman : 13/ 504 n0. 10684).

Syaikh Abu Muhammad Al-Qasim bin Ali Al-Basri menyatakan tatkala memberikan nasehat bagi kita ketika kita melihat saudara kita melakukan kesalahan :

فانظر إليها نَظَر المستحسنِ وأَحسن الظنَّ بها وحَسِّنِ وإنْ تجَِدْ عيباً فسُدَّ الخَلَلا فَجَلَّ من لا فيهِ عيبٌ وعلا

“Lihatlah saudaramu dengan pandangan sayang, Berbaik sangkalah kepadanya dan kasihilah ia. Jika kau dapati celah maka tutuplah aib, Maha Mulia Dzat yang tiada memiliki aib lagi Maha Tinggi.”
(Syarah Mulhatil I’rab : 142).

Semoga bermanfaat,
wallahu ta’ala a’lam.

Dijawab dengan ringkas oleh :
Ustadz Abul Aswad Al Bayati حفظه الله
Rabu, 23 Rajab 1441 H/ 18 Maret 2020 M



Ustadz Abul Aswad Al-Bayati, BA.
Dewan konsultasi Bimbingan Islam (BIAS), alumni MEDIU, dai asal klaten
Untuk melihat artikel lengkap dari Ustadz Abul Aswad Al-Bayati حفظه الله  
klik disini