Mengikuti Skincare Korea, Apa Termasuk Tasyabbuh bimbingan islam
Mengikuti Skincare Korea, Apa Termasuk Tasyabbuh bimbingan islam

Mengikuti Skincare Korea, Apa Termasuk Tasyabbuh?

Para pembaca Bimbinganislam.com yang memiliki akhlaq mulia berikut kami sajikan tanya jawab, serta pembahasan tentang mengikuti skincare korea, apa termasuk tasyabbuh?
selamat membaca.

Pertanyaan :

بِسْـمِ اللّهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْم

اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ

Semoga Ustadz dan keluarga selalu dalam kebaikan dan lindungan Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Ustadz, bagaimana hukumnya mengikuti metode skincare orang Korea, seperti 10 step skincare. Apakah termasuk tasyabbuh yang terlarang?

Jazakallah khairan.

(Disampaikan oleh Fulanah, penanya dari media sosial bimbingan islam)


Jawaban :

وَعَلَيْكُمُ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ

بِسْـمِ اللّهِ

Alhamdulillāh
Alhamdulillah, wa laa haula wa laa quwwata illaa billaah, wash shalaatu was salaamu ‘alaa rasulillaah, Amma ba’du

Larangan Tasyabbuh (Menyerupai) Orang-Orang Kafir

Tasyabbuh artinya menyerupai. Kaum muslimin dilarang tasyabbuh (menyerupai) orang-orang kafir, sebagaimana hadits Nabi sholallohu ‘alaihi was sallam:

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ، فَهُوَ مِنْهُمْ

“Barangsiapa tasyabbuh (menyerupai) dengan suatu kaum kaum, maka dia termasuk mereka”.
(HR. Abu Dawud, no. 4031; dll dari Ibnu Umar; Al-Bazzar, no. 2966, dll, dari Hudzaifah. Dishohihkan oleh Syaikh Al-Albani di dalam Irwaul Gholil, no. 1269, karena banyak jalur periwayatannya dan saling menguatkan)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rohimahulloh (wafat th 728 H) berkata:

وهذا الحديث أقل أحواله أن يقتضي تحريم التشبه بهم، وإن كان ظاهره يقتضي كفر المتشبه بهم

“Hadits ini (menunjukkan) keadaan paling rendah menetapkan keharaman tasyabbuh (menyerupai) dengan mereka (orang-orang kafir), walaupun zhahir hadits ini menetapkan kekafiran orang yang tasyabbuh (menyerupai) dengan mereka”.”
(Iqtidhoush Shirothil Mustaqim, 1/270)

Maksud Tasyabbuh (Menyerupai) yang Hukumnya Haram

Namun perlu diketahui kaedah tasyabbuh (menyerupai) orang-orang kafir yang haram hukumnya, agar kita tidak salah di dalam menghukumi masalah ini.
Syaikh Nashir bin Abdul Karim Al-‘Aql hafizhohulloh menjelaskan tentang tasyabbuh yang haram dengan menyatakan:

مماثلة الكافرين بشتى أصنافهم، في عقائدهم، أو عباداتهم، أو عاداتهم، أو في أنماط السلوك التي هي من خصائصهم

“Menyerupai orang-orang kafir dengan semua jenis mereka, di dalam keyakinan mereka, atau ibadah mereka, atau model-model perilaku, yang itu merupakan kekhususan-kekhususan mereka”.
(Kitab ‘Man tasyabbaha biqoumin fahuwa minhum’, hlm. 7)

Maka kaum muslimin tidak boleh menyerupai orang-orang kafir di dalam keyakinan mereka, atau ibadah mereka, atau ciri-ciri agama mereka, seperti memakai kalung salib, atau merayakan hari raya-hari raya keagamaan mereka (seperti natal, hari paskah, waisak, dan semisalnya).
Juga tidak boleh menyerupai orang-orang kafir di dalam model-model khusus mereka, seperti model berpakaian pendeta, atau artis, atau semacamnya.

Syaikh Sholih Al-Fauzan hafizhohulloh berkata:

فيحرم التشبه بالكفار فيما هو من خصائصهم، ومن عاداتهم، وعباداتهم، وسمتهم وأخلاقهم، كحلق اللحى، وإطالة الشوارب، والرطانة بلغتهم إلا عند الحاجة، وفي هيئة اللباس، والأكل، والشرب، وغير ذلك.

“Haram hukumnya menyerupai orang-orang kafir di dalam perkara yang merupakan kekhususan-kekhususan mereka, adat-adat mereka, ibadah mereka, model mereka, dan perilaku mereka.
Seperti mencukur jenggot, memanjangkan kumis, berbicara dengan bahasa mereka, kecuali ketika ada kebutuhan, dan di dalam gaya pakaian, (tata cara) makan, minum, dan lainnya”.
(Al-Irsyad ilaa shohihil i’tiqod, hlm. 316)

Hukumnya Mengikuti Metode Skincare Orang Korea

Setelah kita memahami larangan tasyabbuh dengan orang-orang kafir, maka mengikuti metode berskincare orang Korea, seperti 10 step skincare, ini tidak termasuk ke dalam larangan tasyabbuh dengan orang-orang kafir.
Sebab masalah kesehatan dan kebersihan kulit wajah bukan kekhususan mereka saja, bahkan semua orang melakukan usaha-usaha untuk kesehatan dan kebersihan kulitnya. Namun hal ini masuk ke dalam masalah hukum mengambil faedah orang-orang kafir.

Syaikh Muhammad bin Sholih Al-‘Utsaimin rohimahulloh (wafat tahun 1421 H) berkata:

“Yang dilakukan oleh musuh-musuh Allah dan musuh-musuh kita, yaitu orang-orang kafir, ada tiga bagian:
Pertama: ibadah (untuk manfaat akhirat saja, atau dunia dan akhirat).
Kedua: Kebiasaan (untuk manfaat dunia saja)
Ketiga: Hasil-hasil produksi dan pekerjaan-pekerjaan.

Adapun ibadah, maka telah diketahui bahwa tidak boleh bagi seorang muslim menyerupai orang-orang kafir di dalam perkara ibadah-ibadah mereka. Barangsiapa menyerupai ibadah, maka dia berada di dalam bahaya yang besar. Bisa jadi hal itu menjadikan kekafirannya dan keluarnya dari Islam.

Adapun kebiasaan (untuk manfaat dunia saja), seperti pakaian dan lainnya, maka tidak boleh menyerupai mereka berdasarkan sabda Nabi sholallohu ‘alaihi was sallam “Barangsiapa tasyabbuh (menyerupai) dengan suatu kaum kaum, maka dia termasuk mereka”.

Adapun hasil-hasil produksi dan pekerjaan-pekerjaan, yang ada manfaat-manfaat umum (seperti tentang komputer, mesin pesawat, kedokteran, dan sebagainya), maka tidak mengapa kita mempelajari apa yang mereka lakukan dan kita mengambil faedah darinya. Dan ini tidak termasuk masalah tasyabbuh, tetapi masuk masalah bersekutu di dalam pekerjaan-pekerjaan yang bermanfaat, orang yang melakukannya tidak termasuk tasyabbuh dengan mereka”.
(Majmu’ Fatawa wa Rosail, 3/40)

Perhatikan Hati dan Jiwamu Melebihi Lahiriyahmu

Namun yang perlu kami nasehatkan di sini adalah, bahwa hikmah hidup manusia di dunia adalah beribadah kepada Alloh Ta’ala, dengan melaksanakan perintah dan menjauhi larangan. Dan inilah kebahagiaan sejati bagi manusia.

Oleh karena itu, hendaklah kita lebih memperhatikan kesucian dan kebersihan hati, jiwa, dan perbuatan kita, daripada kesucian dan kebersihan badan dan wajah kita. Sebab hidup manusia di dunia hanya sementara, sehingga manfaat kita memiliki badan atau wajah yang indah hanya sebentar.

Sedangkan manfaat kita membersihkan diri dari syirik dan dosa-dosa, membersihkan hati dari akhlaq tercela, menghiasi dengan tauhid, iman dan ketaatan, adalah selamanya di akhirat.

Imam Ibnu Qudamah Al-Maqdisi rohimahulloh (wafat 689 H) berkata,
“Telah sampai keadaan kepada sekelompok orang, mereka menamakan kedunguan dengan kebersihan. Yaitu engkau lihat mayoritas waktu mereka habis untuk menghiasi lahiriyah, adapun batin mereka rusak, dipenuhi dengan kotoran-kotoran kesombongan, ‘ujub (bangga terhadap diri sendiri), kebodohan, riya’ dan kemunafikan”.
(Mukhtashor Minhajil Qoshidin, hlm. 27)

Semoga Alloh selalu menuntun kita di dalam kebaikan di dunia dan akhirat.

 

Disusun oleh:
Ustadz Muslim Al-Atsari حفظه الله
Jum’at, 17 Sya’ban 1441 H/ 10 April 2020 M



Ustadz Muslim Al-Atsari حفظه الله
Beliau adalah Pengajar di Pondok Pesantren Ibnu Abbas As Salafi, Sragen
Untuk melihat artikel lengkap dari Ustadz Muslim Al-Atsari حفظه الله 
klik disini