Artikel

Bagaimana Sikap Kita Terhadap Sahabat Rasulullah ﷺ? 

Prof. Dr. Abdussalam as Suhaimi hafizhahullah 

Diterjemahkan oleh: Ustadz Amrullah Akadhinta, S.T.

Muqaddimah Penerjemah

Sahabat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam adalah orang-orang pilihan. Para ulama Ahlussunnah wal jama’ah dari zaman ke zaman telah menulis bagaimana kewajiban seorang muslim terhadap mereka. Tulisan tersebut untuk membimbing umat sekaligus membantah kelompok-kelompok sesat yang menyimpang dalam masalah sikap kepada para sahabat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.

Berikut tulisan Syaikh Prof. Dr. Abdussalam as Suhaimi hafizhahullah (beliau adalah dosen di Universitas Islam Madinah dan pengajar di Masjid Nabawi) tentang keyakinan yang wajib kita yakini tentang para sahabat Rasulullah. Semoga bermanfaat.

Para sahabat Rasulullah bukanlah seperti selain mereka. Mencintai mereka adalah bagian dari agama, iman, dan kebaikan. Membenci mereka adalah bagian dari kekafiran, kemunafikan, dan kedurhakaan. Mereka adalah generasi yang dimuliakan dengan berjumpa Nabi ﷺ dan dididik langsung oleh beliau.

Sesungguhnya para sahabat Rasulullah ﷺ adalah manusia terbaik. Mereka adalah sebaik-baik orang yang pernah menemani seorang nabi di dunia ini. Bahkan mereka adalah makhluk terbaik yang Allah ﷻ utamakan atas seluruh manusia setelah para nabi dan rasul. 

Allah menetapkan keadilan mereka di dalam Al-Qur’an, memuji mereka dari atas langit ke-7  dan Rasulullah ﷺ juga memuji mereka. Allah ﷻ berfirman: 

لَقَدْ رَضِيَ اللَّهُ عَنِ الْمُؤْمِنِينَ إِذْ يُبَايِعُونَكَ تَحْتَ الشجرة

‘Sungguh Allah telah ridha kepada orang-orang mukmin ketika mereka berbaiat kepadamu di bawah pohon.’ (QS. Al-Fath: 18)

Para sahabat Rasulullah ﷺ adalah orang-orang yang mengorbankan jiwa mereka demi Nabi ﷺ dengan penuh kerelaan dan sebagai tebusan untuk agama ini. Maka apabila kedudukan agung para insan pilihan ini telah dijelaskan oleh Nabi ﷺ dan juga oleh Allah jalla wa ‘alaa, maka kewajiban kita terhadap golongan yang ditolong & yang telah menolong Rasulullah ﷺ adalah mencintai mereka.

Karena mencintai mereka adalah bagian dari agama yang kita beribadah kepada Allah dengannya. Allah Ta’ala berfirman tentang orang-orang yang datang setelah para sahabat:

وَالَّذِينَ جَاءُوا مِنْ بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالإِيمَانِ وَلا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ} ..

“Dan orang-orang yang datang setelah mereka berkata: ‘Wahai Rabb kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah lebih dahulu beriman daripada kami, dan janganlah Engkau jadikan dalam hati kami rasa dengki terhadap orang-orang yang beriman. Wahai Rabb kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.’” (QS. Al-Hasyr: 10)

Nabi ﷺ bersabda dalam hadits shahih dari Anas radhiallahu anhu:

حب الأنصار إيمان وبغض الأنصار نفاق

“Mencintai kaum Anshar adalah iman, dan membenci kaum Anshar adalah nifaq.” (HR Bukhari Muslim)

Jika hal itu berlaku terhadap kaum Anshar, maka tentu lebih utama lagi berlaku terhadap kaum Muhajirin, karena kaum Muhajirin lebih utama daripada Anshar. Adapun kaum Anshar, mereka telah menjaga Rasulullah ﷺ, membela beliau dengan harta, jiwa, wanita, dan anak-anak mereka. Merekalah yang menolong Rasulullah ﷺ setelah beliau datang kepada mereka dalam keadaan sendirian dan tanpa penolong.

Adapun kaum Muhajirin, mereka menggabungkan antara hijrah dan pertolongan. Mereka menolong Allah dan Rasul-Nya berdasarkan nash Al-Qur’an. Mereka berhijrah meninggalkan harta dan jiwa hanya demi menolong agama Allah. Allah Ta’ala berfirman:

يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِنْ رَبِّهِمْ وَرِضْوَانًا

‘Mereka mencari karunia dari Rabb mereka dan keridhaan-Nya.’ (QS. Al-Hasyr: 8)

Inilah keutamaan kaum Muhajirin atas kaum Anshar. Jika mencintai Anshar adalah iman dan membenci mereka adalah kemunafikan, maka lebih utama lagi bahwa mencintai Muhajirin adalah iman dan membenci mereka adalah kemunafikan.

Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhu berkata: 

‘Rasulullah ﷺ telah berjanji kepadaku bahwa tidaklah mencintaiku kecuali seorang mukmin dan tidaklah membenciku kecuali seorang munafik.’

(قد عهد إلي رسول الله صلى الله عليه وسلم أنه لا يحبني إلا مؤمن ولا يبغضني إلا منافق

Maka mencintai para sahabat Rasulullah ﷺ adalah bagian dari agama yang kita beribadah kepada Allah dengannya. Karena itu para ulama salaf generasi awal seperti Abdullah bin Mubarak, Imam Malik, dan selain keduanya berkata: ‘Ajarkanlah kepada anak-anak kalian untuk mencintai para sahabat Rasulullah ﷺ.’

Imam Malik rahimahullah dan selain beliau juga berkata: ‘Termasuk bagian agama adalah engkau mengajarkan anak-anakmu untuk mencintai Abu Bakar dan Umar radhiyallahu anhuma.’

Abu Zur’ah ar-Razi rahimahullah berkata: 

إذا رأيت الرجل ينتقص أحداً من أصحاب رسول الله صلى الله عليه وسلم فاعلم أنه زنديق، وذلك أن الرسول صلى الله عليه وسلم عندنا حق، والقرآن حق، وإنما أدى إلينا هذا القرآن والسنن أصحاب رسول الله صلى الله عليه وسلم، وإنما يريدون أن يجرحوا شهودنا ليبطلوا الكتاب والسنة، والجرح بهم أولى، وهم زنادقة!!.

‘Jika engkau melihat seseorang merendahkan salah satu sahabat Rasulullah ﷺ maka ketahuilah bahwa dia adalah zindiq. Sebab Rasulullah ﷺ bagi kita adalah benar, Al-Qur’an juga benar, dan yang menyampaikan Al-Qur’an serta sunnah kepada kita adalah para sahabat Rasulullah ﷺ. Mereka ingin mencela para saksi kita agar bisa membatalkan Al-Qur’an dan Sunnah. Maka justru merekalah yang lebih layak dicela, dan mereka adalah kaum zindiq.’

Maka wajib atas umat ini untuk mencintai para sahabat Rasulullah ﷺ sepenuh hati karena banyak sebab:

Pertama: kalau tidak ada alasan lain selain menjaga kehormatan Nabi ﷺ, maka itu sudah cukup membuat kita mencintai mereka.

Kedua: kalau tidak ada alasan lain selain karena mereka telah menyampaikan kepada kita seluruh gerak, diam, ucapan, dan perbuatan Rasulullah ﷺ sehingga agama ini sampai kepada kita dalam keadaan baik dan murni di atas pundak mereka, maka itu sudah cukup untuk membuat kita mencintai mereka. Seorang mukmin sejati akan merasakan hatinya penuh dengan cinta kepada para sahabat yang mulia ini.

Ketiga : dan ini sangat penting—: menahan diri dari membicarakan fitnah dan kesalahan yang terjadi di antara mereka. Ini adalah adab agung yang wajib dimiliki setiap mukmin. Kita tidak boleh banyak membicarakan fitnah tersebut, karena seorang muslim dikenal dari adabnya terhadap para sahabat Rasulullah ﷺ dan dari sikapnya menahan lisan dari membicarakan keburukan mereka. 

Sebagaimana Ibnu Katsir berkata, “Peperangan yang terjadi di antara mereka adalah peperangan yang Allah telah menjaga tangan kita darinya, maka hendaknya kita menjaga lisan kita dari membicarakannya.”

Kita wajib menahan diri dari membicarakan keburukan mereka dan melewatinya dengan penuh penghormatan, sambil meyakini bahwa apa yang terjadi di antara mereka adalah hasil ijtihad, bukan karena hawa nafsu, mencari dunia, kekuasaan, atau kepemimpinan.

Tidak ada yang mencela para sahabat atau salah seorang dari mereka kecuali ahli bid’ah, orang yang sesat zindiq.

Asy-Syathibi rahimahullah berkata: ‘Pengikut kesesatan mencela salafus shalih agar dagangan mereka laku. Namun Allah enggan kecuali menyempurnakan cahaya-Nya.’

Beliau juga mengatakan bahwa asal kerusakan ini berasal dari Khawarij. Mereka adalah orang pertama yang menebarkan celaan kepada salafus shalih dan mengkafirkan para sahabat radhiallahu anhum.

Adapun akidah Ahlus Sunnah terhadap para sahabat radhiallahu anhum adalah sebagaimana dikatakan oleh Imam ath-Thahawi rahimahullah:

“ونحب أصحاب رسول الله ﷺ، ولا نُفْرِطُ في حب أحد منهم، ولا نتبرأ من أحد منهم، ونبغض من يبغضهم، وبغير الخير يذكرهم، ولا نذكرهم إلا بخير، وحبهم دين وإيمان وإحسان، وبغضهم كفر ونفاق وطغيان

‘Kami mencintai para sahabat Rasulullah ﷺ. Kami tidak berlebihan dalam mencintai salah seorang dari mereka, dan tidak pula berlepas diri dari seorang pun dari mereka. Kami membenci orang yang membenci mereka dan membenci orang yang menyebut mereka dengan keburukan. Kami tidak menyebut mereka kecuali dengan kebaikan. Mencintai mereka adalah agama, iman, dan ihsan. Membenci mereka adalah kekafiran, kemunafikan, dan kedurhakaan.’”

Wallohu a’lam

Link artikel bahasa Arab: https://x.com/i/status/1977581643205312990

Ustadz Amrullah Akadhinta ST

Beliau adalah Alumni S1 Teknik Sipil UGM, Alumni Ma'had Al-'Ilmi, | Selain itu beliau juga aktif dalam Kegiatan Dakwah & Sosial sebagai Pengasuh Twitulama. Ketua Yayasan Bimbingan Islam. Sekretaris KIPMI. Pembina Yayasan Muslim Merapi
Back to top button