Mengatasi Gangguan Gaib Di Gunung

Mengatasi Gangguan Gaib Di Gunung

Mengatasi Gangguan Gaib Di Gunung

Beberapa riwayat menyebutkan bahwa jin dan setan itu sangat suka bertempat tinggal di lokasi-lokasi sebagai berikut :

  1. Toilet,
  2. Tempat deruman onta,
  3. Tempat sampah,
  4. Lobang tanah,
  5. Lokasi-lokasi yang kosong dari manusia seperti gurun, gunung, hutan, goa, dan lain-lain.

Syaikh Wahid Abdussalam Bali menyatakan :

الجن يفضلون الأماكين الخالية من الإنس كالصحروات ومنهم من يسكن المزابيل والقمامات ومنهم من يسكن مع الإنس

“Jin itu lebih suka memilih untuk tinggal di lokasi-lokasi yang sepi dari  manusia seperti gurun-gurun. Dan diantara mereka ada yang suka tinggal di tempat-tempat sampah, lokasi kotor dan diantara  mereka ada yang memilih tinggal bersama manusia.”
(Wiqayatul Insan : 25 oleh Syaikh Wahid Abdussalam Bali).

Gangguan Gaib dari Jin itu Benar Adanya

Maka dari itu tidak mengherankan tatkala kita mendengar persaksian beberapa pendaki yang mengalami gangguan gaib di tengah perjalanan mereka mendaki gunung, menuruni lembah atau jurang serta menembus lebatnya hutan belantara. Syaikh Abu Bakar Al-Jazairi menuturkan :

إن أذى الجن للإنس ثابت لا ينكر حيث ثبت ذلك بالدليل السمع والدليل الحسي والعقل لا يحيله بل يجيزه ويقره ولو لا المعقبات من الملائكة التي أناط الله بها حفظ الإنسان  لما نجا من الجن والشياطين أحد وذلك لعدم 

رؤية الإنسان لهم ولقدرتهم على التحول بسرعة ولكون أجسادهم من اللطافة بحيث لا نشعر بها ولا نحس ومن هنا كان مما لا شك فيه أن بعض الجن يؤذي بعض الناس إما لكون الإنسان قد تعرض لهم بالأذى فآذاهم بصب ماء حار عليهم أو بوله عليهم أو بنزوله بعذ منازلهم وهو لا يشعر فينتقمون منه فيؤذونه

“Sesungguhnya gangguan jin terhadap manusia itu ada dan tidak diingkari karena hal itu ditetapkan oleh dalil wahyu serta teori. Dan akalpun tidak menolaknya bahkan menetapkannya.
Jika bukan karena perlindungan malaikat yang di daulat oleh Allah untuk menjaga manusia maka tak ada satupun manusia yang akan selamat dari gangguan jin dan setan.

Yang demikian karena manusia tak mampu melihat mereka, dan jin ini memiliki kemampuan berubah rupa dengan sangat cepat. Demikian pula jasad mereka lembut sehingga seringnya kita tidak menyadari keberadaan mereka.

Berdasarkan hal ini maka termasuk sesuatu yang tidak diragukan lagi bahwa sebagian jin itu mengganggu sebagian manusia.
Entah karena manusia mengganggu mereka dengan menyiramkan air panas kepada mereka, atau mengencingi mereka, atau menduduki lokasi tinggal mereka dalam kondisi ia tidak tahu. Sehingga mereka murka dan membalas dendam dengan mengganggu.”
(Aqidatul Mukmin : 230 oleh Syaikh Abu Bakar bin Jabir Al-Jazairi, lihat pula Wiqayatul Insan : 54).

Demikian pula terkadang jin mengganggu kita dikarenakan kezaliman yang ada pada mereka, alias jin usil yang kita tidak pernah mengganggu mereka. Akan tetapi memang karena keusilan serta kezaliman mereka yang mendorong mereka untuk mengganggu.

Sehingga kita perlu untuk menyadari hakikat ini, mengetahui sebab gangguan itu muncul serta menjauhi sebab-sebab yang bisa menjadi alasan bagi jin untuk mengganggu kita. Serta membentengi diri kita dengan memohon perlindungan kepada Allah ta’ala.

Pencegahan Dan Antisipasi Gangguan Gaib

Sebagaimana kata pepatah : Mencegah lebih baik dari pada mengobati.
Berikut adalah beberapa hal yang selayaknya kita perhatikan agar kita dijauhkan oleh Allah dari gangguan jin dan setan :

1. Memperbaiki kualitas tauhid serta menjauhi kesyirikan

2. Mengkonsumsi tujuh butir kurma

Disamping baik untuk mendapatkan energi yang cukup tatkala kelelahan kurma juga menjadi sebab seseorang terjaga dari gangguan hewan berbisa dan gangguan sihir serta setan, Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

مَنْ تَصَبَّحَ بِسَبْعِ تَمَرَاتٍ عَجْوَةً، لَمْ يَضُرَّهُ ذَلِكَ الْيَوْمَ سُمٌّ وَلاَ سِحْرٌ

“Barangsiapa mengkonsumsi tujuh butir kurma Ajwah pada pagi hari, maka pada hari itu ia tidak akan terkena racun maupun sihir”.
(HR Bukhari  5769, Muslim : 2047).

Para ulama berbeda pendapat apakah jenis kurma yang memiliki keistimewaan ini hanya khusus kurma ajwa ataukah semua jenis kurma. Syaikh Ibnu Utsaimin menyatakan :

كان شيخنا ابن سعدي رحمه الله يرى أن ذلك على سبيل التمثيل ، وأن المقصود التمر مطلقاً

“Adalah Syaikh kami Syaikh Ibnu Sa’di semoga Allah merahmati beliau berpendapat bahwa penyebutan kurma ajwah hanya sebagai contoh, dan bahwa yang dimaksud dalam hadits tadi adalah seluruh jenis kurma.”
(Asy-Syarhul Mumti’ : 5/123).

3. Menunjuk seorang amir/ketua rombongan dalam perjalanan

Terdapat perintah dari Nabi untuk menunjuk seorang pemimpin dalam perjalanan :

عَنِ أبِيْ سَعِيْدٍ وَ ابِيْ هُرَيْرَةَ رضي الله عننهما قَالا: قَالَ رَسُوْلُ الله صلى الله عليه و سلم  إذَا خَرَجَ ثَلاَثَةٌ فِيْ سَفَرٍ فَلْيُؤَمِّرُوْا أَحَدَهُمْ

“Dari Abu Sa’id dan Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhuma, mereka berdua berkata,
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ”Jika ada tiga orang yang keluar hendak bepergian, maka hendaklah mereka menunjuk salah seorang dari mereka sebagai pemimpin.”

(HR Abu Dawud no. 2.608 dan 2.609, dinyatakan shahih oleh Syaikh Salim bin ‘Id Al-Hilali dalam Bahjatun Nadzirin : 2/201).

4. Berdoa sebelum memulai safar

Doa yang Nabi panjatkan kepada Allah ta’ala sebelum memulai safar :

اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ فِيْ سَفَرِنَا هَذَا الْبِرَّ وَالتَّقْوَى، وَمِنَ الْعَمَلِ مَا تَرْضَى، اللَّهُمَّ هَوِّنْ عَلَيْنَا سَفَرَنَا هَذَا وَاطْوِ عَنَّا بُعْدَهُ، اللَّهُمَّ أَنْتَ الصَّاحِبُ فِي السَّفَرِ وَالْخَلِيْفَةُ فِي اْلأَهْلِ، اللَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ مِنْ وَعْثَاءِ السَّفَرِ وَكَآبَةِ الْمَنْظَرِ وَسُوْءِ الْمُنْقَلَبِ فِي الْمَالِ وَاْلأَهْلِ

“Ya Allah, kami mohon kepadamu dalam perjalanan ini kebaikan, ketakwaan dan amal yang Engkau ridhai.
Ya Allah, ringankanlah atas kami perjalanan ini, dekatkanlah jarak perjalanan ini, Ya Allah Engkaulah temanku dalam perjalanan ini dan Engkaulah sebagai pengganti yang melindungi keluarga.
Ya Allah, aku berlindung kepadaMu dari pada kesusahan perjalanan ini, dari pemandangan yang menyakitkan dan dari nasib yang sial dalam harta dan keluarga.”

(HR. Muslim : 1342).

5. Berdoa saat menaiki kendaraan

Sebagaimana doa yang Nabi panjatkan :

اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، سُبْحَانَ الَّذِيْ سَخَّرَ لَنَا هَذَا وَمَا كُنَّا لَهُ مُقْرِنِيْنَ. وَإِنَّا إِلَى رَبِّنَا لَمُنْقَلِبُوْنَ

“Allah Maha Besar (3x). Maha Suci Tuhan yang menundukkan kendaraan ini untuk kami, sedang sebelumnya kami tidak mampu. Dan sesungguhnya kami akan kembali kepada Tuhan kami.”
(HR Muslim : 1342).

6. Tidak meninggalkan shalat lima waktu (dan wajib jamaah bagi yang tidak safar)

Tetap wajib melakukan sholat 5 waktu, walaupun berada di atas gunung, sebagaimana sabda Nabi :

مَا مِنْ ثَلاثَةٍ فِي قَرْيةٍ ، وَلاَ بَدْوٍ ، لا تُقَامُ فِيهِمُ الصَّلاَةُ إلاَّ قَد اسْتَحْوَذَ عَلَيْهِم الشَّيْطَانُ . فَعَلَيْكُمْ بِالجَمَاعَةِ ، فَإنَّمَا يَأْكُلُ الذِّئْبُ مِنَ الغَنَمِ القَاصِيَة

“Tidaklah terdapat tiga orang di satu desa atau kampung yang tidak ditegakkan shalat di sana kecuali mereka telah dikalahkan oleh setan. Maka haruslah bagi kalian untuk berjamaah, sebab serigala hanya akan memakan domba yang jauh dari kawannya.”
(HR Abu Daud : 547, An-Nasa’i : 848, dishahihkan oleh Al-Albany dalam Shahih Sunan Abi Dawud : 556).

7. Senantiasa berdzikir

  • Tatkala pagi dan sore.

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

مَا مِنْ عَبْدٍ يَقُولُ فِي صَبَاحِ كُلِّ يَوْمٍ وَمَسَاءِ كُلِّ لَيْلَةٍ بِسْمِ اللَّهِ الَّذِي لَا يَضُرُّ مَعَ اسْمِهِ شَيْءٌ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي السَّمَاءِ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ لَمْ يَضُرَّهُ شَيْءٌ 

“Tidaklah seorang hamba membaca di pagi dan sore pada setiap harinya, “Dengan nama Allah yang tidak ada yang dapat mencelakai bersama nama-Nya apapun yang ada di bumi dan di langit. Dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” sebanyak tiga kali, maka ia tidak akan terkena bahaya apapun”.
(HR Abu Dawud : 5088, Tirmizi : 3388 dan beliau menshahihkannya. Dinyatakan shahih pula oleh Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah di dalam Zadul Ma’ad : 2/338).

  • Tatkala singgah di lokasi asing yang menyeramkan.

مَنْ نَزَلَ مَنْزِلاً ثُمَّ قَالَ أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّاتِ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ. لَمْ يَضُرُّهُ شَىْءٌ حَتَّى يَرْتَحِلَ مِنْ مَنْزِلِهِ ذَلِكَ

“Barangsiapa yang singgah di suatu tempat lantas ia mengucapkan
“a’udzu bi kalimaatillahit taammaati min syarri maa kholaq”
(Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari kejahatan makhluk yang diciptakanNya)”,
maka tidak ada sama sekali yang dapat memudharatkannya sampai ia berpindah dari tempat tersebut”.
(HR. Muslim : 2708).

  • Tatkala memasuki ruangan kosong (goa).

Ibnu Umar radhiyallahu anhuma berkata :

إذا دخل البيت غير المسكون، فليقل: السلام علينا، وعلى عباد الله الصالحين

“Jika seseorang masuk rumah yang tidak berpenghuni, maka ucapkanlah “Assalaamu ‘alainaa wa ‘alaa ‘ibaadillahish shoolihiin (salam bagi diri kami dan salam bagi hamba Allah yang sholeh)”.
(HR Bukhari dalam Adabul Mufrod 806/ 1055. Sanad hadits ini hasan sebagaimana dikatakan oleh Al Hafizh Ibnu Hajar dalam Fathul Bari : 11/17).

  • Tatkala mendengar lolongan anjing di malam hari.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

إِذَا سَمِعْتُمْ نُبَاحَ الْكِلاَبِ وَنَهِيْقَ الْحَمِيْرِ بِاللَّيْلِ، فَتَعَوَّذُوْا بِاللهِ فَإِنَّهُنَّ يَرَيْنَ مَا لاَ تَرَوْنَ

“Apabila kalian mendengar gonggongan anjing dan ringkikan keledai pada malam hari, maka mintalah perlindungan (ta’awwudz) kepada Allah, karena mereka melihat sesuatu yang tidak kalian lihat.”
(HR Ibnu Abi Syaibah : 29797; Ahmad : 3/306 dan 355, Al-Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad : 1234).

  • Membaca Bismillah pada kondisi-kondisi sebagai berikut :

– Sebelum menyiram air panas, atau membuang batu atau benda berat lain,
– Sebelum melepas celana dan baju,
– Sebelum BAB atau BAK,
– Sebelum makan dan minum,
– Tatkala menutup pintu tenda.

8. Menutup aurat

9. Tidak buang air besar atau buang air kecil di lubang-lubang tanah

Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

لَا يَبُولَنَّ أَحَدُكُمْ فِي الْجُحْرِ

“Janganlah salah seorang dari kalian kencing di lubang tanah !”
(HR Ahmad di dalam Musnad : 20775 dishahihkan oleh Syaikh Syu’aib Al-Arnauth dalam Musnad Ahmad : 34/373).

Pernah dikatakan kepada Qatadah apa alasan larangan ini beliau menjawab bahwa lubang tanah adalah tempat tinggal jin.
(Lihat Wiqayatu Insan : 26 pada catatan kaki).

10. Berwudhu / tayammum sebelum tidur

Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

طَهِّرُوْا هَذِهِ اْلأَجْسَادَ طَهَّرَكُمُ اللهُ، فَإِنَّهُ لَيْسَ مِنْ عَبْدٍ يَبِيْتُ طَاهِرًا إِلاَّ بَاتَ مَعَهُ فِيْ شِعَارِهِ مَلَكٌ، لاَ يَنْقَلِبُ سَاعَةً مِنَ اللَّيْلِ إِلاَّ قَالَ: اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِعَبْدِكَ فَإِنَّهُ بَاتَ طَاهِرًا

“Sucikanlah badan-badan kalian, semoga Allah mensucikan kalian, karena tidak ada seorang hamba pun yang tidur malam dalam keadaan suci melainkan satu Malaikat akan bersamanya di dalam syi’aar, tidak satu saat pun dia membalikkan badannya melainkan satu Malaikat akan berkata: ‘Ya Allah, ampunilah hamba-Mu ini, karena ia tidur malam dalam keadaan suci.”
(HR Ath-Thabarani dishahihkan oleh Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari : 11/109).

11. Membaca surat yang Nabi ajarkan

Usahakan jangan tidur sendirian dan selalu membaca surat Al-Ikhlas, Al-Falaq, An-Nas, dan Ayat kursi kemudian meniupkannya ke telapak tangan kemudian mengusapkannya ke seluruh tubuh, dan perbuatan ini diulangi tiga kali.

12. Jangan mengganggu anjing atau kucing utamanya di malam hari

Yaitu anjing dan kucing hitam legam tanpa ada warna lain di permukaan tubuhnya, maka kita harus waspada terhadapnya dan banyak-banyak berta’wwudz, Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

الكلب الأسود البهيم شيطان

“Anjing yang hitam legam itu syaithan.”
(HR Ahmad : 6/157 dishahihkan oleh Al-Albany dalam Shahihul jami’ : 4611).

Imam Asy-Syibli berkata :

 فَإِن الْكَلْب الْأسود شَيْطَان الْكلاب وَالْجِنّ تتَصَوَّر بصورته كثيرا وَكَذَلِكَ بِصُورَة القط الْأسود لِأَن السوَاد أجمع للقوى الشيطانية من غَيره وَفِيه قُوَّة الْحَرَارَة

“Sesungguhnya anjing hitam adalah setan anjing dan jin sering sekali berubah rupa dengan wujud seperti itu. Demikian pula dalam wujud kucing hitam, karena hitam ini lebih maksimal kekuatan setannya dari warna lain dan di dalam hitam itu ada hawa panas.”
(Lihat Al-Qaulul Mubin Fima Yatrudul Jin : 171 oleh Abul Bara’ Usamah bin Yasin Al-Ma’ani).

13. Jangan berjalan seorang diri di tengah kegelapan

14. Tidak membawa barang-barang yang dilarang syariat

Karena setan dari golongan jin, bisa saja berada atau mengikuti di benda-benda yang dilarang syariat, seperti :

– Alat musik,
– Patung, berhala, boneka, dan semisalnya,
– Jimat serta rajah dengan berbagai bentuknya
– Simbol-simbol kekufuran seperti Logo Yin Yang, Salib, gambar setan, dan lain-lain

15. Tidak melakukan tathoyyur (merasa sial karena melihat sesuatu)

Agama islam melarang tathoyyur, yaitu :
beranggapan sial (atau beruntung) dengan melihat, menemui, atau dengan keberadaan suatu hal/benda/kejadian tertentu. Dimana hal/benda/kejadian tertentu tersebut tidak ada dalilnya dalam Al-Qur’an dan hadits Nabi (sebab syar’i), atau tidak ada penelitian (sebab kauni) yang menunjukkan bahwa hal tersebut membawa sial atau keberuntungan (termasuk di dalamnya kesembuhan dan semacamnya). – ed

Ada beberapa hal yang sering diyakini membawa kesialan diantaranya :
Ular yang melintang di tengah jalan, keberadaan burung tertentu, pendaki ganjil, pendaki haidh, larangan pipis di tanah, merasa sial dengan waktu-waktu tertentu, dan sebagainya.
Maka tidak boleh beranggapan sial (atau beruntung) karena hal-hal tersebut. – ed

Mengatasi Gangguan Gaib

Adapun apabila kita sudah terkena langsung dampak dari gangguan gaib dan gangguan ini beraneka ragam bentuknya.
Diantaranya ada yang mengaku melihat penampakan, mencium bau-bauan yang tidak enak, atau mencium wewangian yang tidak jelas dari mana asalnya, suara-suara aneh dan misterius. Dan gangguan paling keras adalah kesurupan. Allah ta’ala berfirman :

الَّذِينَ يَأْكُلُونَ الرِّبَا لَا يَقُومُونَ إِلَّا كَمَا يَقُومُ الَّذِي يَتَخَبَّطُهُ الشَّيْطَانُ مِنَ الْمَسِّ ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ قَالُوا إِنَّمَا الْبَيْعُ مِثْلُ الرِّبَا

“Orang-orang yang makan riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan setan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba.”
(QS. Al-Baqarah : 275)

Imam Al-Qurthubi menyatakan ketika menafsirkan ayat ini :

هذه الآية دليل على فساد إنكار من أنكر الصرع من جهة الجن ، وزعم أنه من فعل الطبائع وأن الشيطان لا يسلك في الإنسان ولا يكون منه مس

“Ayat ini menjadi dalil akan rusaknya pengingkaran dari orang yang tidak percaya terhadap fenomena kesurupan jin. Mereka menganggap bahwa itu hanya murni penyakit badan dan bahwasanya setan tidak bisa mengalir di dalam tubuh tubuh manusia serta tidak bisa merasuk ke dalam tubuhnya.”
(Tafsir Al-Qurthubi : 3/355).

Tatkala kita melihat penampakan atau muncul gangguan berupa bau-bauan atau suara-suara maka kita berta’awwudz meminta perlindungan kepada Allah ta’ala. Allah ta’ala berfirman :

وَإِمَّا يَنْزَغَنَّكَ مِنَ الشَّيْطَانِ نَزْغٌ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

“Dan jika setan mengganggumu dengan suatu godaan, maka mohonlah perlindungan kepada Allah. Sungguh, Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”
(QS Fushilat : 36).

Diantara doa yang bisa kita baca adalah lafadz ta’wudz yang biasa kita baca atau bisa juga kita membaca petikan ayat sebagai berikut :

رَّبِّ أَعُوذُ بِكَ مِنْ هَمَزَاتِ الشَّيَاطِينِ * وَأَعُوذُ بِكَ رَبِّ أَن يَحْضُرُونِ

“Wahai Tuhanku, aku berlindung kepada Engkau dari bisikan setan dan aku berlindung kepada Engkau wahai Tuhanku dari kehadiran mereka kepadaku.”
(QS Al-Mukminun : 97-98).

Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di berkata ketika menafsirkan ayat ini :

أي : أعوذ بك من الشر الذي يصيبني بسبب مباشرتهم وهمزهم ومسّهم ، ومن الشر الذي بسبب حضورهم ووسوستهم ، وهذه استعاذة من مادة الشر كله وأصله
ويدخل فيها الاستعاذة من جميع نزغات الشيطان ، ومن مسّه ووسوسته ، فإذا أعاذ الله عبده من هذا الشر ، وأجاب دعاءه ، سلم من كل شر ، ووفق لكل خير

“Maknanya aku berlindung kepada Engkau dari keburukan yang menimpaku karena sebab gangguan langsung bangsa jin, bisikan mereka serta berlindung dari kesurupan jin. Serta berlindung dari keburukan karena kehadiran jin, was-was mereka dan ini merupakan perlindungan dari pokok keburukan serta intinya.

Termasuk juga di dalamnya perlindungan dari berbagai gangguan syaithan, dari kesurupan syaithan serta was-was nya syaithan. Apabila Allah ta’ala melindungi hamba-Nya maka mereka akan selamat dari keburukan dan diberikan taufik untuk melakukan banyak kebaikan.”
(Tafsir As-Sa’di : 559).

Tatkala kita mendapati rekan kita kesurupan jin maka kita harus menyikapinya dengan tenang, tidak takut, tidak kalut, santai namun penuh waspada. Pastikan kita berada pada kondisi berwudhu dan berta’awudz meminta pertolongan kepada Allah dari gangguan jin.

Pegangilah dia agar tidak kemana-mena atau terjun yang mengakibatkan luka. Setelah itu kita oleskan minyak wangi kebagian hidung karena jin tidak suka dengan wewangian lantas bacakan adzan ke telinga orang yang kesurupan dengan suara keras sampai selesai.
Apabila ia menirukan adzan tersebut, teruskanlah mengumandangkan adzan dengan keras, nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda ;

ﺇِﺫَﺍ ﻧُﻮﺩِﻯَ ﺑِﺎﻷَﺫَﺍﻥِ ﺃَﺩْﺑَﺮَ ﺍﻟﺸَّﻴْﻄَﺎﻥُ ﻟَﻪُ ﺿُﺮَﺍﻁٌ ﺣَﺘَّﻰ ﻻَ ﻳَﺴْﻤَﻊَ ﺍﻷَﺫَﺍﻥَ

“Apabila azan dikumandangkan, maka setan berpaling sambil kentut hingga dia tidak mendengar azan tersebut.”
(HR Bukhari : 608, Muslim : 389).

Setelah agak siuman perintahkan ia untuk berta’awudz, Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata :

إن الشيطان جاثم على قلب ابن آدم ، فإذا غفل وسوس ، وإذا ذكر الله خنس

“Sesungguhnya setan itu bertempat di jantung anak Adam ketika ia lalai atau was-was, apabila ia mengingat Allah maka ia akan sadar.”
(Tafsir Ibnu Katsir : 4/575).

Atau kita bisa juga memegang kepalanya kemudian membacakan ayat-ayat suci Al-Qur’an terutama Al-Mu’awwidzatain (Surat Al-Falaq dan An-Nas), ayat kursi atau surat Al-Baqarah.
Diulang-ulang dan minimalisirlah komunikasi dengan jin karena sifat asli mereka adalah pendusta.

Jangan memperbanyak bicara dengan mereka, dan jangan menuruti kemauan mereka terlebih lagi kemauan yang dilarang oleh syariat seperti minta sesajen, minta makan, dan sebagainya.

Disusun oleh:
Ustadz Abul Aswad al Bayati حفظه الله
(Dewan Konsultasi Bimbinganislam.com)



Ustadz Abul Aswad al Bayati, BA حفظه الله
Beliau adalah Alumni Mediu, Dewan konsultasi Bimbingan Islam, dan da’i di kota Klaten.
Untuk melihat artikel lengkap dari Ustadz Abul Aswad al Bayati, BA حفظه الله
klik disini

CATEGORIES
Share This

COMMENTS