Fawaid Hadist #170| Standardisasi Ibadah: Kenapa Kita Harus Ikut Cara Nabi?

وَعَن جَابِرٍ رضي الله عنه قَالَ: كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا خَطَبَ احْمَرَّتْ عَيْنَاهُ، وَعَلَا صَوْتُهُ، وَاشْتَدَّ غَضَبُهُ، حَتَّى كَأَنَّهُ مُنْذِرُ جَيْشٍ يَقُولُ: «صَبَّحَكُمْ وَمَسَّاكُمْ»، وَيَقُولُ: «بُعِثْتُ أَنَا وَالسَّاعَةُ كَهَاتَيْنِ»، وَيَقْرِنُ بَيْنَ أُصْبُعَيْهِ السَّبَّابَةِ وَالْوُسْطَى، وَيَقُولُ: «أَمَّا بَعْدُ، فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللهِ، وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَشَرَّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ» ثُمَّ يَقُولُ: «أَنَا أَوْلَى بِكُلِّ مُؤْمِنٍ مِنْ نَفْسِهِ، مَنْ تَرَكَ مَالًا فَلِأَهْلِهِ، وَمَنْ تَرَكَ دَيْنًا أَوْ ضَيَاعًا فَإِلَيَّ وَعَلَيَّ» (رواه مسلم)
Dari Jabir radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:
“Apabila Rasulullah ﷺ berkhutbah, kedua matanya memerah, suaranya lantang, dan amarahnya memuncak, seolah-olah beliau adalah seorang pemberi peringatan bagi pasukan tentara seraya berkata: ‘Musuh akan menyerang kalian di waktu pagi!’ atau ‘Musuh akan menyerang kalian di waktu sore!’
Beliau bersabda: ‘Aku diutus, sementara jarak antara aku dan hari kiamat adalah seperti dua jari ini,’ beliau merapatkan jari telunjuk dan jari tengahnya.
Lalu beliau bersabda: ‘Amma ba’du. Sesungguhnya sebenar-benar perkataan adalah Kitabullah (Al-Qur’an) dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad ﷺ. Seburuk-buruk perkara adalah perkara yang diada-adakan (dalam agama), dan setiap bid’ah adalah sesat.’
Kemudian beliau bersabda: ‘Aku lebih berhak atas setiap orang mukmin daripada dirinya sendiri. Barangsiapa yang meninggalkan harta, maka itu bagi keluarganya. Dan barangsiapa yang meninggalkan utang atau keluarga yang terlantar, maka urusannya diserahkan kepadaku dan menjadi tanggung jawabku.'” (HR. Muslim)
Penjelasan Kosa Kata Hadits:
- “يقرن” artinya menggabungkan (dua jari)
- “المحدثات” artinya perkara-perkara baru (bid’ah)
- “الضياع” artinya anak-anak kecil atau keturunan
Pelajaran Berharga Dari Hadits:
- Disunnahkan bagi khatib untuk bersungguh-sungguh dalam khutbah, mengeraskan suara, dan menggunakan kalimat seperti “amma ba’du”. Khutbah seharusnya menyentuh hati dan mempengaruhi jiwa, baik dari isi maupun cara penyampaiannya.
- Peringatan dari bahaya bid’ah dalam agama, dan bahwa semua bid’ah itu tercela dan menyesatkan.
- Menunjukkan kasih sayang Nabi ﷺ kepada umatnya, perhatian dan keinginan beliau agar umatnya selamat.
- Menjadi dalil tentang pentingnya melunasi hutang orang yang meninggal, terutama jika tidak meninggalkan harta, maka bisa dibantu dari harta kaum muslimin (baitul mal).
*[Referensi utama : Kitab Riyadhus shalihin Wa ma’ahu hasyiyatul Fawaid]*
Wallohu a’lam
👤Ustadz Nurhadi Nugroho