Muamalah

Bekerja Di Restoran Yang Menjual Khomr, Haram?

Bekerja Di Restoran Yang Menjual Khomr, Haram?

Para pembaca Bimbinganislam.com yang memiliki akhlaq mulia berikut kami sajikan tanya jawab, serta pembahasan tentang Bekerja Di Restoran Yang Menjual Khomr, Haram? selamat membaca.

Pertanyaan:

assalamualaikum, afwan ana mau nanya. Kalo saya bekerja di restoran yang awalnya tidak stok minuman ber-alkohol, namun sekarang men stok minuman tersebut, apakah yang harus saya lakukan? apakah keluar untuk menghindari syubhat atau tetap bertahan? terima kasih

Ditanyakan Sahabat BIAS melalui Grup WhatsApp


Jawaban:

Wa’alaikumussalam warahmatullah wabarakaatuh

Perbuatan ini termasuk ke dalam larangan firman Allah :

﴿يَوَلَا تَعَاوَنُواْ عَلَى ٱلۡإِثۡمِ وَٱلۡعُدۡوَٰنِۚ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَۖ إِنَّ ٱللَّهَ شَدِيدُ ٱلۡعِقَابِ

“janganlah kamu tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya.” (QS. Almaidah : 2)

Carilah pekerjaan lain yang lebih bisa menyelamatkan akhirat anda. Ingatlah bahwa pemberi rezki adalah Allah bukan pemilik restoran, sehingga jika anda keluar pun lalu bekerja di tempat lain, rezeki anda tidak akan terputus. Rasulullah ﷺ bersabda :

إنك لن تدع شيئاً لله عز وجل إلا بدلك الله به ما هو خير لك منه

“Sesungguhnya dirimu jika meninggalkan suatu hal karena Allah, pasti Dia akan menggantinya dengan sesuatu yang jauh lebih baik”
(HR. Ahmad : 21996).

Ganti yang Allah berikan bermacam-macam, tidak mesti berupa kekayaan materi, bahkan bukan itu yang terpenting, namun yang terpenting adalah kedekatan hati dengan Allah ﷻ. Ibnul Qayyim rahimahullah berkata :

وقولهم من ترك لله شيئا عوضه الله خيرا منه : حق ، والعوض أنواع مختلفة ؛ وأجلّ ما يعوض به : الأنس بالله ومحبته ، وطمأنينة القلب به ، وقوته ونشاطه وفرحه ورضاه عن ربه تعالى

“Perkataan siapa yang meninggalkan sesuatu karena Allah, pasti akan Allah ganti dengan yang jauh lebih baik adalah perkataan yang benar. Ganti yang Allah berikan beragam, dan ganti yang paling mulia adalah : Kedekatan dan kecintaan terhadap Allah, ketenangan hati saat mengingat Allah, munculnya kekuatan, semangat dan keridhaan terhadap Allah.” (Alfawaid : 107).

Wallahu muwaffiq

Dijawab dengan ringkas oleh:
Ustadz Muhammad Ihsan حفظه الله
Rabu, 26 Syawwal 1444 H/ 17 Mei 2023 M


Ustadz Muhammad Ihsan حفظه الله تعالى
Beliau adalah Alumni STDI Imam Syafi’i Jember (ilmu hadits), Dewan konsultasi Bimbingan Islam
Untuk melihat artikel lengkap dari Ustadz Muhammad Ihsan حفظه الله تعالى klik disini

Ustadz Muhammad Ihsan, S.Ag., M.HI.

Beliau adalah Alumni S1 STDI Imam Syafi’I Jember Ilmu Hadits 2011 – 2015, S2 Universitas Muhammadiyah Surakarta Hukum Islam 2016 – 2021 | Bidang khusus Keilmuan yang pernah diikuti beliau adalah Dauroh Syaikh Sulaiman & Syaikh Sholih As-Sindy di Malang 2018, Beberapa dars pada dauroh Syaikh Sholih Al-’Ushoimy di Masjid Nabawi, Dauroh Masyayikh Yaman tahun 2019, Belajar dengan Syaikh Labib tahun 2019 – sekarang | Selain itu beliau juga aktif dalam Kegiatan Dakwah & Sosial Kegiatan bimbingan islam
Back to top button