11 Kaidah Hukuman Dalam Pendidikan Islam

11 Kaidah Hukuman Dalam Pendidikan Islam

11 Kaidah Hukuman Dalam Pendidikan Islam

Jika pendidikannya keras dan kasar, maka akan menghilangkan kelapangan jiwa, melenyapkan semangat, menyebabkan kemalasan, mendorong untuk berdusta karena takut kekerasan dan tindakan kasar tersebut, dan mengajari untuk berlaku licik. Kemudian hal ini menjadi kebiasaan(tabiat-ed)nya dan akhlaknya, maka rusaklah nilai kemanusiaannya.

[Ibnu Khaldun dalam Muqaddimah] 

Termasuk konsep pendidikan yang terbaik apa yang disampaikan oleh Ar-Rasyid (Khalifah Harun al-Rasyid) kepada pendidik anaknya. Khalaf al-Ahmar berkata: Ar-Rasyid mengirimkan utusan kepadaku tentang pendidikan anaknya Muhammad al-Amin. Utusannya menyampaikan (pesan) al-Rayid :

“Wahai Ahmar, sesungguhnya Amirul Mukminin telah menyerahkan kepadamu titian jiwanya dan buah hatinya. Maka bentangkan tanganmu untuknya selapang-lapangnya dan kepadamu dia wajib taat, maka jadikanlah dirimu untuknya sesuai yang diinginkan Amirul Mukminin.

Bacakan untuknya al-Qur’an, ajarkan sejarah, untaikan syair-syair dan ajarkan sunnah. Buatlah ia mampu mengetahui posisi pembicaraan dan permulaannya. Laranglah ia dari tertawa kecuali pada waktunya. Rengkuhlah ia untuk mengagungkan masyaikh Bani Hasyim. Jika mereka datang kepadanya dan meninggikan majelis para pemimpin, jika mereka datang ke majelisnya, jangan sampai ada waktu yang berlalu padamu kecuali kamu telah memberikan faedah baginya tanpa harus membuatnya sedih yang akan mematikan otaknya. Jangan menjauh di waktu lapangnya, sehingga dia merasakan manisnya waktu kosong dan membuatnya terbiasa dengannya. Luruskan ia semampumu dengan cara mendekat dan lembut. Jika dengan dua cara itu dia tetap tidak baik maka gunakan cara yang keras.”

[Ibnu Khaldun dalam Muqaddimah]

“Jika seorang anak ada yang mendampinginya, menujukkan kewajibannya dengan cara hikmah dan nasehat yang baik, mendekatkannya selalu dengan amal, maka tidak diperlukan hukuman keras.”

[M. Athiyah Al Ibrasyi dalam At Tarbiyah Al Islamiyyah sebagaimana dinukil Jamal Abdurrahman dalam Athfalul Muslimin Kaifa Rabbahumun Nabiyyil Amin]

Pendidikan hari ini benar-benar sedang kebingungan dalam menemukan konsepnya dan seringkali hanya merupakan antitesa (sangat bertentangan-ed) dari keadaan atau konsep pendidikan sebelumnya. Setelah sebelumnya dunia barat tenggelam di abad pertengahan dalam kegelapan, dimana memperlakukan anak-anak seperti binatag dan budak, dengan cara yang kasar. Maka mereka sebenarnya sedang memprotes masa lalu mereka sendiri. Akhirnya bermunculanlah konsep pendidikan yang terkesan lembut dan telihat sangat bijak.

Tapi kita sebagai muslim tidak punya masa lalu kelam dalam pendidikan anak. Konsep Islam tak pernah berubah dan berganti karena zaman dan keadaan. Lihatlah dua tokoh diatas yang berbicara tentang konsep pendidikan Islam. Dua tokoh yang terpaut 7 abad (Ibnu Khaldun abad 8 H  sedangkan M. Athiyyah adalah ilmuwan abad ini), memberikan kesimpulan yang sama.

Masalahnya ada pada kita. Kitalah yang berubah dan berganti, karena pergeseran keyakinan. Akhirnya hasil pendidikannya pun bergeser dan berganti. Sangat jauh berbeda dengan hasil pendidikan Islam di masa kebesarannya. Jauh panggang dari api.

Dr Khalid Ahmad Asy Syantut berkata dalam Tarbiyatul Athfal fil Hadits Asy Syarif,:

“Di lingkungan pendidikan barat dan para pengikutnya di dunia Arab dan Islam tersebar pemahaman bahwa pukulan bukan merupakan sarana pendidikan. Tetapi merupakan sarana pendidikan kuno yang telah gagal. Tidak dipakai kecuali oleh guru yang gagal, keras, kasar, menakuti siswa dan membuat mereka tidak mau bersekolah.. Untuk itulah, keluar keputusan kementrian pendidikan di berbagai Negara, larangan menggunakan metode ini dan mengancam guru yang memakainya akan dijatuhi hukuman berat.

Pada abad pertengahan dan abad kejatuhan, pukulan ini diterapkan dengan cara yang tidak tepat dan berlebihan. Hingga wajah para guru menakutkan bagi anak-anak. Maka aturan pendidikan hari ini datang sebagai antitesa zaman itu.

Pukulan dalam al-Qur’an adalah sarana pendidikan!”

Pendidikan Islam dibangun atas kelembutan, hikmah, nasehat baik dan jika harus diskusi mengunakan cara yang baik. Sebagaimana ayat,

 ادْعُ إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ

Serulah (manusia) kepada jalan Rabb-mu dengan hikmah. [QS An Nahl : 125]

Bahkan Ummul Mu’min Aisyah radhiallāhu ‘anha pernah menyampaikan,

Rasūlullāh shallallāhu ‘alaihi wa sallam sama sekali tidak pernah memukul apapun dengan tangannya, tidak juga perempuan dan pembantu, kecuali sedang berjihad fi sabilillah. Beliau juga tidak pernah membalas orang yang mengejeknya, kecuali jika ada aturan Allāh tabāraka wa ta’āla yang dilanggar, maka Beliau membalas karena Allāh tabāraka wa ta’āla.”

[HR. Ibnu Hibban, Abu Ya’la dan Ibnu Asakir, dishahihkan oleh Al-Albani]

Hadits itu shahih dan harus dijadikan landasan dalam hidup kita. Tetapi mari kita hentikan kebiasaan menyimpulkan dan mengambil keputusan hukum dengan hanya melihat satu atau sebagian dalil. Karena umat ini akan tergiring dalam kesimpulan yang menyesatkan.

DR.Said bin Ali Al Qohthani dalam Al Hadyu An Nabawi fi Tarbiyatil Aulad membimbing kita,

“Tapi jika kelembutan dan kasih sayang tidak bermanfaat, maka pendidikan yang hikmah adalah meletakkan sesuatu pada tempatnya dengan tepat dan professional tanpa menambah dan mengurangi.

Seorang pendidik seperti dokter dalam mengobati penyakit dan pasien. Di antara penyakit ada yang memerlukan perlindungan dimana pasien dilarang memakan makanan tertentu. Di antara penyakit ada yang memerlukan obat dosis ringan. Tapi ada penyakit yang memerlukan pengobatan kay dengan api. Bahkan ada yang memerlukan proses operasi bagi si pasien jika tidak ada lagi pengobatan yang lainnya. Maka hal itu digunakan saat diperlukan. Dengan mematuhi persyaratan dan kaidah-kaidah syariat. Dan dalil dari al-Qur’an dan Sunnah mengizinkan ta’dib dengan kekuatan saat diperlukan.”

Bahkan DR. Said bin Ali mencantumkan 32 dalil dari Al Qur’an dan Sunnah yang menjelaskan secara umum dan khusus tentang hukuman dan pendidikan. Semua ini untuk menunjukkan dengan sangat gamblang, terang dan tidak meragukan bahwa Islam mengizinkan hukuman dalam pendidikan!

Kaidah-kaidah hukuman dalam pendidikan Islam

“Tujuan hukuman dalam pendidikan Islam adalah memberikan arahan dan perbaikan, bukan balas dendam dan pemuasan diri. Untuk itulah harus diperhatikan kebiasaan anak dan karakternya sebelum menghukumnya, memotivasi anak untuk berusaha memahami dan memperbaiki kesalahannya, untuk kemudian kesalahan tersebut dimaafkan setelah diperbaiki.”

[Jamal Abdurrahan dalam Athfalul Muslimun Kaifa Rabbahumun Nabiyil  Amin]

Dikarenakan hukuman ibarat obat, maka harus  dijelaskan dosisnya dengan detail dan teliti. Jika dosisnya kurang maka penyakit tidak sembuh dan jika dosisnya kebanyakan maka bisa membahayakan pasien. Untuk itulah, kita semua harus mengetahui kaidah-kaidah hukuman yang merupakan dosisnya, sebagaimana yang diajarkan dalam al-Qur’an dan Sunnah.

Berikut ini 11 kaidah hukuman (diambil dari berbagai buku pendidikan Islam yang disimpulkan dari berbagai ayat dan hadits Nabi shallallāhu ‘alaihi wa sallam) dalam pendidikan islam:

  1. Kelembutan dan pendekatan harus dilakukan terlebih dahulu sebelum hukuman
  2. Hukuman dengan pukulan merupakan hukuman terberat. Maka metode ini tidak boleh dipakai kecuali jika semua upaya tak lagi berguna.
  3. Menggantungkan cambuk adalah perintah Nabi

    “Dari Ibnu Abbas radhiallāhu ‘anhu dan ia memarfu’kannya kepada Nabi shallallāhu ‘alaihi wa sallam: Gantungkanlah cambuk yang bisa dilihat oleh semua anggota keluarga, karena itu sebagai adab bagi mereka.”

    [HR. Ath Thabrani dalam Al Mu’jam Al Kabir, dihasankan oleh Al Haitsami dalam Majma’ Az Zawaid dan Al Albani dalam Silsilah Al Hadits Ash Shohihah]

    Dalam riwayat lain,

    “Jangan kamu angkat tongkatmu dari mereka dan takut-takutilah karena Allah Azza wa Jalla.”

    [HR. Al Baihaqi, Ibnu Asakir dan Abd bin Humaid]

  4. Jika kesalahan terjadi, maka berikut ini beberapa bentuk teguran sebelum pukulan sebagai solusi terakhir:
    • Nasehat dan petunjuk, Rasulullah memberi nasehat dan petunjuk bagi Umar bin Abi Salamah,

      يَا غُلاَمُ سَمِّ الله ، وَكُل بِيَمِينِكَ، وَكُل مِمَّا يَلِيكَ

      “Hai Nak, sebutlah nama Allāh tabāraka wa ta’āla, makanlah dengan tangan kananmu dan makanlah yang ada di hadapanmu.” [Mutafaq ‘Alaih]

    • Berpaling darinya, Rasūlullāh shallallāhu ‘alaihi wa sallam jika melihat dari salah satu keluarganya ada sebab dusta, beliau terus berpaling darinya hingga ia bertaubat.”

      [Lihat shahih Jami’ Ash Shagir,Al Albani]

    • Ekspresi wajah, Ekspresi yang menunjukkan ketidak senangan atas perbuatan itu.
    • Teguran lisan, Seperti teguranRasūlullāh shallallāhu ‘alaihi wa sallam kepada Hasan yang memakan kurma shadaqah,

      أَمَا شَعَرْتَ أَنَّا لاَ نَأْكُلُ الصَّدَقَةَ

      “Buanglah!, tidakkah kamu tahu kalau kita tidak memakan shadaqah.” [HR. Muslim]

    • Menghentikan perbuatan, Rasūlullāh shallallāhu ‘alaihi wa sallam meminta orang yang berkali-kali bertahak/mengeluarkan suara karena kekenyangan (bersendawa-ed) untuk mengentikan perbuatannya itu,

      كفّ عنا جُشاءك ، فإنَّ أكثرهم شبعاً في الدنيا أطولُهم جوعاً يوم القيامة

      “Hentikan dari majelis kami suara tahakmu (bersendawamu -ed), karena orang yang paling banyak kenyang di dunia adalah orang yang paling panjang laparnya di hari kiamat.”

      [HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah, Tirmidzi berkata: Hasan Gharib]

    • Menjauhinya, Jika diperlukan seorang orang tua atau pendidik bisa menjauhinya sebagai bentuk hukuman. Tetapi dengan catatan tidak boleh lebih dari 3 hari. Sesuai dengan petunjuk Nabi shallallāhu ‘alaihi wa sallam,

      لَا هِجْرَةَ بَعْدَ ثَلَاثٍ

      “Tidak halal bagi seorang muslim menjauhi saudaranya lebih dari 3 hari.”

      [HR. Bukhari dan Muslim]

    • Menjewer, Nabi pernah menjewer anak-anak di zaman beliau; Abdullah bin Busr dan Nu’man bin Basyir dalam kasus pelajaran amanah anggur. Bahkan disertai dengan kalimat: Wahai anak yang tidak amanah!

  5. Hukuman tidak boleh menjatuhkan kemuliaan diri sebagai manusia
  6. Hukuman tidak boleh sering dilakukan, karena akan membuat anak justru semakin bertambah bodoh dan beku
  7. Beri kesempatan pada kesalahan pertama untuk memperbaiki
  8. Jangan mengancam dengan sebuah hukuman jika tidak dilaksanakan
  9. Jaga lisan saat menghukum
  10. Yang menghukum harus langsung orang tuanya atau gurunya, tidak boleh diserahkan kepada saudaranya atau temannya
  11. Jika semua hukuman sudah tidak bisa lagi memperbaiki, maka hukuman terakhir berupa pukul atau sabet bisa dilaksanakan dengan memperhatikan beberapa syarat berikut:
  • Sebelum dipukul, wajib dijelaskan sebab hukuman tersebut dengan menjelaskan perbuatan benar yang tidak akan menyebabkan hukuman pukulan
  • Anak-anak tidak boleh dipukul sebelum berusia 10 tahun
  • Untuk kesalahan sebesar kesalahan meninggalkan shalat. Di bawah itu, tentu tidak dipukul dengan cara yang sama dengan meninggalkan shalat
  • Tidak dipukul lebih dari 10 kali
  • Pukulan tidak boleh membekas di kulit
  • Alat pukulnya sedang, tidak terlalu lembek dan tidak terlalu keras
  • Pukulan diberikan di beberapa bagian badannya, tidak di satu tempat
  • Berikan jeda dari satu pukulan ke pukulan berikutnya, agar rasa sakitnya mereda terlebih dahulu
  • Tidak boleh memukul wajah, kepala dan kemaluan. Lebih baik pukulan di kaki atau tangan
  • Guru tidak boleh memukul saat marah, karena guru itu mendidik bukan membalas
  • Hentikan pukulan jika anak berlindung kepada Allāh tabāraka wa ta’āla

Semoga tulisan tentang 11 Kaidah Hukuman Dalam Pendidikan Islam ini bermanfaat bagi penulis pribadi dan pembaca sekalian.Wa akhiru da’wanā anilhamdulillāhi  rabbil ālamīn

Wallāhu a’lam
Wabillāhittaufiq.

Baca pula: Peran Ayah dalam Pendidikan Anak | Ketika Mengajak Anak ke Masjid | Menyikapi Anak yang tidak Menghormati Orang Tuanya

Referensi:

  1. Ibnu Khaldun dalam Mukaddimahnya
  2. Jamal Abdurrahman dalam Athfalul Muslimin Kaifa Rabbahumun Amin
  3. Sa’id bin Ali bin Wahf Al Qathani dalam Al Hadyu An Nabawi fi Tarbiyatil Aulad
  4. Khalid Ahmad Asy Syantut dalam Tarbiyatul Athfal fil Hadits Asy Syarif
  5. Hamd Hasan Roqith dalam Kaifa Nurobbi Abaana TarbiyahSholihah
  6. Yusuf Muhammad Al Hasan Al Wajiz fit Tarbiyah
  7. Adnan Baharits dalam Masuliyyah Al Abb Al Muslim fi Tarbiyatil Walad fi Marhalah Ath Thufulah

Ditulis Oleh:
Ustadz Abu Rufaydah, Lc., MA. حفظه الله
(Kontributor Bimbinganislam.com)



Ustadz Abu Rufaydah, Lc., MA. حفظه الله
Beliau adalah Pengasuh Yayasan Ibnu Unib Cianjur dan website cianjurkotasantri.com
Untuk melihat artikel lengkap dari Ustadz Abu Rufaydah, Lc., MA.حفظه الله  
klik disini

CATEGORIES
Share This

COMMENTS