Jarang Sholat, Suka Maksiat, Rajin Sholawat, Rezeki Lancar, Bagaimana Pandangan Islam bimbingan islam
Jarang Sholat, Suka Maksiat, Rajin Sholawat, Rezeki Lancar, Bagaimana Pandangan Islam bimbingan islam

Jarang Sholat, Suka Maksiat, Rajin Sholawat, Rezeki Lancar, Bagaimana Pandangan Islam?

Para pembaca Bimbinganislam.com yang memiliki akhlaq mulia berikut kami sajikan tanya jawab, serta pembahasan tentang jarang sholat, suka maksiat, rajin sholawat, rezeki lancar, bagaimana pandangan islam?
selamat membaca.

Pertanyaan :

بِسْـمِ اللّهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْم

اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ

Semoga Allah senantiasa memberikan nikmat dan rahmat-Nya kepada ustadz dan keluarga, aamiin.

Titip pertanyaan dari sahabat BiAS.
Kami minta penjelasan, ada orang yang jarang sholat, suka maksiat, tapi gemar shalawat, rezeki lancar, apa itu mempengaruhi soal rejeki?
Jazakallahu Khayran untuk jawabannya

(Disampaikan oleh Fulan, anggota grup BiAS)


Jawaban :

وَعَلَيْكُمُ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ

بِسْـمِ اللّهِ

Alhamdulillah, wa laa haula wa laa quwwata illaa billaah, wash shalaatu was salaamu ‘alaa rasulillaah, Amma ba’du.

Alangkah baiknya jika pertanyaannya dirubah, bukan apakah mempengaruhi soal rezeki tapi apakah penghasilannya baik dan berkah?
Sebab apa gunanya penghasilan besar tapi tidak bermanfaat karena tidak berkah. Perhatikan sabda Nabi sholallohu ‘alaihi wasallam,

إِذَا رَأَيْتَ اللهَ تَعَالَى يُعْطِي الْعَبْدَ مِنَ الدُّنْيَا مَا يُحِبُّ وَهُوَ مُقِيمٌ عَلَى مَعَاصِيْهِ فَإِنَّمَا ذَلِكَ مِنهُ اسْتِدْرَاجٌ

“Bila kamu melihat Alloh memberi seorang hamba (kenikmatan) dunia yang diinginkannya, padahal dia terus berada dalam kemaksiatan kepada Alloh, maka sejatinya hal itu adalah istidroj (kenikmatan yang disegerakan oleh Alloh hingga tak memiliki sisa kenikmatan lagi setelahnya)”
[HR Ahmad 4/145]

Baca:  Menyikapi Orang yang Suka Ghibah

Dalam hadits yang lain dari sahabat ‘Uqbah bin ‘Amir rodhiallohu ‘Anhu, Nabi sholallohu ‘alaihi wasallam bersabda:

إِذَا رَأَيْتَ اللهَ يُعْطِي الْعَبْدَ مِنَ الدُّنْيَا عَلَى مَعَاصِيهِ مَا يُحِبُّ، فَإِنَّمَا هُوَ اسْتِدْرَاجٌ ” ثُمَّ تَلَا رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ( فَلَمَّا نَسُوا مَا ذُكِّرُوا بِهِ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ أَبْوَابَ كُلِّ شَيْءٍ حَتَّى إِذَا فَرِحُوا بِمَا أُوتُوا أَخَذْنَاهُمْ بَغْتَةً فَإِذَا هُمْ مُبْلِسُونَ ) الأنعام : 44

“Bila kamu melihat Alloh memberi seorang hamba (kenikmatan) dunia padahal dia suka bermaksiat, maka sejatinya hal itu hanyalah istidroj belaka,
lalu Rosululloh membaca: ‘Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kamipun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, Maka ketika itu mereka terdiam berputus asa’ (Al An’am: 44)”
[HR Ahmad 17311]

Syaikh As Sa’di menjelaskan tentang ayat yang dibaca oleh Rosululloh shollalohu ‘alaihi wasallam diatas,
“Ketika mereka melupakan peringatan Alloh yang diberikan pada mereka, maka dibukakanlah berbagi pintu dunia dan kelezatannya, mereka pun lalai. Sampai mereka bergembira dengan apa yang diberikan pada mereka, akhirnya Alloh menyiksa mereka dengan tiba-tiba.
Mereka pun berputus asa dari berbagai kebaikan. Seperti itu lebih berat siksanya. Mereka terbuai, lalai, dan tenang dengan keadaan dunia mereka. Namun itu sebenarnya lebih berat hukumannya dan jadi musibah yang besar”
(Tafsir As-Sa’di 260).

Baca:  Bagaimana Agar Tidak Tergesa-gesa Dalam Semua Hal?

Alloh ta’ala juga berfirman dalam ayat yang lain

فَإِذَا مَسَّ ٱلۡإِنسَٰنَ ضُرّٞ دَعَانَا ثُمَّ إِذَا خَوَّلۡنَٰهُ نِعۡمَةٗ مِّنَّا قَالَ إِنَّمَآ أُوتِيتُهُۥ عَلَىٰ عِلۡمِۢۚ بَلۡ هِيَ فِتۡنَةٞ وَلَٰكِنَّ أَكۡثَرَهُمۡ لَا يَعۡلَمُونَ

“Maka apabila manusia ditimpa bahaya ia menyeru Kami, kemudian apabila Kami berikan kepadanya nikmat dari Kami ia berkata, “Sejatinya aku diberi nikmat itu hanyalah karena kepintaranku”. Sejatinya itu adalah ujian tetapi kebanyakan mereka itu tidak mengetahui”
(QS Az-Zumar 49)

Tertulis dalam Tafsir Al Muyassar tentang ayat Az-Zumar 49 ini

ولكن أكثرهم – لجهلهم وسوء ظنهم – لا يعلمون أن ذلك استدراج لهم من الله وامتحان لهم على شكر النعم

“Tetapi kebanyakan manusia – karena kebodohan dan buruknya prasangka mereka – tidak mengetahui bahwa hal itu adalah istidroj dari Alloh dan ujian bagi mereka agar mensyukuri nikmat”
(Tafsir Al Muyassar, 1/464)

Semua dalil diatas telah jelas menerangkan, bahwa jika ada seorang hamba yang gemar bermaksiat tapi diberi nikmat dunia oleh Alloh maka itu adalah istidroj, apalagi jika kemaksiatannya itu adalah meninggalkan yang wajib yakni sholat. Sangat jelas istidroj nya.

Baca:  Menggabungkan Qurban Dengan Aqiqah

Nabi sholallohu ‘alaihi wasallam menjelaskan vitalnya sholat bagi seorang muslim karena memang sholat adalah pembeda antara muslim dengan kafir,

بَيْنَ الرَّجُلِ وَبَيْنَ الشِّرْكِ وَالْكُفْرِ تَرْكُ الصَّلاَةِ

“(Pembeda) antara seorang muslim dan kesyirikan serta kekufuran adalah meninggalkan sholat”
[HR Muslim 257]

Sampai disini cukuplah bagi kita untuk mengetahui buruknya meninggalkan sholat, walaupun diisi dengan sholawat sepanjang waktu, namun itu bukanlah bukti cinta kepada Rosululloh sholallohu ‘alaihi wasallam, dan jika diniatkan untuk memperlancar rezeki maka ketahuilah bahwa yang akan didapatkannya bukanlah rezeki melainkan istidroj.

Wallahu A’lam,
Wabillahittaufiq.

 

Dijawab dengan ringkas oleh:
Ustadz Rosyid Abu Rosyidah حفظه الله
Kamis, 26 Jumadal Akhirah 1441 H/ 20 Februari 2020 M



Ustadz Rosyid Abu Rosyidah حفظه الله
Beliau adalah Alumni STDI IMAM SYAFI’I Kulliyyatul Hadits, dan Dewan konsultasi Bimbingan Islam,
Untuk melihat artikel lengkap dari Ustadz Rosyid Abu Rosyidah حفظه الله  
klik disini