Ketika Mengajak Anak ke Masjid

Ketika Mengajak Anak ke Masjid

BEBERAPA CATATAN PENTING
KETIKA MENGAJAK ANAK KE MASJID

     Mengajak anak-anak ke masjid adalah bagian dari pendidikan. Selain menanamkan kepada anak-anak untuk mencintai tempat-tempat ibadah juga mengajari mereka untuk menghormati orang lain, bersikap tenang, tidak menggangu orang lain, tidak bermain, belajar berkomunikasi dengan orang-orang di luar rumah, dan juga akan bermanfaat bagi si anak untuk mengenal lingkungan sekitar. Hikmah lain yaitu untuk membiasakan mereka dalam ketaatan dan menghadiri shalat jamaah, mulai sejak kecil, karena sesungguhnya pemandangan-pemandangan yang mereka lihat dan dengar saat di masjid -seperti: dzikir, bacaan Al Qur’an, takbir, tahmid, dan tasbih- itu memiliki pengaruh yang kuat dalam jiwa mereka, tanpa mereka sadar. Pengaruh tersebut, tidak akan -atau sangat sulit- hilang saat mereka dewasa dan memasuki perjuangan hidup dan gemerlap dunia. Banyak hadits yang menerangkan tentang kehidupan Nabi bersama anak-anak di masjid. Diantaranya hadits-hadits sebagai berikut:

  1. Menggendong Anak ketika Shalat

    Abu Qatadah Radhiyallahu ‘anhu mengatakan: Ketika kami sedang duduk-duduk di masjid, RasulullahShallallahu alaihi wasallam– muncul ke arah kami sambil menggendong Umamah binti Abil Ash, ibunya adalah Zainab binti Rasulullah, ketika itu Umamah masih kecil (belum disapih), beliau menggendongnya di atas pundak, kemudian Rasulullah mengerjakan shalat, sedang Umamah masih di atas pundak beliau, apabila rukuk beliau meletakkan Umamah, dan apabila berdiri beliau menggendongnya kembali, beliau melakukan yang demikian itu hingga selesai shalatnya. (HR. Abu Daud no. 783, An-Nasa’i no. 703 dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani rahimahumullah)

  2. Meringankan Bacaan ketika Mendengar Tangisan Anak

     Anas Radhiallahu ‘anhu mengatakan:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يَسْمَعُ بُكَاءَ الصَّبِيِّ مَعَ أُمِّهِ وَهُوَ فِي الصَّلَاةِ فَيَقْرَأُ بِالسُّورَةِ الْخَفِيفَةِ أَوْ بِالسُّورَةِ الْقَصِيرَةِ

     Rasulullah –Shallallahu ‘alaihi wasallam– pernah mendengar tangisan seorang anak kecil bersama ibunya, sedang beliau dalam keadaan shalat, karena itu beliau membaca surat yang ringan, atau surat yang pendek. (HR. Muslim no. 722)

     Anas bin Malik Radhiyallahu ‘anhu mengatakan: Rasulullah –Shallallahu alaihi wasallam – bersabda:

إِنِّي لَأَدْخُلُ الصَّلَاةَ أُرِيدُ إِطَالَتَهَا فَأَسْمَعُ بُكَاءَ الصَّبِيِّ فَأُخَفِّفُ مِنْ شِدَّةِ وَجْدِ أُمِّهِ بِهِ

   Sungguh aku pernah memulai shalat yang ingin ku panjangkan, lalu karena kudengar tangisan seorang anak kecil, maka kuringankan (sholat tersebut), karena (aku sadar) kegusaran ibunya terhadapnya”. (HR. Al-Bukhari no. 666 dan Muslim no. 723)

   3. Berhenti Berkhutbah untuk Menyambut Anak

     Buraidah mengatakan: Suatu saat Nabi –Shallallahu ‘alaihi wasallam– berkhutbah, lalu datanglah Hasan dan Husain Radhiyallahu ‘anhuma yang memakai baju merah, keduanya berjalan tertatih-tatih dengan baju tersebut, maka beliau pun turun (dari mimbarnya) dan memotong khutbahnya, lalu beliau menggendong keduanya dan kembali ke mimbar, lalu beliau mengatakan:

صَدَقَ اللَّهُ ( إِنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلَادُكُمْ فِتْنَةٌ) رَأَيْتُ هَذَيْنِ يَعْثُرَانِ فِي قَمِيصَيْهِمَا فَلَمْ أَصْبِرْ حَتَّى قَطَعْتُ كَلَامِي فَحَمَلْتُهُمَا

      “Maha benar Allah dalam firman-Nya: ‘Sungguh harta-harta dan anak-anak kalian itu adalah fitnah (cobaan)’, aku melihat kedua anak ini tertatih-tatih dengan bajunya, maka aku tidak sabar, hingga aku memotong khutbahku, lalu aku menggendong keduanya.” (HR. An-Nasa’i no. 1396, Ibnu Majah no. 5390 dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani rahimahumullah).

  4. Shalat bersama Anak

     Abu Bakrah Radhiallahu ‘anhu mengatakan: Sungguh Rasulullah –Shallallahu ‘alaihi wa sallam– suatu ketika pernah shalat, jika beliau sujud, Hasan melompat ke atas punggung dan leher beliau, maka beliau pun mengangkatnya dengan lembut agar dia tidak tersungkur (jatuh). Beliau melakukan hal itu tidak hanya sekali. Maka seusai beliau mengerjakan shalatnya, para sahabatnya bertanya: “Wahai Rasulullah, kami tidak pernah melihat engkau memperlakukan Hasan sebagaimana engkau memperlakukannya (hari ini).” Beliau menjawab:

إِنَّهُ رَيْحَانَتِي مِنْ الدُّنْيَا وَإِنَّ ابْنِي هَذَا سَيِّدٌ وَعَسَى اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى أَنْ يُصْلِحَ بِهِ بَيْنَ فِئَتَيْنِ مِنْ الْمُسْلِمِينَ

     “Dia adalah permata hatiku dari dunia, dan sungguh anakku ini adalah sayyid (seorang pemimpin), semoga dengannya Allah tabaroka wa ta’ala mendamaikan dua kelompok kaum muslimin (yang bertikai)”. (HR. Ahmad no. 19611 dengan sanad yang jayyid).

  5. Menuntaskan keinginan Anak

     Syaddad Radhiyallahu ‘anhu mengatakan: Suatu ketika Rasulullah –Shallallahu alaihi wasallam– pernah datang kepada kami dalam salah satu shalat fardhu malam (maghrib atau isya’), sambil menggendong Hasan atau Husain, lalu Rasulullah –Shallallahu alaihi wasallam– maju ke depan (untuk mengimami), beliau pun menurunkannya (Hasan atau Husain), lalu bertakbir untuk memulai shalatnya, di tengah-tengah shalatnya beliau sujud dengan sujud yang panjang.

    Syaddad mengatakan: maka aku pun mengangkat kepalaku, dan ternyata ada anak kecil (Hasan atau Husain) di atas punggung Rasulullah yang sedang sujud, lalu aku kembali sujud. Setelah Rasulullah menyelesaikan shalatnya, para sahabatnya bertanya: Wahai Rasulullah, sungguh engkau telah bersujud dengan sujud yang panjang di tengah-tengah shalatmu, sehingga kami mengira terjadi sesuatu, atau ada wahyu yang turun kepadamu? Beliau menjawab:

كُلُّ ذَلِكَ لَمْ يَكُنْ وَلَكِنَّ ابْنِي ارْتَحَلَنِي فَكَرِهْتُ أَنْ أُعَجِّلَهُ حَتَّى يَقْضِيَ حَاجَتَهُ

     Bukan karena itu semua, akan tetapi cucuku (Hasan atau Husain) menunggangiku, dan aku tidak ingin segera menyudahinya sampai ia puas dengan keinginannya. (HR. An-Nasa’I no. 1129, Al-Hakim no. 4759 dan dishahihkannya serta disepakati oleh Adz-Dzahabi)

Ringkasan

  • Diperbolehkan bagi seorang yang shalat dengan menggendong anak ketika shalat, baik ketika sebagai imam, makmum, maupun ketika shalat sendirian.

  • Dianjurkan bagi imam untuk meringankan shalat jamaah ketika terdengar jeritan anak kecil.

  • Seorang khatib dibolehkan menghentikan khutbahnya ketika anaknya mengalami suatu kesulitan atau perlu bantuan di hadapannya.

  • Dianjurkan untuk menyelesaikan urusan anak sebelum dibawa ke masjid agar tidak rewel meminta sesuatu ataupun yang lain.

Wallahu Ta’ala A’lam

Ditulis Oleh:
Ustadz Abu Rufaydah, Lc., MA. حفظه الله
(Kontributor Bimbinganislam.com)

 

CATEGORIES
Share This

COMMENTS