Ustadz Ammi Nur Baits – Pemimpin Kafir Ujian Kaum Muslimin

Bismillāhirrahmānirrahīm
Assalāmu’alaikum warahmatullāhi wabarakātuh
Alhamdulillāh, washshalātu wassalāmu ‘alā rasūlillāh, wa ‘alā ālihi wa ash hābihi ajma’in. ‘Amma ba’d
Alhamdulillāh, sudah hadir link download audio dan ringkasan kajian ‘’Pemimpin Kafir = Ujian Bagi Kaum Muslimin??’’ bersama oleh Ustadz Ammi Nur Baits hafizhahullah pada Hari Kamis, 26 Jumadal Ula 1438 H | 22 Februari 2017 pada pukul 20.00 WIB sd selesai bertempat di Masjid Al Muhibbah Wonocatur Jogjakarta ( https://goo.gl/maps/p8aQUYhS74t ) dan disiarkan langsung di bimbinganislam.com/live .
Silakan Download audio kajian di atas pada tombol di bawah ini
Berikut poin-poin ringkasan kajian yang disampaikan :
- Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah pernah berdoa,“Allahumma amitna ‘alal Islam was Sunnah” (Ya Allah, wafatkan aku di atas Islam dan Sunnah).
- Penyakit ummat adalah Khawarij, yang disebut oleh Nabi sebagai anjing-anjing neraka. Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam, beliau bersabda,
أنهم كلاب أهل النار
“Bahwasanya mereka adalah anjing-anjing penghuni Neraka.” (HR. Tirmidzi 3000 beliau menghasankannya, Ibnu Majah 176. Ahmad 5/352 dan dishohehkan Hakim 2/163)
- Merupakan sunnatullah bahwa akan ada sekelompok pemimpin yang membuat kalian gemetaran dan ada pemimpin yang akan membuat kalian tenang.
- Allāh Subhānahu wa Ta’ālā berfirman,
وَكَذَلِكَ نُوَلِّي بَعْضَ الظَّالِمِينَ بَعْضًا بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ
“Dan demikianlah kami jadikan sebagian orang yang zalim sebagai pemimpin bagi sebagian yang lain disebabkan amal yang mereka lakukan.” (Qs Al An’am: 129).
Pemimpin kafir dan zhalim adalah cerminan dari rakyatnya oleh sebab dosa yang diperbuat rakyatnya (kufur, zhalim).
Dan juga Allāh Subhānahu wa Ta’ālā berfirman,
وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ
Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allâh memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu) [As-Syûra/42:30]
- Prinsip kaum khawarij dan mutazilah adalah sama yakni pemimpin harus ideal dan jika tidak maka menegakkan amar maruf nahi munkar dengan melengserkan pemimpin tersebut.
- Nabi Ibrahim alaihis shalatu was salam,
رَبَّنَا لَا تَجْعَلْنَا فِتْنَةً لِلَّذِينَ كَفَرُوا وَاغْفِرْ لَنَا رَبَّنَا إِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ
“Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan kami sebagai fitnah bagi orang-orang kafir. Dan ampunilah kami ya Tuhan kami..” (QS. al-Mumtahanah)
Ibnu Katsir meriwayatkan tafsir ayat ini, dari Ali bin Abu Thalhah, dari Ibnu Abbas
“Jangan Engkau beri kekuasaan kepada mereka atas kami. Sehingga mereka bisa menyiksa kami.” (Tafsir Ibnu Katsir, 8/88)
Termasuk ciri ‘Ibaddurahman, sebagaimana disebutkan dalam QS Al Furqon, ialah berdoa supaya dijadikan pemimpin dari orang yang bertakwa.
Maknanya, ialah agar Allāh Subhānahu wa Ta’ālā menjadikannya mengikuti orang yang bertakwa yakni mengikuti kebenaran dan yang akan diikuti generasi berikutnya.
- Apabila suatu kaum Ahlul Tauhid maka pemimpinnya Ahlul Tauhid, sementara itu pemimpin zhalim bagi orang zhalim lainnya karena sebab perbuatan maksiat mereka.
Termasuk prinsip dalam masalah kepemimpinan menurut para Ulama, Pemimpin kalian adalah potret amalan kalian.
- Fir’aun digelari para Ulama sebagai manusia paling kejam dan paling jelek karena mengaku sebagai Rabb.
Dalam (Tarikh Baghdad : jilid. 5/ hal. 379) disebutkan kisah Abu Bakar Al-Baqilani, seorang ulama besar di masanya. Raja Irak kala itu memilih dan mengutus beliau pada tahun 381 untuk berdebat dengan kaum nasrani di Konstantinopel.
Ketika Raja Romawi mendengar berita kedatangan Abu Bakar Al-Baqilani, ia memerintahkan kepada para punggawanya untuk memperpendek ketinggian pintu.
Agar Al-Baqilani terpaksa merundukkan kepala dan badannya ketika masuk seperti orang yang sedang rukuk. Sehingga ia akan terhina di hadapan raja romawi dan para punggawanya.
Ketika Al-Baqilani mengetahui siasat ini, ia membalikkan badannya lalu berjalan masuk ke pintu dengan membelakangi raja romawi dan para punggawanya.
Dari sini Raja Romawi menyadari bahwa saat itu ia sedang berhadapan dengan seorang ulama besar yang cerdik cendekia.
Al-Baqilani masuk sembari menanyakan kabar dengan tanpa mengucapkan salam dikarenakan adanya larangan dari Rasūlullāh Muhammad shallallāhu ‘alayhi wa sallam dari memulai mengucapkan salam kepada orang yahudi dan nasrani.
Kemudian beliau menoleh kepada Pendeta Yang Diagungkan sambil bertanya : ‘’Bagaimana kabarmu, kabar keluargamu dan juga anak-anakmu?’’
Raja Romawi murka lantas berteriak : ‘’Tidakkah engkau tahu bahwa para pendeta kami tidak menikah dan tidak memiliki anak?’’
Abu Bakar Al-Baqilani berkata : ‘’Allahuakbar … … … Kalian mensucikan pendeta kalian dari pernikahan dan dari menghasilkan anak, kemudian kalian menuduh Tuhan kalian menikahi Maryam dan memiliki anak Isa?’’
Bertambahlah kemurkaan Raja Romawi dan ia berkata dengan penuh kemarahan : ‘’Apa yang kamu katakan tentang tuduhan zina yang dialamatkan kepada Aisyah?’’
Al-Baqilani berkata : ‘’Jika Aisyah dituduh berzina, yang menuduhnya adalah rafidhah dan kaum munafiqin. Demikian pula Maryam dituduh berzina oleh yahudi. Namun perbedaanya, Aisyah menikah dan tidak melahirkan, sedang Maryam melahirkan dengan tanpa pernikahan. Jadi mana yang lebih berhak mendapatkan tuduhan kebatilan itu ? dan mustahil keduanya melakukan tuduhan itu -semoga Allah meridhai keduanya-.’’
Menjadi marahlah kepala Raja Romawi mendengarnya, ia lantas bertanya : ‘’Apakah nabi kalian berperang?’’
Jawab : ‘’iya’’
Apakah ia berperang di barisan terdepan?
Jawab : : ‘’iya’’
Apakah ia menang?
Jawab : : ‘’iya’’
Apakah terkadang ia juga kalah?
Jawab : : ‘’iya’’
Raja Romawi tersenyum penuh kemenangan : ‘’Aajiiiibbb … nabi bisa kalah perang..!!’’
Abu Bakar Al-Baqilani menyahut : ;;Tuhan kok disalib.’’
Lantas terbungkamlah mulut orang-orang kafir itu.
- Abdul Mâlik bin Marwan rahimahullah juga pernah berkata,
‘Wahai rakyatku! Sungguh kalian tidak berlaku adil pada kami. Kalian menuntut kami berlaku seperti Abu Bakr dan Umar bin Khatthab Radhiyallahu anhuma akan tetapi kalian tidak berlaku seperti keduanya. Kami memohon kepada Allâh agar setiap individu saling membantu.’
- ‘Abidatu as-Salmaini berkata kepada Ali bin Abi Thâlib Radhiyallahu anhu,
“Wahai Amirul Mukminin! Apakah gerangan Abu Bakr dan Umar Radhiyallahu anhuma, kenapa semua rakyat tunduk dan patuh kepada keduanya? Wilayah kekuasaan yang semula lebih sempit dari satu jengkal lalu meluas dalam kekuasaan mereka?
Lalu saat engkau dan Utsman menggantikannya posisi keduanya, rakyat tidak lagi tunduk dan patuh terhadap kalian berdua, sehingga kekuasaan yang luas ini menjadi sempit buat kalian?
Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu anhu menjawab,
“Karena rakyat mereka berdua adalah orang-orang yang seperti aku dan Utsman, sementara rakyatku sekarang adalah kamu dan orang-orang yang sepertimu.”
- Kitab yang direkomendasikan untuk dipelajari terkait hubungan rakyat dengan pemerintah ialah Kitab Mu’amalatul Hukkam karya Syaikh Abdussalam Barjas, bisa didownload di di . Bimbinganislam.com telah menghadirkan channel telegram terkait pembahasan kitab tersebut di link .
Wallahu a’lam
Semoga bermanfaat.
“Barangsiapa menunjukkan kepada kebaikan, maka ia mendapatkan pahala sebagaimana orang yang melakukan.”[HR. Muslim, 3509]
Jazakumullohu Khoiron wa Barokallohu Fiikum
——————————
Dukung terus dakwah sunah Bimbingan Islam!!!
Salurkan donasi terbaik Anda di :
| Bank Mandiri Syariah | Kode Bank : 451
| No. Rek : 710-3000-507
| A.N : YPWA Bimbingan Islam
Konfirmasi Transfer Via WA/SMS & Informasi ; 0811-280-0606 (BIAS CENTER 06)
AKUN SOSIAL MEDIA BIMBINGAN ISLAM (BiAS)
Klik di bawah ini untuk mengikuti akun Sosial Madia BiAS