Adab & AkhlakMuamalah

Sudah Taat Tapi Tetap Sengsara

Pendaftaran AISHAH Online Angkatan 2

Sudah Taat Tapi Tetap Sengsara

Para pembaca Bimbinganislam.com yang memiliki akhlaq mulia berikut kami sajikan pembahasan seseorang yang sudah mencaoba taat tapi tetap mendapat cobaan dan sengsara. Selamat membaca.


Pertanyaan:

Assalamu’alaykum. Afwan saya mau tanya tentang hadits yang isinya kurang lebih “barang siapa yang menjadikan akhirat sebagai tujuan terbesar hidupnya maka dunia akan tunduk dalam keadaan terhina”.

Terus ada lagi hadits yang mengatakan ‘barang siapa yang meninggalkan sesuatu karena Allah, maka Allah akan mengganti dengan yang lebih baik’. Sudah 7 tahun ini saya berusaha menerapkan hadith tersebut, hidup saya malah gak karuan. Banyak musibah dll. Apa yang harus saya lakukan?

(Ditanyakan oleh Sahabat BIAS via Instagram Bimbingan Islam)


Jawaban:

Sudah Taat Tapi Sengsara

Bismillah.

Hadits yang Anda maksud adalah hadits dari sahabat Zaid bin Tsabit rodhiallohu ‘anhu

سَمِعْنَا رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول : مَنْ كانت الدنيا هَمَّهُ فَرَّق الله عليه أمرَهُ وجَعَلَ فَقْرَهُ بين عينيه ولم يَأْتِه من الدنيا إلا ما كُتِبَ له ، ومن كانت الآخرةُ نِيَّتَهُ جَمَعَ اللهُ له أَمْرَهُ وجَعَلَ غِناه في قَلْبِه وأَتَتْهُ الدنيا وهِيَ راغِمَةٌ

Kami mendengar Rosululloh sholallohu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Barangsiapa yang (menjadikan) dunia tujuan utamanya, maka Alloh akan mencerai-beraikan urusannya dan menjadikan kemiskinan/tidak pernah merasa cukup (selalu ada) di hadapannya, padahal dia tidak akan mendapatkan (harta benda) duniawi melebihi dari apa yang Alloh tetapkan baginya. Dan barangsiapa yang (menjadikan) akhirat niat (tujuan utama)nya, maka Alloh akan menghimpunkan (memudahkan) urusannya, menjadikan kekayaan/selalu merasa cukup (ada) dalam hatinya, dan (harta benda) duniawi datang kepadanya dalam keadaan rendah (tidak bernilai di hadapannya)” (HR Ibnu Majah 4105, Ad-Daarimi 229, Ibnu Hibban 680)

Juga hadits Nabi sholallohu ‘alaihi wasallam dalam riwayat Imam Ahmad

إِنَّكَ لَنْ تَدَعَ شَيْئاً لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ إِلاَّ بَدَّلَكَ اللَّهُ بِهِ مَا هُوَ خَيْرٌ لَكَ مِنْهُ

Sesungguhnya jika engkau meninggalkan sesuatu karena Alloh, niscaya Alloh akan memberi ganti padamu dengan yang lebih baik” (HR Ahmad 5/363, 23074)

Perbedaan Zuhud dan Wara’

Hadits-hadits di atas adalah hadits yang berkaitan dengan zuhud serta wara’. Zuhud berarti berani meninggalkan dunia jika membahayakan akhirat. Sementara wara’ adalah sikap hati-hati terhadap segala hal yang berkaitan dengan halal dan haram.

Baca Juga:  Ikon-Ikon WhatsApp Mendukung LGBT?

Nah kalau Anda sampaikan sudah berusaha mengamalkan tetapi malah banyak musibah, maka perlu diteliti ulang, apakah Anda telah paham makna sekaligus penerapan zuhud dan wara’?

Makna dan Penerapan Zuhud dan Wara’

Dari lafal “meninggalkan” Anda harus paham bahwa perkara yang ditinggalkan bukan hanya yang haram, adakalanya yang mubah juga perlu ditinggalkan. Misal; ketika ada undangan makan atau traktiran dari teman di tempat makan favorit, Anda sebetulnya sangat ingin mengikutinya, tapi Anda memilih meninggalkannya karena bertabrakan dengan jadwal pengajian.

Dari lafal “karena Alloh” Anda juga harus paham bahwa meninggalkan sesuatu tadi harus benar-benar karena Alloh, alias ikhlas seikhlas-ikhlasnya. Jadi jangan sampai meninggalkan sesuatu karena takut cibiran, atau meninggalkan sesuatu karena ingin pujian orang tertentu, atau meninggalkan sesuatu karena tidak enakan.

Dari lafal “ganti padamu dengan yang lebih baik” Anda pun juga harus paham bahwa bukan berarti Alloh akan selalu mengabulkan keinginan 100%, karena apa yang baik menurut Anda bukan berarti baik pula menurut Alloh. Bisa jadi maknanya Alloh akan palingkan dari musibah yang akan menerpa Anda, atau mengganti dengan yang lebih baik di akhirat dan Alloh memberikan kepada Anda pahala sabar di dunia.

Di sinilah kemudian ilmu dan keimanan Anda yang menentukan, jika Anda telah memahami Aqidah dengan baik, maka Taqdir Alloh adalah hal yang bisa Anda terima, sebab jika Anda tidak ridho berarti Anda mengabaikan cintanya Alloh dan ridhonya Alloh.

[TS_Poll id="2"]

إِنَّ عِظَمَ الْجَزَاءِ مَعَ عِظَمِ الْبَلاَءِ وَإِنَّ اللَّهَ إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلاَهُمْ فَمَنْ رَضِىَ فَلَهُ الرِّضَا وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السَّخَطُ

Sejatinya besarnya pahala berbanding lurus dengan besarnya ujian. Sungguh, jika Alloh mencintai suatu kaum, maka Alloh akan menimpakan ujian untuk mereka. Barangsiapa yang ridho, maka ia yang akan meraih ridho Alloh. Barangsiapa siapa yang tidak suka, maka Alloh pun akan murka”. (HR. Ibnu Majah 4031)

Wallohu A’lam

Dijawab dengan ringkas oleh:
Ustadz Rosyid Abu Rosyidah
حفظه الله
Jumat, 2 Rabiul Akhir 1443 H/ 28 Oktober 2022 M


Ustadz Rosyid Abu Rosyidah حفظه الله
Beliau adalah Alumni STDI IMAM SYAFI’I Kulliyyatul Hadits, dan Dewan konsultasi Bimbingan Islam,
Untuk melihat artikel lengkap dari Ustadz Rosyid Abu Rosyidah حفظه الله klik disini

Akademi Shalihah Menjadi Sebaik-baik Perhiasan Dunia Ads

Ustadz Rosyid Abu Rosyidah, S.Ag., M.Ag.

Beliau adalah Alumni S1 STDI Imam Syafi’I Jember Hadits 2010 - 2014, S2 UIN Sunan Kalijaga Qur’an Hadits 2015 - 2019 | Bidang khusus Keilmuan yang pernah diikuti beliau adalah Dynamic English Course (DEC) Pare Kediri, Mafatihul Ilmi (Ustadz Dzulqarnaen) sedang diikuti | Selain itu beliau juga aktif dalam Kegiatan Dakwah & Sosial Kuliah Pra Nikah Naseeha Project

Related Articles

Back to top button