Sikap Seorang Mukmin Ketika Ditimpa Masalah

Sikap Seorang Mukmin Ketika Ditimpa Masalah

Pertanyaan

بِسْـمِ اللّهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ
اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُه

Ustadz, ana ingin bertanya.
Bagaimana sikap kita sebagai muslim dalam menyikapi berbagai permasalahan yang ada di dalam diri kita baik masalah keluarga dan didzalimi di tempat kerja ?

Syukron, Ustadz.
Jazaakallaahu khoiron wa baarakallaahu fiik.

(Fulan, Sahabat BiAS N05 G-XY)

Jawaban

وَعَلَيْكُمُ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ
بِسْـمِ اللّهِ

Alhamdulillāh
Washshalātu wassalāmu ‘alā rasūlillāh, wa ‘alā ālihi wa ash hābihi ajma’in.

Sikap yang tepat untuk dilakukan saat pertama kali dirundung musibah atau ujian adalah sadar diri.
Sadar diri kita hanyalah *makhluk* Alloh yang sudah diatur takdirnya. Termasuk takdir ujian/musibah yang kita dapatkan itu.
Hal ini (sadar diri) amatlah penting agar kita terhindar dari su’udzon pada Alloh dan putus asa, sebab dua hal itu adalah hal yang dibenci oleh Alloh.

Sikap sadar diri ini juga aplikasi dari wujud keimanan kita, yaitu pengamalan rukun iman yang keenam, iman atau percaya pada takdir baik atau buruk yang telah Alloh tetapkan.

Hal berikutnya adalah mengamalkan sabda Rosululloh sholallohu ‘alaihi wa sallam, bagaimana luar biasanya seorang mukmin dimata Beliau ketika dirundung kesedihan atau ujian.

عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ

_“Alangkah luar biasanya (menakjubkannya) kehidupan seorang mukmin. Sungguh seluruh kehidupannya baik. Hal itu tidak dimiliki melainkan oleh mukmin. Jika dikaruniai kebaikan: maka ia bersyukur, dan itu baik untuknya. Dan jika ditimpa keburukan: maka ia bersabar, dan itu baik untuknya”._ (HR Muslim)

Sabar. Mudah di lisan, namun berat dalam praktik. Namun inilah sikap yang menjadikan seorang mukmin sangat luar biasa.
Wajar jika kita kecewa, sedih, namun janganlah berlarut-larut dalam keterpurukan itu. Segera bangkit, tumbuhkan kesabaran dan siap menghadapi. Bahkan dikatakan dalam hadits tentang hakikat sabar adalah reflek yang muncul pertama kali.

إِنَّمَا الصَّبْرُ عِنْدَ الصَّدْمَةِ الأُولَى

_”Sesungguhnya sabar itu ada pada hantaman pertama.”_
(HR. Bukhori no. 1223, Muslim no. 926 dan Abu Daud no. 3124)

Semakin kita sabar, akan mudah hati kita untuk ridho bahwa inilah ketetapan terbaik yang Alloh berikan pada kita.

Setelah sabar, cobalah untuk kembali padaNya. Perbanyak istighfar dan intropeksi diri.
Sebab salah satu faedah dari istighfar adalah dicabutnya kesedihan dan diberinya jalan keluar dari permasalahan yang ada. Rosululloh sholallohu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَنْ أَكْثَرَ مِنْ الِاسْتِغْفَارِ؛ جَعَلَ اللَّهُ لَهُ مِنْ كُلِّ هَمٍّ فَرَجًا، وَمِنْ كُلِّ ضِيقٍ مَخْرَجًا، وَرَزَقَهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ

_“Barang siapa memperbanyak istighfar: niscaya Allah memberikan jalan keluar bagi setiap kesedihannya, kelapangan untuk setiap kesempitannya dan rizki dari arah yang tidak disangka-sangka.”_  (HR Ahmad)

Iringi pula dengan intropeksi diri, apakah ia melakukan dosa besar atau kesalahan? Sehingga ia bisa merasakan, ini musibah/ujian atau adzab baginya?
Lalu dekatkan diri pada Alloh sedekat-dekatnya, dengan melaksanakan ketaatan sebanyak banyaknya.
Husnudzonlah, bahwa Alloh pula kunci dan solusi dari setiap masalah Anda.

Wallohu A’lam
Wabillahit Taufiq

Dijawab dengan ringkas oleh :

 Ustadz Rosyid Abu Rosyidah حفظه الله

 Kamis, 14 Rabi’ul Akhir 1438 H/ 12 Januari 2017 M

CATEGORIES
TAGS
Share This

COMMENTS