Hukum Otopsi Dan Donor Mata Dari Mayit

Hukum Otopsi Dan Donor Mata Dari Mayit

Pertanyaan

بِسْـمِ اللّهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ
اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُه

Ustadz, apa hukum otopsi menurut syariat ? Jasad saudara saya mau diminta untuk diotopsi, sebab diperkirakan meninggalnya karena pembunuhan berencana.

Pertanyaan kedua. Dulu saudara saya ini pernah berpesan kepada istrinya, jika dia meninggal, supaya kedua mata beliau didonorkan kepada adiknya yang buta. Menurut syariat islam, apakah diperbolehkan hal tersebut ustadz ?

Mohon pencerahannya ustadz.. jazakallahu khairan…

(Penanya : SAHABAT BiAS T05 G-XX)

 

Jawaban

وَعَلَيْكُمُ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ
بِسْـمِ اللّهِ

Alhamdulillāh
Washshalātu wassalāmu ‘alā rasūlillāh, wa ‘alā ālihi wa ash hābihi ajma’in.

Pertama : Hukum asli dari otopsi/bedah mayat adalah haram, diantara dalil yang mengharamkannya adalah :

1. Firman Allah ta’ala :

وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِي آدَمَ وَحَمَلْنَاهُمْ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَرَزَقْنَاهُمْ مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَفَضَّلْنَاهُمْ عَلَىٰ كَثِيرٍ مِمَّنْ خَلَقْنَا تَفْضِيلًا

“Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rizki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan.”

(Al-Isra` : 70).

Allah telah memuliakan anak-anak Adam, dan membedah mayat mereka tidak diragukan lagi adalah sesuatu yang bertentangan dengan prinsip kemuliaan ini.

2. Sabda Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam :

اغْزُوا بِاسْمِ اللهِ فِي سَبِيلِ اللهِ، قَاتِلُوا مَنْ كَفَرَ بِاللهِ، اغْزُوا وَلَا تَغُلُّوا، وَلَا تَغْدِرُوا، وَلَا تَمْثُلُوا

“Berangkatlah berperang di jalan Allah ta’ala dengan menyebut nama Allah ta’ala. Bunuhlah orang-orang kafir, perangilah mereka. Janganlah kamu berbuat curang dan jangan melanggar perjanjian, dan jangan pula kalian memotong-motong mayat.”
(HR Muslim : 1731).

3. Sabda Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam :

 كَسْرُ عَظْمِ الْمَيِّتِ كَكَسْرِهِ حَيًّا

“Memecahkan tulang mayat hukumnya seperti memecahkan tulangnya ketika ia masih hidup.”

(HR Abu Dawud : 3209 dishahihkan oleh Imam Al-Albani dalam Irwa’ul Ghalil : 3/213).

Imam Abdul Aziz bin Baz menegaskan akan status keharaman otopsi ini, beliau berfatwa :

إذا كان الميت معصوماً في حياته سواء كان مسلماً أو كافراً وسواء كان رجلاً أو امرأة فإنه لا يجوز تشريحه؛ لما في ذلك من الإساءة إليه وانتهاك حرمته، وقد ثبت عن رسول الله صلى الله عليه وسلم أنه قال: ((كسر عظم الميت ككسره حياً)).

أما إذا كان غير معصوم كالمرتد والحربي فلا أعلم حرجاً في تشريحه للمصلحة الطبية، والله سبحانه وتعالى أعلم.

“Apabila mayat tersebut ma’shum (terjaga darahnya/haram dibunuh) ketika ia hidup, baik itu orang Islam maupun orang kafir, laki maupun wanita. Maka tidak boleh diotopsi karena itu merupakan perlakukan yang tidak baik kepadanya serta merendahkan kehormatannya.

Dan telah sah sabda Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam : “Mematahkan tulang si mayit itu statusnya sama saja dengan mematahkannya ketika ia hidup.”

Adapun jika mayat tadi bukan orang yang ma’shum seperti orang yang murtad atau orang kafir harbi (yang boleh diperangi), maka beliau berpendapat tidak mengapa dilakukan otopsi kepadanya demi untuk mendapatkan kemanfaatan medis, Wallahu a’lam.”

(Fatawa Syaikh Bin Baz no. 2746).
Berkaitan dengan pertanyaan yang diajukan maka boleh dilakukan otopsi demi untuk mengetahui proses terjadinya kriminal yang tidak bisa dilacak melainkan dengan melakukan otopsi. Mujamma’ Fiqih Islami di Mekah Al Mukarramah menyatakan :

بناء على الضرورات التي دعت إلى تشريح جثث الموتى ، والتي يصير بها التشريح مصلحة تربو على مفسدة انتهاك كرامة الإنسان الميت ، قرر مجلس المجمع الفقهي التابع لرابطة العالم الإسلامي ما يأتي :
أولا : يجوز تشريح جثث الموتى لأحد الأغراض الآتية :
أ‌- التحقيق في دعوى جنائية لمعرفة أسباب الموت أو الجريمة المرتكبة وذلك عندما يشكل على القاضي معرفة أسباب الوفاة ويتبين أن التشريح هو السبيل لمعرفة هذه الأسباب .

“Berdasarkan dengan hal darurat yang dibutuhkan dari sebuah proses otopsi, yang mana otopsi tersebut menghasilkan manfaat yang lebih besar dari kerusakan berupa dilanggarnya kemuliaan si mayit. Maka Mujamma’ Fiqih Islami di Mekah menetapkan hal-hal sebagai berikut :

Boleh hukumnya melakukan proses otopsi untuk tujuan-tujuan berikut ini ;

Memastikan tuduhan kriminal untuk mengetahui sebab-sebab terbunuhnya seseorang, atau untuk mengetahui terjadinya sebuah tindak kriminal. Yang demikian ketika seorang hakim merasa ragu akan sebab terjadinya kematian dan otopsi menjadi sebab untuk mengetahui hal tersebut.”

(Fiqhun Nawazil : 4/208-209).

2⃣ Tentang hukum donor mata, para ulama berbeda pendapat tentang hukum donor mata atau bagian-bagian tubuh tertentu.

Pendapat yang kami yakini sebagai pendapat yang benar dalam hal ini adalah apa yang difatwakan oleh Imam Ibnu Baz rahimahullah, beliau berkata :

النسبة لبعض الناس حينما ييأس من شفاءه من مرض ما ويكون إلى الموت أقرب فقد يتبرع بشيء من أعضاءه كالعينين مثلاً، أو ربما يبيعها بيعاً فما الحكم في هذا؟ أنا وحتى الآن لم يتضح لي الجواز، وبعض الإخوة …….. قد أجاز ذلك، يتبرع به الإنسان إذا كان لا يضره أو بعد موته إذا لم يترتب عليه نزاع بين الورثة ولا فتنة. أما أنا فالذي يظهر لي عدم الجواز؛ لأن هذه أمور أعطاها الله العبد، وليس له التصرف فيها، بل يجب عليه أن يقف عند حده، ولا يتصرف في أعضاءه، ولأن المثلة محرمة في الحياة

“Berkaitan dengan kondisi sebagian manusia yang telah berputus asa dari kesembuhan penyakit tertentu, dan kadang ia merasa dekat dengan kematian. Kadang ia melakukan donor anggota tubuhnya seperti mata misalnya, atau kadang ia menjual matanya. Apa hukum dalam permasalahan ini?

Aku hingga hari ini tidak berpendapat bolehnya hal tersebut. Dan sebagian saudara (para ulama lain) membolehkan hal tersebut. Manusia mendonorkan bagian tubuhnya jika itu tidak menyebabkan madharat pada dirinya, atau donor dilakukan setelah ia wafat, jika donor tersebut tidak menimbulkan perselisihan dan fitnah diantara sesama ahli waris.

Adapun aku, pendapat yang tampak benar adalah tidak boleh. Karena ini merupakan perkara yang Allah ta’ala berikan kepada hamba, dan hamba tidak memiliki wewenang mendonorkannya sekehendak hati. Bahkan ia harus berhenti pada batasannya, dan tidak boleh mendonorkan anggota badannya. Dan karena mutslah/merusak jasad itu haram hukumnya dilakukan di kala hidup.”

(Fatawa Syaikh Bin Baz no. 8565).

Belum lagi rata-rata yang terjadi di Indonesia setahu kami adalah jual-beli anggota badan. Jika kasusnya jual beli maka seluruh ulama menyatakan hal tersebut haram dengan tanpa ada perselisihan.

Wallahu a’lam

Dijawab dengan ringkas oleh :

Ustadz Abul Aswad Al-Bayaty حفظه الله

Senin, 18 Rabi’ul Akhir 1438 H / 16 Januari 2017 M

CATEGORIES
TAGS
Share This

COMMENTS