Seputar Sholat Malam dan Tata Cara Pelaksanaan (Bagian 1)

Seputar Sholat Malam dan Tata Cara Pelaksanaan (Bagian 1)

Seputar sholat Malam dan Tata Cara Pelaksanaan (Bagian 1)

Definisi

sholat malam adalah sholat yang dikerjakan pada malam hari setelah ba’diyah Isya’ (rawatib) sampai sebelum waktu sholat shubuh (Azan shubuh berkumandang).
Maka masuk dalam pengertian sholat malam adalah sholat tarawih (khusus ramadhan), sholat tahajud, dan sholat witir. Lebih khusus daripada Qiyamul lail (menghidupkan malam dengan ketaatan ; sholat, zikir, berdoa, membaca Al Qur’an, dll).
(lihat pembahasannya pada kitab Mawsu’ah Al-Fiqhiyyah, 2: 232).

Sejarah Pensyari’atan sholat Malam

Dalam sejarah Islam Pada mulanya sholat malam diwajibkan lalu hukum itu dihapus, karena beberapa hal yang memberatkan para sahabat nabi radhiallahu ‘anhum ajma’in, berikut penjelasannya dari beberapa riwayat secara umum (artinya):

Dari Sa’ad bin Hisyam radhiallahu ‘anhu, ia bertanya kepada Ummul Mukminin ‘Aisyah radhiyallahu anha, “Wahai Ummul Mukminin, ceritakanlah kepadaku tentang sholat malam yang dilakukan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam?”
‘Aisyah radhiallahu ‘anha berkata, “Bukankah kamu telah membaca ayat ini,

يَآأَيُّهَا الْمُزَّمِّلُ

‘Wahai orang yang berselimut?’”

Aku menjawab, “Ya.”
‘Aisyah berkata, “Sesungguhnya Allah telah mewajibkan sholat malam di awal surat ini, lalu Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam dan para Sahabatnya melakukannya selama setahun hingga telapak kaki mereka pecah-pecah.
Akhir surat ini Allah Ta’ala tahan di atas langit selama dua belas bulan, lalu barulah Allah Ta’ala menurunkan keringanan di akhir surat ini, maka jadilah sholat malam tersebut sholat yang sunnah, untuk melengkapi sholat-sholat yang wajib.”

(Hadits shahih. HR. Muslim, no. 746).

Juga terdapat riwayat dari sahabat Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma ketika menafsirkan firman Allah Ta’ala, (قُمِ الَّيْلَ إِلاَّ قَلِيلاً ) “Bangunlah untuk sholat di malam hari kecuali sedikit daripadanya” dengan mengatakan,
“Allah memerintahkan Nabi-Nya dan kaum mukminin untuk melakukan sholat di malam hari kecuali sedikit daripadanya, lalu hal itu membuat berat mereka sehingga Allah Ta’ala meringankannya dan mengasihani mereka dengan menurunkan ayat,

عَلِمَ أَن سَيَكُونُ مِنكُمْ مَّرْضَى

“Allah tahu bahwa di antara kalian ada orang-orang yang sedang sakit.”

Dengan turunnya ayat ini, Allah Ta’ala telah membuat mereka merasa lapang dan tidak sempit. Masa di antara turunnya dua ayat itu adalah setahun, yakni antara ayat,

يَآأَيُّهَا الْمُـزَّمِّلُ قُـمِ الَّيْلَ

“Wahai orang yang berselimut, bangunlah untuk melakukan sholat di malam hari.”
(QS. Al Muzzammil; 1-2)

Dan ayat

فَاقْرَءُوا مَا تَيَسَّرَ مِنْهُ

“Bacalah apa yang mudah bagimu”
(QS. Al Muzzammil; 20)

hingga akhir surat. (lihat Tafsiir ath-Thabari (XIV/125)

Hukum sholat Malam

Kebanyakan ulama Islam berpendapat bahwa hukum sholat malam adalah sunnah mu’akkadah (yang sangat) ditekankan berdasarkan al-Qur-an, as-Sunnah dan ijma’ kaum muslimin.
(Lihat Haasyiyatur Raudhil Murbi’, II/220).

Hal yang menunjukkan tentang sangat dianjurkan sholat malam ini, bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menekankan kepada keluarganya sendiri.

Dari menantu beliau Sahabat Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu menuturkan (artinya), bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam datang kepadanya dan kepada putri beliau, Fathimah, di malam hari.
Lalu beliau berkata, “Mengapa kalian tidak sholat?”
Aku (‘Ali) berkata, “Wahai Rasulullah, jiwa kami ada di tangan Allah, jika Allah berkehendak membangunkan kami (untuk sholat) tentu kami akan bangun.”
Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam lalu pergi ketika kami mengatakan begitu dan beliau sama sekali tidak membalas kami hingga kemudian aku mendengarnya mengatakan sambil memukul pahanya.

وَكَانَ اْلإِنسَانُ أَكْثَرَ شَيْءٍ جَدَلاً

“Dan manusia adalah makhluk yang paling banyak membantah.”
[QS. Al-Kahfi: 54]. (hadits shahih. HR. Al-Bukhari, no. 1127 dan Muslim, no. 775).

Keutamaan & Pahala sholat Malam

Banyak sekali dalil-dalil yang menjelaskan tentang keutamaan sholat malam, di antaranya;

1. Dalil dari Al Qur’an

 Allah Subhanahu wa ta’ala memerintahkan nabi-Nya untuk sholat malam,

وَمِنَ اللَّيْلِ فَتَهَجَّدْ بِهِ

“Dan pada sebagian malam hari sholat Tahajjud-lah kamu….”
(QS. Al-Israa’/17: 79).

Juga dalam firman-Nya:

وَاذْكُرِ اسْمَ رَبِّكَ بُكْرَةً وَأَصِيلًا وَمِنَ اللَّيْلِ فَاسْجُدْ لَهُ وَسَبِّحْهُ لَيْلًا طَوِيلًا

“Dan sebutlah nama Rabb-mu pada (waktu) pagi dan petang. Dan pada sebagian dari malam, maka sujudlah kepada-Nya dan bertasbihlah kepada-Nya pada bagian yang panjang di malam hari.”
(QS. Al-Insaan/76: 25-26).

2. Dalil dari Sunnah

Sahabat yang mulia Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu menuturkan, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

أَفْضَلُ الصَّلاَةِ بَعْدَ صَلاَةِ الْمَفْرُوْضَةِ، صَلاَةُ اللَّيْلِ

sholat yang paling utama setelah sholat wajib adalah sholat yang dilakukan di malam hari.”
(HR. Muslim, no. 1163).

Juga telah datang riwayat dari istri nabi Hafshah binti Umar radhiallahu ‘anhuma berkata, bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam pernah mengatakan mengenai ‘Abdullah bin ‘Umar,

نِعْمَ الرَّجُلُ عَبْدُ اللَّهِ ، لَوْ كَانَ يُصَلِّى بِاللَّيْلِ . قَالَ سَالِمٌ فَكَانَ عَبْدُ اللَّهِ لاَ يَنَامُ مِنَ اللَّيْلِ إِلاَّ قَلِيلاً

“Sebaik-baik orang adalah ‘Abdullah (maksudnya Ibnu ‘Umar) seandainya ia mau melaksanakan sholat malam.”
Salim mengatakan, “Setelah dikatakan seperti ini, Abdullah bin ‘Umar tidak pernah lagi tidur di waktu malam kecuali sedikit.”
(Hadits shahih. HR. Bukhari no. 1122 dan Muslim no. 2479)

Juga dari Asma’ binti Yazid radhiallahu ‘anha, ia berkata bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

إِذَا جَمَعَ اللهُ اْلأَوَّلِيْنَ وَاْلآخِرِيْنَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، جَاءَ مُنَادٍ فَنَادَى بِصَوْتٍ يَسْمَعُ الْخَلاَئِقُ: سَيَعْلَمُ أَهْلُ الْجَمْعِ اَلْيَوْمَ مَنْ أَوْلَى بِالْكَرَمِ، ثُمَّ يَرْجِعُ فَيُنَادِي: لِيَقُمَ الَّذِيْنَ كاَنَتْ (تَتَجَافَى جُنُوْبُهُمْ)  فَيَقُوْمُوْنَ وَهُمْ قَلِيْلٌ

“Bila Allah mengumpulkan semua manusia dari yang pertama hingga yang terakhir pada hari Kiamat kelak, maka datang sang penyeru lalu memanggil dengan suara yang terdengar oleh semua makhluk, ‘Hari ini semua yang berkumpul akan tahu siapa yang pantas mendapatkan kemuliaan!’
Kemudian penyeru itu kembali seraya berkata, ‘Hendaknya orang-orang yang ‘lambungnya jauh dari tempat tidur’ bangkit, lalu mereka bangkit, sedang jumlah mereka sedikit.

(HR. Abu Ya’la dalam al-Musnadul Kabiir (IV/373).

Dari hadits di atas, Allah Ta’ala menyifati orang-orang yang senantiasa sholat malam dalam firman-Nya:

تَتَجَافَىٰ جُنُوبُهُمْ عَنِ الْمَضَاجِعِ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ خَوْفًا وَطَمَعًا وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ فَلَا تَعْلَمُ نَفْسٌ مَا أُخْفِيَ لَهُمْ مِنْ قُرَّةِ أَعْيُنٍ جَزَاءً بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

“Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya, sedang mereka berdo’a kepada Rabb-nya dengan rasa takut dan harap, dan mereka menafkahkan sebagian dari rizki yang Kami berikan kepada mereka.
Seorang pun tidak mengetahui apa yang disembunyikan untuk mereka, yaitu (bermacam-macam nikmat) yang menyedapkan pandangan mata…”
( QS. as-Sajdah/32: 16-17).

Pelaksanaan sholat Malam

Untuk sholat tarawih maka dianjurkan untuk dilakukan berjamaah di masjid bersama Imam sampai selesai dengan sholat witir sekaligus selama bulan Ramadhan, karena Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam juga melakukan hal yang sama walaupun hanya beberapa hari saja.

Dari Ummul Mukminin ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata (artinya),
Bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam sholat pada suatu malam di masjid lalu orang-orang bermakmum dengannya.
Kemudian beliau sholat lagi pada malam berikutnya dan orang-orang yang sholat bersamanya bertambah banyak.
Kemudian pada malam ketiga atau keempat orang-orang telah berkumpul, namun Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak keluar untuk sholat bersama mereka.
Ketika di pagi hari beliau berkata, “Aku telah mengetahui apa yang kalian lakukan dan aku tidak keluar menemui kalian melainkan karena aku takut sholat ini akan diwajibkan atas kalian.” Peristiwa ini terjadi pada bulan Ramadhan.
(Hadits shahih. Lihat HR. Al-Bukhari, no. 731 dan Muslim, no. 781).

Juga riwayat dari sahabat yang mulia Abu Dzar radhiallahu ‘anhu dia berkata (artinya):

Kami puasa tetapi Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam tidak memimpin kami untuk melakukan sholat (tarawih) hingga Ramadhan tinggal tujuh hari lagi, maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam mengimami kami sholat sampai lewat sepertiga malam.
Kemudian beliau tidak keluar lagi pada malam ke enam (tinggal 6 hari lagi – pent). Dan pada malam ke lima (tinggal 5 hari – pent) beliau memimpin sholat lagi sampai lewat separuh malam.
Lalu kami berkata kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Seandainya engkau menambah lagi untuk kami sisa malam kita ini?’
Maka beliau bersabda:

مَنْ قَامَ مَعَ الْإِمَامِ حَتىَّ يَنْصَرِفَ كُتِبَ لَهُ قِيَامُ لَيْلَةٍ 

“Siapa saja sholat tarawih bersama imam sampai selesai maka ditulis baginya sholat malam semalam suntuk.”

Kemudian beliau tidak memimpin sholat lagi hingga Ramadhan tinggal tiga hari.
Maka beliau memimpin kami sholat pada malam ketiga. Beliau mengajak keluarga dan istrinya. Beliau mengimami sampai kami khawatir tidak mendapatkan falah.
Saya (perawi) bertanya ‘apa itu falah?’ Dia (Abu Dzar) berkata ‘sahur’.
(hadits shahih, HR. Abu Daud, no. 1375, Tirmidzi, no. hadits no. 806, dan lafazh ini milik Imam Tirmidzi)

Adapun selain bulan Ramadhan untuk pelaksanaan shalat malamnya, maka yang afdhal (paling utama) adalah dilakukan sendiri-sendiri, mengingat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam biasa melakukannya dengan tidak berjama’ah.
Dari Aisyah radhiallahu ‘anha meriwayatkan, Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam biasa melaksanakan sholat malam di rumah hingga kaki beliau bengkak.

Aisyah radhiyallahu ‘anha bertanya, “Kenapa engkau berbuat begitu, wahai Rasulullah? Bukankah Allah telah mengampuni dosa-dosamu yang terdahulu dan yang akan datang?
Beliau menjawab,

أَفَلَا أُحِبُّ أَنْ أَكُونَ عَبْدًا شَكُورًا

Apakah aku tidak boleh menjadi hamba yang bersyukur?.
(Hadits shahih. HR. Al-Bukhari No. 4837., dan  HR. Muslim No. 2820)

Dalam hadits lain, sahabat al-Mughirah radhiallahu ‘anhu menceritakan,

قَامَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَتَّى تَوَرَّمَتْ قَدَمَاهُ، فَقِيلَ لَهُ: غَفَرَ اللَّهُ لَكَ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِكَ وَمَا تَأَخَّرَ، قَالَ: أَفَلاَ أَكُونُ عَبْدًا شَكُورًا

Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam biasa melaksanakan sholat malam hingga kaki beliau bengkak.”

Ada yang bertanya, “Kenapa Engkau berbuat demikian, wahai Rasulullah? Bukankah Allah telah mengampuni  dosa-dosamu yang terdahulu dan yang akan datang?

Beliau menjawab, “Apakah aku tidak boleh menjadi hamba yang bersyukur?.
(Hadits shahih. HR. Al-Bukhari No. 4873., dan HR. Muslim No. 2819).

Dari hadits-hadits di atas mengisyaratkan kepada kita bahwa kebanyakan shalat malam Rasullulah Shallallahu ‘alaihi wasallam adalah di rumah istri-istri beliau. Wallahu Ta’ala A’lam.

InsyaAllah pembahasan seputar shalat malam kita akan lanjutkan pada bagian ke-2 mengenai tata cara shalat malam. Semoga Allah Ta’ala memudahkan penulisannya.

 

Disusun oleh:
Ustadz Fadly Gugul حفظه الله
(Dewan Konsultasi Bimbinganislam.com)



Ustadz Fadly Gugul حفظه الله
Beliau adalah Alumni STDI Imam Syafi’i Jember (ilmu hadits), Dewan konsultasi Bimbingan Islam

Untuk melihat artikel lengkap dari Ustadz Fadly Gugul حفظه الله تعالى klik disini

CATEGORIES
Share This

COMMENTS