Sekilas Tentang Demonstarsi

Sekilas Tentang Demonstarsi

Sekilas Tentang Demonstarsi

Sebagian kamum muslimin memandang serta berpendapat bahwa demonstrasi merupakan salah satu bentuk jihad fi sabilillah dan sarana efektif untuk amar makruf nahi munkar. Apa dan bagaimana sebenarnya sudut pandang para ulama ahlissunnah wal jamaah terhadap aksi demonstrasi.

Al Imam Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz –semoga Allah merahmati beliau- berkata :

“Aku tidak berpendapat demonstrasi sebagai sebuah solusi, baik itu dilakukan oleh lelaki maupun wanita. Akan tetapi demonstrasi itu adalah sebab timbulnya fitnah dan keburukan. Sebab timbulnya kezaliman dan penindasan dari manusia satu pada manusia yang lain dengan tanpa dilandasi nilai-nilai kebenaran.

Akan tetapi kita menempuh sebab-sebab yang mencocoki syariat. Dengan menulis surat, dengan menasehati, dengan mendakwahi dan menyeru kepada kebaikan, dengan jalan damai. Ini adalah jalan yang ditempuh oleh para ahli ilmu dan para sahabat nabi shalallahu ‘alaih wa sallam serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik.

Kita menempuh cara dialog lisan dengan para penguasa, para pemimpin. Kita menelpon mereka, menasehati mereka. Dengan tanpa menyebarkan aib mereka bahwa mereka melakukan ini dan itu sehingga mengakibatkan ini dan itu. Hanya Allah saja tempat berlindung”.

(Tahdzirusy Syabab Min Fitnatil Khuruj Wal Mudzaharat Wal Irhab : 36 Oleh Syaikh Muhammad bin Nashir Al Urainy).

Bahkan Syaikh Ali bin Hasan Al Halaby mengetengahkan sejumlah fatwa para ulama ahlis sunnah wal jama’ah tidak kurang dari 24 ulama. Yang kesemuanya bersepakat berdiri pada satu barisan mengharamkan serta mencela aksi demonstrasi ini. Dan saya yakin masih banyak fatwa haramnya demonstrasi dari ulama lain yang tidak dicantukan di kitab ini. Nama-nama para ulama tersebut adalah :

  1. Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albany.
  2. Syaikh Abdul Aziz bin Baz.
  3. Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin.
  4. Para ulama yang tergabung dalam Lajnah Daimah (lembaga riset dan fatwa kerajaan Saudi).
  5. Para ulama yang tergabung dalam Hai’ah Kibar Ulama. (perkumpulan para ulama besar).
  6. Syaikh Abdul Muhsin Al Abbad.
  7. Syaikh Muqbil bin Hadi Al Wadi’i.
  8. Syaikh Abdul Aziz Alu Syaikh.
  9. Syaikh Shalih Al Fauzan.
  10. Syaikh Sa’ad Al Hushain.
  11. Syaikh Rabi’ bin Hadi Al Madkhaly.
  12. Syaikh Shalih bin Ghasun.
  13. Syaikh Shalih Alu Syaikh.
  14. Syaikh Shalih Al Luhaidan.
  15. Syaikh Ahmad An Najmy.
  16. Syaikh Abdul Aziz Ar Rajihy.
  17. Syaikh Abdul Aziz bin Nada Al Utaiby.
  18. Syaikh Abdul Malik Ramadhany.
  19. Syaikh Muhamamd Ali Firkus.
  20. Syaikh Abdul Aziz Al Bura’i.
  21. Syaikh Muhammad bin Abdillah Al Imam.
  22. Syaikh Muhamamd Sa’id Ruslan.
  23. Syaikh Abu Ishaq Al Huwainy.
  24. Syaikh Muhammad Hassan. (Semoga Allah merahmati dan menjaga mereka semuanya).

(Lihat rincian fatwa masing-masing ulama ini pada kitab Tahdzir Ulama Tsiqat Minal Mudzaharat : 125-240 oleh Syaikh Ali bin Hasan Al Halaby).

Diantara sebab diharamkannya demonstrasi, karena ia adalah metode yang tidak dikenal oleh kaum muslimin. Namun ia adalah metode yang diajarkan oleh orang-orang kafir barat. Sehingga pelaku demonstrasi adalah orang-orang yang menyerupai perbuatan orang kafir.

Syaikh Abdul Aziz Ar Rajihy ditanya :

Pertanyaan : Apa pendapat anda terhadap orang yang membolehkan demonstrasi untuk menekan penguasa hingga mereka memenuhi apa yang menjadi tuntutan para pendemo? 


Jawaban : “Demonstrasi ini bukan amalan kaum muslimin. Ia adalah metode yang disusupkan ke dalam islam dan tidak dikenal metode ini melainkan di sebagian Negara-negara barat yang kafir”.

(Tahdzir Ulama’ Tsiqat Minal Mudzaharat : 203 oleh Syaikh Ali bin Hasan Al Halaby).

Kemudian timbul pula alasan dari para pendemo bahwa sebagian ulama salafy ada juga yang membolehkan demonstrasi. Argumentasi ini tentu saja membuat mereka senang serta menjadikan mereka seolah terbang karena riangnya. Dan mereka menyangka argument ini adalah alasan kuat bagi dibolehkannya demonstrasi.

Menanggapi syubhat ini Syaikh Ali Hasan Al Halaby memberikan beberapa tanggapan yang menjelaskan pincangnya argument pembolehan demonstrasi ini:

Pertama : Bahwa fatwa dari segelintir orang yang katanya ulama salafy tersebut muncul dikarenakan adanya situasi dan kondisi yang menjadi perkecualian. Ia memiliki faktor dan pertimbangan yang menjadikannya sebagai sebuah pengecualian khusus. (Meski demikian kami tetap menyelisihi dan mengingkari pembolehan ini-Syaikh Al Halaby).

Kedua : Bahwa perkataan seorang ulama bukan menjadi dalil, namun perkataan tersebut tetap harus dilihat kesesuaiannya dengan dalil.

 Ketiga : Bahwa fatwa mayoritas para ulama salafiyyin serta para ulama rabbaniyyin yang sudah muncul sejak dahulu kala menyelisihi sangkaan bolehnya demonstrasi ini.

 Keempat : Bahwasanya dalil-dalil syariat yang sangat beragam serta kaidah-kaidah syariat yang sangat banyak membatalkan anggapan yang batil ini sebagai mana telah berlalu penyebutannya dengan terperinci. Dan kebenaran itu jauh lebih pantas diikuti dari semuanya.

 “Sesungguhnya di dalam hal itu terdapat pelajaran bagi orang yang masih memiliki hati dan ia mampu mendengar serta menyaksikan cahaya kebenaran” (QS. Qaf : 37)

 Kelima : Kitapun bisa mengembalikan (dengan kebenaran) kepada mereka syubhat mereka yang batil itu. Maksudnya : Ada juga diantara syaikh-syaikh mereka yang mengingkari demonstrasi serta mengecamnya.

Sebagaimana yang dinyatakan oleh Muhammad Quthub (saudaranya Sayyid Quthub) di dalam bukunya Waqi’unal Mu’ashir : 460).

Referensi :

(Lihat Tahdzir Ulam Tsiqat Minal Mudzaharat : 241-242 oleh Syaikh Ali Hasan Al Halaby)

Disusun oleh:
Ustadz Abul Aswad al Bayati حفظه الله
(Dewan Konsultasi Bimbinganislam.com)



Ustadz Abul Aswad al Bayati, BA حفظه الله
Beliau adalah Alumni Mediu, Dewan konsultasi Bimbingan Islam, dan da’i di kota Klaten.
Untuk melihat artikel lengkap dari Ustadz Abul Aswad al Bayati, BA حفظه الله
klik disini

CATEGORIES
Share This

COMMENTS