Benarkah Lebih Baik Pemimpin Kafir Tapi Tegas?

Benarkah Lebih Baik Pemimpin Kafir Tapi Tegas?

Pertanyaan

 

السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

Maaf saya mau tanya.
Apakah solusi terbaik bagi islam dan negara, apabila mayoritas rakyat muslim pemimpin DKI Pak ***k,  pemerintahan hanya sebatas kesejahteraan saja tidak terlalu menyinggung agama, kecuali mentri agama. Apakah ada ayat atau hadist membolehkannya, hal ini memang indonesia sangat perlu orang yang nekat, berani di karenakan sistem indonesia udah tidak sesuai.
Melihat mantan gubenur sebelumnya, banyak yang  memimpin DKI adalah muslim tapi belum mampu secara maksimal, nekat dan tegas seperti Pak ***k. Apakah karena agama yang membuat  munculnya politik dan kepentingan bisnis?

 

(Dari Saudara Syarif Anggota Grup WA Bimbingan Islam N04-69)

 

Jawaban

 

وعليكم السلام ورحمة الله وبر كاته

 

Ini merupakan ujian bagi keimanan seseorang. Seorang muslim yang mengerti benar dan paham tentang islam, tidak akan melihat dari sudut pandang ekonomi semata tanpa mengabaikan bimbingan ilahi tentang siapa kawan dan siapa lawan yang sesungguhnya.

 

Seorang muslim yang telah tertanam padanya akidah tauhid ‘laa ilaaha illallaah, muhammadun rasuulullaah’, akan tahu bahwa setiap orang kafir adalah musuh Allah dan RasulNya, dan Allah adalah Dzat yang kita ibadahi, kita harapkan belas kasihnya, karunianya, kita takuti kemurkaannya dan siksanya; serta di tanganNya-lah nasib celaka atau bahagia kita kelak. Orang kafir juga mengingkari kerasulan Kekasih kita, baginda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam; padahal Beliau lah panutan kita, idola kita, dan pembimbing kita kepada jalan keselamatan. Oleh karena itu, merasa kagum dengan orang kafir (sehebat apa pun dia), apalagi merasa ridha berada di bawah kepemimpinannya hanya karena sepintas ia berhasil mengatur beberapa masalah duniawi di Ibukota, jelaslah bertentangan dengan konsekuensi keimanan. Sebab seorang mukmin harus mencintai apa yang Allah dan RasulNya cintai, dan membenci apa yang Allah dan RasulNya benci. Lihat akhir surat Al Mujaadilah.

 

Apalagi  Allah telah menjelaskan bahwa orang-orang ahli kitab (yahudi dan nashara) tidak akan rela kepada kita, sampai kita mengikuti ajaran mereka. Nah, mereka akan menghalalkan segala cara untuk itu, baik melalui media massa dengan menampilkan sosok para pemimpin kafir yang ‘cakap’ dan ‘bersih’, karena toh mereka juga yang menguasai media massa kan? atau dengan menjatuhkan tokoh-tokoh kaum muslimin dengan memblow -up kesalahan kecil mereka melalui media massa, sehingga terkesan semua orang Islam yang memimpin adalah bobrok, semuanya untuk menggiring opini publik agar memilih org kafir, karena negara ini berasaskan sistem demokrasi yang hanya menilai dgn suara terbanyak, dan berhubung kebanyakan rakyat indonesia adalah orang awam yang terpengaruh dgn media massa, maka di sinilah mereka bermain, Media massa telah dianggap sebagai dalil qoth’i akan kejujuran dan kebobrokan seseorang, bukan lagi Al Qur’an dan Sunnah, innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun.

Musibah apakah yang lebih besar dari ini??!!

 

Kemudian saat tiba pilkada atau pilgub, kembali kaum muslimin dipaksa menggunakan sistem kafir yang softwarenya diimpor dari AS, dan mustahil AS berpihak kepada kepentingan kaum muslimin. Sehingga lengkap sudah penipuan terhadap ‘bangsa muslim terbesar ini’. Intinya, mereka tidak akan puas bila negeri ini masih dipimpin oleh tokoh-tokoh muslim boneka yang tunduk kepada ajaran mereka; namun mereka ingin agar pemimpinnya benar-benar dari mereka sekalian.

 

Wallaahul musta’aan.

 

Konsultasi Bimbingan Islam

Ustadz Dr. Sufyan bin Fuad Baswedan, MA

CATEGORIES
Share This

COMMENTS