Seberapa Pentingkah Doa Kafaratul Majelis bimbingan islam
Seberapa Pentingkah Doa Kafaratul Majelis bimbingan islam

Seberapa Pentingkah Doa Kafaratul Majelis

Saudara-saudariku sekalian yang mencintai Sunnah dan dicintai oleh Allah ‘Azza wa Jalla.. Tidak ada seorang hamba yang terbebas dari dosa, semua dari kita pernah dan pasti berdosa, Nabi shalAllahu ‘alaihi wasallam bersabda melalui sahabat Abu Huroiroh radhiAllahu ‘anhu

وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَوْ لَمْ تُذْنِبُوا لَذَهَبَ اللَّهُ بِكُمْ وَلَجَاءَ بِقَوْمٍ يُذْنِبُونَ فَيَسْتَغْفِرُونَ اللَّهَ فَيَغْفِرُ لَهُمْ

“Demi Dzat yang jiwaku di tangannya, seandainya kalian tidak berbuat dosa sama sekali niscaya Allah akan memusnahkan kalian. Setelah itu Allah akan mengganti kalian dengan umat yang pernah berdosa, kemudian mereka memohon ampunan kepada Allah dan Allah pun pasti akan mengampuni mereka”
[HR Muslim 4936, Ahmad 7736]

Dan diantara momen yang sering tidak kita sadari ketika berbuat dosa adalah majelis, entah itu rapat, arisan, atau pertemuan lainnya. Seringkali tanpa sadar ada yang membicarakan aib oranglain, jahil dan usil pada kawan, atau memalingkan majelis tersebut dengan canda tawa yang berlebihan hingga lalai dari ketaatan, wal’iyyadzubillah.
Nabi shalAllahu ‘alaihi wasallam menerangkan bahwa majelis yang seperti itu pada hakikatnya adalah suatu hal yang dibenci dan pasti melahirkan penyesalan,

مَا مِنْ قَوْمٍ يَقُومُونَ مِنْ مَجْلِسٍ لَا يَذْكُرُونَ اللَّهَ فِيهِ إِلَّا قَامُوا عَنْ مِثْلِ جِيفَةِ حِمَارٍ وَكَانَ لَهُمْ حَسْرَةً

“Tidaklah suatu kaum yang bangkit dari suatu majelis dan tidak menyebut nama Allah dalam majelis tersebut, melainkan mereka bangkit dari tempat yang semisal dengan bangkai keledai, dan kelak akan menjadi penyesalan baginya (di akhirat)”
[HR Abu Daud 4214]

Lalu bagaimana solusinya? Apa yang harus diakukan agar kelalaian atau kesalahan di mejelis itu bisa dimaafkan dan tidak melahirkan penyesalan?

Rasulullah ShalAllahu ‘alaihi wasallam bersabda;

مَنْ جَلَسَ في مَجْلِسٍ ، فَكَثُرَ فِيهِ لَغَطُهُ فَقَالَ قَبْلَ أنْ يَقُومَ مِنْ مَجْلِسِهِ ذَلِكَ : سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ ، أشْهَدُ أنْ لا إلهَ إِلاَّ أنْتَ ، أسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إلَيْكَ ، إِلاَّ غُفِرَ لَهُ مَا كَانَ في مَجْلِسِهِ ذَلِكَ

“Barangsiapa yang duduk di suatu majelis lalu banyak senda guraunya (kalimat yang tidak bermanfaat untuk akhiratnya) kemudian ia mengucapkan sebelum bangkit dari majelisnya itu, ‘SUBHAANAKAllahUMMA WA BIHAMDIKA, ASY-HADU ALLA ILAHA ILLA ANTA, AS-TAGH-FIRUKA WA ATUUBU ILAIK’

(Mahasuci Engkau Wahai Allah dan dengan memuji-Mu, aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Engkau. Aku meminta ampun kepada-Mu dan aku bertaubat kepada-Mu)

Melainkan diampuni baginya dosa-dosa selama di majelisnya itu”
[HR Tirmidzi 3355]

Ibnu Rojab Al-Hambali rahimahullah menjelaskan,

كان النبي صلى الله عليه وسلم يختم مجالسه بكفارة المجلس ، وأمر أن تختم المجالس به، وأخبر أنه إن كان المجلس لغوا كانت كفارة له ، وروي ذلك عن جماعة من الصحابة

“Nabi shalAllahu ‘alaihi wasallam menutup majelisnya dengan doa Kafaratul majelis dan memerintahkan untuk menutup majelis dengannya, serta mengabarkan jika pada majelis tersebut didalamnya terdapat perkara yang sia-sia (tidak bermanfaat) maka kaffarotul majelis dapat menggugurkan (dosanya), hal itu diriwayatkan oleh mayoritas sahabat
(Fathul Baari 3/345)

Dalam riwayat lain, disebutkan oleh Abu Barzah radhiAllahu ‘anhu

كَانَ رسول الله صلى الله عليه وسلم يقولُ بأَخَرَةٍ إِذَا أرَادَ أنْ يَقُومَ مِنَ الْمَجْلِسِ : سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وبِحَمْدِكَ ، أشْهَدُ أنْ لا إلهَ إِلاَّ أنتَ أسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إليكَ
فَقَالَ رَجُلٌ : يَا رسولَ الله ، إنَّكَ لَتَقُولُ قَوْلاً مَا كُنْتَ تَقُولُهُ فِيمَا مَضَى ؟
قَالَ : ذَلِكَ كَفَّارَةٌ لِمَا يَكُونُ في المَجْلِسِ

“Rasulullah ShalAllahu ‘alaihi wasallam ketika berada di akhir (pertemuan) dan akan bangkit dari majelis mengucapkan, ‘SUBHAANAKAllahUMMA WA BIHAMDIKA, ASY-HADU ALLA ILAHA ILLA ANTA, AS-TAGHFIRUKA WA ATUUBU ILAIK’

(Mahasuci Engkau Wahai Allah dan dengan memuji-Mu, aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Engkau. Aku meminta ampun kepada-Mu dan aku bertaubat kepada-Mu)

Lantas ada seseorang yang berkata; ‘Wahai Rosululloh, engkau mengucapkan ucapan yang belum pernah engkau ucapkan sebelumnya’

Beliau shalAllahu ‘alaihi wasallam menjawab; ‘Itu adalah kaffaroh (penebus) dosa yang terjadi selama di dalam majelis’
[HR Abu Daud 4217]

Saudara-saudariku sekalian yang mencintai Sunnah dan dicintai oleh Allah ‘Azza wa Jalla, lihatlah bagaimana mulianya syariat Agama kita, dengan membaca doa kaffarotul majelis maka diampunilah kesalahan-kesalahan kita di majelis tersebut. Ini bukan hanya solusi yang tepat, tapi juga faedah yang besar, sayang sekali masih banyak diantara kita yang belum menyadari pentingnya doa ini.

Kenapa ini termasuk doa yang penting?
Termasuk doa yang penting karena didalamnya terkumpul istighfar, taubat, dan pujian kepada Allah. Syeikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah mengatakan,

وَهَذَا الذِّكْرُ يَتَضَمَّنُ التَّوْحِيدَ وَالِاسْتِغْفَارَ

“Ini dzikir yang mengandung Tauhid dan Istighfar”
(Al-Fatawa Al-Kubro 5/236)

Dengan mengetahui kandungan yang ada pada kaffarotul majelis Insya Allah kita akan lebih perhatian lagi untuk membacanya, apalagi ada lafal tauhid yang pasti memberatkan mizan (timbangan) pahala kita semua. Hal ini menjadi sangat penting karena ada pemahaman yang keliru disebagian masyarakat kita, yakni menganggap bahwa majelis yang tercela dan butuh kaffaroh (penebusan) adalah majelis yang tidak disebut nama Allah didalamnya saja, sehingga kalau ada majelis yang disebutkan nama Allah didalamnya tidak perlu ditutup dengan doa kaffarotul majelis. Syeikh Sholih Al-‘Ushoimi hafidzohulloh menerangkan pembahasan ini dalam Al-Adabu Al-‘Asyaroh;

فمن الخطإ توهم أنه لايؤتى بها إلا مع وجود غلط ولغط في المجلس، فإنه يؤتى بها مطلقا، وجعل لها هذا الإسم ملاحظة لحال الخلق في مجالسهم

“Termasuk kesalahan adalah mengumpamakan tidak perlunya kaffarotul majelis kecuali jika terdapat kesalahan dan keributan (perkara sia-sia, tidak dengan penyebutan nama Allah) dalam majelis, maka sejatinya diperlukan kaffarotul majelis itu secara mutlaq, dijadikannya nama kaffaroh (penebusan) itu sebagai pengawasan terhadap keadaan makhluk dalam majelis-majelis mereka”
(Syarhu Al-Aadabi Al-‘Asyaroh, Adab ke- 8)

Sudah hafal doa kaffarotul majelis? Coba doa akhir majelis yang lain.

Selain doa kaffarotul majelis yang kita sebutkan diatas, ada juga doa lain yang dicontohkan Nabi shalAllahu ‘alaihi wasallam kepada kita untuk dibaca di akhir majelis.

Sebagaimana disampaikan sahabat Ibnu ‘Umar radhiAllahu ‘anhuma, ia mengatakan; “Jarang sekali Rasulullah ShalAllahu ‘alaihi wasallam berdiri dari suatu majelis sampai beliau berdoa dengan doa-doa ini;

اللَّهُمَّ اقْسِمْ لَنَا مِنْ خَشْيَتِكَ مَا تَحُولُ بِهِ بَيْنَنَا وَبَيْنَ مَعَاصِيكَ ، وَمِنْ طَاعَتِكَ مَا تُبَلِّغُنَا بِهِ جَنَّتَكَ ، وَمِنَ الْيَقِينِ مَا تُهَوِّنُ عَلَيْنَا مَصَائِبَ الدُّنْيَا ، اللَّهُمَّ مَتِّعْنَا بأسْمَاعِنا ، وَأَبْصَارِنَا ، وقُوَّتِنَا مَا أحْيَيْتَنَا ، وَاجْعَلْهُ الوارثَ مِنَّا ، وَاجْعَلْ ثَأرَنَا عَلَى مَنْ ظَلَمَنَا ، وَانْصُرْنَا عَلَى مَنْ عَادَانَا ، وَلاَ تَجْعَلْ مُصيبَتَنَا فِي دِينِنَا وَلاَ تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا ، وَلاَ مَبْلَغَ عِلْمِنَا ، وَلاَ تُسَلِّطْ عَلَيْنَا مَنْ لاَ يَرْحَمُنَا

‘AllahUMMAQSIM LANAA MIN KHOSY-YATIKA MAA TAHUULU BIHI BAYNANAA WA BAYNA MA’AASHIK, WA MIN THOO’ATIKA MAA TUBALLIGHUNAA BIHI JANNATAK, WA MINAL YAQIINI MAA TUHAWWINU ‘ALAYNAA MASHOO-IBAD DUNYAA.
AllahUMMA MATTI’NA BI ASMAA’INAA WA AB-SHORINAA, WA QUWWATINAA MAA AHYAYTANAA, WAJ’ALHUL WAARITSA MINNAA, WAJ’AL TSA’RONAA ‘ALA MAN ZHOLAMANAA, WAN-SHURNAA ‘ALAA MAN ‘AADAANAAA, WA LAA TAJ’AL MUSHIBATANAA FII DIININAA WA LAA TAJ’ALID DUNYAA AKBARO HAMMINAA, WA LAA MAB-LAGHO ‘ILMINAA, WA LAA TUSALLITH ‘ALAYNAA MALLAA YARHAMUNAA’

(Yaa Allah, berikanlah kepada kami rasa takut kepada-Mu sebagai penghalang untuk bermaksiat kepada-Mu, dan berikanlah kami ketaatan kepada-Mu sebagai jalan yang menyampaikan kami ke surga-Mu, dan berikanlah kami keyakinan kepada-Mu sebagai penenang bagi kami atas musibah dunia yang menimpa.
Yaa Allah, berikanlah kenikmatan pada pendengaran kami, penglihatan kami, dan kekuatan pada kami selama Engkau memberikan kehidupan bagi kami, dan jadikanlah kenikmatan tersebut terus-menerus bagi kami. Balaskanlah dendam kami terhadap orang-orang yang telah menzalimi kami dan menangkanlah kami atas orang-orang yang memusuhi kami, janganlah Engkau menjadikan musibah pada kami menimpa agama kami, dan janganlah Engkau menjadikan dunia sebagai cita-cita terbesar bagi kami, tidak menjadi tujuan ilmu kami, dan janganlah Engkau memberikan kekuasaan atas kami kepada orang yang tidak menyayangi kami (orang kafir, munafik, fasik dan dzolim)”
[HR Tirmidzi 3424]

Ini adalah doa yang kaya akan makna. Didalamnya disebutkan bahwa rasa takut pada Allah-lah yang dapat menghalangi seseorang dari maksiat, bahwa ketaatan seseorang yang ikhlas karena Allah-lah yang dapat mengantarkan pada surga, bahwa keyakinan terhadap ketentuan Allah-lah yang akan melahirkan kesabaran dalam menghadapi ujian dunia, dan sebagainya. Sungguh ini adalah doa yang harus kita hafal bersama.

Karenanya ikhwatal iman ahabbakumulloh, saudara-saudariku sekalian yang mencintai Sunnah dan dicintai oleh Allah ‘Azza wa Jalla.. Kita semua pasti tidak ingin merugi dan dianggap sebagai orang yang tidak memaksimalkan waktu atau kesempatan, maka jadikanlah akhir dari majelis-majelis yang kita ikuti selalu ditutup dengan lafal yang mengandung istighfar, pujian, tauhid, serta doa.

Semoga Allah memberi kelembutan hati dan kesadaran pada kita untuk tidak melupakan doa kaffarotul majelis.

Wallahu A’lam Bisshowab.

Ditulis oleh:
Ustadz Rosyid Abu Rosyidah حفظه الله
Jum’at, 01 Shafar 1441 H/ 18 September 2020 M



Ustadz Rosyid Abu Rosyidah حفظه الله
Beliau adalah Alumni STDI IMAM SYAFI’I Kulliyyatul Hadits, dan Dewan konsultasi Bimbingan Islam,
Untuk melihat artikel lengkap dari Ustadz Rosyid Abu Rosyidah حفظه الله  
klik disini